NADYA

NADYA
PAMIT



Nadya memeluk kedua orang tua Lita bergantian, sebelum ganti memeluk Lita dengan erat.


"Padahal masih ketemu di sekolah dan masih bisa main kesini, kok kamu lebay, sih, Nad!" Gerutu Lita yang matanya sudah berkaca-kaca. Mungkin Lita ingat kebersamaannya dengan Nadya sejak mereka duduk di bangku SD, hingga mereka sebesar ini.


"Jangan mewek, Lit! Tambah jelek kamu!" Ucap Nadya sedikit berkelakar pada Lita.


"Nggak ada yang neriakin aku Si Lit lagi habis ini," ucap Lita seraya merengut.


"Nanti aku teriakin dari Banyuanyar, ya!" Hibur Nadya memberikan ide.


"Nggak kedengaran, lah, Nad!" Lita memukul kecil lengan Nadya yang hanya terkekeh.


"Mas Res! Jagain Nadya dan jangan dibikin nangis, yo!" Pesan Lita selanjutnya pada Reza yang sejak tadi mrmamg masih menunggu Nadya yang masih pamitan pada Lita dan keluarganya. Sementara Bunda Maya dan Pak Teddy sudah pulang duluan setelah berpamitan pada tetangga kiri kanan, sekalian mengantarkan bingkisan.


"Siap!" Reza mengacungkan jempolnya ke arah Lita.


"Trus dianterin juga, kalau Nadya mau main kesini. Jangan diungkep terus di rumah" pesan Lita lagi pada Reza.


"Bebek kali diungkep, Lit!" Gumam Nadya yang malah membuat Lita merengut.


"Kamu kan teman baik aku, Nad!" Lita merangkul Nadya sekalomlagi dan kembali berekspresi lebay.


"Lit, Nadya kan hanya pindah ke Banyuanyar. Kamu mau main juga masih bisa. Kok lebay-nya kayak Nadya mau pindah ke kutub utara," celetuk Ibunya Lita yang sontak membuat semua orang tertawa.


"Memangnya Nadya beruang kutub, Bu? Mosok pindah ke kutub utara," dahut Lita yang semakin membuat semuanya tertawa.


"Besok, habis prakerin, kalau udah balik ke sekolah jangan pura-pura nggak kenal, lho, Nad! Awas kamu!" Ancam Lita lagi pada Nadya.


"Ck! Nggak mungkinlah aku kayak gitu, Lit!"


"Kamu kan sahabat baik aku!" Ucap Nadya mengeratkan dekapannya pada Lita.


"Trus nanti kalau dapat potongan harga dari toko kainnya Mas Res, kamj info juga ke aku. Jangan plesir sendiri pas cari kain," kali ini Lita berbisik-bisik pada Nadya.


"Ngomong sendiri itu sama orangnya!" Nadya mengendikkan dagu ke arah Reza.


"Nanti Mas bilangin ke Mas Mario biar dikasih diskon, Lit!" Sahut Reza yang rupanya mendengar bisik-bisik dari Lita pada Nadya.


"Kok Mas Mario, sih, Mas? Yang punya toko kan Mas Res!" Lita merengut.


"Yang motongin kainnya kan Mas Mario!" Celetuk Nadya menimpali.


"Ish! Resek kamu, Nad!" Lita mendorong Nadya dan semakin merengut.


"Pergi sana!" Usir Lita yang masih merengut.


"Beklah!"


"Nih, tugas fashion drawing kamu!" Nadya menyerahkan tugas fashion drawing Lita yang kemarin memang Nadya bantu kerjakan.


"Waah, udah selesai! Makasih ya, Nad!" Lita kembali memeluk Nadya.


"Aku pergi sekarang, ya! Jangan mewek lagi! Jelek kamu!" Nadya mengacak rambut Lita.


"Emangnya kamu pikir kamu cantik? Sama-sama jelek aja, kok!" Sahut Lita yang hanya membuat Nadya terkekeh.


Nadya berpamitan sekali lagi pada ibu dan bapak Lita.


"Sehat-sehat di rumah baru, ya, Nad! Alhamdulillah udah punya papa dan kakak baru sekarang," ucap Ibunya Lita seraya memeluk Nadya.


"Iya, Bu. Alhamdulillah." Jawab Nadya malu-malu.


"Oh, begitu, ya! Nanti ibu tunggu undangannya saja kalau begitu," ucap ibunya Lita masih terkekeh.


Reza ikut berpamitan pada Lita dan kedua orangtuanya setelah sedikit berbasa-basi.


Setelah mengucapkan salam dan melambaikan tangan, motor Reza melaju meninggalkan rumah Lita, serta gang dimana Nadya pernah tinggal bersama Bunda Maya selama lebih dari sepuluh tahun.


Kini Nadya akan tinggal di rumah barunya, bersama keluarga barunya juga, Papa Teddy dan Mas Reza.


****


"Mampir belakang Manahan dulu. Beli cilok atau batagor atau bakwan malang," ajak Reza seraya menggenggam tangan Nadya yang melingkar di pinggangnya. Motor Reza masih berhenti menunggu lampu merah di samping Solo Grand Mall.


"Langsung pulang, Mas! Nanti Bunda nyariin," jawab Nadya mengingatkan.


"Nggaklah! Kan ada aku yang jagain kamu," ucap Reza dengan nada sombong.


Lampu sudah berubah hijau. Reza lanjut melajukan motornya menuju ke arah rumahnya di kawasan Banyuanyar.


Sesuai ajakannya, Reza benar-benar membelokkan motornya lewat belakang Manahan, dan mampir untuk jajan bakso pentol.


"Rumahnya Mas Res Banyuanyar sebelah mana, sih?" Tanya Nadya seraya meniupi bakso pentolnya yang masih panas.


"Belakang SMSR," jawab Reza yang lahap sekali memak bakso pentolnya tanpa ditiup.


Nggak melepuh itu lidah?


"O." Nadya hanya membulatkan bibirnya.


"O? Tahu memang?" Tanya Reza seraya terkekeh.


"Tahulah! Cuma belum pernah kesana aja kayaknya," Nadya terkikik. Sementara Reza hanya menanggapi dengan mencibir.


"Jajahannya kan Solo bagian selatan, Mas!" Lanjut Nadya mencari pembenaran.


"Iya, iya!" Sahut Reza yang sudah menghabiskan bakso pentolnya. Punya Nadya masih setengah karena gadis itu lambat sekali makannya seperti putri Solo.


"Haus, Mas!" Keluh Nadya yang masih belum juga menghabiskan pentolnya.


Manja juga, pacar sekaligus adik tiri Reza ini.


"Yaudah naik! Kita cari es jus atau es degan. Kamu maunya apa?" Tawar Reza pada Nadya.


"Air putih dingin aja, Mas!" Nadya memberikan jawaban diluar pilihan yang ditawarkan Reza.


"Hilih!" Reza akhirnya melajukan motornya dan mencari kios kecil untuk membeli air mineral dingin sesuai permintaan Nadya.


Setelah minum dan menghabiskan pentolnya, Nadya dan Reza bergegas pulang ke rumah di Banyuanyar.


.


.


.


Ciyee yang nungguin nganu-anu kecele 😂


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.