NADYA

NADYA
Part 19



Nadya dan Hengki sudah sampai di rumah, dan ternyata nyonya Rima sudah ada di rumah juga. Nadya sangat bahagia melihat mamah mertua nya ada di rumah.


"Lho mamah kapan datang, katanya masih satu minggu lagi di Jerman?" Nadya bertanya dengan tidak sabaran


"Mamah datang tadi pagi sayang, mamah kangen sama kamu." Jawab Nyonya Rima.


"Nadya juga kangen banget sama mamah, mamah udah makan belum, aku masakin kesukaan mamah ya." ucap Nadya bergelayut dengan mertuanya.


"Boleh sayang, kebetulan mamah juga udah laper."


"Bentar ya mah, mas aku masak buat makan siang dulu ya."


Hengki mengangguk dan tersenyum melihat istrinya begitu ceria, terselip kekhawatiran akan bahaya yang mengintainya. Adik dari Jennifer pasti akan balas dendam karena kakaknya telah di lenyapkan.


Nyonya Rima menghampiri Hengki yang masih duduk di sofa.


"Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan sampai meminta mamah untuk segera pulang, padahal mamah lagi enjoy sama teman teman."


"Kita bicara di ruang kerja aku saya mah, kalau di sini nanti Nadya mendengarnya karena ini menyangkut keselamatan nya."


"Baiklah kita ke ruang kerja kamu saja."


Nyonya Rima dan Hengki tampak serius.


"Ada apa?" tanya nyonya Rima setelah berada di ruang kerja anaknya.


"Mamah tahu kalau Jennifer sudah tidak ada lagi di dunia ini?"


"Mamah tahu dari asisten mu, kenapa?"


"Setahun setelah aku putus dengan Jennifer, dia bertemu dengan adik kandung nya hanya beda bapaknya, hasil selingkuhan, makanya orang tuanya bercerai."


"Mamah kira Jennifer anak tunggal."


"Aku juga dulu seperti itu,"


"Lalu."


"Di hari Jennifer di sekap dan di makan binatang pengerat, adik nya mengetahui hal itu."


"Beberapa kali aku melihat nya melintas di depanku, mata dan bibir nya mirip Jennifer."


"Ketika pertama kali aku melihat nya, aku tidak terlalu yakin, hanya seperti melihat seseorang di masa lalu, dan Andrie menyelidiki nya, ternyata itu adik Jennifer."


"Aku takut kalau dia akan balas dendam padaku, namun isteri ku yang jadi korban, makanya aku hubungi mamah secepatnya, bagaimana solusinya, Nadya akan tetap aman sampai Sania adiknya Jennifer cepat tertangkap."


"Kamu bisa minta istrimu untuk tidak keluar rumah sementara waktu sampai keadaan aman." usul nyonya Rima


"Aku sudah minta Andrie untuk menempatkan beberapa pengawal bayangan untuk menjaga Nadya." ucap Hengk i


" Kalau memang seperti itu, mamah tidak terlalu khawatir namun harus tetap berjaga jaga untuk segala kemungkinan."


"Iya mah, Hengki sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menjaga isteriku."


Tok...Tok...Tok...


Suara ketukan dari luar menghentikan percakapan Hengki dan nyonya Rima.


"Masuk."


"Mah, mas makan siang sudah siap, ayo kita makan siang." ajak Nadya pada suami dan mertuanya.


"Iya sayang." serempak menjawab


"Ngomongin apa sih mas serius banget?"


Hengki tidak menjawab pertanyaan istrinya, tapi mengacak ngacak rambut Nadya.


"Cantik banget sih." Hengki merangkul pinggang Nadya


"Ayo sayang, mas sudah lapar."


" Sayang kamu kecapekan yah masak segini banyaknya.?" nyonya Rima bertanya sembari mengunyah makanan, karena melihat wajah Nadya yang pucat.


"Nggak kecapekan kok, bahagia malah karena mamah sudah pulang dan bisa makan bersama lagi. Jangan pergi lama lagi ya mah."


ucap Nadya dengan nada manja


"Tidak akan sayang, mamah akan selalu dekat dengan kalian, mamah sangat menyayangi kalian berdua, terutama kamu Nadya, mamah akan sangat sedih kalau kamu pergi." Nyonya Rima berlinang air mata.


"Mamah, Nadya ga ke mana mana kok, jangan berkata begitu."


"Sudah sudah, lanjutkan makannya, nanti keburu dingin jadi ga enak."


"Yang banyak makannya, biar sehat ga pucat seperti itu."


"Sayang sudah lama kita tidak ngobrol, sambil minum teh kita duduk dekat kolam renang ya." Ajak nyonya Rima.


"Iya mah, bentar." sahut Nadya


"Minta saja bi Tuti buatkan teh, kamu jangan terlalu lelah."


"Sayang kenapa, wajah kamu terlihat semakin pucat saja?" Tanya Hengki yang melihat Nadya semakin pucat


"Ga tahu mas, kepalaku pusing."


Nadya merasakan kepalanya pusing dan pandangannya kabur dan gelap.


Bruuuukkkk


"Nadya." serempak berteriak memanggil


"Cepat bawa ke rumah sakit." teriak Hengki yang dengan cekatan menggendong istrinya ke arah mobil yang ada di depan rumah.


"Malah ikut ke rumah sakit." dengan segera membuka pintu mobil .


Nadya di dudukan di belakang ditemani nyonya Rima. Hengki menjalankan mobil dengan kecepatan penuh agar secepatnya sampai di rumah sakit.


Sampai di parkiran langsung di bawa ke IGD, beberapa dokter dan perawat yang sedang bertugas segera memberikan pertolongan.


Nyonya Rima dan Hengki duduk di depan ruangan IGD dengan perasaan khawatir, ketakutan karena melihat wajah Nadya yang sangat pucat. Tidak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruang IGD.


"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Hengki demgan tidak sabar.


"Istri anda baik baik saja, hanya dehidrasi sehingga membuat nya pingsan."


"Dehidrasi karena apa dokter?"


"Istri anda sedang mengandung, untuk lebih jelasnya bisa di periksakan di obgyn. Tapi sebelumnya istri anda harus di rawat inap dulu, karena wajahnya sangat pucat sekali."


"Istri saya hamil dok?" tanya Hengki tidak percaya


"Iya istri anda sedang hamil."


"Mah aku mau jadi ayah'." ucap Hengki bahagia


"Mamah akan segera punya cucu." Nyonya Rima terus bahagia.


Pintu ruang IGD terbuka, brangkar yang membawa Nadya ke ruang rawat VVIP agar lebih nyaman.


Nadya masih belum sadar dari pingsannya. Selang infus sudah terpasang tergantung, terlihat wajah Nadya tidak sepucat tadi.


Nyonya Rima dan Hengki masuk ke dalam ruang rawat, binar bahagia terpancar dari wajah keduanya, ke khawatiran yang tadi mereka rasakan seolah sirna dengan kabar kehamilan Nadya


Perlahan Madya membuka matanya, yang di lihat adalah suaminya yang sedang duduk di kursi sebelah tempat tidurnya.


"Sayang kamu sudah bangun?" Hengki bertanya dengan senyum yang tampak di wajahnya.


"Aku kenapa mas, kok ada di sini?" Nadya balik bertanya


"Tadi kamu pingsan sayang, mas bawa ke rumah sakit karena khawatir melihat wajah kamu yang sangat pucat." Hengki menjelaskan.


"Aku pingsan mas, kenapa?"


"Kami hamil sayang, nanti setelah kamu baikan nya akan ke obgyn untuk memastikan keadaan kandungan kamu."


"Beneran aku hamil mas?"


"Iya sayang, mas bahagia sekali akan segera menjadi ayah."


Nadya tersenyum bahagia mendapatkan kabar kalau dirinya sedang hamil. semoga dalam kehamilan yang sudah di ketahui ini tidak ada masalah apa pun.


Hengki memeluk Nadya yang masih terbaring di tempat tidur. Keduanya sangat bahagia dengan kabar kehamilan Nadya.


"Sayang sekarang kamu makan dulu, mas suapin ya biar cepat sembuh, setelah makan kita akan periksa kandungan kamu."


"Iya mas ."


...****************...


Hai reader, jangan lupa like, koment dan vote favoritnya. Kasih bintang 5 yah