NADYA

NADYA
TIDAK MUNGKIN



"Mas,"


"Hmmm!" Jawab Reza yang hanya bergumam. Reza sedang mengaduk-aduk mie ayam di mangkuknya agar menyatu dengan sambal, saus, dan kecap yang baru saja ia tambahkan.


"Emang kalau jodoh itu mirip, ya?" Tanya Nadya seraya memainkan sedotan di gelas es teh yang ada di depannya.


"Memang siapa yang mirip?" Tanya Reza mengangkat sebelah alisnya.


"Nadya dan Mas Res."


"Kata Lita, kita berdua punya senyuman dan bentuk hidung yang sama," jawab Nadya seraya memperhatikan dengan seksama wajah Reza.


"Masa, sih? Berarti kita jodoh, dong?" Celetuk Reza seraya menaikturunkan alisnya ke arah Nadya.


Wajah Nadya sontak bersemu merah.


"Nanti kita ijab sah, ya! Kalau kamu udah dapat ijazah," ucap Reza lagi yang semakin membuat Nadya tersipu.


"Masih lama, Mas! Sekarang maem mie ayam dulu!" Cicit Nadya seraya meraih sumpit dan mulai melahap mie ayamnya


"Tidak mungkin, Pa!"


"Papa pasti bercanda!" Teriakan Reza langsung membuyarkan lamunan Nadya.


"Papa tidak bercanda, Za! Kamu memang anak kandungnya Om Yoga!" Ucap Papa Teddy bersungguh-sungguh.


"Itu benar, Eza! Yoga adalah Papa kandungmu," Eyang Putri ikut berucap pada Reza.


"Dan karena Nadya juga adalah putri kandung Yoga, jadi kalian berdua tidak bisa menikah. Kalian kakak adik," ucap Eyang Putri lagi menatap pada Reza yang terlihat sangat marah serta Nadya yang raut mukanya sudah berubah sendu.


Bunda Maya buru-buru menghampiri putrinya tersebut dan meraupnya ke dalam pelukan.


"Ini tidak mungkin! Kalian semua bohong!"


"Eza dan Nadya saling mencintai, dan kami akan menikah!" Reza sudah mencekal lengan Nadya hingga membua gadis itu meringis karena cekalan Reza yang begitu kuat.


"Eza!" Papa Teddy berusaha meredam emosi Reza yang sudah benar-benar meledak. .


"Katakan kalau ini semua bohong, Pa! Eza anaknya Papa dan buka anak Om Yoga!" Reza menatap memohon pada sang Papa. Namun Papa Teddy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Papa sudah melakukan tes DNA, Eza," ucap Pak Teddy nyaris tanpa suara yang langsung membuat Reza geleng-geleng kepala.


"Aaaaarrrggghh!" Reza berteriak kencang sebelum pria itu melepaskan cekalan tangannya pada Nadya dan berlari keluar dari rumah.


"Eza!" Teriak Pak Teddy, Eyang Putri, dan Bulik Ningsih bersamaan, namun sama sekali tak digubris oleh Reza yang sudah menghilang di balik kegelapan malam.


"Man! Maman!" Teriak Bulik Ningsih pada seseorang bernama Maman yang sepertinya adalah tukang kebun di rumah Eyang Putri.


"Man, kamu cari dan susul Eza sana! Lalu kamu awasi dari kejauhan, tapi jangan dekat-dekat dulu!"


"Nanti kalau Eza mau berbuat hal nekat, baru kamu bertindak!" Ucap Bulik Ningsih panjang lebar memberikan perintah pada Maman.


"Iya, Bulik! Inggih!" Jawab Maman patuh sebelum pria itu keluar dari rumah untuk mencari Reza yang entah berlari kemana.


"Ning, kamu antar Nadya ke kamarnya dulu! Aku mau bicara sama Maya," gantian Eyang Putri yang memberikan titah pada Bulik Ningsih.


"Iya, Mbak!" Jawab Bulik Ningsih yang langsung menghampiri Nadya dan menggantikan Bunda Maya memeluk gadis itu.


"Ayo, Nduk! Kita istirahat ke kamar, ya!" Ucap Bulik Ningsih lembut seraya membimbing Nadya menuju ke salah satu kamar yang ada di rumah besar tersebut.


Kini hanya tinggal Eyang Putri, Bunda Maya, dan Papa Teddy di ruang tengah.


"Bukankah ibu sudah mengatakan padamu agar secepatnya memberitahu Eza tentang jati dirinya, Ted!" Ucap Eyang Putri yang terlebih dahulu buka suara.


Sementara Teddy dan Maya sudah duduk di kursi dan hanya menunduk diam.


"Tadinya, Teddy memang berniat memberitahu Reza saat disini, Bu! Tapi Teddy benar-benar tak menyangka jika semuanya jadi serunyam ini," jawab Papa Teddy dengan nada penuh penyesalan.


Eyang Putri menghela nafas, sebelum kembali buka suara.


"Maya," panggil Eyang Putri halus.


"Iya, Bu!" Jawab Bunda Maya masih menunduk.


"Kemarilah, Nduk!" Titah Eyang putri memberi kode pada Bunda Maya agar mendekat ke arahnya.


Setelah mendapat kode persetujuan dari Papa Teddy, Bunda Maya segera mendekat ke arah wanita tua tersebut.


"Kamu pergi kemana setelah dari sini waktu itu? Ninggal alamat, tapi pas dicari nggak ada orang." Tanya Eyang Putri menginterogasi Bunda Maya.


"Maya-"


"Maya pulang ke Solo, Buk. Karena Bapak sakit waktu itu," cerita Maya mengenang saat-saat menyedihkan kala dirinya memberitahukan pada kedua orang tuanya tentang kehamilannya yang di luar nikah.


Eyang Putri tiba-tiba sudah memeluk Bunda Maya.


"Ibu minta maaf atas perlakuan Ibu sore itu ke kamu, May! Ibu waktu itu hanya shock dan kaget."


Maya mengangguk-angguk mendengarkan permintaan maaf dari Eyang Putri.


"Kamu masih marah sama Ibu?" Tanya Eyang Putri lagi yang ganti membuat Maya menggeleng. Maya segera memeluk Eyang Putri dan menepis semua rasa sakit hati yang pernah ditorehkan oleh wanita tua ini.


Bukankah Eyang Putri sudah berbesar hati dan minta maaf dengan tulus?


"Teddy, kamu ajak Maya istirahat dulu! Urusan Eza kita bahas besok lagi. Nanti sebentar lagi anak itu juga pasti pulang," titah Eyang Putri yang sepertinya sudah hafal dengan watak Reza.


"Iya, Bu!"


"Ibu sebaiknya juga istirahat." Papa Teddy menghampiri Eyang Putri dan membantu ibunya tersebut untuk bangkit berdiri. Lalu Papa Teddy dengan hati-hati mengantar Eyang Putri masuk ke kamar.


Sedangkan Bunda Maya memilih untuk menengok Nadya sebentar sebelum istirahat ke kamarnya sendiri.


Masih ada Bulik Ningsih yang menenangkan Nadya yang belum berhenti menangis.


"Biar Maya saja yang bicara pada Nadya, Bulik," izin Maya, yang langsung membuat Bulik Ningsih mengangguk. Bulik dari Pak Teddy dan Mas Yoga itupun segera undur diri dan keluar dari kamar Nadya.


"Sudah, Nad!" Bujuk Bunda Maya yang kembali harus memeluk putri kandungnya yang mendadak berubah cengeng tersebut.


"Nadya udah sayang sama Mas Reza, Bund!" Cicit Nadya berucap dengan terbata-bata.


"Bunda tahu. Tapi kalau tidak jodoh mau diapakan, Nad? Kamu sama Reza itu kakak adik. Jadi sekarang kamu sayangnya ke Reza ya sebagai adik ke kakaknya," Nasehat Bunda Maya sebijak mungkin.


"Udah, ya!" Bunda Maya sudah ganti menangkup wajah Nadya dan menghapus airmata yang memenuhi wajah anak gadisnya tersebut.


"Kamu fokus sekolah dulu mulai sekarang. Urusan jodoh dan nikah, kamu kesampingkan dulu, ya!" Nasehat Bunda Maya lagi pada Nadya yang tetap mencebik.


"Ya, Nadya, ya!" Bujuk Bunda Maya sekali lagi seraya mencolek hidung Nadya.


Nadya akhirnya bisa tersenyum dan mengangguk, meskipun senyumnya masih dipaksakan.


"Sekarang tidur!" Bujuk Bunda Maya selanjutnya seraya membimbing Nadya agar berbaring di atas tempat tidur. Tak lupa, wanita paruh baya tersebut juga mencium kening Nadya dan merapatkan selimut sang putri.


"Bund!" Panggil Nadya saat Bunda Maya hendak keluar dari kamar. Bunda kandung Nadya tersebut langsung menoleh ke arah sang putri.


"Ada apa?" Tanya Bunda Maya nyaris tanpa suara.


"Apa dulu Bunda sama Ayah nggak pernah menikah?" Tanya Nadya menatap penuh selidik pada Bunda Maya.


Bunda Maya tak langsung menjawab dan menghela nafas sejenak.


"Iya, benar."


"Itulah mengapa Bunda menjaga kamu dengan sedikit berlebihan, karena Bunda tidak mau apa yang sudah pernah terjadi pada Bunda terjadi juga sama kamu, Nad!" Tutur Bunda Maya panjang lebar menjelaskan pada Nadya.


"Bunda masih mencintai Ayah?" Tanya Nadya lagi.


Bunda Maya tersenyum sebelum menjawab,


"Cinta Bunda pada ayah kamu akan tetap ada sampai kapanpun, namun Bunda memilih untuk menyimpannya saja di dalam sudut hati Bunda, karena kini Bunda adalah istri dari Papa Teddy, Nad!"


"Jadi Bunda harus mencintai dan berbakti pada Papa Teddy," jawab Bunda Kaya diplomatis.


Nadya tersenyum tipis dan mengangguk mengerti. Lalu Bunda Maya keluar dari kamar Nadya dan menutup pintu.


Baru saja Nadya memrjamkan matanya, tiba-tiba terdengar ketukan dari luar jendela kamar.


"Nad!" Itu adalah suara Reza.


"Nadya, kamu belum tidur, kan?" Reza kembali mengetuk jendela.


Nadya segera bangkit dari atas tempat tidur dan menyibak gorden. Benar saja, Reza sedang berdiri bi balik jendela.


"Buka!" Titah Reza selanjutnya.


Nadya membuka kaca jendela.


"Mas Reza dari ma-"


"Ayo ikut!" Reza tiba-tiba sudah mencekal tangan Nadya.


Ya,


Jendela di rumah Eyang Putri memang tidak ada teralisnya seperti di rumah Papa Teddy.


"Mau kemana, Mas?" Tanya Nadya sedikit takut.


"Ikut bentar," bujuk Reza memohon.


Nadya masih ragu.


"Ayo, Nad" ajak Reza lagi yang akhirnya membuat Nadya mengangguk.


"Pake jaketmu!" Reza mengacak rambut Nadya, dan Nadya segera menyambar jaketnya yang tergantung di belakang pintu. Setelah memakai jaket, Nadya melompat keluar dari jendela, dan pergi bersama Reza entah kemana.


.


.


.


Waduh 🙈🙈🙈


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.