
Nadya melipat mukenanya sambil sesekali melirik ke arah Zikri yang duduk di depannya. Zikri dan Nadya memang baru selesai menunaikan sholat isya' berdua di dalam kamar Nadya.
"Sudah?" Tanya Zikri yang tiba-tiba sudah berpindah ke depan Nadya yang tentu saja langsung membuat Nadya kaget.
"Eh,"
"Sudah, Mas!" Jawab Nadya yang langsung menyambar jilbab bergo dan memakainya dengan cepat.
"Loh!" Zikri tertawa kecil melihat Nadya yang salah tingkah dan malah memakai jilbab lagi Padahal mereka sudah di kamar.
"Apa? Kan katanya disuruh pakai jilbab sekarang kalau di depan yang bukan-" Nadya tak melanjutkan kalimatnya saat gadis itu menatap ke arah wajah Zikri yang menahan tawa.
"Eh, iya. Sudah muhrim, ya?"
Nadya tersipu malu dan buru-buru bangkit berdiri untuk menyimpan mukenanya.
"Mas Zikri mau makan?" Tanya Nadya berbasa-basi pada Zikri.
"Kan tadi sudah, Nad! Sebelum sholat," jawab Zikri mengingatkan Nadya.
"Iya juga, ya!" Nadya menggaruk kepalanya yang tak gatal yang masih tertutup jilbab bergo warna cream.
"Memang kamu lapar lagi? Ayo aku temani kalau mau makan lagi," tawar Zikri selanjutnya. Suami Nadya itu sudah duduk di tepi tempat tidur sekarang, seolah sedang menunggu Nadya agar ikut duduk juga.
"Enggak, kok! Nadya masih kenyang, Mas," jawab Nadya yang akhirnya ikut duduk di samping Zikri dan sedikit menjaga jarak.
Gadis itu menunduk malu-malu.
Sejenak suasana menjadi hening. Baik Nadya maupun Zikri sama-sama tak bicara lagi.
Zikri sedikit menggeser duduknya lalu meraih tangan Nadya yang berada di atas tempat tidur.
"Ehem!" Suami dari Nadya itu berdehem ringan untuk mencairkan suasana yang mendadak terasa canggung.
"Nad!"
"Iya, Mas!" Jawab Nadya cepat seraya mengangkat kepalanya. Tangan Nadya sudah digenggam oleh Zikri sekarang.
"Grogi, ya? Tangan kamu dingin banget," tanya Zikri yang semakin erat menggenggam tangan Nadya sambil sesekali menggosoknya dengan tangannya sendiri.
Nadya yang melihat tingkah lucu Zikri tersebut hanya tertawa kecil.
"Tangan Mas Zikri juga dingin," ucap Nadya yang langsung membuat Zikri melebarkan bola matanya.
"Masa, sih?" Zikri tiba-tiba sudah menarik tangan Nadya yang tadi ia genggam dan meletakkannya di pipi. Zikri membolak-balik tangan Nadya dan tangannya yang masih saling menggenggam di pipinya, sebelum kemudian Zikri membawa tangan Nadya ke depan bibir untuk ia kecup.
Di saat itulah, wajah Nadya yang sejak tadi tersipu, seketika berubah merah.
Zikri masih mencium tangan Nadya berulang-ulang sambil kedua netranya yang tak lepas menatap ke arah wajah Nadya yang sudah memerah.
"Masih grogi?" Tanya Zikri lembut dan Nadya hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Sama berarti," Zikri sudah ganti membawa tangan Nadya ke depan dadanya dan tepat dimana jantung Zikri berada. Bisa Nadya rasakan kalau jantung Zikri juga sedang berdetak dengan cepat sama seperti halnya jantung Nadya.
Ternyata mereka berdua sama-sama grogi sekarang.
Pasangan pengantin baru tersebut kini saling menatap dan kembali diam. Zikri mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah Nadya yang masih kemerahan.
"Kita belajar bersama-sama, ya!" Ucap Zikri yang akhirnya buka suara.
"Belajar? Buat ujian, Mas?" Tanya Nadya sedikit berkelakar agar suasana tak lagi canggung.
"Iya, ujian hidup," jawab Zikri menimpali kelakaran Nadya.
Zikri menarik tali jilbab bergo yang dikenakan Nadya dan membukanya perlahan. Zikri juga sekalian membuka ikatan rambut Nadya yang panjangnya sebahu.
"Nadya perlu dandan dulu, Mas? Atau ganti pakai itu," tanya Nadya sedikit ragu.
"Itu?"
"Itu apa?" Tanya Zikri mengernyit bingung sekaligus menahan tawa.
"Iya itu. Yang kemarin dikasih sama Mama. Yang warnanya merah," jawab Nadya sedikit bergumam dan menahan malu.
Zikri masih tertawa kecil dan pria itu semakin merapatkan duduk ke arah Nadya yang masih menunduk malu.
"Lha kamu mau ganti, nggak?" Zikri balik bertanya pada Nadya.
"Terserah Mas Zikri saja. Kalau Mas Zikri minta Nadya buat ganti, ya Nadya ganti sekarang," jawab Nadya pelan.
Gadis itu masih menundukkan wajahnya.
Zikri menangkup wajah Nadya dengan kedua tangannya,lalu mengangkat wajah itu agar bisa menatapnya dengan lekat. Zikri mendekatkan wajahnya ke wajah Nadya yang hanya diam.
Semakin dekat...
Semakin dekat...
Saat tiba-tiba,
"Ups! Nabrak," celetuk Nadya saat wajahnya menabrak kacamata yang masih terpasang di wajah Zikri.
"Maaf, aku lupa melepasnya," kekeh Zikri seraya geleng-geleng kepala.
Nadya membantu melepaskan kacamata suaminya tersebut, lalu meletakkannya dengan hati-hati ke atas meja kecil di samping tempat tidur.
"Sedikit," jawab Nadya seraya tersenyum.
"Gantengan mana?" Tanya Zikri lagi.
"Sama-sama ganteng. Kan orangnya sama," jawab Nadya yang sudah ganti tertawa kecil.
"Iya juga, ya." Zikri garuk-garuk kepala.
"Jadi, tadi sampai dimana?" Tanya Zikri selanjutnya sedikit salah tingkah. Zikri akhirnya kembali menangkup wajah Nadya lalu menciun kening istrinya tersebut.
Nadya hanya diam dan memejamkan mata
"Kenapa merem? Ngantuk?" Tanya Zikri setelah selesai mencium kening Nadya.
Nadya membuka matanya ragu-ragu.
"Udah, Mas?" Nadya balik bertanya dan memasang raut wajah polos
"Apanya?" Tanya Zikri terkekeh
"Belajarnya," jawab Nadya yang membuat tawa Zikri semakin menjadi.
"Belum juga mulai," ucap Zikri seraya membuka kausnya. Nadya refleks menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Kenapa?" Tanya Zikri bingung karena Nadya yang tiba-tiba menutup wajahnya.
"Malu."
"Mas Zikri kenapa buka baju?" Jawab Nadya masih menyembunyikan wajahnya.
"Katanya harus sambil buka baju kalau lagi itu," jawab Zikri seraya membuka kedua tangan Nadya dari wajahnya.
"Lagi itu apa?" Tanya Nadya sambil merem-merem.
"Ini kamu beneran polos apa cuma pura-pura, sih?" Tanya Zikri penasaran.
"Ya kan Nadya beneran nggak tahu, Mas! Belum pernah juga," jawab Nadya yang tetap merem.
"Buka dulu matanya," Zikri kembali menangkup wajah Nadya karena gemas.
"Mas Zikri udah pakai baju belum?" Tanya Nadya yang tetap enggan membuka mata.
"Lihat sendiri makanya," jawab Zikri yang langsung membuat kedua alis Nadya mengernyit. Istri Zikri itu akhirnya membuka mata sedikit-sedikit. Dan saat melihat Zikri yang hanya mengenakan kaus dalam warna putih, Nadya sontak menjerit.
"Ssssstt!" Zikri langsung membungkam mulut Nadya sebelum menjerit lebih panjang.
"Belum juga diapa-apain, kenapa udah menjerit?" Tanya Zikri yang kini sudah mendekap Nadya dan tangannya tetap berada di depan bibir istrinya tersebut. Pasangan pengantin baru itu saling menatap dengan intens, sebelum kemudian Zikri mendekatkan wajahnya ke wajah Nadya dan mengecup bibir Nadya yang hanya mematung.
Ciuman Zikri tak berhenti di bibir, namun lanjut ke dagu, pipi, lalu hidung Nadya. Lalu setelahnya turun ke leher dan tengkuk Nadya hingga membuatnya Nadya merasakan sebuah perasaan aneh.
"Sudah bisa doanya?" Tanya Zikri tiba-tiba menatap pada wajah Nadya yang sudah memerah dan nafas istri Zikri itu yang sudah memburu.
"Doa?" Nadya berpikir beberapa saat karena otaknya sedikit nge-blank setelah ciuman Zikri tadi.
"Doa mau melakukan hubungan suami istri," jelas Zikri seraya mengusap lembut kepala Nadya.
"Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna." Ucap Nadya sedikit bergumam.
"Iya, itu. Udah pinter ternyata," Zikri kembali mengusap kepala Nadya dan membaca doa yang sama dengan yang tadi Nadya baca.
Selesai membaca doa, Zikri mengecup kening Nadya sekali lagi, lalu turunnke kedua kelopak mata Nadya yang terpejam, lanjut ke hidung dan kedua pipi Nadya.
Ciuman yang Zikri berikan begitu lembut dan tak ada kesan terburu-buru. Nadya masih memejamkan matanya saat ciuman Zikru sudah berpindah ke bibir, dagu, lalu semakin turun ke bawah, ke bagian leher dan dada.
Nadya bahkan tidak tahu, sudah sejak kapan Zikri membuka deretan kancing piyamanya. Karena sekarang yang Nadya rasakan adalah Zikri yang sudah merebahkan tubuhnya dengan lembut di atas tempat tidur.
Zikri juga melepaskan dengan hati-hati celana piyama Nadya. Lalu kembali memberikan kecupan di area dada Nadya yang membuat Nadya seperti tersengat listrik.
"Mas!" Pekik Nadya saat istri Zikri itu merasakan ada sebuah benda keras menyentuh miliknya yang paling sensitif di bagian pangkal paha.
"Aku akan pelan-pelan," janji Zikri seraya menatap ke dalam netra Nadya.
Nadya memejamkan matanya dan mencengkeram punggung Zikri saat milik suamimya tersebut mulai menyentak masuk dengan perlahan. Hingga akhirnya....
Bless!
Nadya mengeratkan cengkeramannya pada punggung Zikri dan kedua bola mata gadis itu membulat, saat milik Zikri terasa merobek sesuatu di dalam milik Nadya.
"Sakit, Mas!"
.
.
.
Yowes gosah lanjut, Nad!
🤧🤧🤧
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.