
Tepat jam dua siang, Hp Nadya bergetar, muncul nama.MY HUSBAND, Nadya merasa tidak pernah menyimpan kontak ini tapi kenapa tiba tiba ada nama my husband.
Dengan ragu ragu Nadya menscrol tanda hijau ke atas.
"Halo....."
"Kuliah nya sudah selesai?"
"Ini mas Hengky?" Nadya balik bertanya
"Iya ini aku, kalau sudah selesai mas jemput sekarang ya"
"Ya aku sudah selesai mapelnya. Kalau mas sibuk ga usah jemput, aku bisa pake ojol."
"Mas ga sibuk kok, mas jemput sekarang ya?"
"Ya udah, mas bisa jemput sekarang, kalau sudah sampai kampus telpon aja." Nadya pasrah
Lima belas menit menunggu, Hengki datang menjemput Nadya yang sedang berada di taman kampus.
"Lama ya nunggunya?" Tengku bertanya setelah Nadya masuk ke dalam mobil.
"Ga terlalu lama kok, sekalian baca materi yang tadi di kasih sama dosen." Jawab Nadya sambil memasang seatbelt.
"Kamu sudah makan siang?"
"Belum"
"Kebetulan mas juga belum makan siang, kita makan dulu sebentar, kamu punya tempat makan favorit ga? kalau punya kita makan di sana."
"Ada, ya udah kita ke sana aja, aku udah laper banget." ucap Nadya
Melihat sikap Nadya seperti itu membuat Tengku sangat gemas melihatnya. Andai saja Nadya sudah mau menerima pernikahan ini, mungkin Hengki akan membawa Nadya ke hotel saat ini.
Beberapa saat kemudian mereka sampai ke tempat makan favorit Nadya, Masuk ke sebuah restoran yang sangat asri, tidak besar namun tampak elegant, mereka memilih duduk ditempat paling ujung karena tidak terlalu banyak orang lalu lalang.
Seorang pelayan memberikan buku memesan makanan.
"Mau pesan apa?"
"Mas mau pesan apa?" Nadya balik bertanya
"Nasi goreng teri kemangi sama udang madu" jawab Tengku
"Lho itu kan menu favorit aku sama ayah, kalau makan di sini pasti yang di pesan makanan ini."' Nadya berucap dengan mata berkaca kaca
"Maaf mas tidak tahu kalau itu makanan favorit." Hengki merasa bersalah
" Udah ga apa apa kok, maaf jadi melow gini."
"Ya sudah, untuk mengobati rindu kamu sama ayah, kita jadikan restoran ini, tempat makan favorit kita." Hengkii memberikan usulan agar Nadya tidak hanyut dalam kesedihan.
"Terserah mas saja bagaimana baiknya." Jawab Madya
Pesanan makanan pun datang, karena sudah lewat jam makan siang, Hengki dan Madya makan dengan lahap, entah karena lapar atau karena makanannya yang enak, semua nya tidak tersisa.
"Mas aku ke toilet dulu sebentar ya"
"Iya, mas.tunggu di sini."
Nadya mengangguk dan berlalu menuju toilet. Sedang asyik menaikan Hp nya, tiba tiba datang seorang wanita tunggu putih dan cantik duduk di tempat Nadya, merasa.Ada pergerakan di depannya, Hengki menoleh dan sedikit terkejut, karena wanita yang di depannya adalah wanita yang dulu sering mengejarnya.
"Sedang apa kamu di sini?" Hengki bertanya dengan nada keras.
"Aku ke sini karena sedang ada janji dengan teman, waktu aku masuk melihatmu duduk sendiri di sini. Jadi ya aku datangi kamu," sahut Jennifer
"Tapi aku tidak sendiri, aku makan siang dengan istri aku."
"Jangan ngaco kamu, udah jelas kamu sendiri, mana istri kamu."
Nadya baru keluar dari toilet, tampak Hengki sedang berbicara dengan seorang wanita cantik di tempat duduknya.
"Sayang kamu sudah selesai?" Hengki langsung menggandeng pinggang Nadya dengan mesra.
"Sudah mas, baru di tinggal sebentar saja kamu sudah lirik wanita lain" balas Nadya dengan manja
"Dia teman aku, kenalin Jennifer kenalkan istri ku." dengan sengaja Hengki mencium puncak kepala Nadya
"Oh iya, kalau gitu aku permisi dulu ya, kebetulan teman aku sudah datang." Jennifer beranjak pergi, hatinya memanas melihat kemesraan Hengki dengan istrinya.
Hengki hanya mengangguk tersenyum. Nadya segera melepaskan tangan Hengki yang masih berada di pinggangnya.
"Kenapa, itu mantan pacar mas Hengki." Nadya sedikit sewot, terlihat semburat cemburu dari wajahnya. Namun di tepisnya.
Hengki yang mengetahui Nadya cemburu, hanya tersenyum.
"Pulang yuk, mamah sudah telpon terus, nanyain menantu kesayangan nya." ujar Hengki
"Baru beberapa hari, mas di lupakan.Sama mamah, sekarang punya anak baru." Ujar Hengky dengan nada suara yang sedih
Nadya yang mendengarnya tersenyum, ternyata suaminya tidak ingin ada saingan.
"Masa istri sendiri mas anggap saingan, nanti kalau aku ambil beneran mamah nya baru tahu."
Hengki tertawa ngakak mendengar penuturan Nadya, ternyata gampang juga iseng sama.istri sendiri. Perjalanan pulang agak macet karena jam pulang kantor sudah mulai. Walaupun melalui macet, namun akhirnya sampai juga di rumah. Turun dari mobil Nyonya Rima sudah menunggu di depan pintu.
"Aduh sayang, kenapa lama sekali pulangnya, katanya kuliah sampai jam dua siang, tapi jam segini baru pulang, kamu ga apa apa kan?" Nyonya Rima terlihat khawatir.
"Yang anak mamah aku, kenapa malah Nadya yang mamah khawatirkan."
" Kamu memang anak mamah, tapi kamu laki laki bisa jaga diri, kalau menantu mamah kan perempuan jadi harus di sayang."
"Kita masuk yuk sayang." nyonya Rima menggandeng tangan Madya
Hengki hanya bisa menghela nafas saja, beradu pendapat dengan mamahnya pasti akan kalah.
"Aku ke kamar duluan ya"
"Iya mas."
Mau tidak mau akhirnya Nadya mengikuti nyonya Rima, dan ternyata di bawa ke kamarnya.
Nadya di dudukan di sofa sementara nyonya Rima melangkah ke meja rias.
"Sayang mamah ada sesuatu yang ingin kamu memilikinya,"
"Apa mah."' Nadya penuh tanda tanya.
Nyonya Rima menghampiri Nadya yang sedang duduk di sofa.
"Ini sayang, mamah ingin kamu memakai ini, cincin ini mertua mamah yang memberikannya, dan sekarang mamah berikan sama kamu, jika kelak kamu punya menantu perempuan kamu bisa memberikan padanya, tapi kalau anakknu semua perempuan, berikan pada anak yang tertua."
Nadya menerima sebuah cincin yang sangat indah bertahtakan berlian. Terlihat sangat cantik sekali ketika di kenakan di jari Nadya.
"Terima kasih mamah, sudah mau menerima ku sebagai menantu mamah." Nadya memeluk nyonya Rima dengan sangat erat sekali.
Sejak mamah nya meninggal ketika Madya sekolah menengah pertama, kasih sayang hanya di dapatkan dari ayahnya saja, sekarang malah dan ayahnya meninggal mendapatkan kasih sayang dari mertuanya.
Berbincang beberapa saat dengan mertuanya, Nadya pamit karena sebentar lagi akan masuk maghrib. Nadya melangkah ke kamarnya sebelum sampa kamar, i terlihat pintu ruang kerja Hengki sedikit terbuka, tampak sedang sibuk dengan pekerjaannya yang belum selesai, dengan wajah serius wajah tampan Hengki seperti berlipat lipat.
"Kenapa cuma ngintip saja, lebih baik masuk kalau mau lihat orang tampan." suaranya berada di belakang nya, ternyata mertuanya sudah ada di belakangnya. Wajah Nadya tampak merah karena kepergok sedang mengintip suaminya.
...****************...
Hai reader, jangan lupa komentarnya, like dan.vote favoritnya......