
"Kamu sudah benar-benar yakin, Zik?" Tanya Mama sekali lagi pada Zikri setelah pemuda itu menceritakan semua tentang asal usul Nadya.
"Zikri yakin, Ma! Bukankah Mama juga sudah sreg sama Nadya?" Jawab Zikri penuh keyakinan.
"Iya, tapi statusnya itu-"
"Ma!" Papa Zikri akhirnya ikut buka suara.
"Sudah tidak usah dibesar-besarkan!"
"Mau binti bapak atau binti ibunya, yang penting kan Nadya sudah jujur dan tidak menyembunyikan rahasia apapun!"
"Lagipula Mama sendiri yang bilang kalau Nadya itu cantik, anaknya baik, sopan, pinter, calon guru, menantu idaman. Jadi masalah ini nggak usah dibesar-besarkan lagi, Ma!" Tutur Papa Zikri panjang lebar yang langsung membuat Mama tak berkutik.
"Iya, Pa! Iya! Kok jadi Mama yang dikeroyok, sih!"
"Mama kan cuma tanya tentang kesungguhan Zikri sebelum serius sama anak orang."
"Takutnya nanti di belakang Zikri ngungkit-ngungkit," kilah Mama mencari alasan.
"Kok jadi Zikri, Ma?" Tanya Zikri bingung seraya garuk-garuk kepala.
"Zikri udah terima status Nadya, kok! Jadi nggak mungkin Zikri ungkit juga di belakang." Lanjut Zikri lagi bersungguh-sungguh.
"Iya, iya, sudah! Nggak usah dibahas lagi. Yang penting Mama cuma minta satu itu, ya! Nanti kamu bilang ke Nadya pelan-pelan!" Pesan Mama pada Zikri.
"Iya, Ma! Kenapa bukan Mama yang ngomong aja, sih?" Tawar Zikri seraya meringis.
"Halah, Zik! Kamu itu disuruh malah balik nyuruh!" Gerutu Mama seraya mengambil sebuah gamis dan memberikannya pada Zikri.
"Ini gamisnya Nadya untuk dipakai ke wisuda kamu minggu depan. Kamu bawa sekalian ke Jogja biar bisa dicoba sama Nadya."
"Nanti kalau kebesaran atau kepanjangan-"
"Ya biar dipotong sama Nadya sendiri, Ma! Punya calon mantu penjahit masa lupa," timpal papanya Zikri yang sontak membuat semuanya tertawa.
"Siapa yang lupa, Pa? Cuma nggak inget aja, kok!" Kilah Mama mencari pembenaran.
"Ini gamisnya seragam sama punya Mama, Mbak Nisa, dan Mbak Syifa?" Tanya Zikri memastikan.
"Lah iya, to, Zik! Kan mau foto keluarga sekalian! Piye to kamu itu!" Omel Mama yang langsung membuat Zikri meringis.
"Yaudah, Zikri berangkat sekarang aja, Ma! Biar nggak kesorean sampai di Jogja," pamit Zikri seraya mencium punggung tangan Mama dan Papanya secara bergantian. Rencananya, besok Zikri akan datang ke acara wisuda Nadya.
****
"Berarti sebelumnya kamu pernah pacaran sama Mas Reza, begitu?" Tanya Zikri yang masih geleng-geleng tak percaya dengan cerita Nadya mengenai silsilah keluarganya.
"Udah hampir ijab sah malahan," jawab Nadya seraya melempar jauh pandangannya ke lautan lepas.
Saat ini, Nadya dan Zikri sedang duduk pantai dekat rumah Eyang Putri. Nadya bahkan belum mengganti kebayanya dan Zikri juga masih mengenakan kemeja batik. Mereka berdua memang baru pulang dari acara wisuda dan sudah langsung melipir ke pantai, karena Zikri yang harus pulang lagi ke Solo sore ini.
"Tapi belum jadi ijab sah, kan?" Tanya Zikri memastikan.
"Belum lah, Mas!" Nadya terkekeh dan sudah ganti menatap ke arah Zikri yang masih duduk tenang seraya memainkan pasir pantai dengan jemari kakinya.
"Pantesan, ya. Waktu kita masih awal-awal kenalan itu Mas Reza protektif banget ke kamu," Zikri sudah ikut tertawa
"Iya, itu Mbak Riska sampai salah paham dan ngira Mas Reza belum move on."
"Padahal aslinya?" Zikri menyela cerita Nadya.
"Emang belum move on!" Nadya terkekeh.
"Udahlah, Mas! Anaknya udah mau dua, masa nggak move on move on," jawab Nadya seraya menulis sesuatu di atas pasir pantai.
"Kalau kamu?" Tanya Zikri lagi.
"Apa? Move on? Udah lama," jawab Nadya tersipu.
"Sejak?" Zikri sepertinya penasaran sekali.
"Sejak Mas Zikri minta nomornya Nadya," jawab Nadya akhirnya dengan wajah yang sudah bersemu merah.
"Kirain waktu itu nggak bakal kamu kasih, lho. Mana mintanya nyuruh Vika lagi," kenang Zikri seraya menatap ke arah Nadya.
"Ya kan cuma minta nomor. Kenapa juga nggak Nadya kasih. Kali aja Mas Zikri mau transferin pulsa."
"Eh!" Nadya cepat-cepat menutup mulutnya dengan telapak tangan karena keceplosan.
"Oh, ceritanya minta ditransferin pulsa? Nanti deh, aku ttansfer." Mas Zikri mengacak rambut Nadya.
"Nggak, kok, Mas! Nadya cuma bercanda," tolak Nadya cepat.
"Ngomong-ngomong, besok yang datang ke wisudanya Mas Zikri siapa saja?" Nadya ganti bertanya pada Zikri.
"Kamu, Mama, Papa, trus sama kedua mbak aku dan suaminya. Kenapa?" Zikri kembali menatap wajah Nadya yang kini geleng-geleng.
"Mas Zikri udah cerita ke Mama sama Papa Mas, soal latar belakang Nadya?"
"Sudah kemarin," jawab Mas Zikri cepat.
"Mama dan Papa nggak mempermasalahkan, kok, Nad!" Lanjut Zikri yang kembali mengusap kepala Nadya.
"Cuma...."
"Cuma apa?" Tanya Nadya tak sabar.
"Cuma lamarannya mau dipercepat kata Mama," ujar Zikri seraya tertawa kecil.
"Maksudnya?" Nadya merasa tak paham.
"Iya, kan Sabtu aku wisuda. Nanti hari Minggu Mama dan Papa mau sekalian ke rumah kamu buat melamar kamu."
"Sekalian yang ke Solo, gitu," terang Zikri yang langsung membuat Nadya ternganga.
"Kok mendadak?"
"Kan lebih cepat lebih baik, Nadya!"
"Lebih cepat sah, lebih cepat bisa pacaran dan kemana-mana berdua, tanpa kena grebek," jawab Zikri yang langsung membuat Nadya tersipu malu.
"Pulang, yuk!" Ajak Zikri selanjutnya seraya bangkit berdiri. Nadya mengangguk dan ikut berdiri juga. Keduanya langsung pulang ke rumah Eyang Putri.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.