
"Mau kondangan lagi, Bund?" Tanya Nadya saat melihat Bunda Maya yang sudah mengenakan blouse berhiaskan bordir serta rok hitam panjang.
"Banyak yang nikah bulan ini. Biasalah, dekat-dekat puasa begini pada rame-rame nikah, keburu nggak kebagian hari nanti," jawab Bunda Maya seraya terkekeh.
"Ya iyalah! Nanti kalau nikahnya pas bulan puasa, suguhannya nggak laku. Tamunya puasa semua," timpal Nadya ikut terkikik.
"Trus ini yang nikahan siapa? Teman Bunda di pabrik juga? Dijemput sama Pak Teddy lagi?" Cecar Nadya seraya menerka-nerka.
"Nanti banyak barengannya, kok!" Tukas Bunda Maya seraya menggaruk tengkuknya.
"Pak Teddy masih pedekate sama Bunda, ya?" Goda Nadya yang selalu bisa melihat wajah merah merina sang Bunda saat mrmbahas tentang Pak Teddy.
"Anak kecil sok tahu!" Bunda Maya mengacak rambut sang putri.
"Nadya masih nggak keberatan, kok! Kalau Bunda menikah sama Pak Teddy. Bunda juga berhak bahagia dan punya teman hidup untuk hari tua bunda nanti," ucap Nadya yang sudah melingkarkan kedua lengannya di leher sang Bunda.
"Kan ada kamu yang akan menemani hari tua Bunda," jawab Bunda Maya sedikit menerawang.
"Iya, benar! Tapi Bunda juga berhak menikah dan punya pasangan hidup lagi, Bund! Biar Bunda nggak merasa kesepian," Nadya masih berusaha menasehati sang Bunda dan belum melepaskan dekapannya pada wanita yang sudah melahirkan serta merawatnya selama tujuh belas tahun tersebut.
Bunda Maya sampai kehilangan kata-kata mendengar nasehat sang putri yang kadang pemikirannya begitu dewasa, tapi kadang juga manja luar biasa.
Begitulah Nadya!
Bim bim!
Mobil minibus milik Pak Teddy sudah tiba di depan rumah Nadya.
"Jemputan udah datang. Bunda pergi dulu," ucap Bunda Maya seeaya mekepaskan dekapan Nadya dan mencium kening putrinya tersebut.
"Jangan lupa bawain Nadya oleh-oleh, ya, Bund!" Pesan Nadya sebelum Bunda Maya kekuar dari pintu depan.
"Iya! Mau dibawakan jadah apa krasikan?" Kekeh Bunda Maya seraya geleng-geleng kepala.
"Tape ketan bonus emping melinjo enak, Bund!" Sahut Nadya yang juga sudah beranjak dan berdiri di ambang pintu rumah.
"Ya kalau ada!"
"Jangan keluyuran kemana-mana! Bunda pergi dulu. Assalamualaikum!" Pamit Bunda Maya sekalian berpesan pada Nadya.
"Walaikum salam!" Nadya melambaikan tangan ke arah Bunda Maya dan juga Pak Teddy yang tersenyum kepada Nadya.
"Nggak ikut Bundamu kondangan, Nad?" Seru Pak Teddy dari dalam mobil.
Nadya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Mobil minibus Pak Teddy sudah melaju beberapa saat setelah Bunda Maya masuk ke dalam. Nadya masih senyum-senyum sendiri di ambang pintu membayangkan andai ia punya Ayah sebaik Pak Teddy. Sepertinya menyenangkan.
****
[Bunda di rumah] -Reza-
[Kenapa memang?] -Nadya-
[Mau minta izin buat telepon kamu. Nanti kamu kasihin dulu ke Bunda ponselnya pas aku telepon, biar kamu nggak diomeli] -Reza-
[Bunda baru aja pergi kondangan] -Nadya-
[Wah bagus, dong! Aku ke rumah, ya!] -Reza-
[Aku kunci pintunya dan nggak aku bukain, meskipun kamu gedor-gedor] -Nadya-
[Bercanda! Aku masih di toko ini, motongin kain sendiri nggak ada yang bantu] -Reza-
[Lah, katanya tadi toko tutup?] -Nadya-
[Ada pesanan mendadak. Aku ambillah buat tambah-tambah biaya lamaran ke kamu nanti] -Reza-
[Bakul gombal, hobinya emang nge-gombal, ya? Gombal mu ki yo!] -Nadya-
[Gombalnya cuma ke kamu, kok!] -Reza-
[Iya, percaya!] -Nadya-
[Beklah!] -Nadya-
Nadya lanjut mengerjakan tugas matematikanya yang masih kurang satu lembar. Langit di luar rumah sudah berubah menjadi semburat oranye, dan Bunda Maya masih belum pulang.
Tepat saat adzan maghrib berkumandang, peer Nadya sudah selesai. Segera Nadya membereskan buku-bukunya dan menyalakan lampu teras. Setelah mengunci pintu depan, Nadya memilih untuk segera mengambil wudhu dan menunaikan ibadah sholat maghrib. Mungkin nanti habis maghrib Bunda Maya baru pulang.
****
"Mampir beli martabak dulu, ya, May! Atau roti bakar? Nadya maunya apa kira-kira?" Tanya pak Teddy setelah ia dan Maya masuk ke dalam mobil.
Tadi keduanya memang mampir sebentar ke masjid yang ada di pinggir jalan yang mereka lalui untuk sholat maghrib.
"Nggak usah, Pak! Ini tadi oleh-oleh dari tempat kondangan sudah banyak. Nanti nggak kemakan kalau beli makanan lagi," tolak Maya seraya memaparkan alasan.
"Oleh-olehnya apa tadi? Cuma jadah, jenang, emping, memang Nadya doyan, May?" Tanya Pak Teddy sedikit terkekeh
"Doyan, Pak! Nadya itu kan apa-apa doyan. Anaknya nggak pilih-pilih soal makanan," jawab Maya ikut-ikutan terkekeh.
"Seneng, ya, punya anak seperti Nadya. Anaknya lucu, ceria, nggak manja, pinter juga," tutur pak Teddy mengeluarkan segala jenis pujian untuk Nadya.
"Alhamdulillah, Pak! Mungkin karena sejak kecil sudah saya ajak hidup prihatin, jadi anaknya memang pengertian dan nggak neko-neko sampai sebesar ini," timpal Maya penuh rasa syukur.
Mobil Pak Teddy sudah mulai melaju menembus jalan yang kiri kanannya sudah di dominasi oleh persawahan.
"Soal kata-kataku tempo hari, kamu sudah memikirkannya, May?" Tanya Pak Teddy lagi yang sontak membuat Maya menautkan kedua alisnya.
"Kata-kata Pak Teddy yang mana?" Maya balik bertanya karena bingung.
"Soal pendamping hidup buat kamu itu," jawab Pak Teddy yang terlihat salah tingkah.
Aneh!
"Saya masih belum kepikiran, Pak!" Ujar Maya seraya menundukkan wajahnya dan memainkan jemarinya yang saling menggenggam.
"Tapi Nadya butuh sosok seorang ayah, May!" Ucap Pak Teddy lagi yang hanya membuat Maya tersenyum tipis.
"Dan sebenarnya, sudah sejak lama, aku pengen jadi Ayah untuk Nadya, May!" Sambung Pak Teddy lagi yang sontak membuat Maya mengangkat wajahnya serta membelalak tak percaya.
"Pak Teddy sedang bercanda?" Maya tertawa kaku.
"Tidak! Aku serius, May!"
Pak Teddy tiba-tiba sudah menepikan mobilnya dan menghentikan laju kendaraan roda empat tersebut.
"May, aku tahu menjadi orang tua tunggal itu tidak mudah dan pasti sudah banyak suka duka yang kamu lalui selama ini."
"Jadi mulai sekarang, izinkan aku menjadi teman hidupmu, agar kau bisa berbagi suka dan dukamu bersamaku, May! Izinkan aku menjadi ayah sambung Nadya dan memberikan kasih sayang berlimpah dari seorang ayah pada Nadya." Tutur Pak Teddy lagi seraya menatap penuh kesungguhan pada Nadya.
Ya Allah!
Baru tadi siang ada pria yang mendadak datang ke rumah untuk melamar Nadya.
Sekarang kenapa malah gantian Maya yang dilamar oleh Pak Teddy.
Nggak ada angin nggak ada hujan, kenapa semuanya serba mendadak begini?
"Kamu mau menikah denganku dan membangun biduk rumah tangga beramaku, kan, May?" Tanya Pak Teddy sekali lagi yang hanya membuat Maya shock dan membisu.
Maya harus menjawab apa sekarang?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.