NADYA

NADYA
MENDADAK



"Jadi, udah dapat restu dari Bunda kamu?" Tanya Lita sedikit berbisik pada Nadya.


Dua siswi SMK itu sedang mengikuti upacara hari senin di halaman tengah sekolah yang merangkap sebagai lapangan basket dan juga sebagai lapangan tennis, sekaligus lapangan voli.


Multifungsi memang!


"Sudah. Sudah ketemuan sama Papanya Mas Res malahan," jawab Nadya pamer.


"Keren!" Lita mengacungkan jempolnya ke arah Nadya.


"Bentar lagi ijab sah, dong?" Celetuk Lita lagi menaik turunkan alisnya ke arah Nadya.


"Tunggu dapat ijazah dulu!" Sahut Nadya bisik-bisik.


"Eh, tapi kata ibu aku, bunda kamu mau nikah lagi, ya? Kamu mau punya ayah baru katanya," tanya Lita selanjutnya yang terlihat penasaran sekali.


Nadya langsung mengangguk.


"Siapa calonnya, Nad? Kok kamu nggak pernah cerita?" Tanya Lita kepo.


"Papanya Mas Res," jawab Nadya to the point yang langsung membuat Lita memekik.


"What?"


"Ssssttt! Lita!" Gertak ketua kelas yang langsung melotot ke arah Lita.


"Maaf, buket!" Lita meringis dan mengacungkan jari yang membentuk huruf V pada sang ketua kelas yang biasa disapa buket.


Bu ketua maksudnya karena penampilannya yang berjilbab lebar layaknya ibu-ibu mau pengajian.


"Lebay kamu!" Cibir Nadya pada Lita.


"Tapi beneran, Bunda kamu mau nikah sama Papanya Mas Res, Nad?" Lita bertanya sekali lagi untuk memastikan.


"Iya! Kenapa lebay gitu, sih? Bukannya ibu kamu juga nikah sama saudara tirinya?" Jawab Nadya yang langsung membuat Lita kaget.


"Kok tahu?"


"Bunda yang cerita," jawab Nadya cepat.


"Wah, wah. Berarti ceritanya kamu dapat calon suami merangkap juga sebagai kakak tiri, ya?" Lita berdecak sekaligus geleng-geleng kepala.


Lebay sekali.


"Iya, dapat papa sambung sekaligus papa mertua," jawab Nadya menimpali pernyataan Lita.


"Berarti aku boleh juga, ya kalau nikah sama adiknya Mbak Yuli," gumam Lita yang tampak berpikir.


Mbak Yuli adalah kakak ipar Lita yang juga tinggal serumah dengan Lita dan kedua orangtuanya.


"Memang Mbak Yuli punya adik? Kok aku baru tahu, Lit?" Tanya Nadya kepo.


"Punya. Masih sekolah di akmil sekarang," Jawab Lita yang hanya membuat Nadya manggut-manggut.


"Jadi calon ibu persit kamu nanti, dong," kekeh Nadya sedikit menggoda Lita.


"Pepet, gih!" Lanjut Nadya mengompori.


"Nah itu masalahnya. Dia udah punya pacar, aku kan jadi patah hati," ucap Lita dengan raut wajah lebay yang benar-benar ingin membuat Nadya tertawa terbahak-bahak. Tapi Nadya menahannya agar tidak dapat teguran dari buket.


"Yaudah, sama Mas Mario aja," bisik Nadya memberikan usul.


"Mas Mario siapa?" Tanya Lita kepo.


"Mas rambut keriting di toko kainnya Mas Res," jawab Nadya menahan tawa.


"Nanti aku comblangin!" Lanjut Nadya masih berusaha menahan tawanya.


"Emoh, Nad! Terlalu senior! Ngeri aku!" Lita begidik ngeri dan berekspresi lebay.


Nadya lagi-lagi hanya menahan tawa dan dua sahabat itu terus mengobrol sambil bisik-bisik sepanjang upacara bendera.


****


"Assalamualaikum!" Ucap Pak Teddy yang tentu saja membuat Maya yang masih memasak menjadi kaget.


"Walaikum salam," jawab Maya yang bergegas pergi ke pintu depan untuk membukakan pintu serta menemui Pak Teddy.


"Sedang sibuk, ya, May?" Tanya Pak Teddy berbasa-basi.


"Sedang memasak saja untuk makan siang, Pak!" Jawab Maya sedikit tersipu.


"Pak lagi! Panggil Mas, May! Mas Teddy!" Protes pak Teddy yang langsung membuat Maya meringis dan salah tingkah.


"Iya, Mas. Maaf, masih kagok," ucap Maya yang langsung mempersilahkan Pak Teddy untuk masuk dan duduk.


"Tahu kupat untuk Nadya. Belum pulang, ya?" Tanya Pak Teddy menyelidik.


"Belum. Mungkin nanti sore, Pak-"


"Eh, Mas," koreksi Maya cepat yang masih saja belum terbiasa.


"Nanti aku towel hidungmu kalau salah salah terus manggilnya, May!" Ancam Pak Teddy seraya mentowel hidung Maya.


Ya ampun!


Sudah ngalahin remaja yang sedang kasmaran saja.


"Mas Teddy sudah makan tahu kupatnya? Kok belinya cuma dua?" Tanya Maya selanjutnya.


"Aku makan masakan kamu saja, May! Kamu masak apa? Katanya tadi sedang masak?" Jawab Pak Teddy seraya tersenyum pada Maya.


"Aduh, cuma masak oseng-oseng daun singkong dan tempe goreng, Mas."


"Maya carikan lauk dulu, ya!" Tawar Maya yang langsung membuat Pak Teddy menggeleng.


"Tidak usah! Aku doyan kok sama oseng-oseng daun singkong dan tempe goreng," jawab Pak Teddy bersungguh-sungguh.


"Yaudah, Maya ambilkan dulu. Atau mau makan di dalam saja. Tapi tempatnya juga cuma kecil," tanya Maya memberikan pilihan.


"Ayo, makan di dalam sama kamu!" Pak Teddy sudah bangkit berdiri dan masuk ke arah ruang makan yang menyatu dengan dapur.


Maya segera mengambilkan sepiring nasi untuk Pak Teddy, lalu juga menyajikan sayur dan lauk sederhana hasil masakannya.


"Kamu makan tahu kupatnya," titah Pak Teddy pada Maya yang hanya mengangguk.


"Punya Nadya disimpan saja tidak apa-apa. Tadi kuahnya sudah aku suruh pisahkan biar nggak basi," lanjut Pak Teddy lagi sebelum menyuapkan nasi bersama oseng-oseng daun singkong kecdalam mulutnya. Pria paruh baya itu juga lanjut menggigit tempe goreng berbentuk segitiga, dan terlihat manggut-manggut menikmati makan siangnya.


"Nanti habis makan kamu siap-siap, ya, May! Aku mau ngajak kamu pergi," ucap Pak Teddy selanjutnya pada Maya yang masih memakan tahu kupatnya.


"Mau kemana, Mas?" Tanya Maya seraya menghentikan sejenak aktivitas makannya.


"Nyari cincin, seserahan, sama kamu mau minta mahar apa? Nanti kita cari sekalian," ujar Pak Teddy yang sontak membuat Maya ternganga sekakigux bingung.


"Bukannya kata Mas Teddy kita menikahnya nunggu pulang ke Jogja? Kok sudah mau cari cincin dan mahar?" Tanya Maya bingung.


"Kita menikahnya hari Jumat nanti, May!" Ucap Pak Teddy tiba-tiba yang langsung membuat Maya tersedak tahu kupat.


"Kok mendadak, Mas?" Tanya Maya bingung.


"Iya, aku sudah telepon eyangnya Reza kemarin, dan mereka menyarankan agar kita ijab sah dulu ke KUA, baru nanti aku bawa kamu dan Nadya ke Jogja. Katanya nggak baik, kalau kita belum sah, tapi aku sudah membawa kamu dan Nadya pergi jauh. Takut jadi omongan, " jelas Pak Teddy seraya menepuk-nepuk punggung Maya yang masih terbatuk-batuk karena tersedak tadi.


"Aku juga sudah cerita semua tentang kamu, pada eyangnya Reza. Dan mereka setuju setuju saja asal aku dan Reza juga sudah sreg," lanjut Pak Teddy sebelum menyuapkan nasinya yang terakhir di dalam piring ke mulutnya.


"Dan alasan lainnya, biar kamu dan Nadya bisa secepatnya pindah ke rumah yang ada di Banyuanyar. Aku nggak tega biarin kamu dan Nadya tinggal lama-lama di kontrakan kecil ini, May," ucap Pak Teddy bersungguh-sungguh yang terang saja membuat hati Maya meleleh.


Wanita mana yang tak terharu diperlakukan sebaik ini.


"Jadi nanti hari Jumat acaranya cuma di KUA, kan, Mas?" Tanya Maya memastikan.


"Iya. Sama nanti syukuran sedikit dan bagi-bagi kotak nasi sama tetangga. Udah begitu saja," jelas Pak Teddy yang langsung membuat Maya mengangguk. Sesuai dengan keinginan Maya yang tak mau menggelar acara pernikahan yang wah.


Maya tentu ingat pada statusnya yang memang tak seharusnya membuat acara pernikahan secara berlebih-lebihan.


Bukankah yang terpenting sah secara agama dan negara?


"Jadi, kamu nanti mau minta mahar apa, May?" Tanya Pak Teddy sekai lagi.


"Terserah Mas Teddy saja."


"Maya rasa seperangkat alas sholag sudah cukup, Mas," lanjut Maya memberikan pendapatnya.


"Yaudah, kalau mintamu seperangkat alat sholat, nanti aku berikan. Sama sedikit uang nggak apa-apa, ya!" Tanya Pak Teddy meminta persetujuan Maya yang hanya mengangguk malu-malu.


"Cepat habiskan tahu kupatnya, lalu kita cari cincin setelah ini," titah Pak Teddy selanjutnya yang kembali membuat Maya mengangguk.


Tepat jam satu siang, Maya dan Pak Teddy meninggalkan rumah kontrakan Maya dan menuju ke toko perhiasan.


.


.


.


Grogi aku mau bikin adegan nganu Bunda Maya sama Pak Teddy 😂


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.