
Satu minggu sudah berlalu, kesedihan masih tampak di wajah Nadya. Nyonya Rima sangat menyayangi menantunya, tidak pernah sebentar saja meninggalkan nya. Hengki suami Nadya selalu menghiburnya, walaupun dia sendiri tahu tidak ada cinta untuknya dari istrinya, walaupun dirinya sangat mencintai nya jauh sebelum ada ikatan pernikahan.
Hengki pertama kali melihat Nadya saat ayahnya meminta di antar ke rumahnya pak Ridwan untuk membicarakan sesuatu yang penting menurut mereka. Saat itulah Hengki melihat Nadya baru pulang sekolah putih abu, turun dari mobil, melewati nya saat akan masuk rumah, dan terpesona pada pandangan pertama. Menurutnya Nadya sangat cantik alami di usianya yang masih muda.
Ayah Nadya dan ayah Hengki sudah bersahabat sejak mereka masih muda, ayah Nadya pernah di tolong oleh ayahnya Hengki ketika itu keadaan ekonomi ayah Nadya masih pas pasan. Ayah Hengki tergerak hatinya untuk menolong sahabat yang di sayanginya agar kehidupan ayah Nadya menjadi lebih baik. Sejak saat itu dirinya berjanji akan mengabulkan apapun yang di inginkan oleh ayah Hengki.
Pagi itu Hengki berada di meja makan untuk sarapan pagi, Nadya tampak sangat canggung dekat dengan suaminya. Tidak ada pembicaraan di antara mereka.
"Maaf kalau kamu tidak merasa nyaman berada di dekatku." ucap Hengki memecah kesunyian.
Nadya hanya terdiam mendengar perkataan Hengki.
"Mamah meminta kita untuk tinggal bersamanya di rumah kami agar kamu tidak merasa kesepian dan tidak bosan, dan juga agar mamah bisa dekat dengan kamu."
"Aku masih betah berada di rumah ayah, banyak sekali kenangan dengan nya."
"Justru kalau kamu terlalu di rumah ini, akan membuat kamu semakin merasa sedih dengan semua kenangan itu, kalau kita pindah ke rumah mamah, sesekali kita bisa menginap di rumah ini."
"Nanti saja biar aku pikirkan, aku sudah selesai sarapan, sekarang mau istirahat." ucap Nadya berlalu ke kamarnya meninggalkan Hengki yang sedang termenung di meja makan.
Hari itu Hengki memutuskan untuk berangkat ke kantor, sudah seminggu tidak masuk kerja. Setelah memakai pakaian lengkap, Hengki mengetuk pintu kamar Nadya untuk berpamitan. Tidak lama kemudian Nadya membuka pintu.
"Mas mau ke kantor, kalau bosan di rumah kamu bisa telpon temanmu untuk datang kemari, ini buat kamu." Hengki menyerahkan sebuah kartu black card unlimited.
Setelah berpamitan, Hengki berangkat ke kantor. Sementara Nadya menelpon Nisa untuk menemaninya di rumah.
"Nisa lu ada lagi ada kuliah ga, kalau ga ada bisa ga lu ke rumah gue, lagi bete nih."
"...................."
"Iya ntar gue traktir ke mall."
"...................."
"Iya gue serius, suami gue baru ngasih black card."
".................."
"Ok gue tunggu sekarang." Nadya meletakan Hp nya dan kembali berbaring menunggu Nisa datang. Tidak lama kemudian Nisa datang dengan segala kehebohannya.
"Ini penganti baru, ngapain di kamar terus,. lu ga bosan"
"Gue lagi suntuk dan bingung."
"Bingung kenapa?" tanya Nisa
"Tadi suami gue minta agar gue bisa pindah ke.rumah mamah nya biar gue ada teman, tapi gue masih betah tinggal di rumah ini. terlalu banyak kenangan manis bersama ayah setelah ibu gue meninggal."
"Kalau lu terus tinggal di rumah ini, lu ga akan bisa lepas dari kenangan bersama bokap lu, ide suami lu buat tinggal di rumah mamahnya lebih baik lu tinggal di sana, siapa tahu lu bisa betah di sana, dan lu bisa main ke rumah ini sekali kali."
"Suami gue juga bilang gitu, nanti gue pikirin lagi deh."
"Nah gitu dong semangat, terus kapan lu mau kuliah lagi?"
"Mungkin lusa gue mau kuliah lagi, banyak mapel yang ketinggalan."
"Mapel lu ga usah khawatir, lu bisa pinjam buku catatan gue."
"Iya, makasih ya Nis, lu selalu ada buat gue."
"Itulah gunanya sahabat." ucap Bisa memeluk Madya
"Ya udah, gue ganti baju dulu."
Nadya masuk kamar untuk ganti pakaian yang casual, setelah siap mereka berdua berangkat.
"Nad, lu ga ijin dulu sama suami lu kalau kita pergi ke mall, gue ga enak sama suami lu."
"Mau ijin gimana, nomer telponnya aja gue ga tahu." jawab Nadya santai tanpa beban.
"Kalian berdua itu udah nikah selama satu minggu, masa ga tahu kontak masing masing"
"Dia ga nanya."
"Harus nya lu punya inisiatif sendiri."
Nadya hanya diam saja mendengar ocehan Nisa. Akhirnya mereka sampai juga di mall yang di tuju, keluar masuk butik membeli beberapa pakaian dan sepatu, lelah berkeliling mall, mereka makan siang di restoran yang berada di pusat perbelanjaan tersebut.
Mereka duduk di meja yang agak pojok agar lebih leluasa memandang keluar melihat pengunjung restoran. Diantara pengunjung, mata Nadya melihat suaminya sedang makan siang bersama beberapa klien nya, Nisa yang melihat pandangan Nadya tertuju pada seseorang yang di kenalnya.
"Suami lu lagi makan siang juga di sini, lu ga samperin sana biar sekalian ijin kalau kita lagi jalan jalan."
"Males ah, biarin aja dia di sana, ntar ganggu makan siang mereka."
"Suami lu itu perfect banget, ganteng tajir CEO lagi, idaman banget."
Nadya hanya terdiam mendengar Nisa memuji suaminya, tidak dapat di pungli di memang kalo suaminya sangat sempurna, pujaan semua wanita yang melihatnya. Namun Nadya tidak ada rasa sama sekali.
Selesai makan siang, Nadya dan Nisa memutuskan untuk pulang, karena sudah lelah keliling mall.
Nisa tidak lama di rumah Nadya karena khawatir suami Nadya pulang cepat, dari pada dirinya malu sama suaminya Nadya, walaupun di cegah untuk tidak pulang dulu, Nisa tetap pulang dengan alasan lupa kalau ada janji sama mamah nya pergi ke supermarket.
Setelah Nisa pulang, rumah sepi lagi. Nadya memikirkan keputusan Hengki untuk membawanya pindah ke rumah mertuanya dengan alasan agar Nadya tidak kesepian di rumah kalau sedang tidak ada kuliah. Sore menjelang, Hengki sudah pulang dari kantor, sedangkan Nadya masih setia berada di dalam kamarnya. Jam makan malam, bi Ani mengetuk pintu kamar.
"Non, makan malam sudah siap, tuan Hengki sudah menunggu non Nadya di meja makan."
"Iya bi makasih, sebentar lagi aku keluar."
"Baik non."
"Di ruang makan, Hengki sudah menunggu dirinya untuk makan malam, dan seperti biasa mereka makan dalam diam, berkutat dengan pikiran mereka masing masing.
"Tadi siang kamu ke mall berdua dengan teman kamu?"
"Iya mas."
"Apa kamu sudah memikirkan agar kamu bisa pindah ke rumah mamah?"
"Sudah mas."
"Bagaimana mau?"
Nadya menganggukan kepala.
"Syukur lah kalau kamu mau pindah ke rumah, mamah pasti akan sangat senang kalau kamu mau tinggal dengan mamah." ucapnya Hengki
...****************...
Hai, jangan lupa koment, like dan vote nya di tunggu ya