
Nadya menumpukan kedua tangannya di atas meja, lalu membenamkan kepalanya di sana karena merasa lelah. Lelah berpikir karena skripsinya yang tak kunjung selesai.
Nadya meraih ponselnya yang ada di atas meja dan memgecek barangkali ada pesan masuk dari Zikri. Namun tidak ada!
Ya, Zikri juga mungkin sedang pusing sekarang karena harus belajar untuk UKMPPD. Jadi boro-boro menghubungi Nadya, pemuda itu pasti sedang membaca buku-buku tebalnya dan membiarkan ponselnya terselip entah di mana.
"Fiuuh!" Nadya meniup poninya sendiri. Gadis itu lanjut membuka ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Zikri.
[Semangat yang belajar, ya, Mas! Sdmoga diberi kelancaran untuk ujian UKMPPD-nya] -Nadya-
Terkirim!
Tapi tak usah mengharapkan balasan sekarang, karena mungkin Zikri baru akan membalas pesan Nadya besok.
Sabar, Nadya!
Sudah resiko punya pacar calon dokter.
Tok tok tok!
Suara ketukan di pintu menyentak lamunan Nadya.
"Nad!" Sapa Mbak Riska yang tiba-tiba sudah ada di rumah Eyang Putri.
Apa?
"Mbak Riska!" Nadya buru-buru bangkit dari duduk dan memeluk mbak iparnya tersebut.
"Ya Allah, udah bulat lagi," ujar Nadya seraya mengusap perut Mbak Riska yang sudah kembali membulat karena mbak ipar Nadya itu yang memang sedang hamil anak kedua.
"Udah berapa bulan?" Tanya Nadya selanjutnya.
"Lima jalan enam. Makanya jangan ngerem terus kamu!" Mbak Riska mengacak rambut Nadya dan mengajak adik iparnya tersebut untuk duduk di tepi tempat tidur.
"Rendra mana, Mbak?" Tanya Nadya yang kembali mengusap-usap lagi perut Mbak Riska.
"Masih di depan tadi sama papanya sama Eyang buyut juga," jawab Mbak Riska.
"Ini kenapa muka kamu kusut begini?" Gantian Mbak Riska yang bertanya pada Nadya seraya memperhatikan wajah adik iparnya yang terlihat frustasi tersebut.
"Pusing, Mbak! Mikirin skripsi," jawab Nadya seraya merengut.
"Bukan pusing mikirin Zikri?" Goda Mbak Riska yang langsung membuat Nadya semakin merengut.
"Mas Zikri masih sibuk juga sama UKMPPD-nya," jawab Nadya seraya memilin-milin ujung kausnya.
"Jarang ngasih kabar?" Tebak Mbak Riska yang seakan sudah paham.
"Udah resiko, Mbak! Kan kata Mbak Riska, Nadya yang harus banyak sabar dan ngertiin Mas Zikri," jawab Nadya yang masih menundukkan wajahnya.
"Iya, betul!"
"Kan Zikri juga sedang berjuang, Nad. Kalau sekarang ini kamu masih jadi yang nomor sekian, nanti kalau udah selesai UKMPPD dan udah dapat gelar dokter, insyaa allah gantian kamu yang jadi nomor satu!" Hibur Mbak Riska berusaha memberikan Nadya semangat.
"Aamiin!" Ucap Nadya sudah mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Mbak Riska.
"Nadya juga akan semangat ngerjain skripsi, Mbak! Biar nanti cepat wisuda," tekad Nadya akhirnya yang langsung membuat Mbak Riska tersenyum bangga pada adik iparnya tersebut.
"Yaudah, sekarang ganti baju sana, biar kita bisa refreshing sebentar," titah Mbak Riska seraya mengusap kepala Nadya.
"Hah? Refreshing kemana, Mbak? Skripsi Nadya bagaimana?" Cecar Nadya merasa tak paham.
"Skripsi tinggalin bentar, Nad! Meledak nanti otak kamu kalau ngerem terus mikirin skripsi. Ayo cepat, kita ke Marlioboro sebentar, mumpung belum terlalu malam," ujar Mbak Riska panjang lebar.
"Nadya sudah siap, Ris?" Terdengar suara Mas Reza dari ambang pintu.
Suami Mbak Riska itu datang seraya menggandeng Rendra yang kini sudah empat tahun.
"Dari tadi belum ganti baju? Ckckckck!" Mas Reza berdecak seraya geleng-geleng kepala.
"Hai, Rendra! Ayo ikut bulik!" Bukannya bergegas ganti baju, Nadya malah sibuk menyapa Rendra.
"Nad! Kok malah ngajakin Rendra main? Cepat ganti baju!" Paksa Mbak Riska sekali lagi.
"Cepet, Nad! Mbakmu udah marah itu, bentar lagi keluar api dari mulutnya. Waaaaa!" Celetuk Mas Reza seraya menirukan gerakan naga yang sedang menyemburkan api.
Terang saja, hal itu langsung membuat Mbak Riska merengut dan menghadiahi suaminya tersebut dengan cubitan tanpa henti.
"Ampun, Ris! Ampun!" Mas Reza terus minta ampun tapi sambil tergelak.
Nadya dan Rendra sontak tertawa melihat pasangan suami istri yang sedang gelut tersebut.
****
"Jadi ceritanya Nadya diajak ke sini cuma disuruh jagain Rendra sementara Mbak Riska dan Mas Reza sibuk pacaran, gitu?" Tanya Nadya setelah turun dari mobil. Nadya membantu Rendra untuk turun dan menggenggam erat tangan bocah empat tahun tersebut agar tak.lepas atau hilang atau terpisah.
"Bentar aja, Nad! Ini, kalau mau jajan!" Mbak Riska mengangguk beberapa lembar uang warna biru pada Nadya.
Nadya langsung tersenyum sumringah.
"Baiklah! Silahkan pacaran berdua. Nadya juga mau pacaran sama Rendra," Nadya sudah berbalik seraya menggandeng Rendra menjauh dari Mas Reza dan Mbak Riska yang katanya mau pacaran berdua.
Biarkan saja!
Dunia memang milik mereka berdua.
Nadya dan yang lain kan cuma ngontrak.
Nadya mengajak Rendra jajan wedang ronde saja untuk menghangatkan badan. Bulik dan keponakannya tersebut lanjut duduk lesehan di pinggir jalan Marlioboro yang malam ini tak terlalu padat karena ini memang bukan malam minggu.
"Bulik, ini apa? Kok pedes?" Protes Rendra saat Nadya menyuruh bocah itu menyesap air rebusan jahe yang menjadi kuah dari wedang ronde.
"Ini wedang ronde. Enak, lho!" Jawab Nadya seraya terkikik.
"Rendra nggak mau, Bulik!"
"Coba dulu rondenya. Enak ini, kenyil-kenyil." Nadya memotong ronde berisi kacang di mangkuknya, lalu menyuapkannya pada Rendra.
"Enak, to! Jangan jajan es krim melulu makanya!" Tanya Nadya lagi yang masih terus menyuapi Rendra dengan potongan ronde, karena keponakan Nadya tersebut sepertinya mulai doyan.
"Ini yang pink apa, Bulik? Kayak kolang-kaling di es buah?" Tanya Rendra yang ganti menunjuk ke potongan kolang-kalimg di dalam wedang ronde. Ada kacang sangrainya juga di dalam minuman hangat tersebut.
"Iya, ini kolang kaling. Mau?" Nadya masih lanjut menyuapi Rendra dengan sabar.
"Enak, Bulik." Ucap Rendra setelah mencicipi.
"Pakai kuahnya biar anget," tawar Nadya sekali lagi."
"Nggak mau! Pedes!" Tolak Rendra yang hanya membuat Nadya tertawa kecil.
Nadya dan Rendra lanjut menghabiskan wedang ronde mereka sembari bercerita dan tertawa bersama.
Tepat jam sepuluh malam, mereka berempat baru meninggalkan kawasan Marlioboro dan pulang kembali ke rumah Eyang Putri.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.