
Riska dan Reza sudah duduk di dalam kedai es krim, dan memesan apa yang diinginkan oleh Riska. Sementara Reza hanya melihat istrinya tersebut yang menikmati sekali es krim-nya.
Sesekali, Reza akan menyeka es krim yang belepotan di bibir Riska.
So sweet!
Kalau kata Nadya.
"Kamu kenal Zikri itu udah lama, Ris?" Tanya Reza yang akhirnya membuka obrolan.
"Ya, sejak kerja sama Bu Lala, Mas."
"Kan sejak dulu Zikri suka main dan nginep di rumah Bu Lala kalau lagi liburan sekolah," cerita Riska panjang lebar.
"Kelihatannya anak baik-baik." Pendapat Reza yang langsung membuat Riska mengangguk.
"Anak rumahan kalau kata Bu Lala. Nggak pernah nongkrong malam-malam-"
"Nyindir!" Sela Reza seraya mencolek hidung Riska.
"Loh, siapa.yang nyindir? Sekarang Mas Reza kan udah nggak pernah nongkrong juga kalau malam," kilah Riska mencari pembenaran.
"Udah ada yang dikelonin di rumah. Masak masih mau nongkrong." Reza mengulurkan tangannya untuk merangkul Riska. Tangan Reza yang satunya mengusap perut Riska yang semakin membulat.
"Bentar lagi juga udah ada yang ngajakin begadang ini," ucap Reza penuh binar kebahagiaan.
"Kita lagi di tempat umum, Mas! Udahan rangkul-rangkualnnya!" Riska mengingatkan Reza.
"Lah, kenapa harus malu? Kan kita pasangan sah," jawab Reza yang malah mencium pipi Riska.
Terang saja hal itu langsung membuat wajah Riska menjadi bersemu merah
"Mas!"
"Masih aja malu-malu!" Reza ganti mencolek hidung Riska.
"Ya kan di tempat umum," kilah Riska mengingatkan.
"Iya!"
"Tapi ngomong-ngomong, kok Zikri mau sih, beliin kamu es krim sampai diantar ke rumah."
"Jangan-jangan Zikri suka sama kamu," Reza mulai curiga.
"Zikri itu kan udah kayak adek buat Riska, Mas!" Lanjut Riska mencoba mengingatkan.
"Mas Reza cemburu, ya? Tadi pasti baca riwayat pesan di ponsel Riska," goda Riska pada sang suami.
"Aku suamimu ya wajarlah cemburu," jawab Reza mencari pembenaran.
"Tapi aku yang salah juga, sih. Karena udah nggak peka dari kemarin dan buat kamu jadi sedih," Reza kembali meraih tisu untuk menyeka sisa es krim di sudut bibir Riska.
"Udah, Mas! Udah!" Riska menggenggam tangan Reza yang masih metasa bersalah.
"Riska udah nggak sedih, kok! Kan udah Mas Reza temani makan es krim," lanjut Riska seraya tersenyum pada Reza yang langsung mengusap lembut kepala Riska.
"Lanjut kemana setelah ini? Mumpung aku lagi free. Besok udah ngurusin stok kain sama pesanan lagi," tanya Reza selanjutnya.
"Mas Reza mau kemana? Riska idem aja." Riska malah balik bertanya.
"Mmmm, enaknya di kamar aja kayaknya. Manja-manjaan sambil ngusapin perut kamu." Ujar Reza seraya tersenyum nakal pada Riska.
Sedangkan Riska hanya berdecak.
"Udah lama nggak ke rumah Bapak, kan? Kita beliin apa gitu buat Bapak, yuk! Trus nginep disana sampai besok pagi." Usul Reza memberikan ide.
Riska langsung mengangguk setuju.
"Beliin pisang aja atau kue yang empuk-empuk. Kata Mbak Tatik, giginya Bapak kambuh kemarin," ujar Riska memberikan usulan
"Oh, yaudah! Ayo!" Reza berdiri duluan sebelum kemudian pria itu membantu Riska untuk bangkt dari duduknya.
Setelah membayar di kasir, pasangan suami istri itupun segera meninggalkan kedai es krim.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.