
Di depan ruang IGD, Hengki duduk di kursi dengan kepala tertunduk, pakaian yang penuh dengan darah, di temani asistens nya, Hengki menunggu kabar dari dokter tentang istrinya, sementara nyonya Rima sudah di tempatkan di ruangan rawat inap karena hanya shock melihat menantu nya bersimbah darah.
Pintu ruang IGD terbuka, dan keluar seorang dokter.
"Keluarga pasien Nadya?"
"Saya suaminya dokter, bagaimana keadaan istri saya.?" tanya Hengki tidak sabar
"Istri anda sudah bisa kami selamatkan, ada benturan keras di kepalanya semoga tidak fatal, namun maaf kami tidak bisa menyelamatkan janin yang ada di dalam rahimnya."
"Janin, maksud dokter istri saya hamil?"
"Iya janin yang ada dalam rahim istri.anda berusia dua minggu, jadi belum bisa terdeteksi." dokter menjelaskan panjang lebar.
Hancur perasaan Hengki saat ini, andai saja dan andai yang ada dalam pikiran Hengki saat ini.Pintu IGD di buka seorang perawat dan mendorong brankar yang membawa Nadya ke ruang rawat inap. Nadya di tempatkan di ruang rawat VVIP. Hengki duduk di.kursi samping tempat tidur, berharap ketika Nadya buka mata yang pertama kali di lihat adalah dirinya.
Tok...Tok...Tok...
Pintu kamar di ketuk, Andri asistennya yang datang membawa pakaian ganti, karena yang saat ini di pakai penuh dengan noda darah.
"Tuan saya bapak makanan, sejak siang tadi tuan tidak makan apapun." Andri menyerahkan dua paperbag yang ber isi makanan dan pakaian ganti.
"Tadi nyonya Rima bertanya tentang tuan, nyonya ingin bertemu sebentar dengan tuan." ucap Andri penuh hormat.
"Ya nanti setelah makan saya akan melihat mamah dan kamu boleh pulang, besok harus mewakili saya menghadiri meeting bersama klien dan harimu akan sangat sibuk."
"Baik tuan." jawab Andri keluar dari ruang inap Nadya."
Selesai mandi berganti pakaian dan makan, Hengki berjalan menuju kamar rawat mamah nya.
Pintu di ketuk perlahan dan membuka ruang rawat.
"Mamah apa kabar, sudah enakan?" tanya Hengki
"Sudah lebih baik, bagaimana kabar menantu mamah?"
"Nadya baru di pindah ke ruang rawat." jawab.Hengki
"Keadaan nya gimana?"
"Belum sadar, ada benturan keras di kepalanya, mudah mudahan tidak fatal, dan harus kehilangan janin nya." ucap Hengki terisak.
"Maksud kamu Nadya hamil, pantas saja dia bilang mengatakan sekuat sama kamu pas kita makan siang bersama di kantor kamu."
"Jadi .....?"
"Ya sepertinya Nadya tahu kalau dia sedang hamil, mamah yang menjemput nya ke kampus untuk makan siang bersama, namun kenyataannya seperti itu, dia melihatmu memeluk wanita lain." jawab mamah terisak.
"Jennifer datang ke kantor dengan menangis dan mengatakan kalau dia sedang sakit, untuk meminta maaf dan dia minta agar aku memeluk nya untuk terakhir kalinya."
"Dan kamu mempercayai nya?"
Hengki mengangguk lemah.
"Kamu benar benar bodoh, mamah sangat kecewa."
"Maafkan Hengki mah." ucap Hengki terisak.
"Sewaktu kamu masih berhubungan dan Jennifer, mamah sudah menyelidiki kehidupan nya."
"Kamu tahu apa yang dia lakukan di belakangmu?"
"Dia itu wanita ular, hanya memanfaatkan uangmu dan bersenang senang dengan.laki laki lain."
Nyonya Rima menyerahkan sebuah amplop coklat dan menyerahkan nya pada Hengki agar membukanya, amplop kemudian di buka dan isinya di keluarkan. Berapa terkejut nya Hengki melihat isi amplop tersebut, banyak foto foto Jennifer berpelukan dan bercumbu dengan beberapa laki laki. Tangan Hengki bergetar mendengar dan melihat foto foto vulgar Jennifer.
"Itulah sebabnya mamah melarang keras kamu berhubungan dengan wanita ular itu."
"Maafkan Hengki mah." ucap Hengki menangis
"Minta maaflah pada istrimu, dia yang paling terpukul karena kejadian ini, apalagi kalau tahu janin yang ada di dalam rahimnya sudah tidak ada. Mamah tidak bisa menjamin apakah Nadya akan memaafkan kamu."
"Iya mah, aku akan meminta maaf sama Nadya, semoga mau menerima maaf Hengki.
Hengki menggenggam tangan Nadya, mencium nya. Tangan yang selalu bermanja manja. Hanya penyesalan yang ada.
"Sayang kenapa belum bangun juga, mas merindukanmu."
"Tuan, ini tas milik nona Nadya, tergeletak di tempat kejadian." Andri menyerahkan sebuah tas milik Nadya.
"Terima kasih, apa kamu sudah tahu siapa orang yang menabrak istri saya?"
"Ketika saya tanya kalau orang itu suruhan nona Jennifer, dia bilang kalau ada wanita dengan ciri seperti nona Nadya, tabrak saja. Sekarang orangnya sudah ada di tempat penyekapan di markas kita."
"Apa kamu sudah membereskan Jennifer?"
"Sudah tuan, di kami tempatkan di sebuah pondok yang ada di tengah hutan, nanti bisa tuan periksa."
"Baiklah, nanti saya akan ke sana melihat penderitaan nya, yang telah merenggut calon anakku."
"Kamu boleh pergi, nanti saya hubungi."
"Baik tuan."
Hengki kembali ke kamar rawat, melihat tas yang ada di atas sofa. Di periksa nya tas tersebut, ada sebuah amplop berwarna pink di dalamnya ada sebuah benda, Hengki melihatnya dan ternyata itu adalah testpack dengan garis dua. Hatinya begitu sakit, hanya sesal yang dapat terucap. Andai saja tidak menuruti kemauan Jennifer mungkin saat ini mereka sedang di dokter kandungan.
"Akan aku pastikan kamu mendapatkan balasan yang setimpal." ucap Hengki dengan geram.
Hengki tertidur di samping tempat tidur karena sangat lelah. Lumayan sangat lama. Sampai sebuah suara membangunkannya.
"Ayah....." terdengar sangat lirih di pendengaran Hengk i
"Sayang kamu sudah bangun?"
"Aku di mana?" terasa sangat asing.
"Sekarang ada di rumah sakit. Mana yang sakit, mas panggil kan dokter ya."
Hengki menekan tombol. Tidak lama kemudian dokter dan perawat datang memeriksa Nadya.
"Bagaimana keadaannya dokter?"
"Masa kritis nya sudah lewat, sekarang tinggal pemulihan nya saja." ujar dokter
"Terima kasih dokter."
"Sayang kamu mau minum?"
Nadya hanya terdiam, tidak ada respon sama sekali.
"Gimana sama bayi aku, kenapa perutku sakit sekali."
"Maafkan mas sayang, bayi kita tidak dapat diselamatkan akibat dari benturan yang sangat keras."
"Semua karena mas, kenapa mas tega khianatin aku, kenapa mas?" Nadya menjerit histeris.
"Pergi sana, jangan mendekat, aku benci kamu mas." tangisan yang sangat menyayat hati.
"Biarkan aku sendiri mas, ayah tolong Nadya."
"Aku ga mau lihat kamu lagi, pergi sana dengan perempuan itu. Jangan pernah sentuh aku, datang lagi."
Hengki hanya terdiam melihat istri yang sangat di cintai nya tidak ingin di dekati.
Di balik pintu ada seseorang yang menangis mendengarkan tangisan Nadya, nyonya Rima mendengarkan semua nya. Maafkan mamah sayang, kalau mamah tidak mengajakmu semua ini tidak akan terjadi.
Pintu terbuka, Hengki melihat mamah nya sedang menangis, di peluknya mamah yang berdiri di depannya.
"Mah, maafkan aku."
"Sudah sayang, semua sudah terjadi, bersabarlah menghadapi semua ini.
...****************...
Hai, jangan lupa ya like, koment, dan vote favoritnya, kasih bintang 5, agar author bisa.terus berkarya.