
Bim bim!
Suara klakson dari mobil Pak Teddy sudah terdengar dari depan rumah Lita.
"Papa udah datang. Aku pulang dulu, Lit!" Pamit Nadya seraya beranjak dari duduknya, dan meneguk sisa es teh di gelasnya hingga tandas.
Lita mengantar Nadya ke teras rumah.
"Besok main lagi, ya!" Pesan Lita pada Nadya.
"Besok masuk, yo! Mainnya ya pas libur!" Jawab Nadya seraya memakai sendalnya.
"Iya, maksudnya pas libur, Nadya!" Lita mengoreksi kalimatnya.
"Gantian sekali-sekali. Kamu yang main ke rumah aku, gitu!"
"Punya motor kok dianggurin," celetuk Nadya memberikan ide pada Lita.
"Iya. Nanti gantian aku yang ke ruahmu bawa es teler satu iglo. Biar kamu kembung," jawab Lita yang langsung membuat Nadya tergelak.
"Sekalian bawa gelas plastik nanti. Biar sekalian jualan es teler di depan rumah aku," timpal Nadya seraya melambaikan tangan ke arah Lita.
"Bye! Lita jelek!" Pamit Nadya seraya memeletkan lidah ke arah sahabatnya tersebut.
"Bye, Nadya jelek!" Balas Lita tak mau kalah.
Nadya sudah membuka pintu delan mobil Pak Teddy saat ternyata ada sang bunda yang duduk di sana.
Lah, jemput Nadya aja juga berdua?
Bucin amat ini orang tua Nadya.
"Di belakang, Nad!" Ucap Pak Teddy yang langsung membuat Nadya meringis.
"Kirain nyonyahnya nggak ikut, Pa!" Celetuk Nadya yang sudah ganti membuka pintu belakang.
"Papa kamu itu yang maksa nyuruh ikut," sahut Bunda Maya mencari alasan.
"Kan biar bisa sekalian jalan-jalan," jawab Pak Teddy seraya menatap Bunda Maya dengan tatapan mesra, sebelum papa sambung Nadya itu melajukan mobil dan meninggalkan rumah Lita.
"Ciyee yang mau pacaran. Nadya jadi obat nyamuk berarti nanti," celetuk Nadya menggoda bunda Maya dan Pak Teddy.
"Nggak ada, Nad! Cuma mau makan siang di luar kata papa kamu. Trus nanti balik lagi ke toko biar bisa gantian sama Mario," ujar Bunda Maya memberikan penjelasan.
"Yang punya toko masih sibuk pacaran, jadi kita bertiga deh yang ganti jagain," timpal Nadya seraya terkekeh.
"Kamu tahu Reza pergi sama siapa, Nad?" Tanya Pak Teddy penasaran.
"Lah, emang Papa nggak tahu?" Nadya malah balik bertanya.
"Kalau papa tahunya nggak bakal tanya ke kamu, Nad! Reza belum cerita kalau punya cewek baru," sahut Bunda Maya dari jok depan.
"Sama Mbak Riska, Bund! Teman SMA-nya Mas Reza dulu di Jogja katanya-"
"Owalah! Sama Riska, tho?" Sela Pak Teddy memotong kalimat Nadya.
"Papa tahu?" Gantian Nadya yang bertanya kepo.
"Tahulah! Dulu pas masih SMA kemana-mana berdua. Pulang pergi sekolah boncengan, tapi ngakunya nggak pacaran. Cuma teman. Sekarang malah jadi juga," kekeh Pak Teddy yang sesaat membuat senyuman di bibir Nadya sedikit pudar.
Kemana-mana berdua?
Kok Mas Reza nggak pernah cerita, ya?
Ah, tapi kenapa Nadya harus cemburu.
"Rumahnya di Sumber, kan, sekarang?" Tanya Pak Teddy lagi pada Nadya.
"Hah, siapa, Pa?" Tanya Nadya yang sedikit kehilangan fokus.
"Riska, pacarnya Reza."
"Oh, iya! Rumahnya Sumber belakang SMA Tekno-Sa katanya," jawab Nadya sedikit tergagap.
"Kok Mas malah tahu?" Tanya Bunda Maya ikut-ikutan kepo.
"Iya kan aku kenal juga sama bapaknya Riska. Pernah beberapa kali ketemu dan ngobrol bersama," jelas Pak Teddy seraya membelokkan mobilnya ke sebuah rumah makan.
Setelah Pak Teddy memarkirkan mobilnya, keluarga kecil itu segera masuk ke dalam rumah makan.
"Nadya!" Sapa seorang wanita pada Nadya.
"Eh, Bu Lala!" Jawab Nadya yang langsung membalas sapaan Bu Lala. Kebetulan sekali bisa bertemu denagn pemilik butik tempat Nadya prakerin ini di sini.
"Mau makan siang?" Tanya Bu Lala berbasa-basi. Sementara dinbelakang Bu Lala terlihat anak gadis Bu Lala yang saat ini memang duduk di kelas 9 SMP sedang bercanda bersama Zikri, keponakan Bu Lala yang calon dokter kemarin itu.
"Iya, Bu! Sama Bunda dan Papa," jawab Nadya yang langsung mengenalkan Bunda Maya dan Pak Teddy pada Bu Lala.
Mereka bertiga berbasa-basi sebentar sebelum kemudian Bu Lala pamit pulang duluan karena sudah selesai makan siang.
"Bye, Mbak Nadya! Besok ajarin gambar lagi, ya!" Celetuk Vika yang merupakan putri Bu Lala pada Nadya.
Vika memang sering main ke butik saat pulang sekolah dan kadang ikut ngobrol bersama Nadya, Sinta, Mbak Riska serta Mbak Siti,
"Oke!" Nadya mengacungkan jempolnya ke arah Vika, sebelum gadis itu masuk ke dalam rumah makan mengekori Bunda Maya dan Pak Teddy yang sudah masuk duluan.
"Ayo, Mas Zik! Bengong aja liatin Mbak Nadya!" Goda Vika pada sang sepupu.
"Apa, sih? Sotoy kamu!" Zikri langsung mengacak rambut Vika dan mereka berdua buru-buru menyusul langkah Bu Lala yag sudah terlebih dahulu sampai ke tempat parkir.
****
Riska yang baru turun dari atas motor Reza langsung berlari ke teras rumahnya demi menghindari hujan yang sejaknyadi mengguyur kawasan kota Solo. Ya, meskipun sebenarnya Riska juga sudah basah karena Reza yang tidak membawa raincoat.
Sepertinya Reza memang niat sekali mengajak Riska hujan-hujanan.
"Mampir dulu, Za!" Tawar Riska pada Reza yang hanya tertawa kecil.
"Udah basah kuyup! Aku langsung aja," pamit Reza yang kebali menyalakan mesin motornya.
"Eh, ponsel kamu!" Riska mengeluarkan ponsel Reza yang tadi dititip ke dalam tas Riska, lalu memberikannya pada Reza.
"Nggak bisa telepon kamu nanti malam kalau ponselnya ketinggalan," Kekeh Reza yang langsung melesakkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Aku langsung pulang, Ris! Assalamualaikum!" Pamit Reza sebelum pria itunmenutup kaca helm full face nya.
"Walaikum salam! Hati-hati!" Pesan Riska bersamaan dengan motor Reza yangbsuadh melaju meninggalkan halaman rumah Riska.
Riska tersenyum sendiri dan segera masuk ke rumah untuk berganti baju. Hati Riska terasa berbunga-bunga sekarang.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.