NADYA

NADYA
MAAF



Reza pulang ke rumah setelah makan siang karena khawatir dengan kondisi Riska. Belum lagi Bunda Maya yang katanya hari ini harus ke pabrik bersama Papa Teddy untuk mengurus sesuatu. Jadilah Riska pasti di rumah sendirian.


Meskipun tadi Reza sudah menelepon istrinya tersebut dannRiska juga bilang kalai flu-nya sudah mendingan dan demamnya sudah turun, tetap saja Reza merasa khawatir.


"Assalamualaikum!" Ucap Reza serelah membuka pintu depan dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa.


Tidak ada jawaban.


Reza buru menuju ke kamarnya dan ternyata Riska sedang tidur.


Baiklah!


Reza tak akan mengganggu.


"Reza segera mencuci kaki dan tangan, lalu mengganti celana panjangnya dengan celana pendek rumahan. Baru saja Reza hendak keluar dari kamar, pria itu tak sengaja melihat ponsel Riska yang bergetar di atas meja.


Sepertinya ada telepon masuk.


Reza melihat ke layar ponsel istrinya tersebut untuk memeriksa siapa yang menelepon. Tertulis nama Zikri di layar telepon.


Apa?


Kenapa Zikri menghubungi Riska?


Sejuta pertanyaan serta rasa curiga memenuhi dada Reza sskarang. Pria itu hendak menjawab telepon dari Zikri, namun terlambat karena Zikri sudah mengakhiri panggilan sebelum Reza sempat mengangkatnya.


Sial!


Tak berselang lama, ada pesan masuk ke dalam ponsel Riska. Segera Reza membukanya.


[Assalamualaikum. Mbak Riska, gelato sama croffle-nya udah aku beliin dan aku cantelin di pagar depan. Aku langsung balik, Mbak. Karena ada kuliah bentar lagi. Maaf telat antar, karena tadi aku masih ada kelas] -Zikri-


Reza sontak tertegun saat membaca pesan dari Zikri.


Gelato?


Croffle?


Sikap Riska yang tiba-tiba berubah tadi malam, juga mendadak berkelet di benak Reza.


Masih sambil membawa ponsel Riska, Reza menuju ke pagar depan untuk memastikan apa memang ada pesanan Riska yang dibawakan oleh Zikri atau tidak.


Dan ternyata benar ada.


Pesanan itu benar-benar digantungkan oleh Zikri di pagar depan dan isinya sesuai yang tertulis di pesan Zikri tadi.


Reza segera mengambil plastik warna putih tersebut dan membawanya masuk ke rumah. Reza juga memeriksa riwayat pesan antara Riska dan Zikri demi mencari tahu kronologi kenapa Riskaalah menyuh Zikri membelikannya makanan yang ia inginkan dan bukannya menyuruh Reza saja?


[Assalamualaikum. Zik, lagi sibuk, ya?] -Riska-


[Walaikum salam. Nggak terlalu, Mbak! Cuma ada beberapa kelas saja hari ini sama tugas-tugas seperti biasa] -Zikri-


[Gini, Zik. Aku mau minta tolong boleh?] -Riska-


[Minta tolong apa, Mbak?] -Zikri-


[Misalkan kamu nggak repot atau lagi senggang, tolong beliin gelato yang di kedai eskrim semalam itu, trus anterin ke rumah.] -Riska-


[Tapi kalau nggak longgar aja. Kalau sibuk banget ya nggak usah] -Riska-


[Lagi ngidam, ya, Mbak? Yang semalam masih kurang? Udah dari sana padahal] -Zikri-


[Hehe, ya begitulah, Zik!] -Riska-


[Nanti deh aku beliin. Kebetulan aku juga mau ada keperluan ke arah sana.] -Zikri-


[Di rumahnya Nadya, kan?] -Zikri-


[Iya. Makasih sebelumnya, ya, Zik!] -Riska-


[Sama-sama, Mbak!] -Zikri-


Reza membaca berulang-ulang pesan Riska pada Zikri dan masih bertanya-tanya kenapa Riska tidak minta Reza saja yang membelikannya gelato. Lagipula tadi malam....


"Melindungi? Sikap Mas Reza tadi lebih mirip sikap seorang pacar yang cemburu pacarnya tukeran pesan sama cowok lain, ketimbang seorang kakak yang melindungi adeknya!"


"Mbak Riska itu sedang hamil besar, Mas! Perasaannya sensitif. Lihat Mas Reza bersikap kayak tadi ke Nadya, mungkin langsung membuat juwa cemburu di hati Mbak Riska berkobar hebat."


"Mas sebagai seorang suami peka sedikit, dong!"


Omelan Nadya semalam mendadak berkelebat di benak Reza. Riska memang kadi lebih banyak diam sejak perdebatan Reza dan Nadya di kedai es krim semalam. Bahkan semalam, Riska juga tidur memunggungi Reza dan beralasan sedang pegel kalau tidur madep ke Reza.


Berarti memang Riska sedang marah pada Reza, dan Reza saja yang tidak peka. Mungkin perhatian Rrza pada Nadya memang sudah kelewat batas dan itu benar-benar menyakiti hati Riska.


"Haaatchi!" Terdengar suara bersin Riska dari arah pintu masuk dapur.


Lamunan Reza langsung buyar seketika.


"Mas, sudah pulang?" Sapa Riska yang sepertinya kaget melihat Reza yang tiba-tiba sudah ada di rumah.


"Iya, aku khawatir sama kamu. Makanya aku pulang cepat," Reza menarik satu kursi di sampingnya dan segera membantu Riska untuk duduk.


"Ini apa?" Riska meraih kantong plastik berisi es krim yang tadi diantarkan Zikri yang lupa Reza masukkan ke dalam freezer.


Sekarang es krim itu sudah mencair tak berbentuk. Wajah Riska langsung berubah muram.


"Ya ampun," gumam wanita itu penuh kekecewaan.


"Maaf tadi aku lupa masukin ke freezer, Ris," ucap Reza penuh penyesalan.


"Zikri yang antar udah sejak tadi juga mungkin. Aku ketiduran dan nggak denger ponsel bunyi," tutur Riska menyalahkan dirinya sendiri.


"Aku antar ke kedainya lagi, ya!" Bujuk Reza lembut seraya merapikan rambut Riska yang lolos dari ikatan.


"Ris!" Reza sudah menggenggam tangan Riska dan menciumnya penuh rasa bersalah.


"Aku minta maaf soal semalam."


"Maaf karena aku udah jadi suami yang nggak peka dan overprotektif ke Nadya."


"Aku tahu itu nyakitin kamu." Reza berucap penuh penyesalan.


"Riska cuma pelarian perasaa Mas Reza yang belum selesai ke Nadya, kan?" tanya Riska akhirnya mengungkapkan uneg-uneg dalam hatinya.


"Tidak seperti itu, Ris!" Sanggah Reza cepat.


"Aku cinta dan sayang sama kamu, bener-bener. Bukan hanya sekedar pelarian," ucap Reza sungguh-sungguh.


"Ris, aku benar-benar minta maaf!" Reza sudah ganti bersimpuh di depan Riska sekarang.


"Bangun, Mas!" Ucap Riska seraya memaksa Reza untuk bangun.


"Kamu maafin aku dan udah nggak marah sama aku, kan?" Tanya Reza menuntut jawaban.


"Iya. Udah, Mas bangun!" Riska meminta sekali lagi pada Reza untuk bangun.


"Aku antar ke kedainya yang kemarin, ya!" Bujuk Reza yang ingin menebus kesalahan.


"Naik si merah? Nggak bisa naik," jawab Riska menunjuk ke arah perut semangkanya.


Reza terkekeh.


"Yaudah tunggu Nadya pulang bentar lagi. Nanti pinjam motornya-"


Reza belum menyelesaikan kalimatnya saat dari halaman sudah terdengar suara motor Nadya.


"Nah, itu anaknya udah pulang. Ayo siap-siap!" Ajak Reza seraya membantu Riska yang hendak bangun dari duduknya.


Keduanya segera masuk ke dalam kamar untuk bersiap.


****


"Mau kemana?" Tanya Nadya saat Reza meminta kunci motornya.


"Nyari sesuatu buat Mbak iparmu ini. Lagi ngidam," jawab Reza masih sambil merangkul Riska.


Nadya langsung membulatkan bibirnya.


"Nadya nanti dibeliin apa gitu, ya, Mbak!" Pinta Nadya pada Riska.


"Iya! Mau apa memangnya?"


"Pentol maribu!" Sahut Reza sok tahu.


"Bosen makan pentol terus, Mas!" Protes Nadya.


"Trus jadinya mau apa?" Tanya Reza lagi.


"Nanti ajalah, Mas! Kalau udah kepikiran Nadya kirim pesan ke Mbak Riska," jawab Nadya akhirnya yang masih bingung.


"Yaudah, kami pergi dulu, Nad! Jangan lupa kunci pintu depan kalau mau bobok siang," pesan Mbak Riska seraya mengacak rambut Nadya.


"Oke, Mbak!" Nadya mengacungkan kedua jempolnya.


Reza dan Riska sudah keluar menuju ke halaman dan naik ke atas motor matoc Nadya yang berwarna ijo.


"Pelan-pelan bawa motornya, Mas!" Pesan Nadya pada Reza.


"Iya!"


"Bye! Selamat berpacaran!" Nadya melambaikan tangan dengan lebay ke arah Mbak Riska dan Mas Reza yang sudah melaju meninggalkan halaman.


Baru saja Nadya mengunci pintu, ponsel gadis itu berbunyi menandakan ada pesan masuk.


"Mas Zikri," gumam Nadya riang.


Segera Nadya membuka pesan dari Zikri.


[Assalamualaikum, Nadya!] -Zikri-


[Walaikum salam. Iya, Mas Zikri.] -Nadya-


[Udah pulang sekolah, ya? Jangan lupa sholat,makan siang trus istirahat.] -Zikri-


[Siap, Mas! Mas Zikri jangan lupa makan juga, ya!] - Nadya-


[Iya, Nadya! Tadi udah makan, kok] -Zikri-


[Udahan dulu, ya! Aku ada kelas sebentar lagi.] -Zikri-


[Oke, Mas! Semangat belajarnya!] -Nadya-


Tak ada balasan lagi dari Zikri. Nadya segera menyimpan ponselnya, lalu mengganti seragam kotak-kotaknya dengan baju rumahan, sebelum kemudian gadis tujuh belas tahun tersebut pergi ke dapur untuk makan siang.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia