NADYA

NADYA
SIAPA, EH?



"Nanti pulang jam berapa?" Tanya Reza saat Nadya sudah turun dari motor. Keduanya memang sudah sampai di depan butik.


"Jam empat seperti biasa. Nanti Nadya pasti telepon kalau pulang cepat," jawab Nadya seraya melepaskan helm dari kepalanya.


"Aku jemput jam tiga?" Tanya Reza lagi minta pendapat.


"Ish! Mau ngapain? Pulang jam empat dijemput jam tiga. Mas Reza mau ngapelin Mbak Riska?" Goda Nadya seraya menaikturunkan alisnya, bersamaan dengan sebuah motor yang berhenti di depan butik juga. Rupanya Mbak Riska yang diantar oleh sang bapak ke butik.


Panjang umur sekali!


Baru juga Nadya omongin.


"Pagi, Pak!" Sapa Reza pada Bapaknya Mbak Riska yang langsung tersenyum dan mengangguk.


Ramah seperti halnya Riska.


"Anter pacar?" Tebak bapaknya Mbak Riska.


"Adek, Pak!" Jawab Reza mengoreksi.


"Adek ketemu gede," kekeh Bapaknya Mbak Riska sebelum pria paruh baya itu pamit pergi duluan.


Kini tinggal Reza dan Nadya karena Mbak Riska yang langsung masuk ke dalam setelah tiba.


"Kenal emang sama bapaknya Mbak Riska, Mas?" Tanya Nadya kepo.


"Pernah ke toko beberapa kali beli kain," jawab Reza seraya menyelipkan poni Nadya yang sudah panjang ke belakang telinga gadis itu.


"Camer," kikik Nadya menggoda sang kakak.


Reza hanya berdecak sebelum berucap,


"Masuk gih!"


"Oke!" Nadya meraih tangan Reza dan mencium punggung tangan kakaknya tersebut.


Setelah Nadya menghilang di balik pintu butik, Reza segera melajukan motornya dan meninggalkan butik.


****


"Sekarang udah salim dan cium punggung tangan. Jangan-jangan udah ijab sah, Nad?" Kelakar Mbak Riska menggoda Nadya yang baru masuk ke dalam butik.


"Siapa, Mbak?" Tanya Nadya bingung.


"Ya kamu itu!" Jawab Mbak Riska yang masih tergelak.


"Jangan-jangan izin tiga hari kemarin liburan sekalian ijab sah, Nad?" timpal Mbak Siti yang merupakan karyawan bagian jahit di butik Bu Lala ini.


"Nggak ada! Nadya masih perawan ting ting ini!" Kilah Nadya menyangkal semua pernyataan Mbak Riska dan Mbak Siti.


Nadya segera duduk dan membongkar isi tasnya yang hari ini terasa berat. Nadya mengeluarkan beberapa kotak oleh-oleh khas Jogja lalu memberikannya pada Mbak Riska.


"Simpan dulu, Mbak! Nanti dimakan pas istirahat."


"Oke, siap. Komplit, nih oleh-olehnya," celetuk Mbak Riska setelah mengintip satu persatu isi box yang dibawa Nadya.


"Trus ini Nadya ngapain, Mbak?" Tanya Nadya selanjutnya pada Mbak Riska. Libur dua hari benar-benar membuat Nadya oleng dan bingung harus mengerjakan apa.


"Mayet," jawab Mbak Riska seraya membawa sebuah kebaya warna putih ke arah Nadya.


Asisten Bu Lala itu juga sekalian membawa manik-manik payet untuk Nadya aplikasikan ke atas kebaya.


"Ini udah aku contohin satu, yang besar sama yag kecil."


"Bisa, kan?" Jelas Mbak Riska seraya menunjukkan satu bordiran bunga yang sudah ia pasangi payet.


"Iya, bisa." Jawab Nadya manggut-manggut.


"Kamu kerjakan dulu satu, nanti kamu tunjukin ke aku, ya!" Pesan Mbak Riska lagi.


"Siap!" Jawab Nadya seraya meraih piring kecil untuk menuang manik-manik payet.


"Iya, Mbak! Tapi baju pesta yang bagaimana?" Tanya Nadya seraya garuk-garuk kepala.


"Bebas aja kata Bu Lala. Sesuai imajinasi kamu," jelas Mba Riska.


"Oh, iya!" Nadya mengangguk-angguk mengerti. Gadis itu lanjut memadang payet di kebaya putih yang sepertinya akan jadi kebaya untuk acara akad nikah.


"Sinta masuk nggak hari ini, Sit? Kok belum datang?" Tanya Mbak Riska selanjutnya pada Mbak Siti yang sudah berkutat dengan kain dan mesin jahit.


Sinta adalah teman Prakerin Nadya tapi beda kelas.


"Telat dikit katanya, Mbak!"


****


Pukul empat lewat lima belas menit, mobil Papa Teddy tiba di depan butik untuk menjemput Nadya.


Lah!


Mas Reza nggak jadi jemput?


Nadya bergegas pamit pada Mbak Siti dan Mbak Riska yang masih menunggu jemputan, lalu gadis itu berjalan ke arah mobil Papa Teddy saat Nadya tak sengaja bertabrakan dengan seorang pemuda yang hendak masuk ke dalam butik.


Eh!


"Aduh, maaf, Mas!" Ucap Nadya yang langsung minta maaf pada Mas berkacamata tersebut.


"Iya, tidak apa-apa. Tante ada di dalam?" Tanya pemuda itu pada Nadya.


"Hah? Tante? Tante siapa?" Tanya Nadya bingung.


"Eh, maaf! Maksudku Bu Lala ada di dalam? Tadi aku ke rumahnya nggak ada orang," jelas pemuda tersebut seraya menunjuk ke arah rumah Bu Lala yang bersebelahan dengan butik.


"Oh. Bu Lala masih jemput anaknya yang taekwondo kayaknya. Nggak ada di sini. Mungkin bisa tanya sama Mbak Riska, asistennya Bu Lala di dalam," ujar Nadya seraya menunjuk ke dalam butik.


"Oh, iya! Mbak Riska belum pulang, ya? Yaudah, aku masuk aja ke dalam," ucap pemuda itu sambil membenarkan kaca matanya.


"Iya, silahkan!" Jawab Nadya mengangguk ramah.


Setelah pemuda yang entah siapa tadi masuk ke dalam butik, Nadya segera memakai sendal beruangnya dan berjalan santai ke arah mobil Papa Teddy yang terparkir di seberang butik.


"Kok Papa yang jemput?" Tanya Nadya setelah masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kursi pengemudi.


"Reza sedang sibuk mengurus stok kain yang baru masuk di toko. Tadi dia telepon Papa," jelas Pak Teddy yang sudah melajukan mobilnya.


Nadya manggut-manggut paham.


"Papa lagi buru-buru, nggak?" Tanya Nadya selanjutnya pada sang papa sambung.


"Enggak. Cuma disuruh beli beras saja tadi sama Bunda kamu. Kenapa?" Pak Teddy balik bertanya pada Nadya.


"Hehe, anterin Nadya mampir di toko alat tulis sebentar, ya, Pa! Sketch book-nya Nadya udah habis dan mau beli baru," ujar Nadya seraya meringis.


"Oh. Dimana toko alat tulisnya? Papa nggak tahu."


"Di daerah Sumber. Nanti Nadya kasih tahu kalau udah dekat-dekat," jawab Nadya.


"Oke, Tuan Putri!" Jawab Pak Teddy seraya mengusap kepala Nadya.


.


.


.


10 BAB lagi 💪💪


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.