NADYA

NADYA
LAMARAN DARI ZIKRI



Dua keluarga sudah duduk di ruang tamu rumah Papa Teddy. Nadya terus menundukkan wajahnya dan hanya sesekali menatap pada Zikri yang malam ini mengenakan kemeja warna maroon yang senada dengan baju tunik lengan panjang yang dikenakan oleh Nadya.


"Pak Hadi, mohon maaf sebelumnya. Tapi kami ingin menyampaikan sebuah hal penting tentang Nadya sebelum acara lamaran ini," Papa Teddy yang pertama buka suara dan sepertinya hendak menyampaikan masalah nasab Nadya yang memang lahir di luar pernikahan.


"Iya, silahkan, Pak Teddy. Bagaimana?" Jawab Papanya Mas Zikri seraya tersenyum hangat.


"Jadi kami sekeluarga sudah sepakat untuk tak menutupi apapun tentang Nadya." Papa Teddy menunjukkan akta kelahiran Nadya pada Papa dan Mamanya Mas Zikri.


"Nadya adalah anak yang lahir di luar pernikahan. Jadi memang tidak ada tercantum nama bapak kandungnya Nadya di akta dan Nadya tidak punya Wali yang akan menikahkan-"


"Masih ada Wali hakim, Pak Teddy!" Potong Pak Hadi dengan nada bocara yang tenang.


"Dan soal perwalian Nadya serta status Nadya ini, Nadya sendiri sudah menceritakan pada Zikri dan kami semua beberapa bulan yang lalu," ujar Pak Hadi lagi yang tentu saja langsing membuat Pak Teddy dan Bunda Maya kaget.


"Benarkah?"


"Itu benar, Om." Gantian Zikri yang menjawab.


"Nadya benar-benar gadis yang berani, jujur, dan berhati besar hingga ia tak segan menceritakan hal seperti ini sejak awal," tutur Zikri lagi memuji Nadya yang saat ini masih menundukkan wajahnya.


"Jadi, Pak Hadi sekeluarga tidak merasa keberatan dengan status Nadya ini?" Tanya Pak Teddy sekali lagi memastikan.


"Sama sekali tidak Pak Teddy!" Jawab Pak Hadi mewakili keluarganya.


"Alhamdulillah! Berarti sudah tidak ada ganjalan dan kita bisa lanjutkan acara malam ini," ucap Pak Teddy yang langsung disambut ucapan syukur dari anggota keluar Nadya yang lain.


"Bismillahhirrohmanirrohim." Zikri menarik nafas panjang dan sedikit salah tingkah saat akan mengucapkan kalimat lamaran pada Nadya.


"Nadya Wulandari, saya Zikri Mubarak malam ini datang kesini untuk melamar kamu dan meminta kamu menjadi istriku. Apa kamu bersedia, Nad?"


Zikri menatap ke arah Nadya dan menantikan jawaban dari hadis itu. Jantung Zikri rasanya tak berdetak dengan benar sekarang.


Zikri bahkan sampai menahan nafas saking groginya menunggu jawaban dari Nadya.


"Bagaimana, Nad? Mau tidak jadi istrinya Zikri? Kok cuma diam?" Bisik Mbak Riska yang sejak tadi memang duduk di sebelah Nadya.


"Iya, Nadya mau Mas Zikri," jawab Nadya akhirnya yang masih malu-malu.


"Mau benar, Nad? Jawabannya sudah tidak boleh diganti, lho, ya!" Celetuk Mas Reza sedikit berkelakar.


"Iya bener, Mas!" Jawab Nadya sekali lagi sedikit bersungut tapi masih malu-malu juga.


"Mau katanya, Zik!" Ucap Pak Teddy mempertegas jawaban Nadya.


"Alhamdulillah!" Semua orang yang bearda di ruangan tersebut langsung mengucapkan kalimat syukur.


Mamanya Mas Zikri bangkit berdiri dan segera menghampiri Nadya, lalu memasangkan cincin sebagai pengikat di jari manis Nadya.


"Yang ini hadiah dari Zikri, Nduk! Dipakai, ya! Biar jadi istri yang sholihah!" Ucap Mamanya Mas Zikri seraya memberikan sebuah kotak warna putih berhiaskan pita gold di atasnya.


Nadya terlihat bingung dengan hadiah yang baru saja diberikan oleh Mamanya Mas Zikri.


"Buka kotaknya, Nad!" Titah Zikri seolah menjawab kebingungan Nadya.


Nadya segera membuka penutup kotak warna putih tersebut dan gadis itu langsung terkejut sekaligus tersenyum melihat isi di dalamnya.


"Jilbab?" Gumam Nadya seraya tersenyum.


"Mulai sekarang, kalau keluar dari rumah, atau ketemu yang bukan mahramnya dipakai jilbabnya, ya, Nduk!" Ucap Mamanya Mas Zikri lembut.


"Iya, Tante!" Jawab Nadya seraya mengangguk-angguk.


Mbak Riska mengambil satu jilbab warna soft pink dari dalam kotak, lalu memakaikannya ke kepala Nadya.


"Cantik!" Puji Mbak Riska yang langsung membuat Nadya tersenyum.


Nadya ganti menatap ke arah Zikri yang kini juga sedang tersenyum ke arah Nadya. Pria itu mengangguk-angguk dan tetap tersenyum pada Nadya.


"Nanti setelah menikah, Nadya keberatan jika aku ajak tinggal di rumah Mama dan Papa?"


"Memang Mas Zikri udah dapat tempat magang?" Nadya balik bertanya pada Zikri.


"Alhamdulillah sudah. Di RSUD dekat rumah."


"Ooh! Yaudah, kita nanti tinggal di rumah Mama dan Papanya Mas Zikri saja. Kan kata Mas Zikri Mbak Syifa dan Mbak Nisa juga udah ikut suaminya masing-masing. Jadi, ya kita temani Mama dan Papa biar nggak kesepian," jawab Nadya panjang lebar.


"Jadi kamu nggak keberatan berarti, ya!" Tanya Zikri sekali lagi.


"Enggak, Mas! Insyaa Allah Nadya betah, kok. Kan Mama dan Papa baik. Nanti sekalian Nadya juga cari lowongan ngajar dekat-dekat situ," ujar Nadya bersungguh-sungguh.


"Ada kayaknya kata Mbak Syifa kemarin. Tapi ngajar di SMP bukan SMK."


"Itu juga udah bagus, Mas. Buat pengalaman. Deket rumah, tapi?" Tanya Nadya memastikan.


"Iya! Cuma jarak tiga atau empat kilo dari rumah. Nanti aku cari tahu lagi, ya!"


"Iya!" Jawab Nadya seraya mengangguk-angguk.


"Udah sholat tadi? Makan?"


"Udah semua, Mas! Ini lagi nemenin Rendra main," jawab Nadya.


"Oh, iya! Belajar momong keponakan dulu, ya! Jadi nanti kalau udah punya anak sendiri biar nggak kagok."


"Apa, sih!" Wajah Nadya langsung bersemu merah.


"Yaudah, tidurnya jangan malam-malam, ya! Jangan capek-capek juga, udah H-2 ini."


"Iya, Mas! Iya!"


"Mas Zikri juga jaga kesehatan.nanti ketemu pas hari H," jawab Nadya panjang lebar.


"Insyaa Allah langsung sah, ya!"


"Aamiin!" Jawab Nadya cepat.


"Aamiin."


"Aku tutup dulu teleponnya, Calon istri! Ada tamu," pamit Zikri selanjutnya.


"Iya, Mas! Assalamualaikum."


"Walaikum salam."


Nadya tersenyum-senyum sendiri setelah telepon dari Zikri terputus.


"Bulik! Kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Rendra bingung.


"Nggak ada apa-apa," jawab Nadya seraya meringis malu.


"Ayo lanjut mainnya!" Ucap Nadya lagi pada sang keponakan yang hanya mengangguk.


.


.


.


Dikit lagi tamat.


Terima kasih yang sudah mampir


Jangan lupa like biar othornya bahagia