NADYA

NADYA
KAWIN LARI, YUK!



Reza menggandeng tangan Nadya dan mengajak gadis itu melewati semak-semak di sekitar rumah Eyang Putri.


"Mas, kita mau kemana?" Tanya Nadya sekali lagi.


Sudah sejak tadi Nadya melontarkan pertanyaan tapi tak juga dijawab oleh Reza.


"Mas Res!" Nadya sedikit menyentak genggaman tangan Reza karena pertanyaannya yang tak digubris oleh Reza sejak tadi.


"Aku mau ngajak kamu kawin lari!" Jawab Reza to the point.


"Mas Res gila! Kita kakak adik, Mas!" Nadya beringsut mundur menjauhi Reza.


"Iya, aku gila! Aku gila kalau kita tidak jadi nikah, Nad! Aku mencintai kamu!" Cecar Reza dengan berapi-api.


"Tapi kita saudara satu bapak, Mas! Kita tidak bisa menikah!" Naday masih terus menjaga jarak dari Reza.


"Papa pasti bohong! Papa dan Eyang pasti sudah membohongi kita, Nad!" Reza tiba-tiba sudah merengkuh kedua pundak Nadya da menggoyang-goyangkan tubuh Nadya.


"Mas Res!" Nadya menatap tajam ke arah pria dua puluh lima tahun di depannya tersebut.


"Kita tidak mungkin saudara, Nad!" Reza sudah melepaskan lengannya dari pundak Nadya dan kini pria itu menatap Nadya dengan lesu.


"Ayo pulang, Mas!" Ajak Nadya seraya menggamit lengan Reza dan menyandarkan kepalanya di pundak Reza. Samar-samar terdengar suara Nadya yang terisak.


"Aku nggak mau pulang! Aku maunya nikah sama kamu, Nad!" Reza masih keras kepala dan Nadya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Reza sekarang sudah ganti memeluk Nadya.


"Kita tidak bisa menikah, Mas! Kita kakak adek," cicit Nadya di dalam pelukan Reza masih sambil terisak-isak.


"Eza!"


"Nadya!"


Dari kejauhan samar-samar terdengar suara Pak Teddy dan Pakdhe Maman yang sejak tadi mencari Reza dan Nadya.


"Eza!" Suara teriakan Pak Teddy semakin terdengar jelas.


Reza menarik tangan Nadya dan menjauhi sumbwr suara.


"Mas!" Nadya berusaha berontak.


"Ayo ikut!" Ajak Reza memaksa.


"Tapi kita mau kemana, Mas?" Tanya Nadya seraya terus mengikuti langkah Reza. Kaki Nadya yang sejak dari rumah berjalan tanpa alas mulai terasa perih karena tadi entah menginjak apa.


"Reza!"


"Nadya!"


Masih terdengar suara Pak Teddy dari kejauhan.


"Mas, berhenti dulu!" Nadya menarik tangan Reza yang sejak tadi menariknya dan meminta masnya tersebut untuk berhenti.


"Kenapa?" Tanya Reza saat melihat wajah Nadya yang meringis.


"Kaki Nadya nginjak duri kayaknya," lapor Nadya yang kini bibirnya merengut.


Saat itulah Reza sadar kalau sejak tadi Nadya tak memakai sandal.


"Mana, mana?" Reza dengan sigap memeriksa kaki Nadya yang telapaknya sudah kemerahan.


"Sakit, Mas!" Cebik Nadya manja.


"Nggak kelihatan durinya," gumam Reza yang masih mencari-cari letak duri yang menusuk kaki Nadya.


"Reza!" panggil Pak Teddy yang akhirnya sudah sampai di dekat Reza dan Nadya.


"Kamu mau membawa Nadya kemana, Za?" Tegur Pak Teddy yang sudah dengan cepat menghampiri Reza dan Nadya. Pakdhe Maman juga ikut menghampiri keduanya dengan tergopoh-gopoh.


"Mau jajan geplak!" Jawab Reza asal dan sedikit ketus.


Nadya hanya menahan tawanya.


"Kena duri katanya, Pa! Tapi nggak kelihatan." Bukan Nadya melainkan Reza yang menjawab pertanyaan Pak Teddy.


"Pake senter, Mas!" Pakdhe Maman mengulurkan senter kecil pada Pak Teddy untuk memeriksa duri yang menusuk kaki Nadya.


"Kamu juga, Za! Ngajak Nadya keluar, tapi nggak dipakein sandal!" Omel Pak Teddy pada Reza.


Dua pria itu masih mencari keberadaan duri si biang kerok di telapak kaki Nadya.


"Papa bawel!" Sahut Reza masih dengan nada ketus.


Reza yang sudah berhasil menemukan duri kecil yang menancap di telapak kaki Nadya, segera mengambilnya.


"Sudah!" Lapor Reza seraya membersihkan tangannya dari tanah yang menempel.


"Bisa jalan pulang kamu, Nad?" Tanya Pak Teddy memastikan.


"Biar Reza yang gendong!" Jawab Reza ketus sebelum Nadya sempat buka suara.


Reza berjongkok di depan Nadya dan Pak Teddy membantu Nadya untuk naik ke punggung Reza.


"Pegangan, Nad! Nanti jatuh!" perintah Reza yang langsung membuat Nadya mengalungkan kedua lengannya di leher Reza.


Reza berjalan di bagian depan, dan Pak Teddy serta Pakdhe Maman menyusul di belakang Reza. Mereka berempat langsung menyusuri jalan setapak yang masih berupa tanah menuju ke arah rumah Eyang putri.


Sampai di rumah, rupanya Bunda Maya, dan Budhe Ningsih sudah menunggu mereka di teras depan.


Eyang Putri sengaja tidak diberitahu karena sudah tidur.


"Nadya kenapa, Za?" Tanya Bunda Maya yang langsung dengan cepat menghampiri Nadya yang masih berada di punggung Reza. Bunda Maya membantu Nadya untuk turun.


"Kakinya kena duri tadi, May!" Jawab Pak Teddy memberikan laporan


"Diajak Reza kelayapan, tapi nggak dipakaikan sandal," ujar Pak Teddy lagi yang langsung membuat Reza berdecak marah.


Reza memukul pintu yang tak bersalah dan segera masuk ke dalam rumah Eyang Putri meninggalkan semua orang yang masih berada di teras.


"Masih sakit?" Tanya Bunda Maya pada Nadya yang masih duduk di kursi teras. Wanita itu memeriksa kembali kaki Nadya.


"Udah enggak, Bund!" Jawab Nadya lirih.


"Tadi Nadya dibawa Eza kemana, Ted?" Tanya Budhe Ningsih.


"Ke arah pantai, Budhe. Nggak tahu maunya apa," jawab Pak Teddy seraya mengusap kepala Nadya yang masih merengut.


"Cuci kaki, ganti baju, terus istirahat," ucap Bunda Maya lembut pada Nadya yang hanya mengangguk samar.


"May, kamu temani Nadya malam ini di kamarnya," titah Pak Teddy pada sang istri.


"Iya, Mas!" Bunda Maya sudah beranjak berdiri, lalu membimbing Nadya agar ikut berdiri dan masuk ke dalam rumah.


Kini hanya tinggal Budhe Ningsih dan Pak Teddy di teras rumah.


"Reza benar-benar keras kepala," gumam Pak Teddy memecah kebisuan.


"Reza itu hanya kaget, Ted!" Pendapat Budhe Ningsih.


Pak Teddy mengangguk mengiyakan pendapat dari sang Bulik.


"Besok saja Teddy bicara padanya kalau emosinya sudah reda, Bulik," pungkas Pak Teddy sebelum pria itu mengajak sang bulik masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu depan. Malam sudah larut, jadi sebaiknya mereka semua memang beristirahat.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.