
"Dulu, aku itu dibuang sama orang tua kandungku di depan rumah ini." Pak Teddy memulai ceritanya, sementara Maya masih duduk bersila di atas tempat tidur dan anteng mendengarkan.
"Lalu Bapak dan Ibu merawatku seperti anaknya sendiri. Karena mereka pernah kehilangan anak laki-lakinya yang meninggal di usia satu tahun karena sakit."
"Pas umurku empat tahun, Yoga akhirnya lahir. Tapi meskipun aku dan Yoga beda status di keluarga ini, Bapak dan Ibu tak pernah membeda-bedakan kami berdua. Kalau Yoga dapat apa, aku juga dapat hal yang sama."
"Tapi setelah lulus SMK, aku memang nggak mau kuliah, meskipun Bapak memaksa. Aku pilih langsung belajar ke lapangan dan membantu mengurus bisnis keluarga yang tersebar di beberapa kota." Lanjut Pak Teddy seraya tertawa kecil.
"Bapak meninggal setahun setelah aku lulus SMK," kenang Pak Teddy dengan mata yang berkaca-kaca.
Sepertinya Pak Teddy memang sangat dekat dengan sang Bapak sebelumnya.
Maya yang tanggap, langsung menepuk punggung suaminya tersebut dan menyalurkan kekuatan.
"Setelah aku menikah dengan Inez, ibu menyuruhku pindah ke Jakarta untuk mengurus usaha yang di Jakarta yang terbengkalai. Lalu setahun kemudian, Yoga nyusul ke Jakarta untuk kuliah."
"Inez memang tak kunjung hamil setelah kami menikah, lalu dia memaksa aku untuk periksa ke dokter agar tahu apa yang salah. Dan saat hasilnya keluar, aku sedang ada urusan dan tak bisa ikut ke rumah sakit. Jadi Inez sendiri yang mengambil hasil test-nya." Cerita Pak Teddy sebelum pria itu menarik nafas panjang.
"Dan disitulah," raut wajah Pak Teddy sudah berubah, seolah ada beban berat yang menghimpit dadanya.
"Aku tidak tahu apa yang ada di kepala Inez, hingga dia memilih menyembunyikan dariku surat hasil pemeriksaan. Lalu Inez malah punya ide untuk mengajak Yoga selingkuh di belakangku agar dia bisa hamil-"
"Memang isi surat pemeriksaan itu apa, Mas?" Maya menyela cerita sang suami.
"Aku dinyatakan mandul, May," jawab Pak Teddy yang langsung membuat Maya kaget.
"Kalau kata Inez, dia itu sudah lelah mendengar cibiran dari tetangga dan saudara-saudara yang terus bertanya kenapa ia tak kunjung hamil." Raut wajah Pak Teddy kembali berubah sedih.
"Kapan Mas tahu kalau sebenarnya Reza itu hukan anak kandung Mas?" Tanya Maya lagi yang masih mengusap-usap pundak Pak Teddy.
"Saat Inez sakit keras dan usia Reza sepuluh tahun."
"Inez mengakui semua perbuatannya beberapa hari sebelum ia berpulang. Dan aku memang tak langsung percaya saat itu. Jadi aku melakukan tes DNA pada Reza."
"Tapi saat hasilnya keluar, akhirnya aku menyadari ketidaksempurnaanku selama ini, May!" Pak Teddy menyeka butir bening di pelupuk matanya.
Maya terus mengusap-usap pundak Pak Teddy dan menguatkan suaminya tersebut.
"Tapi aku sudah menyayangi Reza seperti anakku sendiri, karena saat ia lahir, aku yang mengumandangkan adzan di telinganya. Aku yang menggendongnya, mengganti popoknya. Mengajari dia merangkak dan berjalan."
"Reza segalanya bagiku dan dia adalah anakku, May!" Ungkap Pak Teddy lagi yang hanya membuat Maya mengangguk-angguk.
Kalau ditilik dari keseharian Yoga dan Pak Teddy, memang terlihat keakraban serta ikatan batin yang kuat antara Reza dan Pak Yoga. Keduanya malah terlihat seperti sahabat, karena cara mereka mengobrol setiap harinya begitu santai dan tidak kaku sama sekali.
"Setelah kepergian Inez, aku membawa Reza pulang ke sini dan menceritakan semuanya pada Ibu.
Ibu shock, tapi akhirnya kami berdua memutuskan untuk menyimpan rahasia ini dan memberitahukan pada Reza nanti saat Reza akan menikah." Pungkas Pak Teddy mengakhiri ceritanya.
"Kamu sendiri, berapa lama kenal sama Yoga?" Pak Teddy akhirnya bertanya pada Maya dan minta Maya untuk gantian bercerita.
"Hampir setahun, Mas," jawab Maya seraya tertunduk.
"Dikenalin sama teman, lalu jadi akrab."
"Awalnya ya cuma jalan bareng. Tapi lama kelamaan, Mas Yoga sering menginap di kost waktu itu," Maya semakin menundukkan wajahnya seolah sedang membuat pengakuan dosa.
"Mas Yoga selalu bilang kalau dia akan menikahi Maya setelah Maya di wisuda. Mas Yoga bahkan juga memberikan cincin turun temurun milik ibu pada Maya," suara Maya semakin terdengar lirih.
"Tapi ternyata takdir-"
"Sudah, May!" Pak Teddy sudah meraup Maya kecdalam pelukannya dan meminta istrinya itu untuk berhenti bercerita.
"Apa Reza akan bisa menerima semua ini, Mas? Tadi kelihatannya Reza sangat marah," tanya Maya selanjutnya mearsa khawatir.
"Bisa nggak bisa ya harus bisa, May! Reza dan Nadya itu saudara sedarah dan sebapak, jadi sampai kapanpun mereka tidak boleh menikah," jawab Pak Teddy tegas.
"Mungkin akan butuh waktu. Tapi lambat laun, Reza pasti mau menerima kenyataan ini."
"Sekarang kamu istirahat dulu!" Titah Pak Teddy seraya membimbing Maya agar berbaring. Pak Teddy mebarik selimut untuk membalut tubuh mereka berdua saat ketukan di pintu, membuat Pak Teddy dan Maya mengurungkan niatnya untuk tidur.
"Teddy!" Terdengar suara Bulik Ningsih dari luar kamar.
Pak Teddy membenarkan sarungnya dan segera beranjak dari atas tempat tidur untuk membuka pintu. Pun dengan Maya yang langsung mengikuti langkah sang suami.
"Ada apa, Bulik?" Tanya Pak Teddy setelah membuka pintu kamar.
"Nadya nggak ada di kamarnya."
"Apa?"
.
.
.
Nah lo Nadya diculik Mas Res.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.