
"Nadya, Mbak Riska. Kesini juga?" Sapa Zikri yang sepertinya sudah akan meninggalkan kedai.
"Eh, Zikri! Nongkrong disini?" Mbak Riska yang terlebih dahuli menjawab sapaan Zikri.
"Iya, Mbak. Kebetulan tadi habis ngerjain tugas sekalian," jawab Zikri seraya tersenyum hangat.
"Mana temannya?" Gantian Nadya yang bertanya.
"Udah duluan tadi, Nad," jawab Zikri lagi.
"Yaudah gabung lagi yuk, Zik! Ngobrol-ngobrol-"
"Ehem!" Terdengar deheman Mas Reza dari belakang Mbak Riska dan Nadya. Sepertinya dua wanita itu tak ingat kalau mereka membawa supir plus bodyguard si belakang mereka.
"Eh, iya, Zik! Kenalin ini Mas aku. Mas Reza. Merangkap jadi suaminya Mbak Riska juga," Nadya memperkenalkan Mas Reza pada Zikri seraya meringis.
"Saya Zikri, Mas!" Ucap Zikri sopan seraya menjabat tangan Mas Reza yang wajahnya kurang bersahabat. Entah karena tadi sempat dicueki atau karena Zikri dan Nadya terlihat akrab?
"Kenal Nadya dimana?" Tanya Reza menyelidik dan to the point.
"Ini keponakannya Bu Lala, Mas! Kok wajah kamu ketus begitu?" Bukan Zikri, melainkan Mbak Riska yang menjawab pertanyaan Mas Reza sekaligus menegur suaminya tersebut.
"Iya,Mas Reza nggak enak banget mukanya kayak lagi ketemu sama musuh saja," ceplos Nadya yang langsung berhadiah delikan dari Mas Reza.
"Emang udah dari sononya kayak gini, kok!" Kilah Reza mencari pembenaran.
"Yaudah, Mbak, Mas, Zikri langsung pamit saja. Mau nyari makan malam juga," Zikri akhirnya memilih menyela sekaligus menengahi perdebatan Mas Reza, Mbak Riska dan Nadya.
"Iya, udah sana! Nggak usah deket-deket sama Nadya lagi! Nadya masih sekolah dan mau ujian sebentar lagi!" Usir Mas Reza sekaligus memperingatkan Zikri.
"Mas Reza apaan, sih! Cuma temenan juga nggak boleh," protes Nadya pada sikap berlebihan Reza.
"Nggak boleh! Kamu itu masih kecil! Jadi nggak usah pacaran dulu! Sekolah yang benar!" Omel Reza pada Nadya yang langsung merengut.
"Masih kecil tapi dulu mau diajak nikah juga," gumam Nadya seraya mencibir-cibir.
"Zikri duluan, Mbak," pamit Zikri sekali lagi pada Mbak Riska.
"Iya, Zik!" Jawab Mbak Riska hangat.
"Udah, buruan sana! Pamit terus nggak pergi-pergi," komentar Mas Reza karena Zikri yang tak kunjung keluar dari kedai es krim.
"Mas!" Tegur Mbak Riska yang sepertinya gemas dengan sikap ketus Mas Reza.
"Assalamualaikum!" Ucap Zikri sebelum berlalu meninggalkan kedai dan juga tiga orang yang sibuk berdebat tersebut.
"Walaikum salam!" Jawab Reza sebelum pria itu duduk di salah satu kursi yang ada di dalam kedai.
Mbak Riska dan Nadya hanya saling melempar pandang sebelum menyusul Mas Reza dan ikut duduk juga.
"Udah Mas bilang nggak usah pacaran dulu. Fokus sekolah, Nad!" Mas Reza kembali mengomeli Nadya.
"Siapa yang pacaran, Mas! Nadya dan Mas Zikri itu cuma teman. Ketemu juga bisa dihitung pakai jari. Orang Mas Zikri juga sibuk kuliah kedokteran," sahut Nadya panjang lebar seraya bersungut-sungut.
"Tapi dari cara Zikri Zikri tadi menatapmu, jelas sekali kalia dia itu memiliki ketertarikan sama kamu!" Ujar Reza lagi ikut bersungut-sungut.
"Mas Reza sok tahu!" Jawab Nadya mencibir Mas Reza.
Sementara Mbak Riska memilih untuk melihat-lihat buku menu dan tak ikut menimpali perdebatan antara Mas Reza dan Nadya.
"Pokoknya kamu itu nggak boleh pacaran, nggak boleh dekat sama cowok manapun, nggak boleh punya pacar. Fokus sekolah saja pokoknya!" Tutur Mas Reza lagi memperingatkan sang adik.
"Ck! Mas Reza lebay banget, sih? Bunda aja nggak sampai segitunya nglarang-nglarang Nadya!" Protes Nadya merasa tak terima.
"Biarin lebay! Aku itu cuma mau melindungi kamu, biar nggak pacaran sama cowok sembarangan-"
"Mas Zikri itu bukan cowok sembarangan, Mas! Dia itu cowok baik-baik keponakannya Bu Lala!" Sergah Nadya memotong kalimat Mas Reza yang menuduh sembarangan ke Zikri.
"Nah, kan! Udah mulai tuker-tukeran pesan!" Mas Reza merasa geregetan. Pria itu sudah beranjak dari duduknya, lalu mengitari meja dan meraih tas selempang yang masih menyilang di pundak Nadya.
"Mas Reza mau ngapain?" Protes Nadya pada kelakuan aneh Mas Reza.
"Ponsel mana ponsel!" Todong Mas Reza seraya mendelik pada sang adik.
"Mau buat apa?" Tanya Nadya curiga.
"Mau Mas cek isi pesan kamu sama Zikri Zikri itu! Sekalian mau Mas hapus nomornya dari ponsel kamu biar kamu fokus sekolah dan nggak sibuk pacaran!" Jawab Reza panjang lebar tang langsung membuat Nadya berdecak.
"Nggak boleh!"
"Mas Reza kenapa, sih?" Tanya Nadya tak mengerti dengan sikap aneh Mas Reza.
"Mas, aku kayaknya nggak jadi ngidam gelato." Mbak Riska tiba-tiba sudah bangkit dari duduknya seraya memegangi perutnya, lalu menyambar dompetnya di atas meja.
"Aku mau pulang saja. Aku tunggu di mobil, ya!" Lanjut Mbak Riska seraya meninggalkan Nadya dan Mas Reza yang masih berdebat dan rebutan ponsel.
Wajah Mbak Riska terlihat sedih dan tak seceria saat baru tiba di kedai es krim tadi.
"Mas Reza, sih!" Gerutu Nadya yang lebih cepat tanggap pada perubahan sikap dan mimik muka Mbak Riska.
"Kenapa? Mana ponsel kamu?" Mas Reza masih berusaha merebut ponsel Nadya dari tangan sang empunya.
"Mbak Riska marah itu, Mas!" Ucap Nadya pada Mas Reza dengan nada meninggi.
"Marah kenapa?" Tanya Reza tak paham.
Ck!
Dasar pria!
Selalu saja tidak peka.
"Sikap Mas Reza yang melarang Nadya bertukar pesan sama Mas Zikri itu terlalu berlebihan! Mas seperti seperti pacarnya Nadya yang cemburu lohat Nadya tukeran pesan sama cowok lain!" Jelas Nadya seraya bersungut-sungut.
Gadis itu sudah bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu keluar, hendak menyusul Mbak Riska ke dalam mobil.
"Aku kan Mas kamu, Nad! Wajar dong aku itu melindungi kamu dari godaan para pria brengsek di luaran sana!" Kilah Mas Reza seraya mengekori Nadya menuju ke arah mobil.
"Melindungi? Sikap Mas Reza tadi lebih mirip sikap seorang pacar yang cemburu pacarnya tujeran pesan sama cowok lain, ketimbang seorang kakak yang melindungi adeknya!" Nadya menghentikan langkah dan menuding ke arah Mas Reza.
"Mbak Riska itu sedang hamil besar, Mas! Perasaannya sensitif. Lihat Mas Reza bersikap kayak tadi ke Nadya, mungkin langsung membuat juwa cemburu di hati Mbak Riska berkobar hebat."
"Mas sebagai seorang suami peka sedikit, dong!" Omel Nadya panjang lebar pada Mas Reza.
Mas Reza terdiam sejenak mendengarkan teori dan nasihat dari Nadya.
"Jadi Mas salah, begitu?" Tanya Mas Reza yang masih saja lemot berpikir.
"Iya, salah! Minta maaf sana sama mbak Riska!" Usir Nadya bersungut-sungut pada sang kakak.
Reza hanya menurut dan segera menuju ke arah mobil sambil setengah berlari. Nadya sengaja memperlambat langkahnya seolah sedang memberikan kesempatan untuk Mas Reza agar bisa minta maaf pada Mbak Riska.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.