
Hari Senin Pagi.
Nadya baru mengikat tali sepatunya, saat motor vixion merah Mas Reza tiba di rumah kontrakannya.
"Assalamualaikum," salam Reza setelah turun dan memarkirkan motornya.
"Walaikum salam. Kirain nggak jadi jemput, Mas!" Jawab Nadya sedikit berceletuk.
Reza duduk di samping Nadya sebelum menjawab celetukan remaja tujuh belas tahun tersebut.
"Jadi, dong! Kan udah janji," ujar Reza seraya mengacak poni Nadya.
"Mas Res!" Cebik Nadya melayangkan protes.
Gadis itu kembali merapikan poninya.
"Kok pake hitam putih? Nggak salah seragam?" Tanya Reza menyelidik setelah memindai penampilan Nadya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Nggaklah! Kan nanti mau langsung ke tempat prakerin. Jadi pakenya hitam putih," jelas Nadya yang hanya membuat Reza manggut-manggut.
"Nanti aku anterin ke tempat prakerinnya?" Tanya Reza selanjutnya.
"Nggak usah! Nanti udah diantar bu guru. Perginya bareng anak kelas sebelah yang satu tempat prakerin juga sama Nadya. Jadi nggak usah dianter!" Cerocos Nadya panjang lebar.
"Pulangnya jam berapa? Nanti aku jemput di sekolah atau di butik?" Tanya Reza lagi yang sepertinya sekarang sudah merangkap menjadi abang ojek untuk Nadya selain bakulan gombal di BTC.
"Jemput di butik kayaknya. Nanti Nadya kirim pesan pulang jam berapa, ya! Nadya belum tahu soalnya," jawab Nadya yang juga bingung.
"Baiklah!" Reza mengacak poni Nadya sekali lagi.
"Mas Res!" Nadya langsung bangkit berdiri dan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai karena kesal.
"Bunda mana? Aku mau pamitan," tanya Reza seraya celingukan kd dalam rumah.
"Masih nyuci tadi di belakang."
"Bunda!" Teriak Nadya yang langsung dibungkam oleh Reza.
"Manggil Bunda nggak boleh teriak begitu!" Tegur Reza sok galak.
Reza segera menuju ke arah dapur yang menyatu dengan sumur dan menghampiri Bunda Maya yang memang sedang membilas cucian.
Duh, kasihan sekali calon mertua sekaligus calon ibu sambung Reza ini. Nyucinya masih manual. Padahal di rumah Reza dan Pak Teddy kalau nyuci tinggal diputer pakai mesin. Itupun masih malas dan kadang bajunya langsung dilempar ke laundry samping rumah.
"Eh, udah datang, Za!" Bunda Maya menyapa Reza dengan ramah.
"Iya, Bund. Mau langsung berangkat saja antar Nadya biar nggak telat," ucap Reza berbasa-basi pada Bunda Maya.
"Yaudah, hati-hati!"
"Duh, tangannya basah," Bunda Maya cepat-cepat mengelapkan tangannya ke daster agar kering karena hendak dicium oleh Reza.
"Nggak apa-apa, Bund!" Jawab Reza yang langsung meraih tangan jnda Maya dan mencium punggung tangannya.
Nadya sudah ikut menghampiri sang bunda.
"Sudah dicek semua, Nad? Barangkali ada yang ketinggalan?" Bunda Maya mengingatkan Nadya yang kadang ceroboh.
"Sudah, Bund! Nadya berangkat, ya!" Nadya ikut mencium punggung tangan Bunda Maya.
"Iya, hati-hati!"
"Assalamualaikum, Bund!" Pamit Reza dan Nadya serempak.
"Walaikum salam! Tutup pintu depan, Nad!" Pesan Bunda Maya sedikit berseru oada sang putri.
"Iya!" Jawab Nadya yang disusul dengan suara pintu depan yang ditutup.
Reza sudah bersiap di atas motor dan menyalakan mesin, sementara Nadya masih memakai helm dan berdiri di samping motor Reza.
"Nanti kalau dibawa ke Sarangan atau Selo nggak kuat nanjak," kekeh Reza seraya meraih tangan Nadya, lalu melingkarkannya di pinggang.
"Kapan mau ke Sarangan memangnya?" Tanya Nadya antusias.
"Lha kamu maunya kapan? Nanti saja kalau libur sekolah," usul Reza yang langsung membuat Nadya bersorak senang.
"Yess!"
"Lebih enak juga pakai Vixion. Kamu bisa nempel-nempel begini," celetuk Reza sebelum melajukan motornya meninggalkan rumah Nadya.
"Iiih! Mas Res!" Nadya memukul punggung Reza dan Reza hanya tergelak tanpa dosa.
Motor Reza terus melaju perlahan menyusuri jalan gang. Nadya melambaikan tangan ke arah Lita yang masih memanaskan motornya di halaman, saat motor Reza lewat di depan rumah sahabatnya tersebut.
"Ciyee ciyee! Yang sekarang sudah punya abang ojek pribadi!" Seru Lita meledek Nadya yang hanya mencibir.
Motor Reza sudah masuk ke jalan utama dan terus melaju membelah aspal hitam. Reza mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang.
"Tadi udah sarapan belum?" Tanya Reza sedikit berteriak agar Nadya mebdengar suaranya.
"Udah!" Jawab Nadya yang ikut berteriak.
"Aku belum! Mampir beli sarapan sebentar, ya!" Ajak Reza pada Nadya.
"Nanti telat, Mas!" Nadya mengingatkan Reza.
"Sebentar saja," ujar Reza memaksa. Pria itu sudah membelokkan motornya kexsebuah warung nasi uduk di kawasan Kota Barat.
"Di bungkus aja, Mas! Nadya ada upacara," Nadya mengingatkan Reza sekali lagi.
"Masih jam setengah tujuh kurang lima menit. Aku makannya lima belas menit," tutur Reza meyakinkan Nadya.
"Ish! Nanti telat, Mas!" Nadya masih merasa keberatan.
"Udah, duduk! Aku makan bentar," perintah Reza yang sudah duduk dan mulai menyantap nasi uduknya.
Sedangkan Nadya hanya melihat reza yang begitu lahap makan seperti sedang kelaparan. Sesekali gadis itu mencomot suwiran ayam yang ada di nasi uduk Reza.
Tak sampai lima bekas menit, nasi uduk Reza sudah tandas tak bersisa.
"Alhamdulillah," ucap Reza setelah bersendawa kenyang. Reza meneguk habis teh hangatnya sebelum membayar makanannya.
"Tu, masih jam tujuh kurang dua puluh menit," ujar Reza santai seraya menunjukkan arloji di tangannya pada Nadya.
"Iya, iya! Cepetan jalan. Nanti sepurnya keburu lewat-" belum selesai Nadya bicara, terlihat dari kejauhan palang sepur Badran yang sudah tertutup.
"Tuh kan!" Nadya mencebik kesal.
"Halah! Sepurnya cuma satu. Nggak lama nunggunya. Ayo!" Ajak Reza bergegas. Nadya segera naik ke atas motor Reza dan benar saja, sepur yang kewat hanya satu tapi lumayan panjang juga. Tepat saat motor Reza mencapai perlontasan kereta, palang sudah dibuka kembali.
Reza terus melajukan motornya ke arah sekolah Nadya yang jaraknya tinggal beberapa ratus meter lagi.Tepat jam tujuh kurang lima menit, Nadya akhirnya sudah masuk ke dalam gerbang.
.
.
.
Ngomongin Sarangan, othor jadi ingat sama someone.
Uhuuk!
Keselek hape.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.