
Katanya, kalau punya pacar calon dokter itu harus sabar dan tidak boleh ngambekan. Apalagi saat doi kurang perhatian seperti yang saat ini dirasakan oleh Nadya.
Tapi Nadya sabar, kok!
Nadya melepaskan helm dari kepalanya dan sedikit merapikan rambutnya seraya bercermin di kaca spion. Sudah satu tahun ini Mas Zikri menjalani koas di salah satu rumah sakit di kota Solo. Jangan tanya bagaimana komunikasinya dengan Nadya selama setahun ini. Mungkin bisa dihitung dengan jari dan Nadya memilih untuk maklum, karena Nadya juga sudah sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya sendiri.
Baru hari ini Nadya libur dan kebetulan gadis itu juga sedang pulang ke Solo. Jadi Nadya memutuskan untuk memberikan kejutan sedikit untuk Zikri yang merupakan teman rasa pacarnya tersebut.
Setelah bertanya kesana kemari, Nadya akhirnya tiba di lantai tempat Mas Zikri bertugas. Namun sekali lagi, Nadya harus menunggu Mas Zikri yang masih menunaikan tugasnya.
"Fiuuuh!" Nadya meniup poninya sendiri yang kata Mas Reza masih seperti dora. Gadis itu juga sesekali mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan lorong.
Cukup lama Nadya menunggu, hingga seseorang yang mengenakan jas putih ala dokter serta kacamata di wajahnya berjalan cepat ke arah Nadya.
"Nad!" Panggil Zikri yang wajahnya terlihat lelah.
"Assalamualaikum, Mas!" Sapa Nadya yang langsung tersenyum sumringah.
"Walaikum salam. Sudah lama?" Tanya Zikri yang langsung duduk di samping Nadya.
"Lumayan." Nadya tertawa kecil.
"Oh, ya. Nadya bawa makanan buat Mas Zikri dan teman-teman," ucap Nadya seraya menyerahkan tas kain yang sejak tadi ada di sampingnya.
'"Wah! Makasih banyak ya, Nad!" Wajah Zikri terlihat sumringah meskipun raut lelah masih belum hilang dari wajah pemuda dua puluh empat tahun tersebut.
"Tadi kesini sendiri?" Tanya Zikri sedikit khawatir.
"Iya, sendiri," jawab Nadya seraya meringis.
"Mumpung lagi di Solo, Mas! Lusa sudah balik ke Jojga lagi," sambung Nadya.
"Maaf kalau aku jarang hubungin kamu belakangan ini, dan nggak ada waktu buat datang ke rumah, padahal kamu lagi ada di Solo," ucap Zikri dengan nada menyesal.
"Nggak apa-apa, Mas! Santai aja!" Jawab Nadya seraya tersenyum.
"Nadya juga sibuk sama tugas yang menggunung," lanjut Nadya yang langsung membuat Zikri terkekeh.
"Kapan wisuda?" Tanya Zikri selanjutnya.
"Hah? Masih lama, Mas!" Jawab Nadya seraya terkekeh.
"Ujian aja belum. Masih semester enam, Mas!" Sambung Nadya lagi yang masih terkekeh.
"Biar aku bisa datang ke wisuda kamu," sambung Zikri lagi.
"Aaamiin! Semoga dilancarkan semuanya, Mas!" Ucap Nadya.
Zikri melihat arlojinya.
"Udah waktunya balik bertugas lagi," ucap Zikri seraya bangkit dari duduknya.
"Yaudah, selamat bertugas dan tetap semangat," Nadya mengulurkan tas berisi makanan yang tadi ia bawa pada Zikri.
"Makasih, ya, Nad! Udah repot-repot nyamperin kesini dan bawain makanan juga," Zikri mengacak rambut Nadya dan gadis itu langsung tersipu.
"Tetap istirahat kalau ada waktu dan jaga kesehatan, ya, Mas!" Pesan Nadya selanjutnya sebelum Zikri berbalik pergi.
"Iya, kamu juga hati-hati pulangnya, dan tetap jaga kesehatan." Zikri mengacak rambut Nadya sekali lagi.
"Assalamualaikum," pamit Zikri seraya berbalik meninggalkan Nadya.
"Walaikum salam," jawab Nadya yang masih terus mebatap pada Zikri yang akhirnya menghilang di ujung lorong.
Ya,
Setidaknya Nadya sudah melihat wajah Mas Zikri walau hanya beberapa menit dan rasanya sudah cukup untuk melepas semua kerinduan yang menggunung di hati Nadya.
Duh!
Udah seperti orang kasmaran saja.
Nadya menggeleng-gelengkan kepalanya dan segera menuju ke tempat parkir untuk mengambil motor.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.