
Reza langsung menyampaikan niat baiknya pada Pak Teddy dan Bunda Maya untuk segera melamar Riska, malam setelah pria itu pulang dari Tawangmangu. Tentu saja Pak Teddy, Bunda Maya, dan Nadya langsung menyambut dengan gembira niat baik Reza tersebut.
Dan tiga hari berselang, dua keluarga itupun akhirnya bertemu di rumah Riska untuk acara lamaran secara resmi. Serba mendadak memang, tapi Reza tak mau menunda lagi karena niat baik memanglah harus di segerakan.
"Riska Sellina. Malam ini aku datang untuk melamar kamu dan meminta kamu menjadi istri aku. Apa kamu bersedia?" Tanya Reza seraya menatap pada Riska yang malam inj mengenakan baju gamis dengan bahan brukat warna pink lembut. Wajah gadis dua puluh lima tahun itu terlihat malu-malu.
"Bagaimana, Ris? Mau jadi istrinya Reza nggak?" Tanya Pak Sapta sedikit berkelakar.
"Iya, Pak," jawab Riska seraya menunduk malu.
"Yang keras jawabnya, Ris!" Ucap Mbak Tatik yang merupakan mbak ipar Riska.
"Iya, mau!" Jawab Riska sedikit keras.
"Mau apa? Yang komplit jawabnya!" Celetuk Mbak Tatik lagi.
Semua orang sontak tertawa dengan tingkah Riska yang tetap malu-malu.
"Iya, Mas Reza. Aku mau jadi istri kamu," ucap Riska sekali lagi seraya mdnatap,ke arah Reza yang malam ini mengenakan kemeja putih dan tak berhenti menatap ke arah Riska.
"Alhamdulillah!" Dengung semua orang yang langsung mengucapkan kalimat syukur karena akhirnya acara lamaran malam ini berjalan dengan lancar.
Bunda Maya segera mengambil cincin dari dalam kotak cincin yang dibawa oleh Reza dan memakaikannya ke jari manis Riska yang masih saja tersenyum malu-malu.
"Tinggal mencari hari baik saja untuk acara pernikahannya, ya, Pak Teddy?" Ucap Pak Sapta setelah acara penyematan cincin selesai.
"Iya, pak Sapta. Kami manut saja, soal acaranya kapan dan mau dimana. Insyaa Allah kami siap," jawab Pak Teddy mantap.
"Yeay!" Nadya bersorak senang dan segear memeluk Mbak Riska.
"Selamat, ya, Mbak!" Ucap Nadya masih sambil memeluk calon mbak iparnya tersebut.
"Terima kasih, Nadya cantik."
"Cincinnya kata Mas Reza yang milihin kamu?" Tanya Riska menyelidik.
"Iya. Cantik, nggak?" Tanya Nadya harap-harap cemas.
"Cantik. Simpel dan ada hiasan warna pink-nya," puji Mbak Riska sambil memperhatikan cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Warna pink kesukaannya mbak Riska." Timpal Nadya seraya tertawa kecil.
"Inget aja!" Mbak Riska mengusap lengan Nadya yang malam ini tampil cantik mengenakan kebaya warna salem yang senada dengan yang dikenakan Bunda Maya.
"Boleh nginep malam ini berarti, Pa?" Tanya Reza sedikit berkelakar pada Pak Teddy dan Pak Sapta.
"Yo, nggak boleh, Za! Belum sah, kok. Udah main nginep aja!" Jawab Pak Teddy tegas.
"Betul itu! Nggak usah kayak orang-orang yang mentang-mentang sudah lamaran trus nyicil," timpal Pak Sapta membenarkan pendapat Pak Teddy.
"Bercanda, Pa!" Sahut Reza yang langsung membuat semuanya tertawa.
"Jewer aja kupingnya kalau Mas Reza nakal, Pa!" Celetuk Nadya berucap pada Pak Teddy.
"Anak kecil sok tahu!" Sahut Reza seraya mengacak rambut Nadya.
Nadya hanya bisa merengut dan sedikit mendelik ke arah masnya tersebut.
Setelah acara makan bersama, dan sedikit berbasa-basi, rombongan keluarga Reza akhirnya pamit pulang dari kediaman orang tua Riska.
Acara pernikahan Reza dan Riska rencananya akan digelar sekitar tiga minggu lagi.
****
"Jadi calon suami kamu itu kakaknya Nadya. Begitu, Ris?" Tanya Bu Lala setelah menerima undangan pernikahan Mbak Riska dan Mas Reza.
"Iya, Bu. Jodoh kadang nggak bisa ditebak," jawab Mbak Riska yang masih saja malu-malu kalau membicarakan tentang pernikahannya.
"Trus nanti mas kamu bingung, dong, Nad? Kalau sore kesini itu mau jemput kamu apa jemput Mbak Riska. Masa mau dibonceng depan belakang?" Celetuk Mbak Siti yang sontak membuat semuanya tertawa.
"Ya biar jemput Mbak Riska aja, Mbak! Kan Nadya dijemput sama papa!" Jawab Nadya diplomatis.
"Jadi ini mau ambil cutinya berapa hari, Ris?" Tanya Bu Lala lagi.
"Seminggu saja, Bu. Tiga hari jelang hari H dan tiga hari setelahnya," jawab Riska menjelaskan.
"Lembur, lembur!" Celetuk Mbak Siti lagi.
Suara klakson mobil Pak Teddy sudah terdengar dari depan butik.
"Papa kamu sudah datang, Nad!" Ujar Mbak Riska.
"Lah, kok tumben on time." Nadya buru-buru membereskan pekerjaannya.
"Mbak Riska mau bareng?" Tawar Nadya sebelum gadis itu keluar dari butik.
Riska menggeleng,
"Udah janji sama Mas Reza mau pergi beli sesuatu," tolak Riska.
"Oh, yaudah."
"Nadya pulang dulu, Bu Lala! Assalamualaikum!" Pamit Nadya pada Bu Lala dan semua yang masih ada di dalam butik.
"Walaikum salam!" Jawab Bu Lala dan yang lainnya serempak.
Setelah memakai sendal beruangnya, Nadya bergegas keluar dari pagar, namun gadis itu malah tak sengaja bertubrukan dengan Zikri yang hendak masuk ke butik.
"Aduh!" Ringis Nadya yang langsung jatuh terduduk tepat di pintu pagar yang memang hanya dibuka sedikit.
"Astagfirullah. Maaf maaf, Mbak!" Zikri buru-buru membantu Nadya untuk bangun dan berdiri.
"Maaf, nggak sengaja, Mbak!" Ucap Zikri lagi sedikit salah tingkah.
"Eh, iya, Mas! Nggak apa-apa, kok!" Nadya ikut-ikutan salah tingkah.
"Ada yang terluka?" Tanya Zikri memastikan.
"Nggak ada. Tapi panggilnya jangan mbak, dong!"
"Kan masih SMK," lanjut Nadya seraya meringis.
"Eh, iya. Maaf!"
"Siapa namanya?" Tanya Zikri seraya mengulurkan tangannya ke arah Nadya.
"Nadya," jawab Nadya sambil menjabat tangan Zikri sebagai tanda perkenalan.
"Aku Zikri. Keponakannya Bu Lala. Udah tahu, ya?" Tanya Zikri setelah menyebutkan nama lengkapnya.
"Iya, tahu. Kan sering bolak-balik ke rumah Bu Lala," jawab Nadya seraya meringis.
"Udah mau pulang?" Tanya Zikri berbasa-basi.
"Iya, kebetulan udah dijemput sama Papa," Nadya menunjuk ke arah mobil Pak Teddy yang ada di seberang butik.
"Oh, iya. Yaudah hati-hati!" Pesan Zikri.
"Iya. Assalamualaikum!" Nadya menganggukkan kepalanya ke arah Zikri seraya berpamitan.
"Walaikum salam warohmatullah wabarokatuh," jawab Zikri lengkap.
Nadya hanya tersenyum dan gadis itu segera berlalu dari hadapan Zikri.
Nadya menengok ke kiri dan kanan sebelum menyeberangi jalan di depan butik dan langsung masuk ke dalam mobil Pak Teddy.
Sementara Zikri masih berdiri di depan pagar, dan menunggu hingga mobil Pak Teddy pergi.
"Zik! Kok bengong disini?" Tegur Bu Lala yang sudah keluar dari dalam butik dan hendak pulang ke rumah.
"Siapa yang bengong, Tan! Baru mau nyariin Tante dan minta kunci rumah." Jawab Zikri mengelak.
"Yaudah, ayo pulang! Tante udah mau pulang dan jemput Vika ini." Ajak Bu Lala yang sudah berjalan menuju ke rumahnya di samping butik. Zikri mengekori tantenya tersebut dan ikut pulang.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.