NADYA

NADYA
NIKAH, YUK!



Riska sedang di teras dan menyuapi Raisha keponakannya, saat motor Reza masuk ke halaman rumah.


"Assalamualaikum!" Salam Reza yang baru datang.


"Walaikum salam." Jawab Riska sebelum kembali menyuapi sang keponakan.


"Kok belum siap-siap, Ris?" Tanya Reza setelah memindai penampilan Riska yang masih mengenakan rok panjang, kaos lengan panjang, serta bergo sederhana.


"Emang mau kemana?" Tanya Risa pura-pura tidak tahu.


"Ke Tawangmangu. Kan aku udah bilang kemarin," jawab Reza yang sudah menghampiri Raisha yang duduk anteng seraya mengunyah makanan dan memainkan barbie di tangannya.


"Hai, Raisha!" Reza menyapa keponakan Riska tersebut.


"Hai, Om Eza!" Jawab Raisha yang rupanya masih ingat pada Reza.


Hebat!


"Aku lagi momong Raisha, Za! Jadi nggak bisa pergi," ucap Riska memberikan alasan.


"Emang mamanya kemana?" Tanya Reza kepo.


"Ada di dalam. Cuma kan lagi mabuk hamil. Lagi ngi-"


"Loh, ada tamu, Ris? Kok nggak disuruh masuk?" Suara dari mbak ipar Riska langsung memotong kalimat Riska.


"Pagi, Mbak!" Sapa Reza pada mbak ipar Riska tersebut.


"Pagi."


"Temannya Riska, ya? Atau pacarnya?" Tebak mbak ipar.


"Teman, Mbak!" Sahut Riska cepat.


"Oh, teman! Ayo masuk dulu, Mas!"


"Siapa namanya?" Tanya Mbak ipar lagi seraya mempersilahkan Reza masuk ke dalam rumah.


"Reza, Mbak!" Jawab Reza sopan.


Riska hanya menghela nafas saat mbak ipar sudah kembali ke teras.


"Buatin Reza minum sana, Ris! Raisha biar aku suapi," titah mbak ipar.


"Iya, Mbak! Kenapa bukan Mbak aja, sih?" Gerutu Riska seraya beranjak dari teras dan langsung menuju ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Reza.


Sementara Reza sudah ngobrol dengan Pak Sapta di ruang tamu. Mungkin sudah minta izin juga kalau mau nggondol Riska ke Tawangmangu.


"Nah, ini anaknya," ucap Pak Sapta saat Riska membawa dia gelas teh ke ruang tamu dan menyajikannya di depan Reza dan Pak Sapta.


"Duduk, Ris!" Titah Pak Sapta.


Riska menurut dan segera duduk di samping sang bapak.


"Ada apa,Pak?" Tanya Riska sedikit berbisik pada sang bapak.


"Reza minta izin sama Bapak, katanya mau ngajakin kamu ke Tawangmangu."


"Iya, Riska kan harus momong Raisha, Pak!" Jawab Riska mencari alasan.


"Alasan kamu, Ris! Raisha udah mau aku bawa pulang ini! Papanya udah pulang," sahut Mbak Ipar dari teras yang sontak membuat Riska meringis.


"Tu, Raisha udah pulang. Mau momong siapa jadinya?" Goda Pak Sapta yang hanya membuat Riska menundukkan wajahnya karena malu.


"Udah sana ganti baju, siap-siap!" Totah Pak Sapta pada sang putri.


Riska masih bergeming di tempatnya.


"Sana, Ris!" Titah Pak Sapta sekali lagi yang akhirnya membuat Riska bangkit berdiri dan masuk ke kamar untuk bersiap-siap.


"Masih malu-malu sepertinya, Pak?" Pendapat Reza setelah Riska masuk kd kamar.


"Iya, begitulah anaknya. Sepanjang hari cuma diam di rumah kalau lagi libur. Kalau nggak sama bapaknya ya nggak mau ngukur jalan," cerita Pak Sapta pada Reza yang hanya tersenyum.


"Tapi Nak Reza serius?" Tanya Pak Sapta memastikan sekali lagi.


"Saya sudah serius, Pak! Tapi annti saya tanya langsung dulu ke Riska mau apa enggak."


"Kalau Riska sudah mau, nanti saya datang lagi ke sini bawa Papa sama Bunda," jawab Reza memaparkan rencananya.


"Penting jangan aneh-aneh saja sebelum sah, ya!"


"Tapi Bapak percaya kalau Reza ini anak baik dan akan menjaga Riska," ucap Pak Sapta memberikan kepercayaan pada Reza.


"Cuma mau pedekate, Pak!" Kekeh Reza bersamaan dengan Riska yang sudah berganti baju dan keluar dari kamar.


Gadis itu kini mengenakan celana panjang dan baju tunik sebatas betis, lalu jilbab dengan warna yang senada dengan bajunya.


"Sudah siap, Ris?" Tanya Pak Sapta.


"Sudah, Pak!" Jawab Riska yang langsung berpamitan pada sang Bapak.


Reza juga ikut pamit sekalian, sebelum mereka berdua berangkat meninggalkan rumah Riska.


****


Hampir satu jam perjalanan dari rumah Riska ke Tawangmangu, dan kini mereka malah terjebak kemacetan pas di depan pasar Tawangmangu.


"Hari Minggu pasti rame, Za!" Ucap Riska seraya menepuk pundak Reza.


"Naik ke atas lagi aja kalau begitu," usul Reza minta pendapat Riska.


"Cemoro Sewu, atau ke Sarangan sekalian?" Reza tiba-tiba sudah meraih tangan Riska dan melingkarkannya di pinggang."


"Nanti pulang jam berapa?" Tanya Riska ragu.


"Jam tiga atau jam empat kan bisa."


"Naik lagi, ya!" Bujuk Reza pada Riska.


"Terserah!" Jawab Riska akhirnya pasrah.


"Pegangan!" Reza mengusap tangan Riska sebelum kembali melajukan motornya melewati pasar Tawangmangu dan semakin naik ke atas.


Udara juga semakin dingin dengan pemandangan hutan khas pegunungan di kiri dan kanan jalan yang berkelok-kelok.


****


Tepat jam sebelas, Reza dan Riska akhirnya tiba di tepi Telaga Sarangan yang sudah ramai karena memang ini hari Minggu serta cuaca yang lumayan cerah.


"Naik kapal?" Tawar Reza pada Riska yang hanya menggeleng dan sesekali membenarkan tas selempang yang menyilang di dadanya.


"Kenapa ngajakin mainnya jauh-jauh begini, sih?" Tanya Riska tak mengerti.


"Ya biar fresh aja otaknya. Nggak melulu lihat pemandangan Banyuanyar-BTC."


"Kan bosan!" Jawab Reza asal.


Riska hanya tertawa kecil.


"Toko tutup berarti?" Tanya Riska lagi.


"Buka, kok! Papa sama Bunda yang jagain. Sama Mas Mario juga," jawab Reza santai.


"Yang punya lagi sibuk main," timpal Riska yang hanya membuat Reza tertawa kecil.


"Jadi, kami masih jomblo, Ris?" Tanya Reza akhirnya to the point.


"Kalo udah punya pacar ya nggak mungkin pergi sama kamu, Za!" Jawab Riska yang hanya melemparkan pandangannya ke arah danau berlatar pegunungan di depan mereka.


Banyak speed boat yang berlalu lalang membawa wisatawan ke tengah danau.


"Kenapa nggak cari pacar atau calon suami, gitu?" Tanya Reza lagi yang hanya membuat Riska menghela nafas.


"Belum ketemu aja mungkin sama jodoh yang tepat." Jawab Riska diplomatis.


"Tapi tetep pengen nikah, dan ada rencana ke sana, kan?" Tanya Reza lagi.


"Iya adalah! Setiap cewek pasti juga pengen nikah,pengen punya keluarga."


"Risih juga, kan dengar tetangga dan saudara ngomongin di belakang. Eh, Si Riska itu, lho! Udah perawan tua nggak nikah-nikah. Terlalu pilih-pilih. Inilah itulah." Riska mengungkapkan uneg-uneg di dalam hatinya dan Reza masih diam menyimak.


"Padahal kan bukannya pilih-pilih. Tapi emang dasarnya belum ketemu jodoh mau diapain, coba?" Lanjut Riska lagi seraya memungut satu batu kecil di dekatnya lalu melemparkannya ke tengah danau.


"Yaudah! Nikah sama aku aja, yuk!" Ajak Reza to the point yang tentu saja langsung membuat Riska kaget.


"Candaanmu nggak lucu, Za!" Jawab Riska seraya tertawa kaku.


"Siapa yang bercanda? Orang aku serius mau ngajakin kamu nikah," ucap Reza yang sudah menatap Riska penuh kesungguhan.


"Kamu lagi cari pelarian karena hubungan kamu dan Nadya yang kandas?" Tebak Riska berspekulasi.


"Nggak ada hubungannya, Ris!"


"Aku serius ini sama kamu," ucap Reza sekali lagi yang kali ini sudah menggenggam tangan Riska.


"Tapi kamu nglakuin ini jangan-jangan cuma demi Nadya?" Riska masih merasa ragu.


"Awalnya iya. Tapi sekarang aku benar-benar serius dan aku itu suka sama kamu, Ris!" Jawab Reza jujur dan bersungguh-sungguh.


"Aku juga udah ngomong sama Bapak kamu tadi kalau aku itu mau serius sama kamu. Dan Bapak kamu udah ngasih lampu hijau, tinggal nunggu jawaban dari kamu aja," lanjut Reza lagi panjang lebar.


Riska diam beberapa saat dan mendadak jadi bingung.


"Mau, ya!" Bujuk Reza sekali lagi.


"Ya." Jawab Riska lirih sembari menundukkan wajahnya.


"Ya apa? Yang keras jawabnya!" Reza meraih dagu Riska dan minta gadis itu menjawab dengan lebih keras.


"Iya, aku mau."


"Puas kamu?" Jawab Riska yang wajahnya sudah bersemu merah.


"Besok udah bisa langsung lamaran berarti," celetuk Reza seraya merangkulkan lengannya ke pundak Riska.


"Cepat sekali?" Protes Riska.


"Lebih cepat lebih baik!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.