NADYA

NADYA
Part 2



Koridor rumah sakit yang sunyi, Nadya duduk termenung di kursi depan kamar rawat ayahnya, dokter mengatakan kalau sel kanker paru paru yang di derita ayahnya sudah mulai menyebar, harapan hidup hanya sedikit. Pintu ruang rawat inap ayahnya terbuka, keluar suster yang memberikan kabar kalau ayahnya ingin bertemu dengannya.


Nadya menghapus air matanya yang terus keluar tak terbendung.


"Nak, kamu menangis?" tanya ayah ketika melihat putrinya masuk kamar matanya sangat sembab.


"Tidak ayah, Nadya cuma kelilipan aja kok." Nadya menjawab sambil tersenyum manis.


"Ayah mau mendengar keputusan kamu untuk segera menikah, karena ayah tidak tahu sampai kapan akan menemanimu. Ayah ingin melihat kamu bahagia bersanding dengan laki laki pilihan ayah."


"Ayah akan pergi dengan tenang kalau kamu.sudah ada yang menjaga." Pak Ridwan berbicara dengan perlahan namun masih dapat terdengar oleh Nadya.


"Kalau kamu bersedia menikah dengannya, ayah akan segera menghubungi calon suami kamu untuk segera melaksanakan ijab kabul di depan ayah."


"Kalau Nadya bersedia menikah dengan laki laki pilihan ayah, harus berjanji kalau ayah harus sembuh dan cepat pulang ke rumah berkumpul lagi dengan Nadya."


"Ayah tidak bisa janji, do'a kan saja ayah sembuh."


"Ayah istirahat saja biar Nadya menemani disini."


Nadya membetulkan selimut ayahnya dan memegang tangannya untuk menyalurkan ketenangan pada ayahnya. Perlahan mata pak Ridwan tertutup, terdengar suara dengkuran halus pertanda ayahnya sudah tertidur.


Melihat ayahnya sudah tenang dan tidur nyenyak, Nadya mengambil Hp nya dan menelpon sahabatnya Nisa untuk memberitahukan kalau dirinya saat ini sedang berada di rumah sakit menjaga ayahnya yang harus di rawat inap.


"Gue sudah memutuskan untuk menikah dengan laki laki pilihan ayah, dan besok adalah hari pernikahan gue di ruangan rawat ayah. Gue minta lu temani, hanya lu yang gue percaya." Nadya terisak menelpon Nisa


"Lu ga usah khawatir, tanpa lu pinta, gue pasti akan dampingi lu menikah. Semoga pengorbanan lu bisa bikin bokap lu bahagia."


"Makasih lu udah jadi sahabat gue dalam suka dan duka, semoga persahabatan ini ga akan runtuh karena apapun juga."


"Gue juga berharap seperti itu. Lu bisa ngandalin gue."


"Btw, lu udah ketemu calon suami belum?"


"Belum, gue akan ketemu mereka saat akad nikah, karena urusan ini sudah mereka atur."


"Calon suami lu udah kenal sama lu dan ayah lu?"


"Ayah bilang laki laki itu udah sering lihat gue, karena dia suka nganter bokapnya ketemuan ayah kalau ada meeting dan dia beberapa kali ketemu, tapi gue ga tahu orangnya yang mana."


"Jadi ketika ayah bilang tentang perjodohan ini, calon suami gue langsung menjawab iya, karena sudah jatuh cinta sama gue sudah sejak lama."


Panjang lebar obrolan mereka, tidak terasa waktu sudah menjelang pagi. Ayah masih tertidur. Nadya merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan rawat ayahnya.


Matanya sangat berat, entah jam berapa Nadya tertidur. Suara berisik di ruang rawat ayahnya sangat menganggu tidurnya. Matanya terbuka dan tampak seorang perempuan cantik yang sudah berumur, namun sangat elegan dan cantiknya tidak terhalang usia.


"Tante siapa?"


"Tante calon mertua kamu sayang, nama tante Rima. Dan itu yang duduk dekat tempat tidur ayah kamu adalah calon suami kamu, Hengki namanya, anak tante sudah lama mencintai kamu sayang." Nyonya Rima menjelaskan panjang lebar.


"Sayang sekarang kamu ke kamar mandi dan bersihkan badan kamu, setelah itu kamu akan di rias untuk siap siap menikah."


"Iya tante, Nadya ke kamar mandi dulu." dengan perasaan yang tidak menentu, Nadya bangkit dari duduk nya dan masuk kamar mandi.


Lima belas menit kemudian, Nadya keluar dari kamar mandi dalam keadaan sudah segar. Lalu di rias, memakai kebaya putih, tampak cantik dan anggun. Saat Nadya di rias, Bisa sahabatnya sudah datang dan menghampiri Nadya.


"Sahabat gue cantik banget."


"Nisa, makasih ya sudah mau datang buat gue."


"Gue pasti akan datang buat lu, sekarang lu jangan sedih ya, karena lu udah membahagiakan ayah lu." Nisa memeluk Nadya dengan kasih sayang seorang sahabat.


Di hadapan ayah yang dengan posisi tertidur karena tidak bisa duduk. Nadya duduk dengan kepala tertunduk di sebelah seorang pria. Kalau keadaannya tidak seperti ini, Nadya akan sangat bahagia dapat menikah dengan pria tampan postur tubuh atletis yang sangat terawat.


Ijab kabul dilaksanakan dengan penuh hidmat, ayah yang terbaring di tempat tidur tampak tersenyum bahagia melihat putri kesayangan nya sudah ada yang menjaganya. Lepas sudah tanggung jawabnya sebagai ayah yang selama ini sangat menyayangi putrinya. Senyuman kebahagiaan itu tiba tiba sirna seiring nafasnya yang terasa sesak. Matanya tertutup dengan wajah berseri dan tersenyum, Nadya melihat ayahnya seperti itu menangis histeris, dokter dan perawat yang berjaga di ruangan itu segera bertindak. Namun semua sudah terlambat. Pak Ridwan sudah menghembuskan nafas terakhirnya.setelah Nadya selesai ijab kabul.


Suasana menjadi hening dan di penuhi isak tangis.


Tubuh kaku pak Ridwan di bawa ke rumah nya, segera di urus pemakaman nya, pelayat mulai berdatangan. Nadya duduk di sebelah jasad ayahnya ditemani Nisa dan orang tuanya serta mertuanya menangis tak hentinya.


Setelah persiapan sudah di rasa cukup, jasad nya di bawa ke pemakaman keluarga dan di kuburkan di sebelah makam ibunya Nadya. Yang mengantar ke pemakaman satu persatu sudah pulang, tinggal Nadya dan Nisa serta suami dan mertuanya, nyonya Rima.


Nadya terduduk di dekat nisan ayahnya. Seakan tidak ingin meninggalkan kubur ayahnya. Terlalu banyak kenangan manis yang dirasakan Nadya dengan ayahnya semenjak di tinggal ibu nya saat sekolah menengah pertama. Sejak saat itu, ayahnya melimpahkan seluruh kasih sayangnya.


"Sayang kita pulang yuk, ayah kamu pasti akan sangat sedih kalau melihat kamu seperti ini." bujuk nyonya Rima yang sangat sedih melihat menantunya tidak mau meninggalkan kuburan ayahnya.


"Iya mah, Nadya akan pulang sekarang."


"Iya sayang." sahut Nyonya Rima


Perlahan Nadya bangkit dari duduknya. Namun belum lama berdiri, tubuhnya limbung dan segera di angkat oleh Hengki suaminya, dan di bawa ke dalam mobil menuju ke rumah Nadya.


Sampai di rumah, Nadya di rebahkan di atas tempat tidur di temani Nisa dan juga mertuanya. Sementara Hengki suaminya menyambut para pelayat yang masih berdatangan. Pak Ridwan adalah seorang yang sangat baik, sehingga banyak sekali orang yang merasa kehilangan.


"Sayang makan dulu ya sedikit saja biar kamu ada tenaga." bujuk Nyonya Rima yang melihat wajah Nadya sangat pucat sekali, karena dari kemarin siang belum makan sedikitpun.


...----------------...


Hai, jangan lupa komentnya ya, like sama tombol favoritnya.