
Ini adalah malam pertama mereka tidur bersama dalam sebuah kamar, sejak menikah beberapa hari yang lalu. Nadya tidur membelakangi Hengki, ditengah tempat tidur di letakkan sebuah bantal guling sebagai pemisah di antara mereka. Malam semakin larut, sudah terdengar suara dengkuran halus dari keduanya, semakin malam udara semakin dingin, entah siapa yang memulai, bantal guling yang di jadikan sebagai pemisah tidur di antara mereka sudah berada di lantai, tidur saling berpelukan di dalam selimut tebal.
Dalam tidurnya, Nadya merasakan kehangatan, dalam mimpinya seakan sedang di peluk erat ibunya, namun terasa ada hembusan angin yang menerpa wajahnya. Aroma mint yang keluar dari hembusan itu.
Suara adzan subuh berkumandang dari mesjid komplek, Nadya menggerakan tubuhnya, terasa sangat berat sekali namun sangat nyaman dirasakannya. Matanya perlahan terbuka dan tampaklah wajah tampan milik Hengki suaminya. Di pandanginya wajah itu, semakin di pandang terasa samakin tampan. Menyadari bahwa dirinya sedang mengagumi ciptaan Tuhan, secepatnya Nadya ingin melepaskan diri dari pelukan Hengki, namun kuat Nadya berusaha melepaskan dirinya dari pelukan suami, semakin kuat juga Hengkie memeluknya, yang sedari tadi sudah bangun. Karena ingin melihat bagaimana reaksi istri nya ketika.bangun tidur sedang dipeluk. Niat hati ingin mengerjai Nadya, malah dirinya yang terjebak dalam permainan nya sendiri. Sekuat di bawah sana mulai mengeras karena pergerakan Nadya. Sebelum ketahuan kalau dirinya terangsang oleh gerakan Nadya, secepatnya Hengki membalikan tubuhnya membelakangi Nadya. Dirinya merutuki kelakuannya sendiri, nasib baik Nadya tidak mengetahui ada yang mengeras di bawah sana.
Nadya bangun dari tidurnya, dirinya merasa malu karena berani memeluk Hengki, bantal guling yang.menjadi penghalang tidur mereka, Nadya yang menempatkan, tapi dirinya sendiri yang melanggar.
Selesai ritual mandi dan berwudhu, bersiap untuk sholat subuh, namun sempat membangunkan Tengku terlebih dahulu untuk cepat mengambil wudhu.
"Mas bangun, sholat mau berjama'ah ga?" dengan malas membangun kan Hengki yang masih terlelap.
Hengki bangun dari tidurnya langsung mengambil wudhu, bersiap sholat berjama'ah. Selesai sholat, Nadya turun ke bawah menuju dapur, menyiapkan sarapan untuk keluarga barunya. Di dapur sudah ada bi Tuti sedang memasak.
"Pagi bi, sedang masak apa?"
"Non Nadya sudah bangun, nyonya Rima mau di buatkan ayam goreng lengkuas makanan kesukaannya." bi Tuti menjawab sambil menghaluskan lengkuas.
" Ada yang bisa Nadya bantu ga bi?"
"Aduh jangan non, nanti nyonya Rima dan tuan Hengki marah kalau melihat non Nadya memasak di dapur."
"Mereka ga akan marah kok bi, biar Nadya yang akan menjelaskan sama mereka." Nadya merayu bi Tuti agar mengijinkannya membantu di dapur.
"Waktu di rumah ayah, aku biasa bantu bi Ani di dapur."
"Lho kok ada Nadya di dapur, lagi apa sayang?" Nyonya Rima tiba tiba sudah ada di dekat dapur.
"Eh ada mamah, sejak kapan mamah ada disana?"
"Sejak kamu tahu bi Tuti ikut masak." Nyonya Rima tersenyum, dirinya tidak salah menjadikan Nadya menjadi menantu nya.
"Lebih baik kamu temanmu mamah di sini, minum teh." Nyonya Rima membawa Nadya ke ruang tengah.
Saat sedang berbincang dengan nyonya Rima, Hengki turun sudah memakai pakaian lengkap buat joging.
"Mas Hengki mau joging di mana?"
"Cuma keliling komplek aja kok ga pernah jauh." sahut Nyonya Rima
"Oh...." Nadya ber oh ria.
Sarapan pagi sudah siap, Hengki sudah kembali disinggung nya. Hari ini Nadya sudah mulai kuliah lagi setelah beberapa hari libur. Mereka mulai sarapan dalam diam.
"Sayang kalau kuliah nanti di antar sama suami kamu ya, biar malah tenang."
"Ga usah mah, Nadya bisa ojek online aja, biar cepet sampai kampus." Nadya menolak permintaan mertuanya dengan halus.
Bukan nyonya Rima namanya kalau tidak berhasil merayu menantunya. Dan akhirnya Nadya sudah mau di antar suaminya ke kampus. Walaupun dengan hatinya sangat berat harus di antar suaminya sampai kampus.
"Iya mas, cuma sebentar aja kok."
Perjalanan menuju kampus terasa sangat lama sekali, mereka saling diam, hanya berbicara dengan hati mereka masing masing.
"Nanti kuliah selesai jam berapa?" Hengki bertanya untuk memecahkan kesunyian.
"Sekitar jam dua siang, karena hari ini harus ketemuan sama dosen yang memberikan tugas."
"Nanti kalau sudah mau pulang, kamu tempo mas aja biar nanti mas jemput."
"Ga usah di jemput mas biar nanti naik angkutan umum aja, udah biasa kok."
"Mas kan lagi kerja, nanti kalau jemput aku, kerjaannya mas akan terbengkalai." Nadya memberikan alasan biar tidak di jemput.
"Ga apa apa kok, jemput istri sendiri ga akan bikin kerjaan mas jadi terbengkalai."
Nadya tidak bisa memberikan alasan lagi. Perjalanan yang terasa lama akhirnya sampai juga. Di depan gerbang kampus Nadya turun dari mobil mewah milik Hengki. Sebelum turun Nadya mencium tangan Hengki.
Beberapa mahasiswa terlihat heran melihat Nadya turun dari mobil mewah, karena walaupun Nadya orang yang berada namun hidupnya sederhana.
Turun dari mobil langsung di sambut Nisa yang sudah menyambut nya di dekat gerbang kampus.
"Nadya akhirnya lu kuliah juga, kangen gue sama lu." Mereka berpelukan seperti teletubies, Hengki yang melihat kelakuan istrinya dengan sahabatnya seperti itu hanya geleng geleng kepala saja.
"Dasar bocah, ga ketemu beberapa hari saja, seperti ga ketemu bertahun tahun lamanya."
Setelah yakin kalau Nadya sudah sampai kampus dengan selamat, Hengki melakukan mobilnya menuju kantornya.
Di kampus Nadya dan Nisa langsung masuk.kelas karena sebentar lagi dosen nya yang terkenal killer akan masuk, telat sedikit saja masuk kelas, siap siap dengan tugas bertumpuk tumpuk.
Pelajaran hari ini lumayan menguras otak para mahasiswa, sampai akhirnya pelajaran selesai juga. Selesai kelas Nadya dan Nisa langsung menuju kantin, otak yang sudah terkuras pelajaran yang di berikan dosen nya membuat perutnya ingin cepat di isi.
"Lu mau pesan apa, biar gue sekalian pesan." tanya Nisa yang sudah bersiap menuju tempat makanan.
"Biasa, baso tetelan sama minumnya es jeruk.manis, gulanya dikit karena gue udah manis nanti ke manisan." Jawab Nadya
Nisa hanya berdecak saja mendengar sahabatnya itu pede nya tingkat dewa. Tapi.memang Nadya orangnya cantik, tidak pernah memilih teman, hidupnya pun sederhana walaupun orang tuanya orang yang berada, banyak cowok kampus yang suka sama Nadya. Makanya kalau tahu Nadya sudah menikah, pasti akan terjadi patah hati sekampus karena idolanya sudah di miliki orang lain.
"Pesanan lu sebentar lagi datang."
"Ok, thanks ya. "
"Sama sama sahabat ku." Jawab Nisa
...****************...
Hai reader, jangan lupa ya komentarnya,like sama vote tombol favoritnya.