
"Halo, Assalamualaikum," sambut Nadya setelah mengangkat telepon dari Reza.
"Walaikum salam. Sudah sholat, Nad?"
"Sudah. Mas Res?" Nadya balik bertanya pada Reza.
"Sudah juga tadi. Ini baru di angkringan cari makan."
"Yaudah makan aja dulu! Teleponnya nanti," ujar Nadya memberikan saran.
"Udah nggak apa-apa. Sambil makan sambil dengerin suara kamu, makanannya jadi tambah ueenak."
"Gombalmu ki yo!" Sahut Nadya seraya tergelak.
"Lagi apa? Udah makan?"
Tanya Reza dari seberang telepon.
"Belum. Masih nungguin Bunda pulang bawa nasi berkat dari kondangan," jawab Nadya seraya terkikik.
"Bunda belum pulang? Udah lewat maghrib ini. Kamu di rumah sendiri berarti?" Suara Reza terdengar khawatir dan sedikit lebay.
"Aku temani sekalian aku bawakan nasi kucing, ya!" Tawar Reza selanjutnya yang langsung membuat Nadya menggeleng.
Eh, tapi kan Reza dan Nadya lagi ngobrol via telepon. Mana Reza tahu kalau Nadya sedang geleng-geleng kayak ayam ditempeleng.
"Nggak usah, Mas! Nanti juga palingan Bunda pulang bentar lagi." Jawab Nadya dengan nada sesantai mungkin.
"Benar nggak usah?"
"Iya, nggak usah! Udah Mas Res lanjutin makannya! Itu ada nasi nempel di pipi," Nadya sedikit menggoda Reza.
"Kok tahu? Hayo, kamu ngintip, ya?" Reza balik menggoda Nadya.
"Ish! Nebak aja." Nadya sedikit bergumam.
"Tapi ngomong-ngomong, kok Mas Res bisa tahu rumah Nadya tadi siang?" Tanya Nadya menyelidik.
"Tanya sama Lita!" Jawab Reza santai.
"What?" Nadya langsung memekik tak percaya.
Dasat Si Lit ember borot!
"Tapi tadinya emang aku udah curiga, sih dan nggak percaya kalau rumah kamu yang di depan itu, secara rumah itu udah lama kosong kata Mas Mario," Reza terkekeh di ujung telepon.
"Kok Mas Mario tahu?" Tanya Nadya menyelidik.
"Tongkrongan dia kan di sekitar situ. Jadi hafal dia daerah situ, makanya aku tanya-tanya kemarin, setelah nganterin kamu itu."
"Trus pas nganterin yang kedua kali, aku ngintiplah kamu masuknya ke rumah yang mana, ternyata yang di ujung gang."
Kembali terdengar gelak tawa Reza dari ujung telepon sebelum kemudian pria itu terbatuk-batuk sepertinya tersedak nasi kucing bersama kucing-kucingnya sekalian.
"Pelan-pelan makannya, Mas! Nadya nggak minta, kok!" Goda Nadya pada Reza yang masih batuk-batuk.
"Iya, Cantik! Minta juga boleh, kok!" Reza balik menggoda Nadya.
"Trus tadi bagaimana lanjutannya?" Tanya Nadya kepo.
"Bentar, aku minum dulu."
Suasana di ujung telepon hening sesaat sebelum kemudian Reza melanjutkan ceritanya.
"Trus aku iseng aja masuk ke gang mau nyamperin ke rumah kamu. Eh, nggak sengaja ketemu Lita yang katanya mau ke warung beli minyak goreng. Aku tanyalah sekalian rumah kamu, langsung ditunjukin sama Lita," beber Reza panjang lebar menjelaskan kronologi ia tahu rumah Nadya.
Sementara Nadya hanya ber-oh ria sambil bibirnya merengut.
"Kenapa bohong, sih?" Tanya Reza selanjutnya.
"Malu kenapa?"
"Ya kan awal kenalan sama Mas Res Nadya ngaku anak orang berada, kemana-mana diantar sopir, padahal sopir angkot," tutur Nadya yang masih merengut.
Reza sontak tergelak mendengar jawaban Nadya.
"Padahal aku nggak pernah nilai orang dari harta maupun kekayaannya lho, Nad!"
"Iya, iya! Nadya minta maaf karena udah bohongin Mas Res," ucap Nadya akhirnya penuh sesal.
"Jangan bohong lagi mulai sekarang, ya, Cantik!"
"Iya, Mas Res!"
"Tapi kalau ada nomor nyasar lagi, juga jangan digubris, oke! Kan kamu udah ada yang punya."
"Siapa yang punya?" Nadya menautkan kedua alisnya.
"Akulah!"
"Ck! Nadya masih sekolah juga!" Nadya kembali merengut.
"Yaudah, sekolah dulu aja! Aku sabar kok nungguin sampai kamu dapat ijazah, nanti baru setelahnya lanjut ijab sah."
"Halah! Dasar bakul gombal!" Cibir Nadya seraya terkikik.
"Bakul gombal yang penting kan bisa memberikanmu kasih sayang berlimpah, Nad!"
"Ck! Bahasamu, Mas! Muaksa!" Nadya tak berhenti tergelak mendengarkan gombalan demi gombalan yang dilontarkan oleh Reza.
"Biarin! Kapan lagi dapat cewek cantik, lucu, nge-gemesin, dan cerewet seperti dirimu."
"Halah, halah! Lama-lama Nadya diabetes, Mas! kalau Mas puji dan Mas manis-manisin begitu," kikik Nadya seraya mengintip ke jendela yang berada di sebelah pintu masuk.
Mobil Pak Teddy sudah tiba di depan rumah untuk mengantar Bunda Maya.
"Nggak apa-apa. Biar kamu tambah manis." Ucap Reza lagi dari seberang telepon.
"Mas, udah dulu teleponnya, ya! Bunda sudah pulang," pamit Nadya pada Reza.
"Oke, Cantik! Titip salam buat Bunda, ya! Assalamualaikum,"
"Walaikum salam, Mas Res," pungkas Nadya sebelum telepon terputus.
Nadya buru-buru men-charge ponselnya yang sedikit panas karena dipakai telepon.
Dasar ponsel jadul!
Cuma dipakai telepon saja udah langsung demam!
Setelah men-charge ponsel, Nadya bergegas membuka pintu depan untuk menyambut Bunda Maya dan Pak Teddy yang tumben-tumbenan ikut turun. Wajah Bunda Maya dan Pak Teddy juga terlihat tegang.
Ada apakah gerangan yang terjadi?
.
.
.
Ada apa, hayo?
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.