NADYA

NADYA
SEBUAH FAKTA



Teddy baru tiba di rumah setelah tiga hari ini pria itu berada di luar kota untuk urusan pekerjaan.


Suasana rumah sepi. Kemana perginya Inez dan Yoga?


"Nez!" Panggil Teddy pada istrinya yang tak terlihat batang hidungnya. Namun tak ada jawaban.


"Yoga!" Teddy gantian memanggil Yoga yang akhirnya keluar dari kamarnya. Wajah adik Teddy itu terlihat kusut seperti banyak pikiran.


"Kamu sakit, Ga?" Taya Teddy menyelidik karena tak biasanya wajah adiknya itu begitu kusut.


"Hanya kurang tidur, Mas," jawab Yoga seraya menggaruk kepalanya yag tak gatal.


"Mbak Inez kemana?" Tanya Teddy lagi pada sang adik.


"Tadi katanya pergi arisan, Mas," jaeab Yoga yang kini sudah duduk di kursi ruang tamu. Yoga ikut duduk bersama adiknya tersebut.


"Mas, Yoga mau ngomong, tapi tolong jangan tersinggung, ya!" Ucap Yoga takut takut.


"Mau ngomong apa memangnya, Ga?" Tanya Teddy sedikit terkekeh. Tangan Teddy sudah terulur dan merangkul pundak Yoga yang usianya selisih empat tahun lebih muda dari Teddy tersebut


"Yoga mau nge-kost sendiri saja, Mas," jawab Yoga seraya menundukkan wajahnya seperti sedang memikul sebuah beban di kepalanya.


"Loh! Memang kenapa? Kamu nggak betah tinggal di rumah Mas ini?" Tanya Teddy menyelidik.


Sudah sejak lulus SMA, Yoga memang langsung ikut Teddy di kota metropolitan ini untuk melanjutkan kuliahnya. Danmsekarang sudah genap satu tahun Yoga berada di kota metropolitan ini dan adik Teddy ini sikapnya mulai sedikit aneh.


"Bukan begitu, Mas. Hanya saja Yoga ingin belajar mandiri. Biar nggak ngrepotin Mas Teddy dan Mbak Inez terus," tutur Yoga mengungkapkan alasannya.


"Mas nggak pernah merasa kamu repotin, Ga! Mas senang, kok kamu tinggal disini," ucap Teddy bersungguh-sungguh.


"Tapi Yoga benar-benar ingin hidup mandiri dan nge-kost sendiri seperti teman-teman yag lain, Mas!" Tukas Yoga memohon.


Teddy menghela nafas dan terlihat menimbang-nimbang, sebelum akhirnya pria itu mengiyakan permintaan sang adik.


"Baiklah, jika kau memaksa. Mau kost di daerah mana?" Tanya Teddy akhirnya.


"Dekat kampus, Mas. Kemarin sudah survei tempatnya dan Alhamdulillah sudah ketemu yang cocok," jawab Yoga menyampaikan pada Teddy.


"Baiklah, nanti hari Minggu saja kamu pindahannya, ya! Biar waktunya longgar," usul Teddy yang langsung diiyakan oleh Yoga.


Sebulan setelah Yoga pindah ke kost-nya yang baru, Inez dinyatakan hamil.


Ya,


Akhirnya Teddy paham kenapa kala itu wajah Yoga terlihat kusut. Yoga merasa bersalah karena sudah mau diajak Inez berselingkuh. Yoga merasa bersalah pada Teddy.


****


Semua orang masih membisu dan mematung di tempatnya, setelah pernyataan Bulik Ningsih yang mengatakan kalau Nadya adalah anak dari Yoga.


"Ini anak kamu, May?" Tanya Bulik Ningsih akhirnya memecah keheningan.


Adik dari Eyang Putri itu menunjuk ke arah Nadya yang masih teroihat bingung.


"Wajah dan senyumannya plek sama Yoga. Usianya pasti delapan belas-"


"Tujuh belas tahun, Bulik!" Maya mengoreksi dengan cepat.


"Jadi benar, ayah kandung Nadya itu Yoga, May?" Tanya Pak Teddy yang akhirnya ikut angkat bicara.


"Iya, Mas! Maaf, Maya tidak pernah cerita karena Maya juga tidak tahu kalau Mas Teddy dan Mas Yoga itu saudara," jawab Maya yang juga tak berani menatap wajah sang suami.


"Jadi, apa itu artinya Nadya dan Mas Reza adalah sepupu?" Tanya Nadya menatap bergantian pada semua orang.


"Kita masih tetap bisa menikah, Nad! Papa Dan Om Yoga itu bukan saudara kandung," tukas Reza yang sudah merangkul pundak Nadya dan berucap dengan santai.


"Loh! Jadi ini?" Gantian Bulik Ningsih yang bingung.


"Calon istrinya Reza anak tirinya Teddy begitu?" Bulik Ningsih melanjutkan pertanyaannya karena masih bingung.


"Kan nggak dilarang dalam agama, Mbah! Jadi kenapa harus ribut?" Jawab Reza yang masih santai.


"Teddy!" Eyang Putri yang sejak tadi diam akhirnya buka suara seolah menyuruh Papa Teddy mengungkap sebuah rahasia yang mereka simpan rapat selama lima belas tahun terakhir.


"Eza," papa Teddy memanggil Reza dengan ragu.


"Iya, Pa?" Raut wajah Reza masih terlihat santai dan berseri-seri. Tak tahu setelah ini apa wajah itu masih akan terlihat berseri.


"Kamu dan Nadya tidak bisa menikah, Za!" Ucap Papa Teddy menatap tegas ke arah pemuda dua puluh lima tahun tersebut.


Raut wajah Reza seketika berubah.


"Kenapa memangnya, Pa? Bukankan Papa dan Om Yoga bukan saudara kandung? Papa sendiri yang dulu mengatakannya pada Reza," cecar Reza melayangkan protes.


"Tapi Kamu juga bukan anak kandung Papa, Za!"


"Kamu anak kandung Om Yoga!" Ucap papa Teddy tetap dengan nada tegas yang terdengar seperti sambaran petir di siang bolong bagi Reza dan Nadya.


"Kamu dan Nadya saudara satu ayah, Eza!"


"Tidak mungkin!"


.


.


.


Puncak konflik.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.