NADYA

NADYA
MASIH ADA RASA?



Reza membuka pintu mobil dan langsung melihat ke arah Riska yang tatapan matanya lurus ke depan.


Sesekali Riska juga akan menoleh ke jendela samping mobil, namun wanita hamil itu sama sekali tak menoleh ke arah Reza.


"Ris-"


"Nadya mana, Mas?" Tanya Riska masih tak menatap pada Reza.


"Itu masih di luar," jawab Reza sedikit salah tingkah.


Risa hanya mengangguk dan tak bicara lagi.


"Trus kamu maunya makan apa, Ris? Daritadi belum makan malam juga, kan?" Reza memecah kebisuan dengan melontarkan pertanyaan pada Riska.


"Terserah Mas Reza saja. Atau mungkin Mas Reza bisa tanya ke Nadya, dia mau makan apa," jawab Riska masih tetap tak melihat ke arah Reza.


Reza mengulurkan tangannya dan mengusap perut bulat Riska.


"Ris, kamu marah, ya?"


"Marah kenapa?" Riska menoleh sejenak ke arah Reza sebelum kemudian istri Reza itu kembali menatap lurus ke depan mobil.


"Soal sikap aku pada Nadya yang berlebihan tadi," ujar Reza sedikit meringis.


"Kenapa harus marah? Nadya kan adik kesayangannya Mas Reza. Wajar kalau Mas Reza melindungi Nadya sampai seperti itu."


"Riska nggak marah, kok!" Tutur Riska panjang lebar seraya mengulas senyum tipis di bibirnya demi meyakinkan Reza. Sekalipun itu adalah senyum yang dipaksakan.


Hati Riska rasanya masih seperti dicubit-cubit mengingat sikap Reza pada Nadya tadi. Sepertinya perasaan Reza sebagai seorang pacar pada Nadya masih belum sepenuhnya hilang. Dan mungkin saja selama ini Riska memang hanyalah sekedar pelarian dari rasa cinta Reza ke Nadya yangbtak pernah sampai tersebut.


Suara pintu mobil yang dibuka, menyentak lamunan Riska. Rupanya Nadya sudah ikut masuk ke dalam mobil dan menyusul Mas serta Mbak iparnya.


"Mbak Riska ngidam apa jadinya?" Tanya Nadya memecah keheningan di dalam mobil.


"Nggak jadi ngidam apa-apa, Nad! Mendadak eneg aja lihat gambar-gambar di buku menu tadi," jawab Mbak Riska seraya tertawa kecil.


"Begitulah! Dulu juga pernah ngidam Markobar. Udah dibeliin cuma dicuil sedikit bilang udah eneg juga," celetuk Reza menimpali jawaban Riska.


"Namanya juga ibu hamil. Ya dimaklumin aja, Mas!" Ucap Nadya dari jok belakang.


"Iya, ini maklum, kok!"


"Jadinya nggak mau beli makanan lain atau kemana gitu, Ris? Mumpung masih di daerah sini?" Tanya Reza sekali lagi memastikan.


"Nggak usah, Mas! Langsung pulang saja. Riska sudah ngantuk," jawab Riska yang masih saja merasakan sesak di dadanya.


"Baiklah. Mampir di angkringan sebentar, ya! Mau nasi kucing ini," usul Reza sebelum suami Riska itu melajukan mobil meninggalkan kedai gelato.


"Jadi ceritanya yang ngidam gantian Mas Reza, gitu?" Celetuk Nadya dari jok belakang.


"Ya biarin!" Sahut Reza yang langsung membuat Nadya terkekeh. Berbeda dengan Riska yang hanya tertawa seperlunya.


"Tapi Nadya juga jadi pengen sate usus dan gorengan, Mas. Nanti beliin sekalian, ya!" Pinta Nadya yang langsung membuat Reza mengacungkan satu jempolnya.


"Siap, Tuan Putri!"


****


"Loh!" Gumam Reza yang baru pulang dari Masjid untuk jamaah sholat subuh dan langsung mendapati Riska yang sudah kembali tidur serta menutupi tubuhnya dengan selimut seperti sebuah kepompong.


"Ris, kamu udah sholat?" Tanya Reza seraya mengguncang lembut tubuh Riska.


"Sudah, Mas. Tadi," jawab Riska yang suaranya sedikit serak.


"Trus nggak lanjut jalan-jalan pagi?"


"Ayo aku temenin!" Reza menyibak selimut Riska dan sedikit memaksa istrinya itu untuk bangun.


"Libur dulu jalan-jalannya, Mas! Riska kurang enak badan," Jawab Riska seraya menarik kembali selimut yang tadi disibak oleh Reza.


"Kamu sakit, Ris?" Buru-buru Reza memeriksa suhu tubuh Riska yang terlihat pucat.


"Panas dikit," gumam Reza yang langsung membenarkan selimut Riska.


Pria itu lanjut keluar dari kamar untuk mengambil teh hangat serta air untuk mengompres Riska.


"Ris," panggil Bunda Maya lembut seraya membantu Riska untuk bangun dan duduk.


"Pusing?" Tanya Bunda Maya memastikan.


"Iya, Bund. Sepertinya mau flu," jawab Riska yang suaranya terdengar serak.


"Minum dulu tehnya!" Reza mengangsurkan teh hangat pada Bunda Maya yang selanjutnya membantu Riska untuk minum.


"Tadi malam udah makan, kan?" Tanya Bunda Maya memastikan karena wajah Riska terlihat pucat.


"Nggak mau makan tadi malam, Bund! Habis pergi sama Reza dan Nadya itu, langsung tidur si Riska. Reza tawari nasi kucing sama gorengan juga nggak mau," tutur Reza yang langsung mengingatkan Riska pada kejadian tadi malam.


"Itu si Zikri udah kayak jelangkung aja, Nad! Dimana-mana ada!"


"Tadi di kedai gelato ketemu. Trus di warung angkringan masa ketemu lagi," omel Reza seraya keluar dari mobil.


"Yee! Ganteng begitu dibilang kayak jelangkung. Mas Reza itu sebenarnya kenapa, sih? Sirik banget sama Mas Zikri!" Sahut Nadya penuh tanda tanya.


"Ya males aja gitu lihat dia deket-deket kamu melulu! Takutnya kamu kepincut, klepek-klepek, bucin sama dia." Jawab Reza yang langsung membuat Nadya berdecak.


"Lebay! Mas Reza lebay!" Ledek Nadya pada sang Mas.


"Bukan lebay, tapi aku itu lagi jagain kamu. Mana ponsel kamu?" Mas Reza kembali membahas soal ponsel dan nomor Zikri di ponsel Nadya.


"Ponsel lagi! Udah, Nadya mau masuk!" Pungkas Nadya yangbsudah malas berdebat dengan Reza. Gadis itu langsung ngacir masuk ke dalam rumah seraya menenteng plastik berisi gorengan.


"Mbak Riska jangan ditinggal, Mas!" seru Nadya mengingatkan Reza yang tak peka dan tak sedikitpun membantu Riska yang baru turun dari mobil.


"Ris, mau nasi kucing?" Tawar Reza seraya menunjukkan plastik berisi nadi kucing dan beberapa lauk di tangannya.


"Enggak, Mas! Riska kenyang. Riska mau langsung tidur saja," jawab Riska seraya menutup pintu mobil.


"Oh, yaudah! Aku aku makan dulu bareng Nadya." Ujar Rexa yang sudah dengan cepat menyusul Nadya dan meninggalkan Riska tbaru sampai di depan pintu.


Riska hanya mampu menarik nafas dalam-dalam dan betusaha mengusir rasa pedih di hatinya.


"Ris, kok melamun?" Teguran Bunda Maya membutarkan lamunan Riska.


"Eh, enggak kok, Bund," jawab Riska tergagap.


"Jadinya mau sarapan apa, Ris?"


"Jangan menunda-nunda makan. Ingat kandungan kamu ini," Nasehat Bunda Maya seraya mengusap perut Riska.


"Bunda masak apa?" Riska balik bertanya Bunda Maya.


"Belum jadi masak tadi, karena kata Reza kamu demam."


"Kamu sarapan bubur mau? Biar dibelikan sama Reza. Atau mau nasi uduk?" Tawar Bunda Maya selanjutnya pada Riska.


"Bubur saja, Bund," jawab Riska akhirnya.


"Za, beliin dulu!" Titah Bunda Maya pada Reza yang sejak tadi hanya diam.


"Oke, Bund!"


"Nadya udah bangun belum, Bund? Mungkin aja mau ikut beli bubur," tanya Reza pada Bunda Maya sebelum suami Riska itu keluar dari kamar.


"Udah tadi." Jawab Bunda Maya.


Hhhh!


Nadya lagi!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.