
Keputusan Nadya untuk pindah ke rumah Hengki adalah keputusan yang sangat besar untuk dirinya, karena sangat berat meninggalkan rumah yang selama ini meninggalkan banyak sekali kenangan bersama ayah yang sangat di cintai nya.
Hari itu Hengki dan Nadya berangkat hanya membawa satu koper saja, itupun hanya pakaian dan barang barang yang serta buku buku kuliah yang di perlukan saja, semuanya di tinggalkan di rumah ayahnya.
Sekitar satu jam mereka sampai di rumah mamah Hengki, disambut bahagia oleh mertuanya.
"Sayang, akhirnya kami datang juga ke rumah malah, ayo nak kita masuk ke dalam, kamu bisa istirahat di kamar Hengki, mamah tunjukan kamar Hengki."
Nyonya Rima menunjukan kamar Hengki yang berada di lantai dua, Sementara Hengki menururunkan koper Nadya dari bagasi mobil. Dan beberapa barang miliknya yang sempat di bawa untuk menginap beberapa hari di rumah Nadya.
"Sayang, mamah sudah menunjukan kamar kamu sama Nadya, mamah harap hubungan kalian bisa lebih dekat setelah kalian pindah ke rumah ini."
"Ya mah mudah mudahan, semoga apa yang diharapkan mamah dapat terwujud."
Nyonya Rima menepuk bahu Hengki dan berlalu menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.
Hengki berjalan ke arah tangga menuju ke kamarnya. Perlahan pintu di buka, Nadya sedang duduk di samping tempat tidur memegang Hp nya.
"Barang barang kamu bisa di simpan di dalam lemari yang ini, buku buku kuliah disimpan saja di atas meja yang ada di ujung sana."
"Ya mas." Nadya menjawab
Nadya bangkit dari tempat tidur, di ambil ya koper yang tadi di bawa Hengki kemudian membongkar pakaiannya dan memasukkannya ke dalam lemari yang tadi di tunjukan Hengki. Lalu merapikan buku buku kuliahnya di atas meja yang ada di ujung kamar.
Hengki yang baru keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk sampai pinggang saja, rambutnya yang basah di keringkan dengan handuk kecil, tetesan air yang jatuh dari rambutnya menambah kadar ketampanan Hengki berlipat lipat. Dengan penampilan seperti itu membuat Nadya tertegun melihatnya dan menelan saliva nya.
"Kalau merapikan pakaian itu yang benar, jadi berantakan." goda Hengki, karena tahu kalau Nadya memperhatikan nya.
"I...ni udah benar kok." Jawab Nadya gugup karena ketahuan sedang memperhatikan Hengki
Selesai merapikan pakaian ke dalam lemari, Nadya bergegas ke kamar mandi membersihkan badannya. Lima belas menit kemudian selesai ke kamar mandi lalu mengambil alat sholat nya.
Pintu kamar di ketuk dari luar, tampak bi Tuti berdiri di depan pintu.
"Maaf tuan, di panggil nyonya kalau makan siang sudah siap."
"Sebentar lagi kami turun."
Pintu kamar di tutup kembali. Hengki duduk di sofa yang ada di dalam kamar menunggu Nadya sholat. Setelah selesai mereka turun ke bawah menuju ruang makan. Nyonya Rima sudah duduk di depan meja makan dengan wajah yang tampak bahagia melihat anak dan menantunya.
"Banyak sekali makanan ini?" Hengki bertanya karena banyak sekali makanan yang terhidang di atas meja makan.
"Mamah memasak semua ini untuk menyambut menantu mamah dirumah ini, karena tidak tahu makanan kesukaan Nadya, jadi ya mamah masak beberapa jenis makanan." Jawab nyonya Rima dengan santainya.
Hengki hanya menghela nafasnya melihat kelakuan mamah nya sendiri. Nadya hanya tersenyum menanggapi mertuanya tersebut.
" Ayo sayang makan yang banyak biar kamu sehat, biar cepet ngasih mamah cucu."
Hengki dan Nadya saling pandang, ngasih cucu gimana, tinggal satu kamar aja baru sekarang, ucap mereka dalam hati.
Suasana makan siang ramai dengan celoteh nyonya Rima.
"Kamu itu ya, hari ini mamah sangat bahagia sekali, Nadya bisa menjadi menantu mamah, dan sekarang sudah mau tinggal di sini, jadi mamah tidak kesepian lagi. Apalagi kalau kalian sudah punya anak yang lucu lucu, rumah sebesar ini akan sangat ramai."
"Baru juga beberapa hari kami menikah, mamah sudah membicarakan tentang anak." ucap Hengki.
"Semenjak papah kamu meninggal, dan kamu sibuk dengan pekerjaan mu, mamah merasa kesepian." sahut Nyonya Rima terisak, mengingat suaminya yang sudah tidak ada.
"Maaf mah, bukan maksud Hengki membuat mamah menangis." Hengki beranjak dari duduknya dan menghampiri mamah nya, dan berlutut di depannya sambil mengusap tangan mamahnya.
Nadya melihat suaminya begitu hormat dan sangat menyayangi mamah nya, hatinya begitu terenyuh. Tidak ada yang menduga kalau seorang Hengki CEO yang katanya sangat dingin, namun begitu hangat pada mamah nya.
Setelah ada drama mamahnya, Hengki kembali duduk di depan meja makan, dan segera menyelesaikan makannya. Setelah semua selesai makan siang, Nadya membantu mertuanya membereskan bekas makan. Sementara Hengki masuk ke ruang kerjanya, karena ada pekerjaan yang belum selesai di kerjakan.
"Sayang, mau langsung ke kamar?" tanya nyonya Rima
""Kenapa mah, ada yang bisa Nadya bantu?" Nadya balik bertanya.
"Kalau ga ke kamar, mamah mau ngobrol sebentar di teras belakang sambil minum teh"
"Baiklah, kita ke belakang." Nadya menggandeng tangan nyonya Rima.
Mendapat sambutan dari Nadya dengan baik, nyonya Rima sangat senang sekali.
Nadya melihat sosok nyonya Rima seperti melihat ibu kandungnya yang sudah lama meninggal, semoga dirinya tidak mengecewakan mertua baiknya tersebut.
Di teras belakang,mereka berdua tengah asyik bersantai sambil minum teh hangat. Membicarakan banyak hal, kadang terdengar suara tertawa dari ke duanya.
Hengki yang mendengar hal tersebut merasa senang karena mamah nya yang selama ini banyak diam semenjak papahnya meninggal, kini senyum itu datang lagi.
Hari menjelang sore, Nadya pamit ke kamar untuk melaksanakan sholat ashar. Sementara Hengki masih berkutat dengan pekerjaannya yang belum selesai juga. Selesai melakukan kewajibannya, Nadya mengambil laptop nya, menyelesaikan tugas yang belum sempat di bereskan karena ayahnya yang meninggal.
Hampir magrib Hengki baru masuk baru masuk ke dalam kamar, tersenyum melihat Nadya yang sedang duduk bersila di depan laptop dia atas tempat tidurnya,
"Jangan terlalu di porsir tenaganya, sekarang istirahat dulu." Hengki berkata sebelum masuk kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Nadya yang mendengarnya hanya melirik saja tanpa menjawab perkataan dari Hengki.
Laptop di tutup, kemudian bersiap mengambil wudhu, karena melihat Hengki sudah selesai membersihkan badannya, keluar kamar mandi lalu mengambil alat sholat.
"Mau sholat berjama'ah?"
"Iya." Nadya hanya menjawab dengan anggukan.
Waktu magrib sudah datang, mereka sholat berjama'ah dengan khusyu, selesai sholat Hengki berdo'a, begitu juga dengan Nadya. Mencium tangan Hengki dengan khidmat, ada sebuah rasa yang sangat sulit untuk di artikan, yang selama ini belum pernah di didapatkannya.
...****************...
Bersambung...........
Hai, jangan komemt, like dan vote tombol favoritnya