
"Nad! Kamu jadi nyari tempat buat prakerin hari ini?" Tanya Lita pada Nadya yang masih celingukan di depan gerbang sekolah.
Gadis itu masih menunggu Reza yang belum datang menjemput.
"Iya, jadi. Aku diantar Mas Res," jawab Nadya yang masih celingukan.
"Ciyee! Yang udah dilamar. Sekarang kemana-mana diantar jemput."
"Itu calon suami apa babang ojek, Nad?" Ledek Lita pada Nadya yang langsung mengerucutkan bibirnya.
"Ya pacar, ya calon suami, ya abang ojek. Multifungsi pokoknya!" Jawab Nadya asal bersamaan dengan motor Vixion merah Reza yang sudah tiba di depan sekolah.
"Tu, pacar multifungsi kamu sudah datang!" Celetuk Lita seraya mengendikkan dagunya ke arah motor Mas Reza.
"Sorry telat. Tadi selesaiin pesanan dulu di toko," ucap Reza seraya membuka kaca helm dan tersenyum pada Nadya.
"Nadya juga baru keluar, kok, Mas." Jawab Nadya ikut-ikutan tersenyum pada Reza.
"Ehem!" Lita berdehem seolah sedang menggoda pasangan yang sedang kasmaran di hadapannya tersebut.
"Aku duluan, ya, Nad! Nanti langsung pulang setelah ketemu tempatnya! Jangan keluyuran!" Lita menirukan suara Bunda Maya saat sedang mengomeli Nadya.
"Ck! Iya, Si Lit!" Jawab Nadya sedikit bersungut.
Lita hanya berdecak dan langsung melajukan motor matic pinknya ke arah jalan raya, meninggalkan Nadya dan Reza yang masih sibuk berbasa-basi.
"Ayo berangkat sekarang, Nad! Biaf nggak kesorean."
"Nanti masih mau ketemu Papa juga," ajak Reza yang langsung membuat Nadya mengangguk. Nadya segera naik ke atas motor Reza dan berpegangan, sebelum motir Vixion merah itu melaju membelah Jalan Adisucipto.
****
"Beloknya disini," ucap Reza bersamaan dengan motornya yang sudah berbelok ke arah kanan dari Jalan Yosodipuro, tepat di sebelah gedung Solo Paragon yang masih dalam tahap pembangunan.
"Itu gedung kapan jadinya, ya, Mas?" Tanya Nadya seraya menunjuk ke bangunan pencakar langit Solo Paragon.
"Nggak tahu! Nanti kalau udah jadi aku beliin apartemen di lantai paling atas, ya!" kelakar Reza yang langsung membuat Nadya mencibir.
"Bukannya itu mau jadi mall?"
"Katanya apartemen entah hotel, ada mallnya di depan. Aku juga nggak tahu," Reza mengendikkan kedua bahunya lalu memperlambat laju motornya saat sampai di pertigaan. Ada sebuah bangunan di sudut jalan bertuliskan nama butik yang akan Nadya pakai untuk prakerin.
"Ini, ya butiknya?" Nadya berdecak kagum melihat butik kecil tersebut.
Terlihat dari jendela, beberapa karyawan sedang bekerja di dalam butik.
"Turun dulu, kenalan sama mbak-mbaknya di dalam," saran Reza seraya mengusap lengan Nadya yang masih melingkar di pinggangnya.
"Nggak, ah! Malu." Jawab Nadya yang tetap nangkring di atas motor Reza.
Seorang karyawan butik berjalan keluar untuk membuang sampah, saat karyawan yang mengenakan hijab tersebut berhenti sejenak dan menatap ke arah Reza dan Nadya.
"Cari siapa, Mas? Dek?" Tanya karyawan butik tersebut.
Reza membuka helmnya dan memperhatikan dengan seksama karyawan butik tersebut karena Reza seperti kenal dengan wajahnya.
"Lho! Kamu Reza, kan?" Tanya karyawan itu tiba-tiba yang langsung membuat Reza tersenyum.
"Riska!" Tebak Reza seraya menuding ke arah mbak berhijab itu tadi.
"Masih ingat ternyata." Seseembak yang dipanggil Reza sebagai Riska itu tertawa dan langsung menghampiri Reza.
"Gimana kabarmu, Za? Lama nggak ketemu, kirain udah lupa," tanya Mbak Riska akhirnya menyapa Mas Reza masih sambil cekikikan.
"Baik-baik! Kabar aku baik. Aku ingat lesung pipi sama tahi lalat kamu itu," jawab Reza seraya manggut-manggut.
"Trus ini kesini ngapain? Pacaranmu sama anak SMA, yo?" Riska kembali tergelak saat melihat Nadya yang sejak tadi hanya diam dan tenggelam dalam ke-ogeb-annya karena menyaksikan dua orang yang baru bertemu tapi mendadak langsung akrab.
Eh, tapi sepertinya mereka teman lama.
"Lagi nganterin ini, si Nadya mau lihat tempat buat prakerinnya," jawab Reza menjelaskan pada Riska.
"Oh, anak SMKN 4 yang mau prakerin hari Senin, ya, Dek?" Tanya Riska pada Nadya yang sontak merengut.
"Jangan dipanggil Dek, Ris! Ngambek dan nggak tinggi-tinggi dia nanti," celetuk Reza yang langsung berhadiah cubitan di perut dari Nadya.
"Oh, iya, iya! Siapa tadi namanya?" Tanya Riska sekali lagi pada Reza.
"Nadya Wulandari," jawab Reza dengan nada yang lebay.
"Panggilannya Nadya," lanjut Reza lagi yang langsung membuat Riska mengangguk.
"Ayo masuk dulu, Nad! Kenalan sama karyawan lain!" Ajak Riska selanjutnya seraya merangkul Nadya yang sudah turun dari atas motor Reza dan membawanya masuk ke dalam butik.
Sementara Reza memilih untuk menunggu dan duduk di kursi yang ada di teras butik.
"Owner-nya Mbak Riska, ya?" Tanya Nadya setelah Riska mengajaknya duduk di teras butik bersama Reza.
"Bukan! Owner-nya Bu Lala. Kebetulan lagi keluar cari bahan buat kebaya pesanan," terang Mbak Riska sedikit terkekeh.
"Itu di plang-nya ada tulisannya by Lala bukan by Riska. Masak masih tanya, Nad?" Celetuk Reza yang sontak membuat Nadya merengut.
Melihat keakraban Mbak Riska dan Mas Res, kok hati Nadya mendadak panas, ya?
"Lagian, Riska anak IPS bukan anak desain," lanjut Reza lagi masih terkekeh.
"Hehe, aku karyawan juga disini, Nad. Bagian finishing akhir dan pasang payet," jelas Riska pada Nadya yang hanya membulatkan bibirnya.
"Ngomong-ngomong, kamu kapan pindah ke Solo, Za? Kan dulu di Jogja?" Riska mengalihkan pembicara dan ganti bertanya pada Reza.
"Awal tahun kemarin," jawab Reza.
"Kamu sendiri, nggak bilang kalau tinggal di Solo. Kalau aku tahu kan bisa reunian dari kemarin-kemarin," celetuk Reza yang hanya membuat Riska terkekeh.
"Mau ngasih tahu lewat mana. Kontak kamu saja aku nggak punya," sahut Riska ikut terkekeh.
"Oh, iya!" Reza mengeluarkan ponselnya dari saku.
"Minta kontak kamu, biar bisa ngobrol ngalur ngidul lagi," Reza menyodorkan ponselnya pada Riska.
"Trus kamu tinggal di daerah mana?" Tanya Riska sambil tangannya mengetik nomor ponselnya di ponsel Reza.
"New water city! Banyuanyar," jawab Reza yang membuat Riska tergelak.
"Dekat juga, ya! Tapi nggak pernah ketemu," gumam Riska yang sudah sekesai mengetikkan nomor ponsel.
Riska mengembalikan ponsel Reza pada sang empunya.
"Kamu tinggal dimana, emang?" Gantian Reza yang bertanya pada Riska.
"Sumber, dekat Techno-Sa. Tahu?"
"Walah! Sering lewat padahal. Kok nggak tahu ada rumah kamu di sana," kekeh Reza yang membuat Riska ikut tergelak.
Sementara Nadya masih merengut mendengarkan obrolan Mas Reza dan Mbak Riska yang sepertinya akrab sekali. Tidak cuma kuping Nadya yang panas, tapi hati Nadya sudah ikutan panas.
"Mas Res!" Panggil Nadya yang tetap merengut.
"Apa?" Reza akhirnya ingat pada Nadya yang merengut.
"Ck! Kenapa malah merengut, Cantik?" Reza mentowel gemas hidung Nadya. Sontak Nadya semakin merengut.
"Jam!" bisik Nadya menunjuk ke pergelangan tangannya sendiri. Reza langsung melirik jam sport yang melingkar di tangannya.
"Astaghfirullah!" Pekik Reza saat melihat jam yang sudah menunjukkan hampir pukul tiga sore.
"Ris, aku sama Nadya pulang dulu. Mau ada acara soalnya," ucap Reza seraya menarik tangan Nadya agar bangkit dari kursi.
"Oh, iya! Nanti lanjut ngobrol lewat pesan saja," jawab Riska seraya tersenyum hangat.
"Nanti hari Senin ketemu lagi, ya, Dek!" Riska gantian mengacak rambut Nadya.
"Nadya, Mbak!" Protes Nadya yang tetap tak terima dipanggil Dek.
"Iya, Nadya!"
"Pacar kamu lucu, Za!" Ujar Mbak riska yang entah sedang memuji atau mengejek Nadya.
"Emang. Lucu dan nge-gemesin." Timpal Reza seraya mengacak rambut Nadya.
"Mas Res!" Nadya menghentak-hentakkan kakiknya ke aspal karena kesal dan Reza malah tergelak.
"Anterin pulang, Za! Jangan diajak kelayapan!" Pesan Riska yang langsung dijawab Reza dengan acungan jempol.
"Kami pulang dulu, Mbak! Assalamualaikum!" Pamit Nadya pada Riska meskipun setengah hati. Nadya masih cemburu pada Mbak Riska yang begitu akrab dengan Reza. Entah siapa sebenarnya Mbak Riska ini.
"Walaikum salam!" Riska melambaikan tangannya ke arah motor Reza yang sudah melaju meninggalkan butik.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.