
Pagi menjelang.
Bunda Maya memperhatikan Nadya yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya dan sepertinya tak ada niat untuk memakannya.
"Nad!" Tegur Bunda Maya yang langsung membuat Nadya mengangkat wajahnya.
Gadis itu menatap ke arah Bunda Maya dan Papa Teddy sesaat. Lau ke arah Eyang Putri dan Bulik Ningsih yang juga duduk mengelilingi meja makan. Hanya Reza yang tidak ikut sarapan pagi ini.
"Nadya kenyang, Bund!" Ucap Nadya akhirnya seraya meketakkan sendoknya, dan beranjak berdiri.
Gadis itu pergi begitu saja dari ruang makan dengan bibir yang merengut.
"Nad!" Bunda Maya hendak menyusul,, tapindicegah oleh Eyang Putri.
"Biarkan dulu, Nduk! Jangan dimarahi atau diceramahi," nasehat Eyang Putri.
Bunda Maya menatap pada Pak Teddy yang hanha mengangguk mengiyakan nasehat Eyang Putri. Akhirnya Bunda Maya dan yang lain lanjut menyantap sarapan mereka meskipun tanpa selera.
Acara liburan yang harusnya mereka semua bersenang-senang, malah berubah menjadi kacau seperti ini.
****
[Katanya ke Jogja, ya, Nad? Bener?] -Lita-
Nadya sedang duduk sendirian di lincak bambu yang ada di teras rumah Eyang Putri saat pesan dari Lita masuk ke ponsel gadis tujuh belas tahun tersebut.
[Lit, emang bener, ya? Muka aku sama Mas Reza itu mirip] -Nadya-
[Yaelah! Ditanya apa jawabnya apa. Jaka Sembung bawa donat. Nggak nyambung, Nad!] -Lita-
Nadya hanya tersenyum tipis sebelum kembali merengut. Padahal kalau situasi normal, mungkin Nadya akan tertawa guling-guling menbaca pantun nggak nyambung dari Lita tersebut.
[Sejak kapan Jaka Sembung bawa-bawa donat? Emang Joko udah buka gerai di goa?] -Nadya-
[Joko siapa?] -Lita-
[Gerai donat sultan di Solo Square itu. Yang kardusnya kuning. Yang kata kamu beli satu donat di Joko bisa buat beli selusin donat di pasar] -Nadya-
[JCO, Nad! JCO! Lama-lama otak kamu jadi ngaco begitu. Dikasih racun apaan sama Mas Res? Racun cinta, ya?] -Lita-
[Huwaaaaaaaaaa!!!!]-Nadya-
[Nad, Nad! Kok nangis? Kamu kenapa] -Lita-
[Aku nggak bisa nikah sama Mas Reza, Lit] -Nadya-
[Kenapa emang? Mas Res udah punya anak dan istri? Kamu kena tipu? Laporin gih ke papa baru kamu.] -Lita-
[Tapi Papa aku kan Papanya Mas Reza juga] -Nadya-
Nadya semakin merengut membaca pesan terakhir yang baru saja ia ketik dan ia kirimkan pada Lita.
Kenapa Nadya dan Reza harus punya Papa biologis yang sama?
Kenapa ini tidak adil?
[Hilih! Papa ketemu gede] -Lita-
Nadya tak membalas lagi pesan dari Lita karena matanya kini sudah berembun, membuat semua hal disekitar Nadya menjadi kabur. Nadya menghapus airmatanya dengan cdpat saat gadis itu menyadari kalau ada Reza yang sejak tadi mengawasinya dari halaman rumah.
Hah?
Sejak kapan Mas Reza ada di situ.
Reza sudah dengan cepat menghampiri Nadya dan ikut duduk di lincak bambu. Pria itu langsung merangkul Nadya dan memeluk gadus yang awalnya adalah pacarnya tersebut, tapi srkarang sudah berubah status menjadi adik satu bapak.
Ya,
Bukan hanya Nadya yang hancur.
Hati Reza juga hancur dan porak poranda sejak semalam.
"Mau ke pantai?" Tanya Reza yang masih memeluk Nadya yang sesenggukan.
"Sama?" Tanya Nadya yang suaranya terdengar lirih.
"Sama Mas, tho," jawab Reza yang tetap saja merasa kaku menyebut Mas dan Dek.
Biasanya aku kamu sekarang jadi Mas dan Dek.
"Jauh?" Tanya Nadya lagi yang sudah mengangkat kepalanya dari pelukan Reza.
"Lumayan."
"Naik sepedanya Pakdhe Maman aja. Biar kaki kamu nggak kena duri lagi," usul Reza selanjutnya.
"Nanti Bunda nyariin," jawab Nadya ragu.
"Kamu ijin dulu sana! Aku tungguin," Reza mengacak rambut Nadya.
"Kenapa nggak berdua aja ijinnya?" Tanya Nadya mengajukan usulan lain.
Reza menghela nafas.
"Baiklah!"
Reza menggandeng tangan Nadya dan kakak beradik itu masuk ke rumah Eyang Putri, saat keduanya berpapasan dengan Pak Teddy yang hendak keluar menuju ke teras.
"Mau kemana?" Tanya Pak Teddy yang sepertinya sudah tahu kalau Reza hendak mengajak Nadya pergi.
"Ke pantai bentar, Pa." Jawab Reza tanpa menatap pada sang papa.
Pak Teddy melirik ke tangan Nadya dan Reza yang masih saling menggenggam.
"Za, kamu ingat kalau Nadya itu-"
"Reza cuma mau ngajak Nadya ke pantai lihat ombak, Pa! Tidak mungkin juga Reza akan mengajak Nadya check in di hotel dan menidurinya!"
"Reza masih punya iman dan pikiran!" Sergah Reza dengan nada meninggi seraya melempar tatapan tajam ke arah Pak Teddy.
"Mas, ada apa?" Bunda Maya yang tadi sedang mencuci piring langsung tergopoh-gopoh menghampiri sang suami, karena mendengar Reza yang marah-marah.
"Reza mau mengajak Nadya ke pantai," ujar Pak Teddy menjawab pertanyaan Bunda Maya.
Bunda Maya menatap pada Reza dan Nadya yang wajahnya sama-sama sendu. Kakak beradik itu juga tangannya saling menggenggam. Rasa trenyuh langsung menghinggapi relung hati Bunda Maya, seolah ikut merasakan kesedihan di hati Nadya dan Reza
"Yasudah, kalian pergi sana! Sekalian kamu belikan sarapan untuk adik kamu, Za! Tadi Nadya belum sarapan," ucap Pak Teddy yang akhirnya memberikan izin.
Nadya segera meraih tangan Pak Teddy dan menciumnya. Lau bergantian ke tangan bunda Maya.
Pun dengan Reza, pria itu melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Nadya.
"Kami pergi dulu, Pa, Bund! Assalamualaikum," pamit Nadya seraya keluar menuju ke teras.
"Walaikum salam!" Jawab Pak Teddy dan bunda Maya serempak.
Dari dalam rumah, masih bisa Bunda Maya lihat, Reza yang menaiki sepeda Pakdhe Maman sambil membonceng Nadya di belakang.
"Mereka terlihat hancur, Mas," gumam Bunda Maya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Butuh waktu untuk menerima semuanya, May! Tapi mereka pasti bisa," ucap Pak Teddy optimis.
****
Reza masih terus mengayuh sepeda Pakdhe Maman, menuju ke arah pantai Parangtritis. Deretan warung makan yang menjajakan aneka olahan seafood langsung terlihat begitu mereka memasuki kawasan pantai.
"Mau makan apa, Nad?" Tanya Reza pada Nadya yang masih diam di belakang seraya melingkarkan lengannya di pinggang Reza.
"Pentol," jawab Nadya yang langsung membuat Reza berdecak.
"Mana ada yang jual pentol di pantai?"
"Itu ada!" Nadya menunjuk ke area parkir dimana ada penjual pentol yang mangkal di sana.
Padahal masih lumayan pagi, itu penjual pentol ngapain udah mangkal?
"Yaudah, kita beli pentol!" Reza lanjut mengayuh sepedanya ke arah penjual pentol.
Setelah membeli bakso pentol, Reza dan Nadya menuju ke area pantai yang masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang atau sekedar lari pagi di sepanjang garis pantai.
Reza dan Nadya duduk di atas pasir, agak jauh dari pantai dan keduanya hanya diam menikmati pentol di tangan masing-masing. Sesekali, keduanya akan menatap jauh ke arah ombak yang datang bergulung-gulung ke arah pantai, lalu kembali lagi ke tengah lautan lepas.
"Kamu percaya, Nad?" Tanya Reza yang terlebih dahulu buka suara.
"Percaya apa?" Nadya balik bertanya pada Reza da menoleh ke arah pria dewasa yang pernah membuat Nadya kepincut tersebut.
"Kita saudara seayah," Reza tersenyum kecut, lalu tangannya meraup segenggam pasir dan melemparkannya kd arah lautan lepas.
"Percaya nggak percaya. Tapi kalau memang kenyataannya begitu mau diapakan lagi, Mas?" Jawab Nadya sok diplomatis.
Reza menoleh ke arah Nadya yang sudah melempar pandangannya ke laut lepas. Gadis itu masih terlihat imut dan mungil serta menggemaskan. Sayangnya bayangan Reza untuk bisa memeluknya setiap malam, lalu menciumi wajah imutnya harus Reza tepis dan buang sejauh-jauhnya.
Reza dan Nadya tak akan pernah bisa menikah!
"Padahal tadinya, Papa mau minta izin Eyang Putri agar kita bisa ijab sah tanpa harus menunggu kamu lulus SMK, Nad," Reza sudah meraih tangan Nadya dan menceritakan rencananya bersama Pak Teddy tempo hari.
"Nanti Mas Reza ijab sah sama gadis lain saja, ya!" Ucap Nadya menoleh ke arah Reza yang sejak tadi masih menatapnya.
"Trus kamu?"
"Ya, Nadya lanjut sekolah, Mas. Trus lanjut kuliah, dan mungkin lanjut cari suami," jawab Nadya seraya tertawa menyedihkan.
"Yaudah, aku nikahnya nunggu kamu nikah saja," putus Reza yang sontak membuat raut wajah Nadya berubah tak senang.
"Ya jangan gitu, Mas!" Nadya sudah mengubah posisi duduknya dan kini ganti menggamit lengan Reza. Gadis itu kembali menyandarkan kepalanya di pundak Reza.
"Kenapa memang? Aku mau jagain kamu dulu, sampai kamu dapat suami yang benar-benar bisa jagain kamu dan sayang sama kamu," tutur Reza mengungkapkan sebuah alasan.
"Mas Reza kan tetap bisa Jagain Nadya, meskipun sudah menikah. Nadya kan juga pengen punya Mbak ipar yang bisa di ajak cerita atau bergosip atau masak-masak bareng seperti mbak iparnya Lita itu," ujar Nadya yang masih tetap menyandarkan kepalanya di pundak Reza.
Reza mengusap kepala Nadya dan sedikit mengacak rambut gadis itu. Sekian lama, Reza tak pernah jatuh cinta, lalu kenapa saat Reza merasakan jatuh cinta, gadis yang Reza cintai malah berubah menjadi adiknya begini?
Hidup benar-benar tidak adil
"Mbak Riska masih jomblo, Mas!" Celetuk Nadya tiba-tiba yang sudah mengangkat kepalanya dari pundak Reza.
"Iya, trus?" Reza hanya acuh.
"Mas Reza kan dekat sama Mbak Riska. Teman lama juga. Pedekate, gih!" Saran Nadya sok-sokan bijak.
"Nanti kamu cemburu!" Reza mencolek hidung Nadya.
"Nggaklah! Kayaknya asyik juga kalau Mbak Riska jadi mbak iparnya Nadya." Nadya terkikik. Meskipun sebenarnya Reza masih bisa menangkap raut kesedihan di wajah Nadya.
"Nadya comblangin, ya, Mas!" Usul Nadya sekali lagi.
Reza tak langsung menjawab dan diam beberapa saat.
"Yah, yah, yah!" Nadya mulai memaksa.
"Terserah," ucap Reza akhirnya merasa pasrah.
Reza hanya sedang malas memikirkannya.
"Yess!" Nadya bersorak senang dan langsung bangkit dari duduknya.
"Ayo main ombak, Mas!" Nadya menarik tangan Reza dan mengajaknya berlari ke arah ombak yang datang bergulung-gulung.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.