
Tepat pukul sembilan malam, Pak Teddy baru tiba di rumahnya yang berada di kawasan Banyuanyar. Pria paruh baya tersebut langsung memarkirkan mobilnya di dalam garasi di samping motor Reza yang sudah terlebih dahulu terparkir.
"Assalamualaikum!" Salam Pak Teddy pada Reza yang duduk sendirian di teras rumah.
"Walaikum salam. Habis resepsi dimana lagi, Pa?" Tanya Reza yang melihat sang Papa yang masih mengenakan kemeja batik rapi.
"Di tempatnya orang nikahan, tho, Za! Masa resepsi di warung angkringan," jawab Pak Teddy sedikit berkelakar.
Reza hanya tergelak
"Kondangan terus!" Seloroh Reza yang masih tergelak.
"Iya, makanya cepato nikah, biar gantian papa yang dikondangi ke rumah," sahut Pak Teddy yang sudah menghilang masuk ke dalam rumah.
"Eza baru mau membahas hal itu sama Papa," ucap Reza yang sudah mengekori Pak Teddy.
"Sudah punya calon, kamu?" Tanya Pak Teddy yang kembali menghentikan langkahnya. Lalu memberi kode pada Reza agar duduk di kursi ruang tamu.
"Sudah, Pa! Tapi masih sekolah," jawab Reza seraya meringis.
"Halah halah, Za! Umurmu itu berapa? Kenapa malah cari anak SMA yang masih sekolah?" Decak Pak Teddy seraya geleng-geleng kepala.
"Ya, Eza maunya sama dia, Pa! Anaknya lucu, manis, cerewet, nggemesin," cerita Reza dengan raut waja yang sedikit lebay.
"Lagian, udah kelas sebelas juga anaknya, bentar lagi naik kelas dua belas, trus lulus, bisa ijab sah, deh!" Lanjut Reza yang sepertinya antusias sekali.
"Masih setahun lebih. Emang kamu sabar nunggunya?" Tanya Pak Teddy dengan raut wajah serius.
"Sabar, Pa! Tapi Papa lamarin dulu, ya! Biar nggak diembat orang," pinta Reza pada sang Papa.
"Kamu udah ketemu orang tuanya?" Tanya Pak Teddy menyelidik.
"Sudah. Sudah bilang juga ke Bundanya kalau Eza benar-benar ada niat untuk serius sama anaknya dan akan sabar menunggu sampai lulus SMA," jelas Reza panjang lebar.
"Yasudah! Papa lamarinnya nanti saja kalau sudah lulus. Papa cari gandengan dulu buat nglamar cewek kamu," ucap Pak Teddy seraya terkekeh.
"Maksudnya gandengan? Papa mau nikah lagi?" Tebak Reza yang seakan sudah paham arah pembicaraan Pak Teddy.
"Kamu keberatan?" Bukannya menjawab, Pak Teddy malah mengajukan pertanyaan to the point.
Reza menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Gadis juga, Pa?" Tanya Reza kepo.
"Apanya?" Pak Teddy balik bertanya karena bingung.
"Calonnya Papa."
"Gadis beranak satu," jawab Pak Teddy dengan wajah sok serius.
Reza langsung tertawa terbahak-bahak.
"Walah, Pa! Gadis kok punya anak."
"Lha kamu itu juga aneh! Mosok masih tanya gadis apa bukan. Memangnya Papa pecinta sugar sugar itu?" Celetuk Pak Teddy yang sontak membuat Reza semakin tergelak.
"Sugar opo, Pa? Sugarangan?" Kelakar Reza yang belum berhenti tergelak.
"Ngejek!" Pak Teddy menoyor kepala putranya tersebut.
"Janda beranak satu berarti, Pa?" Tanya Reza lagi yang akhirnya berhenti tertawa.
"Ketemu dimana, Pa? Jangan-jangan karyawan Papa di pabrik," Tebak Reza menerka-nerka.
"Pinter, kamu! Anaknya siapa, tho?" Pak Teddy kembali menoyor kepala Reza.
"Pantesan betah banget di pabrik!" Cibir Reza pada sang Papa.
"Dia nggak ke pabrik, kok. Cuma ambil potongan kain saja dan dikerjakan di rumah," jelas Pak Teddy membantah cibiran Reza.
"Trus mesti Papa yang anter kainnya sekalian modus biar bisa main-main ke rumahnya. Trus ngasih anaknya sogokan permen dan jajan chiki," tebak Reza lagi yang seakan sudah paham dengan akal bulus sang Papa.
"Anaknya udah SMA, udah besar, udah nggak bisa disogok pakai permen, Za!" Kilah Pak Teddy seraya berdecak.
"Wah, wah! Cewek apa cowok, Pa? Lumayan ini ada yang bisa diajak nongkrong kalau cowok," Reza sudah sangat antusias.
"Cewek! Manis, cantik anaknya," jawab Pak Teddy yang langsung membuat Reza berdecak.
"Kayak kue berarti, yo, Pa! Cantik manis," kelakar Reza seraya terkekeh.
"Koyo kembang. Kembang cantik manis!" Timpal Pak Teddy ikut terkekeh.
Pria paruh baya itu sudah beranjak dari duduknya dan hendak masuk ke kamar untuk berganti baju
"Sabtu kamu ada acara, Za?" Tanya Pak Teddy sebelum masuk ke kamar.
"Acara nongkrong paling, Pa! Ada apa? Papa mau kenalin Eza sama calon Mama Eza?" Tebak Reza seakan sudah hafal.
"Iya!"
"Nanti kamu bawa sekalian calon kamu, ya! Papa mau lihat dia secantik apa sampai kamu kepincut kayak orang linglung begitu," pesan Pak Teddy pada Reza.
"Siap, Pa! Dimana nanti acaranya? Solo Square? Grand Mall?" Tanya Reza.
"Rica-rica Mbok Usreg!" Jawab Pak Teddy seraya terkekeh.
"Halah! Mbok yang elegan dikit, tho, Pa! Mosok nanti pas ketemuan gobyos kepedesen," kekeh Reza yang membuat Pak Teddy semakin terkekeh.
"Yaudah! Di Solo Square aja. Di gerai donatnya itu. Joko?"
"JCO, Pa! Kalau Joko itu kan namanya Pak RT!" Jawab Reza seraya tergelak.
"Iya itu! Di JCO Solo Square! Sore, ya! Jam empat!" Pesan Pak Teddy sekali lagi pada Reza.
"Siap, Ndoro!" Jawab Reza sedikit lebay.
"Ndorobei!" Sahut Pak Teddy yang sudah menghilang ke arah kamarnya.
Sementara Reza kembali mengutak-atik ponselnya dan lanjut bertukar pesan bersama Nadya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.