NADYA

NADYA
Part 11



Makan malam sudah tersaji dengan rapih di meja makan hasil pasakan Nadya. Nyonya Rima yang baru pulang dari butiknya mencium bau masakan yang menggugah selera.


"Wah....aroma masakan yang pasti enak ini, kebetulan malah belum makan, tapi mamah mau bersih bersih dulu ya." Melihat anak dan.menantunya baru turun dari kamar


" Baik mah, kami tunggu, aku juga sudah laper banget." sahut Hengki


Nyonya Rima turun dari kamar dengan keadaan segar setelah bersih bersih. Nadya dan Hengki yang sudah menunggu segera santap malam.


"Sayang Kalau sudah selesai kita ngobrol di ruang tengah, rasanya sudah lama sekali kita tidak berkumpul, kamu tidak ada pekerjaan kam?" tanya Nyonya Rima


"Kebetulan hari ini pekerjaan aku tidak terlalu banyak." Jawab Hengki


Nadya baru saja selesai membereskan bekas makan dan mencuci yang kotor. Sebenarnya itu tugas Art, tapi karena Nadya sudah terbiasa melakukannya. Walaupun anak orang berada tapi tidak manja.


"Sayang sini duduk dekat malah." ajak nyonya Rima pada Nadya yang menuju ruang tengah membawa kopi dan teh hangat juga camilan.


"Loh kok, harus duduk dekat mamah, Nadya kan istri aku, seharusnya duduk di sini." menepuk tempat duduk di sampingnya


"Nadya duduk sama mamah cuma sebentar, sedangkan kamu dekat sama Nadya lama."


Nadya yang mendengarnya hanya tertawa kecil mendengar perdebatan suami dan mertuanya.


"Sudahlah mas, dari pada nanti pas tidur sama mamah gimana? mau?" Nadya menengahi


"Benar itu kata Nadya." mamah tertawa melihat anaknya kesayangan nya cemberut.


Hampir jam sebelas malam, Nadya Hengki dan nyonya Rima masuk ke kamar. Masuk.ke kamar mandi mengganti piyama tidur. Naik ke tempat tidur menekankan mata sambil berpelukan.


...****************...


Drrrtt......drrrrrt.....drrrrt.....


Ponsel Nadya bergetar beberapa kali. Terlihat "MAMAH". tanda hijau di geser ke atas.


"Ya mah ada apa?"


".........."


"Belum, sebentar lagi."


".........."


"Boleh, dimana?"


".........."


"Mamah jemput aku ke kampus?"


"Menunya samain aja, mas Hengki pasti suka"


".........."


"Ya, aku tunggu di gerbang kampus'"


"........."


Baru saja Nadya menyimpan ponselnya di dalam tas, terdengar suara melengking yang memanggil nya. Siapa lagi kalau bukan Nisa besti nya.


"Lu mau balik bareng gue ga? kebetulan gue bawa mobil, tapi mampir dulu ke mall yuk, udah lama banget kita ga hang out."


"Aduh sorry gue bentar lagi di jemput mamah.mas Hengki mau ngajakin makan siang di kantor suami gue."


"Oh gitu ya, ya udah ga pa pa, have fun ya." Terlihat Bisa sedikit kecewa."


"Sorry gue bikin lu kecewa, tapi nanti kalau.mapel kita pulang cepat, gue ijin sama mas Hengki buat kita Hang out. Gimana?"


"Okelah gue tunggu."


Suara klakson mobil menghentikan percakapan kedua sahabat itu. Mertuanya sudah datang menjemput.


"Sayang ayo kita berangkat sekarang." ajak.Nyonya Rima


"Ayo mah."


"Mamah masih ingat sahabat aku, Nisa. ini.mertua aku." di depan mertuanya Nadya menggunakan bahasa aku kamu


"Iya mamah ingat. Terima kasih yah selama.ini sudah menjadi sahabat Nadya."


"Iya tante." Nisa menjawab ramah.


Mobil mewah yang di.tumpangi Nadya melaju menuju kantor Hengki.


"Sayang kamu bersahabat dengan Nisa sudah lama?"


"Sudah mah, sejak di bangku SMA, kebetulan Nisa tinggal satu komplek sama aku, cuma beda blok. Keluarganya juga baik."


"Syukurlah kalau kamu punya sahabat yang bisa di ajak suka dan duka." Nyonya Rima tersenyum


Akhirnya sampai juga mereka di depan kantor perusahaan Hengki. Security dan receptionis dan beberapa karyawan yang mengetahui siapa yang datang, tersenyum mengangguk.


"Hengki ada di ruangannya? tanya.Nyonya Rima pada receptionis.


"Tuan Hengki ada di ruangannya, tapi tadi sedang ada tamu. Apa perlu saya beritahukan kedatangan nyonya. dan istri tuan Hengki kepada sekretaris nya?"


"Tidak usah di beritahukan, biar kami ke atas saja langsung dan menunggu di dekat ruangannya." ucap nyonya Rima tersenyum.


Nyonya Rima terkenal ramah dan murah senyum kepada seluruh karyawan perusahaan nya. Temasuk pada karyawan office boy.


Nadya dan nyonya Rima masuk ke dalam lift khusu executive. Perlahan lift bergerak menuju lantai ruangan Hengki. Lift terbuka dan tampak Anita sedang sibuk mengerjakan tugas tugas nya.


Melihat siapa yang datang, Anita bangkit dan menyambut kedua nyonya Atmadja.


"Selamat siang nyonya, maaf Tuan Hengki sedang ada tamu di ruangannya."ucap Anita ramah.


"Tidak apa apa Anita, biar kami tunggu di sini."jawab nyonya Rima.


Nadya dan nyonya Rima duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Anita menyuguhkan minuman teh hangat dan camilan serta majalah.


Terdengar suara wanita dengan intonasi yang keras. Nadya dan Nyonya Rima saling pandang.


"Anita sebenarnya siapa tamu yang berada di ruangan Hengki?"


Wajah Anita pucat pasi mendengar pertanyaan nyonya Rima. Melihat perubahan wajah Anita yang pucat dan nada bicara yang gugup membuat Nyonya Rima curiga lalu bangkit dari duduknya di ikuti Nadya menuju pintu ruangan Hengki.


Pintu ruangan terbuka dan terlihat Hengki memeluk seorang wanita.


"Hengki kamu sedang apa dan siapa perempuan yang kamu peluk itu." teriak Nyonya Rima penuh amarah.


Hengki yang mendengar suara mamah nya yang berteriak segera melepaskan pelukannya.


"Mah ini tidak seperti yang mamah lihat, aku bisa menjelaskan nya." Hengki membela diri.


"Menjelaskan apa, menjelaskan kalau kalian sedang berpelukan ketika kami datang?"


"Kami, maksud mamah kami siapa?


"Istrimu."


"Mas... Kamu tega." ucap Nadya yang terhalang nyonya Rima dengan deraian air mata.


"Nadya sayang, mas bisa menjelaskan semua ini hanya salah paham."


"Salah paham kamu bilang, dan kamu perempuan binal, sudah saya bilang untuk menjauhi Hengki dan kamu sudah tahu kan kalau dia sudah menikah." Nyonya Rima berkata dengan amarah dan menampar Jeniffer.


"Mah sudah jangan di teruskan, kasian Jennifer." Hengki memohon


"Kamu kasian sama perempuan ular ini tapi tidak kasian sama istrimu."


Hengki nyonya Rima baru menyadari kalau Nadya sudah tidak ada di dalam ruangan itu.


Hengki mengejar Nadya yang sudah memasuki lift.


Secepatnya Hengki menuju lift yang khusus karyawan. Namun ternyata kalah cepat, Nadya sudah sampai ke perkiraan sedangkan Hengki baru sampai lobi,.


Hengki berlari mengejar Nadya yang akan menghentikan taksi, namun dari arah sebelah kanan Hengki melihat sebuah kendaraan melaju dengan sangat kencang dan menabrak Nadya, tubuhnya terpelanting sangat jauh.


"Nadya........."


Hengki berteriak sangat keras melihat tubuh istrinya terpelanting dengan keras.


Dunia seakan ambruk menimpanya tidak percaya dengan apa yang terjadi. Di peluknya tubuh yang penuh darah. Nyonya Rima berteriak histeris melihat menantu kesayangan nya bersimbah darah, dan jatuh pingsan.


...****************...


Bagaimana kelanjutannya, yuk ikuti terus kisahnya


Jangan lupa yah like komen dan vote favoritnya