NADYA

NADYA
BAHAGIA



"Sakit, Mas!" Ringis Nadya saat milik Zikri baru saja merobek sesuatu di dalam pangkal pahanya.


"Sakit sekali?" Tanya Zikri khawatir.


"Perih," cicit Nadya masih sambil meringis.


"Sakitnya tidak akan lama. Aku akan bergerak, lalu kau tidak akan sakit lagi," jelas Zikri memberikan pengertian pada Nadya.


"Iya." Jawab Nadya lirih.


Zikri mulai bergerak dan cengkeraman tangan Nadya di punggung suaminya tersebut semakin mengerat.


"Buka lebar, jangan grogi," Zikri tertawa kecil dan membimbing Nadya agar membuka kedua pahanya sedikit lebar.


Zikri masih terus bergerak dengan lembut sambil menatap ke dalam wajah ayu Nadya yang sesekali akan memejamkan matanya. Wajah istri Zikri itu akan langsung bersemu merah, saat pandangan mereka tak sengaja bertemu.


"Masih sakit?" Tanya Zikri yang tetap bergerak secara intens.


Nadya menggeleng.


"Rasanya jadi aneh, Mas," jawab Nadya malu-malu yang justru memancing tawa Zikri.


"Iya, aku juga merasa aneh. Baru kali ini ngrasain," timpal Zikri jujur. Nadya sontak ikut tertawa.


"Mas," lenguh Nadya saat Zikri semakin mempercepat gerakannya.


"Mas pelan-pelan! Nadya pengen ini lho," Nadya berucap dengan salah tingkah.


"Pengen apa?" Goda Zikri yang sudah hampir mencapai pelepasannya.


"Pengen itu."


"Aduh!" Naday semakin salah tingkah.


"Udah keluarin aja," ucap Zikri yang sepertinya paham.kalau Nadya juga hampir sampai.


"Tapi nggak apa-apa! Nanti banjir bagaimana?" Tanya Nadya khawatir.


"Nggak apa-apa," Zikri melesakkan miliknya ke dalam milik Nadya sedalam mungkin, saat akhirnya Zikri mencapai pelepasan.


"Mas!"


Nadya mencengkeram lengan Zikri karena ia merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Nadya merasa begitu melambung.


Zikri menatap wajah Nadya yang bersemu merah, lalu melepaskan dengan perlahan, juniornya dari dalam milik Nadya. Zikri lanjut mengecup kening istrinya tersebut.


"Terima kasih, Istriku Sayang," ucap Zikri lembut yang semakin membuat Nadya tersipu dan bibirnya menyunggingkan senyuman lebar.


"Sudah, ya, Mas?" Tanya Nadya yang balik menatap wajah Zikri yang tanpa kacamata.


"Mau nambah juga boleh," jawab Zikri seraya mencolek hidung Nadya.


Zikri meraih piyama Nadya dan memakaikannya dengan cekatan ke tubuh istrinya tersebut.


"Bersih-bersih dan wudhu duku sebelum bobok," nasehat Zikri setelah selesai memakaikan piyama Nadya. Zikri membantu Nadya untuk bangun dan turun dari kasur.


"Aduh," ringis Nadya saat wanita itu turun dari kasur.


"Masih sakit, ya?" Tanya Zikri khawatir.


Zikri bergegas memakai kaus dan celananya.


"Sedikit," jawab Nadya yang akhirnya sudah bisa berjalan dengan normal.


"Nadya duluan, Mas!" Pamit Nadya seraya membuka pintu kamar.


Suasana rumah sudah sepi dan gelap sebagian. Sepertinya, semua orang memang sudah tidur dan istirahat.


Nadya dan Zikri kembali ke kamar bersamaan, setelah keduanya bersih-bersih dan mengambil wudhu. Mau mandi wajib juga sudah hampir tengah malam. Takutnya rematik dan kedinginan. Besok subuh saja mandinya pakai air hangat.


Nadya naik duluan ke atas tempat tidur ssbelum kemudian Zikri ikut menyusul dan keduanya tersenyum bersama.


"Langsung bobok!" Ucap Zikri seraya mengusap lembut kepala Nadya. Istri Zikri itu sudah menguap beberapa kali.


Nadya membaca doa sebentar, sebelum kemudahan wanita itu merebahkan kepalanya di lengan Zikri.


"Ehem!" Zikri menarik tubuh Nadya agar merapat ke arahnya, lalu membentangkan selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Tak butuh waktu lama, Nadya dan Zikri langsung sama-sama terlelap.


****


Satu tahun kemudian....


"Mmmmmmuah!" Zikri mencium perut Nadya yang sudah membulat layaknya semangka.


"Besok sudah mulai cuti, kan?" Tanya Zikri selanjutnya pada Nadya yang hari ini mengenakan jilbab warna cokelat senada dengan baju yang istri Zikri itu kenakan.


"Iya, Mas!" Jawab Nadya seraya meraih tangan Zikri dan mencium punggung tangan suaminya tersebut.


Nadya kini mengajar di sebuah SMP tak jauh dari rumah kedua orangtua Zikri.


Sedangkan Zikri yang sudah selesai magang, kini juga sudah mulai berdinas di salah satu rumah sakit di kabupaten yang sama.


Kebetulan hari ini Zikri dinas pagi, jadi bisa sambil mengantar Nadya berangkat mengajar.


"Tetap hati-hati," Pesan Zikri seraya mengecup kening Nadya.


"Siap, Pak Dokter!" Jawab Nadya sedikit lebay, sambil membuka pintu mobil.


"Nadya duluan, Mas!"


"Assalamualaikum," pamit Nadya seraya turun dari mobil dengan hati-hati.


"Walaikum salam!"


Zikri masih menatap ke arah Nadya yang sudah berjalan masuk ke gerbang sekolah, lalu langsung menuju ke loby utama.


Setelah Nadya tak terlihat, barulah Zikri melajukan mobilnya menuju ke arah rumah sakit tempatnya berdinas.


Hanya tinggal satu setengah bulan lagi, lalu Zikri dan Nadya akan menjadi orang tua.


*************TAMAT *************


Udah, segini aja.


Cerita Nadya dan Mas Reza aku akhiri sampai disini.


Terima kasih sebesar-besarnya untuk semua reader yang sudah membaca dan mengikuti cerita ini sampai tamat.


Terima kasih juga buat yang sudah memberikan dukungan, like, koment, vote, dan hadiah.


Kalian semua luar biasa!


Jangan lupa untuk mampir ke karya receh othor yang lain dan setelah ini kita ketemu sama Ruby dan Ethan di "Penantian Ruby"


Rilis siang ini kayaknya. Nanti bisa di ceki-ceki dulu 😁😁😁


Sampai jumpa di karya othor selanjutnya.


Assalamualaikum....