NADYA

NADYA
MUSTAHIL



Maya melangkahkan kakinya dengan ragu ke teras rumah besar bergaya jawa klasik yang masih terdapat tenda duka di bagian depannya. Masih ada juga beberapa karangan bunga duka cita yang terpajang di halaman rumah dan sudah basah karena diguyur oleh hujan lebat.


Suasana duka di rumah yang kini berada di hadapan Maya terasa begitu nyata.


Tentu saja!


Baru dua hari berselang sejak kepergian putra kesayangan di rumah besar ini secara tragis. Kepergian yang begitu mendadak di depan mata Maya yang menyisakan duka di hati banyak orang, termasuk Maya dan calon jabang bayi yang kini sedang tumbuh di rahim Maya.


"Assalamualaikum," Maya mengucapkan salam dengan nada suara bergetar, menyapa sekumpulan orang yang tengah berbincang di ruang depan.


Tak ada yang Maya kenal, karena memang Mas Yoga belum pernah mengenalkan Maya pada anggota keluarganya.


"Walaikum salam?" Jawab orang-orang itu serempak, sebelum kemudian sesosok wanita datang menghampiri Maya.


"Cari siapa, Nduk?" Tanya wanita itu dengan tutur kata yang lembut.


"Sa-saya Maya, Buk," jawab Maya tergagap.


"Te-temannya Mas Yoga," lanjut Maya masih dengan nada tergagap.


"Oh, ayo masuk dulu!" Wanita paruh baya yang beberapa tahun lebih muda ketimbang ibu kandung Maya tadi mempersilahkan Maya untuk masuk dan duduk di atas karoet yang digelar di ruang tamu.


"Mau takziah, ya? Ibunya Yoga masih shock, jadi belum bisa menemui tamu," tutur wanita yang mengenakan blouse warna hitam tersebut.


"Ibuk siapanya Mas Yoga?" Tanya Maya memberanikan diri.


"Saya Ningsih, buliknya Yoga."


"Tolong dimaafkan kalau Yoga ada salah semasa hidupnya, ya, May! Yoga itu anak baik, tapi Tuhan memanggilnya begitu cepat," cerita Bulik Ningsih yang raut wajahnya langsung berubah sendu.


Kemarin saat pemakaman Mas Yoga sebenarnya Maya sudah datang ke rumah duka ini untuk mengantarkan Mas Yoga ke peristirahatannya yang terakhir. Namun Maya belum punya keberanian serta masih tak sampai hati mengungkapkan tentang dirinya yang kini tengah mengandung benih Yoga.


Darah daging Yoga dan cucu dari keluarga ini.


"Bulik, Maya sebenarnya ingin bicara hal penting," ucap Maya selanjutnya sambil berusaha mengumpulkan keberanian.


"Hal penting apa?" Tanya Bulik Ningsih menyelidik.


Maya segera mengeluarkan cincin dari dalam tas yang ia bawa. Cincin itu adalah cincin pemberian Mas Yoga yang katanya juga adalah cincin turun temurun di keluarga ini. Mas Yoga mrmang berniat mempersunting Maya setelah Maya di wisuda beberapa bulan lagi. Sayangnya takdir malah menggariskan hal lain.


"Ini," Maya menunjukkan cincin di tangannya pada Bulik Ningsih yang langsung membelalakkan matanya.


"Kamu dapat darimana cincin ini?" Tanya Bulik Ningsih menyelidik.


"Mas Yoga yang memberikannya, Bulik. Mas Yoga mengatakan kalau ia ingin menikahi Maya, dan sekarang Maya sedang mengandung anaknya Mas Yoga," jaeab Maya seraya terisak. Maya ganti mengeluarkan testpeck dua garis yang tempo hati ingin ia tunjukkan pada Yoga sebelum kecelakaan yang menimpa Yoga.


Bulik Ningsih langsung terlihat shock.


"Ya Allah!" Gumamnya seraya mengelus dada.


Wanita paruh baya itu buru-buru menghamoiri kumpulan pria yang sejak tadi masih duduk-duduk tak jauh dari Maya. Bulik Ningsih berbisik-bisik pada salah seorang pria yang ada di sana, sebelum wajah keduanya berubah tegang. Bulik Ningsih dan seorang pria asing tadi kembali menghampiri Maya lalu meminta Maya untuk berdiri dan ikut mereka menuju ke bagian dalam rumah besar tersebut.


Maya dibawa ke sebuah ruangan dan diminta untuk duduk di kursi kayu penuh ukiran. Sepertinya Maya akan disidang sebentar lagi.


Tak berselang lama, Bulik Ningsih sudah kembali bersama wanita paruh baya lainnya yang wajahnya mirip Mas Yoga. Wajah wanita itu masih terlihat sembab dan raut duka masih terlihat nyata di kedua netranya.


Maya sangat yakin kalau itu adalah ibu kandung Mas Yoga.


"Kamu siapa?" Tanya ibunya Mas Yoga menatap tajam kearah Maya.


"Sa-saya Maya, Buk!" Jawab Maya tergagap-gagap.


"Mau apa kesini?" Tanya wanita paruh baya itu lagi lagi dengan nada menggertak.


"Sa-saya hamil anaknya Mas Yoga, Buk!" Jawab Maya dengan suara yang sudah terisak.


"Jangan bohong kamu!" Gertak Ibunya Mas Yoga dengan suara yang semakin meninggi.


"Yoga itu anak baik-baik, jadi dia tak mungkin menghamili seorang gadis sebelum sah menikah!"


"Jangan ngaku-ngaku kamu!" Ibunya Mas Yoga menunjuk-nunjuk ke arah Maya dan tetap tak percaya dengan pengakuan Maya.


"Mbakyu, jangan kasar begitu!" Bulik Ningsih berusaha meredam emosi sang kakak.


"Diam kamu Ningsih! Jangan ikut campur!" Gertak ibunya Mas Yoga galak.


"Tapi ini benar-benar anaknya Mas Yoga, Buk! Maya berani bersumpah!" Maya sudah bersimpuh dan memohon pada ibunya Mas Yoga yang tetal menatapnya dengan sengit.


"Pergi, kamu! Tidak usah ngaku-ngaku! Cuma mau moroti harta, kan?" Tuduh Ibunya Mas Yoga yang semakin membiat Maya terisak-isak.


"Bawa perempuan tak jelas ini pergi dari sini, Ningsih! Kita sedang berduka, malah dia ngaku-ngaku hamil anaknya Yoga!" Perintah ibunya Mas Yoga pada Bulik Ningsih.


"Tapi, Buk! Bagaimana nasib anak dalam kandungan Maya ini?" Maya masih bergeming di tempatnya dan menangis tergugu, memohon belas kasihan.


"Bukan urusan kami! Itu bukan anak Yoga!" Tegas ibunya Mas yoga sebelum wanita paruh bayi itu pergi meninggalkan Maya yang masih menangis dan bersimpuh.


"Usir dia, Ningsih!" Teriaknya lagi pada Bulik Ningsih.


Maya segera mengusap airmatanya dengan kasar dan bangkit berdiri. Bulik Ningsih membantu Maya untuk berdiri dan menatap prihatin pada gadis itu.


"Yang sabar, ya, Nduk!" Ucap Bulik Ningsih prihatin.


Maya hanya mengangguk samar dan jembali mengusap airmatanya. Gadis itubtak berucap sepatah katapun dan segera pergi meninggalkan kediaman Mas Yoga, seraya berjanji dalam hati untuk tak akan menginjakkan kakinya lagi di rumah besar tersebut.


Namun kini, rumah besar itu ada di hadapan Maya. Rumah yang sudah menggoreskan luka mendalam di hati Maya atas penolakan yang dilakukan sang empunya, kini ada di depan mata Maya.


"May, kok melamun? Ayo turun!" Ajak Pak Teddy seraya tersenyum.


Maya buru-buru menghapus airmata yang menggenang di pelupuk matanya dan melroaskan sabuk pengaman. Nadya dan Reza sudah turun duluan, dan putri Maya itu terlihat mengagumi rumah bernuansa jawa klasik tersebut. Berbeda dengan Maya yang langkahnya terlihat ragu ragu.


"May!" Pak Teddy kembali menghampiri Maya yangbtertinggal di belakang karrna terlihat bingung.


"Kamu kenapa, sih, May? Grogi mau ketemu Ibuk?" Tanya Pak Teddy ddngan nada sedikit menggoda.


"Ibuk nggak galak, kok, May! Nggak bakalan gigit kamu!" Lanjut Pak Teddy yang masih saja menggoda Maya yang hanya membisu. Lidah Maya srolahbterasa kelu dan tak mampj mengucapkan sepatah katapun.


Pak Teddy terus membimbing Maya masuk ke teras rumah yang tak banyak mengalami perubahan tersebut. Lantainya masih dari ubin jadul warna kuning sama seperti delapan belas tahun yang lalu saat Maya datang kesini, dan hanya warnanya yang semakin terlihat kusam.


"Mas!" Maya menahan lengan Pak Teddy yang baru saja akan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Ada apa, May? Kamu kenapa pucat begitu?" Tanya Pak Teddy bingung.


"Maya-"


"Maya-" Maya bingung harus berkata apa saat samar-samar terdengar suara Eyang Putri yang menyapa Reza dan Nadya yang memang sudah terlebih dahulu masuk.


"Cucunya Eyang sudah datang! Kamu makin ganteng, Za!"


Suara itu!


Meskipun baru bertatap muka sekali, tapi Maya masih mengingat dengan jelas siapa pemilik suara itu.


Tak salah lagi!


Eyang Putrinya Reza pastilah ibu kandungnya Mas Yoga.


.


.


.


Oke!


Habis ini othor jualan bawang.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.