
Pagi hari sudah mulai di sibuk kan dengan aktifitas Nadya yang akan kuliah dan Hengki yang akan ke kantor. Keduanya sudah siap untuk berangkat, tapi sebelum berangkat sarapan pagi lebih dulu, hanya berdua saja karena nyonya Rima masih berada di Eropa. Seperti biasa Nadya akan di antar ke kampus oleh Hengki setelah itu baru berangkat ke kantor.
Nadya berjalan di lorong kampus, karena kecantikan dan kebaikannya banyak mahasiwa laki dan perempuan yang menyukainya.
"Hai Nadya, apa kabar?" sapa Indra ketua BEM yang selama ini menyukai Nadya namun malu untuk menyatakan nya.
"Hai Indra, kabar aku baik, gimana kegiatan di BEM masih aktif? Nadya bertanya hanya untuk basa basi saja.
"Masih aktif, aku ketemu sekarang mengajak kamu demo di senayan. gimana mau ga?" Indra berharap agar Nadya ikutan demo.
"Seperti nya aku ga bisa, pasti tidak akan di kasih ijin sama suami aku." Nadya berkata yang sebenarnya.
"Apa k k kamu sudah punya su suami?"
Bagaikan di sambar petir siang hari. Rasanya sangat tidak percaya kalau wanita yang selama ini dikaguminya sudah menjadi milik orang lain.
"Indra kamu kenapa?" tanya Nadya
"Ga apa apa kok, ya udah aku mau ke sekretariat BEM dulu.
Dengan langkah perlahan Indra meninggalkan Nadya berdiri terpaku
"Hei lu ngapain bengong sendirian di sini, ntar ke sambet setan kampus baru tahu." tegur Nisa
"Iya lu setan kampusnya." jawab Madya
"Sialan lu, mana ada setan cantik kaya gue." Nisa penuh percaya diri
"Ada kok setan yang cantik." timpal Madya
"Mana setan cantiknya?" tanya Nisa
"Nih depan gue." jawab Nadya menahan tawa
Nisa yang baru menyadari kalau yang di maksud adalah dirinya, langsung marah.
"Dasar lu ya."
Kedua sahabat itu tertawa bersama.
"Masuk kelas yuk, bentar lagi mapel udah mau di mulai."
"Ayo." ajak Nadya
"Gue lihat IG lu, banyak postingan di London ya, kapan lu berangkat ko ga ajak ajak gue?"
"Gue berangkat ke London karena mertua gue yang minta, mamah keliling Eropa, pake kapal pesiar sama teman teman sosialitanya. Nah kalau mamah udah sampai London, gue di suruh nyusul sama suami gue." jelas Madya menghela nafasnya.
"Gue satu minggu di London." sambung Nadya.
"Jadi lu balik ke sini bareng mertua lu?" tanya Nisa penasaran
"Ga, mertua gue lanjut ke Prancis satu minggu sama ke Jerman di sana satu minggu juga, setelah dari sana mamah pulang pake pesawat."
"Oh gitu." Nisa manggut manggut
"Lu ada oleh oleh ga buat gue, masa traveling ga bawa oleh oleh?"
"Ada khusus buat lu, nih gue bawa." Nadya menyerahkan paper bag.
"Memang lu besti gue, tahu aja yang gue mau" jawab Nisa tertawa bahagia mendapatkan oleh oleh dari London.
Kelas sudah di mulai, Madya tampak antusias mendengarkan penjelasan dari dosen.
Sementara di kantor Hengki sedang berkutat dengan seabreg pekerjaan yang di tinggalkan selama satu minggu. Walaupun sebagian sudah dapat di handle Andrie asistennya namun ada beberapa berkas yang harus di periksa CEO langsung terkait beberapa proyek besar.
Tok.....Tok.....
Pintu di ketuk dari luar.
"Masuk" Hengki menjawab ketukan pintu.
Andrie masuk ke dalam ruangan CEO setelah mendapatkan ijin, walaupun Andrie adalah asisten kepercayaan Hengky, namun tidak sembarangan masuk ke dalam ruangan direktur.
"Gimana sudah dapat informasi yang aku butuhkan tentang wanita itu?" Hengki langsung bertanya ketika Andrie masuk ruangan
"Ini tuan berkas yang anda inginkan."Andrie menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat.
"Sebenarnya siapa wanita itu?"
"Wanita itu adalah adik kandung nona Jennifer beda ayah hasil selingkuhan ibunya dengan laki laki lain."
"Setelah mengetahui kalau anak yang di kandung itu bukan anaknya, ayahnya Jennifer menceraikan ibunya Jennifer yang saat itu masih SMP."
"Jennifer tidak tahu kalau dia punya adik beda ayah, namun setahun yang lalu ada seorang perempuan yang mengaku sebagai adik dari Jennifer."
"Saat tuan dekat dengan Jennifer adik nya belum muncul, sehingga tuan hanya tahu kalau dia anak tunggal."
"Ketika Jennifer di sejak di hutan dan mati di gigit binatang pengerat itu, adik nya mengetahui kalau kakaknya dl sekap oleh tuan. Sejak saat itu adiknya Jennifer yang bernama Sania melacak keberadaan tuan dan terus membuntuti ke mana pun tuan dan Nona pergi termasuk ke London, itu informasi yang saya dapatkan dari anak buah saya." jelas Andrie panjang lebar.
Setelah mendengar penjelasan dari Andrie, Hengki merasa khawatir dengan keselamatan istri kecilnya. Hengki berpikir kalau Nadya harus selalu di kawal oleh beberapa orang pilihan, karena kalau sedang di kampus Nadya tidak ada yang menjaga.
"Kamu tempatkan beberapa orang pengawal bayangan untuk menjaga istri ku, jangan sampai Nadya tahu kalau dirinya sedang fu kawal karena akan membuat nya tidak nyaman jika sedang di kampus."
"Baik tuan segera saya laksanakan." ucap Andrie
Setelah Andrie keluar dari ruangannya, Hengki beranjak dari tempat duduknya, sembari menelpon seseorang.
Hengki keluar dari ruangan dan menghampiri sekretaris nya,
"Saya keluar dulu, kamu handle semua urusan saya hari ini, termasuk bertemu klien." ucap Hengki berlalu menuju lift khusus CEO.
"Baik tuan."' Anita mengangguk
Di tempat parkiran Hengki masuk ke dalam mobil dan melaju membelah kota yang sedang macet. Tujuannya adalah kampus Nadya,
Hengki sangat khawatir dengan keselamatan Nadya, ketakutan yang berlebihan, mungkin itu wajar karena lawan yang di hadapan nya belum di ketahui kehebatan nya, apakah dia pintar dalam strategi atau masih amatir.
"Sayang kamu masih di kampus?" Hengki menelpon Nadya dari dalam mobil,
".........."
"Jadi sudah tidak ada kelas lagi?"
".........."
"Mas jemput ya, kamu tunggu di dekat gerbang kampus."
"........."
Selesai telponan, Hengki langsung meluncur menuju kampus Nadya, dari kantor ke kampusnya memakan waktu setengah jam seharusnya, tapi karena macet jadi lebih lama.
Sementara di kampus Nadya baru saja selesai mapelnya..
"Pulang di jemput suami lu ga." tanya Nisa satu belakang.
"Tadi suami gue telpon.katanya lagi PRE, gue di suruh nunggu di gerbang kampus."
"Sorry banget ya Nis. kita ga bisa sering sering keluar bareng, lu tahu keadaan gue yang udah nikah."
"Ya udah ga apa apa, gue ngerti kok keadaan lu seperti apa. Yuk gue temenin lu nunggu di gerbang kampus." ucap Nadya
"Ga usah Nisa, memangnya lu ga ada urusan, nganterin gue?" tanya Nadya
"Perasaan gue kurang enak beberapa hari ini kalau lihat lu jalan sendiri, mudah mudahan cuma perasaan gue doang"
"Mungkin karena kita sudah seperti saudara jadi perasaan sayang lu sama gue banyak banget."
"Sebanyak apa?"
"Sebanyak kebon singkong babe na'im." mereka berdua tertawa.
...****************...
Hai,.baca terus ya karya aku yang pertama Ini.
Semoga kalian suka cerita halu author.
Jangan lupa koment, like dan vote favoritnya, kasih bintang 5 juga
"