NADYA

NADYA
BUKAN ANAK KANDUNG



"Saya tidak bisa, Pak!" Ucap Maya akhirnya setelah keheningan beberapa saat di dalam mobil. Meskipun sudah delapan belas tahun berlalu, namun trauma di hati Maya belum sepenuhnya hilang. Bayangan saat Mas Yoga mengalami kecelakaan terus saja menghantui mimpi-mimpi Maya hingga detik ini.


"Tapi kenapa, May?" Tanya Pak Teddy yang tiba-tiba sudah meraih tangan Maya dan menggenggamnya dengan erat.


"Saya dan Nadya punya masalalu yang tidak baik, Pak! Kami tidak pantas untuk Pak Teddy yang begitu baik," ucap Maya dengan nada lirih.


"Saya dan mendiang ayahnya Nadya tidak pernah menikah! Nadya itu anak yang lahir di luar pernikahan." Jawab Maya dengan raut sendu.


Pak Teddy langsung tercengang mendengar penuturan Maya tentang jati dirinya.


"Jadi, kamu bukan seorang janda, May?" Tanya Pak Teddy yang sepertinya masih sedikit tidak percaya.


Maya menggeleng.


"Ayah kandungnya Nadya meninggal karena kecelakaan sebelum tahu kalau saya sedang mengandung anaknya," ujar Maya lagi dengan airmata yang sudah berlinang.


"Saya bukanlah wanita yang baik, Pak! Saya tidak pantas untuk Pak Teddy," suara Maya tercekat di tenggorokan.


Wanita itu berusaha menghapus airmatanya yang terus saja jatuh ke kedua pipinya.


"May!"Pak Teddy sudah ganti merangkul pundak Maya dan berusaha meredakan tangisan wanita paruh baya tersebut.


"Setiap orang punya masalalu, May! Dan aku sangat-sangat menghargai kejujuran dirimu barusan." Ucap Pak Teddy yang kini sudah ganti mengusap lembut pundak Maya.


"Dan aku tetap pada keputusanku semula, May! Aku ingin menikahimu dan menjadi ayah sambung untuk Nadya," lanjyt Pak Teddy penuh kesungguhan.


"Pak-" Maya merasa tak tahu lagi harus menolak bagaimana juragannya yang begitu keras kepala ini.


"Aku juga bukan pria yang sempurna, May!" Ucap Pak Teddy tiba-tiba yang sedikit membuat Maya tertegun.


Tak sempurna bagaimana maksudnya?


Jelas-jelas kalau hidup Pak Teddy begitu sempurna. Punya usaha yang sukses, punya anak yang juga sudah mandiri. Bagian mananya yang tidak sempurna?


"Sejak dulu, aku selalu ingin punya seorang putri, seperti Nadya." Pak Teddy menatap menerawang ke arah jalan di depan mobilnya, dimana banyak kendaraan yang berlalu lalang.


"Tapi rasanya itu mustahil, karena aku pria yang tak bisa memiliki keturunan, May!" Lanjut Pak Teddy dengan nada sedih.


"Aku divonis mandul oleh dokter sudah sejak lama," sambung Pak Teddy yang raut wajahnya semakin terlihat sendu.


"Tapi bukankah Pak Teddy sudah punya seorang putra?"


"Za... Za..." Maya berusaha mengingat-ingat nama putra Pak Teddy.


"Eza? Dia bukan putra kandungku, May!" Jawab Pak Teddy menyebutkan nama putranya yang sedikit membuat Maya ingat pada Eza teman Nadya.


"Kamu kasih nama siapa, Nad?"


"Eza." Jawab Nadya seraya merengut.


Oh, iya.


Reza kan pakai nama panggilan Eza saat pertama kenalan dengan Nadya. Kok bisa sama dengan nama anaknya Pak Teddy, ya?


Ah, tapi mungkin itu hanya kebetulan.


Lagipula, pasti banyak yang punya nama Eza di luaran sana. Seperti halnya nama Maya dan Nadya yang begitu pasaran, nama Eza juga pasti bukan hanya anaknya Pak Teddy yang punya.


"Eza sebenarnya anak dari adikku. Cuma memang aku yang merawatnya sejak bayi karena aku dan istriku tidak bisa punya momongan," jelas Pak Teddy lagi yang terlihat menerawang dan sedang melangutkan sesuatu.


"Nez, kok kamu bangun dan keluar dari kamar?" Tegur Teddy pada Inez, istrinya yang sedang membuka-buka laci di lemari dekat televisi.


"Aku sedang mencari surat kebenaran, Mas," Jawab Inez dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar.


Sudah beberapa bulan terakhir, Inez divonis mengidap penyakit tumor otak oleh dokter. Kondisi istri Teddy itu juga kian melemah dari hari ke hari, membuat siapapun yang melihatnya pasti akan merasa trenyuh.


"Surat kebenaran apa?" Tanya Teddy bingung.


Teddy ikut membuka laci dan sepertinya berniat untuk membantu Inez.


"Ada di map warna hijau tua," ucap Inez lirih yang tubuhnya tiba-tiba limbung dan nyaris terjerembab ke lantai.


Beruntung Teddy bisa dengan sigap menahan tubuh istrinya tersebut sebelum sempat jatuh.


"Biar aku yang mencari, kamu duduk atau berbaring saja, ya!" Ucap Teddy lembut seraya membopong tubuh kurus Inez ke atas kursi yang biasa dipakai duduk saat menonton televisi.


"Za! Eza!" Teddy ganti memanggil Reza yang usianya masih sepuluh tahun.


"Ambilkan minum untuk Mama, Za!" Titah Teddy pada sang putra.


"Baik, Pa!" Jawab Reza patuh yang langsung menuju ke dapur untuk mengambilkan minum untuk sang Mama.


Teddy lanjut mencari map warna hijau tua di laci lemari. Ada delapan laci yang berisi kertas-kertas serta barang lainnya dan semuanya Teddy periksa satu persatu.


"Yang ini, Nez?" Tanya Teddy yang akhirnya berhasil menemukan map warna hijau tua yang bentuk dan warnanya sudah lusuh.


"Iya, Mas!" Jawab Inez yang sudah setengah berbaring seraya bersandar di kepala kursi.


"Map apa ini?" Tanya Teddy menyelidik seraya membawanya pada Maya.


"Surat dari dokter, Mas," Jawab Maya seraya mengeluarkan sebuah amplop yang berlogo sebuah rumah sakit swasta.


"Mas ingat saat dulu Inez meminta kita periksa ke dokter karena Inez yang tak kunjung hamil setelah setahun kita menikah?" Tanya Inez dengan nada lirih.


Teddy benar-benar harus memasang pendengaran baik-baik agar bisa mendengar suara lirih Inez.


"Iya. Mas ingat, Nez!" Jawab Teddy seraya menerima amplop yang disodorkan oleh Inez.


"Itu hasil pemeriksaan Mas Teddy yang selama ini Inez sembunyikan," ucap Inez yang tiba-tiba taut wajahnya sudah berubah sendu.


"Inez minta maaf, Mas!"


"Inez minta maaf!" Ucap Inez berulang-ulang saat Teddy membaca surat hasil pemeriksaan dirinya tersebut, kata demi kata, kalimat demi kalimat.


Inti dari surat itu adalah menyatakan kalau Teddy adalah pria mandul yang tidak akan bisa memiliki keturunan.


"Tapi, bukankah kamu langsung hamil beberapa bulan kemudian, Nez-" suara Teddy tercekat di tenggorokan dan matanya langsung mebatap ke arah Reza yang sudah kembali bermain bola di halaman samping rumah. Jebdela dj ruang keluarga memang mengarah langsung ke halaman dimana Reza sedang bermain bola.


"Reza bukan anakmu, Mas!" Tangis Inez sudah pecah sekarang.


"Aku main serong dengan adikmu, setelah membaca surat vonis dari dokter. Aku tidak kuat mendengar cibiran tetangga yang selalu mengejek karena aku yang tak kunjung hamil!" Beber Inez membuat pengakuan blak-blakan yang tentu saja langsung membuat Teddy shock.


"Aku juga ingin hamil dan punya anak seperti wanita lain, Mas!" Sambung Inez lagi yang seolah sedang mencari pembenaran.


Teddy masih mematung dan terus menatap pada Reza yang semakin asyik menendang bola masuk ke gawang kecil di halaman samping. Kini semua pertanyaan di kepala Teddy seakan menemukan jawabannya. Pantas saja, wajah Reza lebih mirip dengan wajah adik Teddy dan tak sedikitpun mirip Teddy.


Ternyata, Inez sudah berselingkuh dengan sang adik yang dulu sempat tinggal di rumah Teddy selama beberapa bulan. Benar-benar sebuah kenyataan yang menyakitkan!


"Pak Teddy!" Teguran Maya membuyarkan semua lamunan Teddy tentang masa lalunya.


"Eh, iya, May!" Pak Teddy sedikit tergagap.


"Pak Teddy melamun?" Tanya Maya yang berusaha meleoaskan lengan Pak Teddy yang ternyata sejak tadi masih merangkulnya.


"Eh, maaf!" Pak Teddy langsung salah tingkah, dan pria itu berdehem beberapa kali.


"Soal permintaanku tadi, May?" Pak Teddy kembali menanyakan jawaban Maya.


Wanita yang ditanya menundukkan wajahnya.


"May, aku benar-benar serius! Aku menerima kamu dan Nadya apa adanya. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik serta ayah yang baik untuk Nadya!" Ucap Pak Teddy sekali lagi dengan nada yang semakin bersungguh-sungguh.


"Saya tidak bisa memberikan jawaban sekarang, Pak! Dan saya ingin melibatkan Nadya dalam mengambil keputusan ini," jawab Maya akhirnya masih menundukkan wajahnya.


"Baiklah. Kita pulang dan meminta pendapat Nadya, ya!" Ucap Pak Teddy seraya mengusap tangan Maya yang hanya mengangguk.


Pak Teddy pun segera melajukan mobil minibusnya menuju ke rumah Maya.


.


.


.


Maaf kalau alurnya aku bolak-balik, ya!


Udah keenakan pakai alur maju mundur, sekarang kalau pakai alur maju kok merasa bosan.


Kalau bingung bisa komplain.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.