NADYA

NADYA
KOK BARENGAN, YA?



Nadya menghampiri Bunda Maya yang masih berkutat dengan potongan kain daster yang menggunung di atas meja.


"Bund, suruh tanda tangan surat pernyataan," Nadya menyodorkan selembar kertas pada Bunda Maya.


"Surat pernyataan apa?" Tanya Bunda Maya yang langsung menghentikan aktivitas menjahitnya.


"Buat ikut prakerin. Minggu depan Nadya udah mulai prakerin," jelas Nadya yang masih menyodorkan kertas lembar pernyataan ke arah sang bunda.


"Udah dapat tempatnya? Jadinya kamu ditempatkan di mana?" Tanya Bunda Maya menyelidik.


"Di butik daerah Purwonegaran. Tapi Nadya belum tahu pasnya dimana. Baru dikasih alamatnya doang," jawab Nadya seraya mengucek matanya yang sudah mulai mengantuk.


Gadis remaja itu menguap lebar tanpa menutup mulutnya.


"Ya Allah, Nad! Kalau menguap itu ditutup mulutnya! Anak perawan kok kayak gitu!" Tegur Bunda Maya yang hanya membuat Nadya terkikik.


"Nggak malu apa, kalau dilihat Mas Reza?" Sambung Bhnda Maya lagi yang ganti membuat Nadya cemberut.


"Kalau di depan Mas Res ya ditutup, Bund!" Kilah Nadya mencari pembenaran.


"Ini suratnya," Bunda Maya memberikan kembali surat yang sudah ia tanda tangani pada Nadya.


"Mmmmm, besok Nadya pulang sekolah nyari alamat butiknya bareng Mas Res boleh, Bund?" Tanya Nadya meminta izin pada sang Bunda.


"Kok nggak sama Lita?" Tanya Bunda Maya seraya mengernyit.


"Ya kan beda tempat sama Lita."


"Lita ditempatkan di daerah Gentan. Nggak tahu kenapa bisa beda," Nadya mengendikkan kedua bahunya.


"Ya kan bisa gantian. Lita menemani kamu nyari alamat butik yang akan kamu pakai prakerin, lalu setelahnya kamu temani Lita mencari butik tempatnya prakerin Lita," ujar Bunda Maya memberikan solusi.


Bunda Maya hanya masih merasa khawatir kalau Nadya sering pergi bersama Reza. Bukan apa-apa, tapi pikiran Bunda Maya selalu mengarahnya ke arah hal-hal negatif. Apalagi Reza yang sudah termasuk pria dewasa yang bisa saja melakukan hal-hal yang melanggar norma pada Nadya.


"Lita pergi sama anak kelas sebelah, Bund. Yang satu tempat prakerin dengannya," tutur Nadya memberikan alasan sekaligus menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal.


"Besok sore kita mau diajak Pak Teddy ketemu anaknya, Nad." Bunda Maya mengingatkan sang putri.


"Nah itu." Nadya masih garuk-garuk tengkuk.


"Kenapa?" Bunda Maya menangkap gelagat Nadya yang sedikit mencurigakan.


"Mas Res ngajakin Nadya ketemu orang tuanya besok, Bund," ujar Nadya seraya meringis.


"Sore juga?" Tanya Bunda Maya memastikan.


"Iya." Nadya masih meringis.


"Tapi besok pagi katanya mau izin lagi ke Bunda, sekalian antar Nadya ke sekolah." Sambung Nadya lagi menyampaikan pesan dari Reza.


"Kok bisa bareng, sih!" Bunda Maya berdecak bingung.


"Bunda kencannya sama Pak Teddy jam berapa?" Tanya Nadya yang langsung membuat Bunda Maya membuka ponselnya. Wanita paruh baya tersebut mencari pesan yang sempat dikirim oleh Pak Teddy.


"Jam empat dijemput, Nad," ujar Bunda Maya menjawab pertanyaan Nadya.


"Duh! Kok bisa bareng jamnya, ya, Bund?" Gumam Nadya ikut bingung.


"Kamu jam empat juga, ketemuan sama orang tuanya Reza?" Bunda Maya balik bertanya pada Nadya sekaligus memastikan.


"Iya, Bund!"


"Nadya udah bilang juga kalau mau ada acara. Tapi kata Mas Res, diajak ketemu orang tuanya dulu, baru nanti nyusul Bunda dan Pak Teddy, gitu," lanjut Nadya mencoba memberikan solusi untuk semua kebingungan ini.


"Yaudah, kamu ketemu aja sama orang tuanya Reza, nanti biar Bunda yang jelasin ke Pak Teddy sama ke anaknya kenapa kamu nggak bisa datang," ujar Bunda Maya ikut-ikutan mencari solusi.


"Nanti Pak Teddy marah, nggak, Bund?" Tanya Nadya khawatir.


"Enggak!" Jawab Bunda Maya sambil kembali menginjak pedal mesin jahitnya.


"Udah, kamu tidur sana! Udah menguap terus begitu!" Titah Bunda Maya selanjutnya pada sang putri.


"Besok boleh pergi sama Mas Res nyari tempat prakerin berarti, kan, Bund?" Nadya minta izin sekali lagi dan Bunda Maya kembali harus menghentikan aktivitas menjahitnya sekali lagi.


Wanita empat puluh tahun tersebut menatap ke arah sang putri.


"Janji dulu sama Bunda," ucap Bunda Maya dengan nada lembut.


"Janji apa?" Tanya Nadya bingung.


"Janji kalau kamu nggak bkal berbuat aneh-aneh sama Reza." Kali ini tatapan Bunda Maya berubah tegas.


"Aneh-aneh?" Nadya menggaruk kepalanya yang tak gatal karena bingung.


"Sekarang Bunda tanya. Kamu kalau pulang dijemput Reza itu, diajak kemana dulu?" Tanya Bunda Maya menyelidik.


"Kemana? Ke belakang Manahan biasanya. Yang pertama itu ditraktir mie ayam sama es degan, trus yang kedua ditraktir bakso pentol sama Mas Res," jawab Nadya jujur.


"Mana ada? Baru dua kali diantar pulang. Sisanya Nadya pulang sama Lita," jawab Nadya seraya merengut.


Sebenarnya Bunda Maya juga sudah bertanya pada Lita. Bunda Maya hanya mengetes kejujuran Nadya.


Ternyata putrinya memang jujur.


"Yaudah, besok Bunda kasih ijin kamu pergi sama Reza nyari butik tempat kamu prakerin. Tapi habis itu langsung pulang!" Pesan Bunda Maya pada Nadya.


"Iya, Bund! Kan sorenya juga mau ketemu orang tuanya Mas Res. Pasti cepat pulang, kok!" Nadya akhirnya sudah berhenti merengut dan ganti tersenyum.


Besok Bunda Maya juga akan berpesan pada Reza.


"Tidur sana!" Titah Bunda Maya sekali lagi pada sang putri.


"Baik, Bundaku Sayang!" Nadya mencium pipi Bunda Maya sebelum pergi ke kamar untuk tidur. Nadya sudah tak sabar untuk bertemu orang tua Mas Res besok.


****


"Assalamualaikum!" Salam Reza saat jam di rumah Nadya baru menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit.


Pagi sekali menjemput Nadya. Mau diajak jogging dulu di Stadion Manahan?


"Walaikum salam!" Jawab Bunda Maya seraya membuka pintu depan.


"Eh, Nak Reza sudah datang," sambut Bunda Maya ramah dan hangat.


"Mau menjemput Nadya, Bund! Sekalian mau bicara sesuatu sama Bunda," ujar Reza dengan nada sopan dan tutur kata yang lembut seperti biasa.


"Ayo masuk dulu!" Bunda Maya mempersilahkan Reza untyk maduk dan duduk.


"Nadya masih mandi dan siap-siap," ucap Bunda Maya lagi setelah Reza duduk di kursi ruang tamu.


Reza hanya mengangguk.


"Begini, Bund." Reza langsung bicara pada intinya.


"Papa ingin bertemu dengan Nadya nanti sore, karena sekalian juga Papa mau mengenalkan Reza dengan orang penting, jadi Reza disuruh untuk mengajak Nadya."


"Apa Bunda keberatan kalau nanti sore Reza mengajak Nadya bertemu Papa?" Tanya Reza sekaligus meminta izin pada Bunda kandung Nadya tersebut.


"Nanti sebelum maghrib, Insyaa Allah Nadya sudah Reza antarkan pulang, Bund. Cuma ketemu sama Papa saja dan Reza nggak akan aneh-aneh," lanjut Reza berjanji pada Bunda Maya.


Tak bisa dipungkiri, kalau kejujuran serta kesopanan Reza inilah yang membuat Bunda Maya cepat percaya pada pemuda di depannya tersebut.


"Iya, boleh," jawab Bunda Maya yang langsung membuat Reza bernafas lega.


"Trus katanya nanti pulang sekolah mau nganter Nadya mencari tempat prakerinnya? Itu benar?" Tanya Bunda Maya mengkonfirmasi.


"Oh, yang itu. Reza sudah mencari alamat butiknya kemarin sore setelah dikasih tahu sama Nadya. Dan alhamdulillah sudah ketemu. Nanti Reza tunjukin ke Nadya saja sekalian mengantar Nadya pulang sekolah, Bund!" Tutur Reza yang sedikit membuat Bunda Maya terkejut.


Ternyata Reza memang begitu perhatian pada Nadya.


"Di daerah Purwonegaran sebelah mana, Za?" Tanya Bunda Maya menyelidik.


"Itu, Bund. Jalan disamping Solo Paragon ke arah selatan. Pas di belokan sebelum Jalan Slamet Riyadi letak butiknya," jelas Reza pada Bunda Maya.


"Tapi mungkin angkot yang dari sini ke arah sana nggak ada. Harus oper kayaknya," imbuh Reza lagi yang langsung membuat Bunda Maya manggut-manggut.


"Atau kalau Bunda nggak keberatan, nanti Nadya biar Reza antar jemput saja selama prakerin. Kan cuma tiga bulan juga," tawar Reza kembali minta izin pada Bunda Maya.


"Nanti ngrepotin nak Reza," Bunda Maya merasa sungkan.


"Enggak, Bund! Cuma nganter jemput," Reza tertawa kecil bersamaan dengan Nadya yang sudah selesai bersiap.


Gadis itu sudah menghampiri Bunda dan Reza seraya menggendong tas ranselnya yang berwarna hijau.


"Nanti saja Bunda bahas sama Nadya dulu, soal transportasi ke tempat prakerin," ujar Bunda Maya mengakhiri obrolannya bersama Reza.


"Siap, Bunda. Reza akan mengantar Nadya ke sekolah dulu," pamit Reza seraya mencium punggung tangan Bunda Maya.


Nadya ikut berpamitan dan mencium punggung tangan sang Bunda juga.


"Assalamualaikum, Bund!" Ucap Nadya dan Reza serempak sebelum keduanya meninggalkan rumah.


"Walaikum salam. Hati-hati!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.