
Reza sedang merapikan kain-kain yang baru masuk sebelum menutup toko, saat seseorang yang sangat Reza kenal menyambangi tokonya.
"Ris!" Sapa Reza pada Riska yang sepertinya baru pulang dari butik dan langsung ke BTC.
"Eh, Za. Disini juga?" Tanya Riska yang tak menyangka kalau ia akan bertemu Reza di BTC.
"Baru mau nutup toko ini," jawab Reza seraya mengendikkan dagunya ke toko kain kecil miliknya.
"Oh, jadi ini toko kain yang kamu ceritain itu, ya?" Tanya Riska antusias seraya melihat-lihat stok kain yang ada di dalam toko.
"Iya."
"Kamu sendiri lagi cari apa?" Gantian Reza yang bertanya.
"Tadi lagi nemenin bapak nyari kain tambahan buat seragam RT. Ada yang belum kebagian katanya," jelas Riska saat krmudian sang bapak muncul dan berjalan ke arah toko Reza.
"Loh, Ris! Kamu malah udah nemu tokonya?" Kekeh Pak Sapta yang merupakan bapak kandung Riska.
"Loh, emang belinya kemarin disini, Pak?" Ridka balik bertanya pada sang bapak.
"Iya. Belinya memang di tokonya Reza," jawab Pak Sapta yang sepertinya malah sudah akrab dengan Reza.
Aneh sekali!
"Yang kurang kain yang mana, Pak?" Tanya Rea akhirnya pada Pak Sapta.
"Yang biru kemarin itu, Za." Jelas Pak Sapta.
"Oh,"
Reza langsung denagn cekatan mengambil kain warna biru yang krnarin semoat dibeli dalam jumlah banyak oleh Pak Sapta untuk dibagikan ke warga RT-nya. Karena katanya mau dipakai sebagai seragam untuk rewang.
"Yang ini, kan, Pak?" Tanya Reza memastikan.
"Iya, betul!" Jawab Pak Sapta.
"Tiga meteran, ya, Za! Orangnya jumbo-jumbo soalnya," lanjut Pak Sapta berpesan sebelum Reza mulai memotong kain.
"Siap, Pak! Berapa potong kurangannya?" Taya Reza lagi yang sudah mengambil kayu untuk mengukur kain sebelum mulai memotongnya.
"Empat potong," jawab Pak Sapta dan Reza langsung mengangguk.
Reza memotong kain dengan cepat dan cekatan, sementara Riska membantu melipat kain yang sudah di potong oleh Reza.
"Temanmu kemana, Za? Kok sendirian?" Tanya Pak Sapta menyelidik.
"Pamit pulang duluan tadi, Pak," jawab Reza yang sudah meraih empat plastik kemas, lalu memasukkan kain yang sudah selesai dilipat oleh Riska ke dalam plastik dan mengemasnya dengan rapi.
"Siap! Monggo, Pak!" Reza mengangsurkan dengan sopan kresek berusi potongan kain tadi pada Pak Sapta yang langsung ditukar dengan lembaran uang oleh Pak Sapta.
"Makasih, ya, Za!" Ucap Pak Sapta seraya pamit dari toko kain Reza.
"Sama-sama, Pak!" Jawab Reza tersenyum ramah.
"Langsung pulang?" Tanya Reza pada Riska yang sejak tadi hanya diam.
"Iyalah! Supirnya udah di depan itu. Nanti kalau ditinggal, pulang sama siapa," jawab Riska seraya terkekeh.
"Numpang aku juga boleh. Kan searah," sahut Reza sedikit berkelakar.
"Ck! Nanti ada yang ngambek. Takut aku," kekeh Riska sedikit lebay.
"Eh, udah ada yang punya, tho?" Tanya Reza menyelidik.
"Siapa?" Riska balik bertanya bingung.
"Ya kamu. Katanya tadi ada yang marah kalau aku antar pulang. Berarti sekarang kan udah ada yang punya," tebak Reza menerka-nerka.
"Horog! Aku mah masih jomblo, Za! Kamu itu lho udah ada yang punya!" Riska malah tergelak sekarang.
"Masih aja pakai bahasa horog!" Timpal Reza ikut-ikutan tergelak.
"Bahasa khas!" Jawab Riska yang masih tertawa kecil.
Ponsel gadis itu berbunyi.
"Bapak udah nungguin. Aku balik duluan!" Pamit Riska akhirnya pada Reza yang hanya mengangguk.
"Assalamualaikum!"
"Walaikum salam," jawab Reza seraya memperhatikan Riska yang mulai melangkah menjauh dari tokonya.
"Eh, Ris!" Seru Reza saat Riska hampir mencapai ujung lorong.
Gadis itu menoleh dengan cepat.
"Apa?"
"Minggu ada acara, nggak?" Tanya Reza yang sudah menyusul langkah Riska.
"Nggak ada. Kenapa?" Riska balik bertanya pada Reza.
"Ke Tawangmangu, yuk!" Ajak Reza yang terang saja langsung membuat Riska membelalakkan mata.
"Sama Nadya juga?" Tanya Riska memastikan.
"Berdua aja," jawab Reza yang semakin membuat Riska mengernyit tak percaya dan pikiran Riska juga sudah kemana-mana.
"Nggak, ah, Za! Nanti Nadya marah."
"Ya aku ngajaknya kamu, kok," jawab Reza enteng.
"Enggak, ah! Jangan cari perkara, deh!" Riska mulai menampakkan raut tak senang.
"Kenapa, sih? Kok kamu jadi marah gitu?" Tanya Reza bingung.
"Udah, ah! Aku mau pulang," ujar Riska yang langsung dengan cepat meninggalkan Reza yang hanya garuk-garuk kepala.
Reza hanya mengendikkan bahu dan segera melanjutkan menutup tokonya karena maghrib sudah hampir datang.
****
"Fuuh!" Nadya meniup sisa penghapus yang betebaran di atas sketch book-nya.
Gambar desain gaun pesta Nadya akhirnya jadi juga da Nadya tersenyum puas memandangnya.
"Itu kamu gambar sendiri atau njiplak, Nad?" Tanya Reza yang tiba-tiba sudah ada dj belakang Nadya.
Ya ampun!
Membuat orang jantungan saja!
"Gambar sendiri, lah, Mas!" Jawab Nadya sedikit bersungut.
"Bikin kaget aja Mas Reza ini!" Lanjut Nadya yang sudah ganti merengut setelah memukul pundak Mas-nya tersebut.
"Emang ponimu langsung njegrak? Enggak, kan?" Goda Reza seraya tergelak.
"Ck! Ya enggaklah! Lebay!" Sungut Nadya sekali lagi.
"Coba lihat!" Reza merebut sketch book Nadya dan memeriksa gambar desain adiknya tersebut.
"Bagus, Nad! Kamu ada bakat menggambar begini," puji Reza yang masih melihat-lihat gambar desain baju hasil goresan tangan Nadya.
"Terima kasih, Mas Reza yang ganteng calon suaminya Mbak Riska."
"Eh!" Nadya menutup mulutnya sendiri karena keceplosan.
"Apa, sih!" Reza mengacak rambut Nadya dan sedkkit gemas pada mantan calon istrinya yang kini sudah sah menjadi adik satu bapaknya tersebut sekaligus adik tiri Reza.
Aneh sekali perubahan status antara Nadya dan Reza kalau dipikir-pikir.
"Kan ucapan adalah doa, Mas! Nadya masih berharap mbak Riska jadi mbak iparnya Nadya, hlo!" Tukas Nadya seraya menaikturunkan akisnya ke arah Reza.
"Nanti kamu cemburu," goda Reza seraya mencolek hidung Nadya.
"Yo enggaklah! Mas Reza kan juga udah dekat sama bapaknya Mbak Riska. Kenapa nggak langsung dilamar aja?"
"Kasihan tu, mbak Riska. Sering diledekin perawan tua nggak laku sama tetangganya karena nggak nikah-nikah," lanjut Nadya yang langsung membuat Reza mengernyit.
"Tahu darimana?" Tanya Reza kepo.
"Yah, namanya kaum cewek, Mas! Kalau ketemu dan ngumpul di butik kan langsung curhat dan nggosip sambil ngerjain payetan kebaya," kikik Nadya jujur.
"Hmmmm! Bonus prakerin jadi tukang gosip juga sekarang, ya?" Cibir Reza yang hanya membuat Nadya meringis.
"Ya, Mas, Ya!" Rayu Nadya sekali lagi.
"Apanya?" Tanya Rea bingung.
"Mas Reza lamar Mbak Riska!" Jawab Nadya memaksa.
"Maksa banget, sih! Maksudnya apa, coba?" Tanya Reza tak mengerti.
"Ya, biar Mas Reza cepat move on juga!"
"Eh!" Nadya kembali membungkam bibirnya sendiri karena lagi-lagi ia keceplosan.
"Ternyata ada udang di balik bakwan!" Cibir Reza yang akhirnya paham maksud Nadya yang terus memaksanya untuk segera melamar Riska.
"Enak, dong, Mas! Udang di balik bakwan," kikik Nadya dengan raut tanpa dosa.
"Mas Reza udah move on, kan?" Tanya Nadya selanjutnya menyelidik.
"Udah! Kenapa masih tanya?"
"Kalau aku belum move on, udah aku gondol kamu ke hotel," kekeh Reza yang langsung membuat Nadya merengut.
"Nadya laporin Papa, lho!" Ancam Nadya pada Reza.
"Bercanda, Nad!" Reza mengacak rambut Nadya sekali lagi.
"Mas udah move on, dan sekarang sayangnya sama kamu itu sebagai adik. Nggak lebih dan nggak kurang," ucap Reza bersungguh-sungguh.
"Alhamdulillah! Berarti besok nglamar Mbak Riska, ya!" Bujuk Nadya sekali lagi.
"Ck! Maksa!" Decak Reza sebelum keluar dari kamar Nadya dan meninggalkan gadis remaja tujuh belas tahun tersebut.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.