
Riska sudah bersiap untuk pergi tidur, saat gadis itu memeriksa ponselnya dan mendapati pesan singkat dari Reza yang masuk ke dalam ponselnya.
[Kamu yang lagi ngidam, ya, Ris?] -Reza-
Dikirim sekitar satu jam yang lalu. Berarti tadi saat Riska pulang dari angkringan.
[Nikah aja belum. Boro-boro ngidam] -Riska-
[Yaudah, buruan nikah biar bisa ngidam juga] -Reza-
Riska hanya berdecak membaca pesan dari Reza.
[Belum tidur, kamu?] -Riska-
[Masih jam dua belas. Tidurnya jam jam satu atau jam dua] -Reza-
[Sukanya kok begadang] -Riska-
[Latihan] -Reza-
[Maksudnya? Kamu lagi latihan, gitu? Latihan apa tengah malam begini?] -Riska-
[Ya ampun! Umur udah seperempat abad tapi kok kamu masih polos, sih, Ris?] -Reza-
[Ck! Nggak usah bawa-bawa umur. Emangnya kamu masih muda? Udah sama-sama seperempat abad juga, kan?] -Riska-
[Iyakah? Baru ngeh aku kalau kita seumuran] -Reza-
[Yaelah, jelas-jelas dulu sekolahnya satu angkatan, satu kelas, satu meja juga. Masa iya amnesia] -Riska-
[Absennya atas bawah lagi. Reza Hutomo dan Riska Selinna] -Reza-
[Masih ingat aja] -Riska-
[Minggu ke Tawangmangu, yuk, Ris!] -Reza-
[Nggak, ah!] -Riska-
[Kenapa? Katanya nggak ada acara kemana-mana?] -Reza-
[Iya, sih. Tapi kan nggak enak kalau jalan sama pacarnya orang. Nanti aku dicap pelakor lagi ] -Riska-
Tak ada balasan pesan dari Reza. Riska hanya mengendikkan bahu dan bersiap untuk tidur. Namun saat gadis itu baru menarik selimut, ponselnya malah berbunyi dan rupanya Reza ganti menelepon.
"Ya ampun! Ini orang kenapa sih malam-malam malah telepon," gerutu Riska yang terpaksa mengangkat telepon Reza karena yang tadinya mau menolak malah kepencet angkat.
Dasar jempol!
"Halo, Assalamualaikum!" Sambut Riska seraya menyamankannkepalanya di atas bantal.
"Walaikum salam. Belum tidur, Ris?"
"Kamu telepon. Bagaimana mau tidur?" Jawab Riska seraya memutar bola matanya.
"Jadi gimana? Mau ya hari Minggu pergi sama aku?"
"Ck!" Riska hanya berdecak dan merasa malas menjawab ajakan Reza yang ketiga kalinya ini.
Ada apa sebenarnya dengan pria ini?
"Kamu kenapa, sih, Za?" Tanya Riska akhirnya yang sedikit risih dengan ajakan Reza.
"Apanya yang kenapa? Aku kan ngajakin kamu pergi nanti hari Minggu." Jawaban Reza terdengar santai.
"Kamu kan udah punya pacar, Si Nadya. Kenapa nggak ngajak Nadya aja?" Tanya Riska to the point.
"Nadya udah bukan pacar aku, Ris! Dia adek aku sekarang. Dan aku itu ngajaknya kamu bukan Nadya."
"Ish! Jadi ceritanya kamu lagi ada masalah sama Nadya trus mau ngajak aku jalan, gitu? Trus nanti kalau Nadya tahu, dia marah, nuduh aku ngrebut kami dari dia."
"Ish! Udah nggak usah cari perkara, deh, Za!" Cerocos Riska panjang lebar mulai kesal.
"Ngapain Nadya marah coba? Yang nyuruh aku pedekate sama kamu ya Nadya."
"Eh!"
"Maaf keceplosan!" Terdengar gelak tawa Reza dari ujung telepon.
"Kamu ngomong apa, sih, Za? Aku nggak ngerti," Ridka pura-pura acuh, meskipun kini Riska sedikit memikirkan kakinat Reza sebelumnya.
Pedekate?
Pedekate apa maksudnya.
"Minggu aku jemput jam sembilan, ya! Nanti sekalian aku pamit ke bapak kamu," putus Reza sepihak.
"Udah malam. Bobok, gih! Assalamualaikum!" Pungkas Reza sebelum telepon terputus.
"Walaikum salam!" Jawab Riska yang masih bingung denga ajakan mendadak Reza serta ucapan ucapan Reza sebelumnya.
Mabuk mungkin, ya?
"Ah! Ngapain juga dipikirin!" Gerutu Riska sebelum memeluk gulingnya dan memejamkan mata.
****
"Nad, nggak sholat? Udah mau jam empat itu!" Tegur Mbak Riska mengingatkan Nadya yang sejak tadi masih berkutat dengan payet dan kebaya.
"Hah, masa?" Nadya buru-buru melihat ke jam dinding yang tergantung di dalam butik.
"Ya ampun! Perasaan baru aja adzan-nya. Udah mau pulang ternyata," Kikik Nadya seraya bangkit berdiri.
"Bereskan sekalian semuanya, Nad! Nanti habis sholat langsung pulang!" Ujar Mbak Riska memberikan saran.
"Oke, Mbak!" Nadya melipat kebaya yang belum selesai ia payet dengan cekatan, lalu menyimpan manik-manik payet ke tempatnya dan sekalian melipat meja kecil yang biasanya dipakai untuk menaruh piring tempat payet. Semuanya sudah Nadya kembalikan ke tempatnya, dan gadis itu bergegas menuju ke bagian belakang butik untuk mengambil wudhu dan menunaikan ibadah sholat Ashar.
Mbak Riska mengikuti Nadya ke belakang karena kebetulan asisten Bu Lala itu juga belum sholat Ashar.
****
"Nanti dijemput sama Papa kamu, Nad?" Tanya Mbak Riska setelah ia dan Nadya selesai sholat. Keduanya masih duduk dan melipat mukena di mushola kecil yang ada di bagian belakang butik.
"Iya, Mbak! Mas Reza kan sekarang bagian antar saja. Yang bagian jemput Papa, sekalian pulang dari pabrik," jawab Nadya sedikit bercerita.
"Boleh tanya sesuatu, nggak, sih?" Tanya Mbak Riska akhirnya yang ingin segera menuntaskan ganjalan di hatonya ats ucapan Reza semalam.
"Tanya apa, Mbak? Tanya aja!" Jawab Nadya santai.
Gadis itu sudah selesai melipat mukena dan sedikit membenarkan ikatan rambut panjangnya.
"Kamu sama Reza jadi mau nikah?" Tanya Riska yang mendadak merasa bingung menyusun pertanyaan.
Ya ampun!
Pertanyaan macam apa itu, Ris?
Nadya sontak menoleh ke arah Mbak Riska, lalu gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali.
"Kami ternyata kakak adek satu ayah, Mbak! Jadi kami nggak bisa menikah kata Eyang Putri," jawab Nadya menjelaskan.
"Hah? Maksudnya gimana?" Tanya Riska bingung.
"Ya maksudnya, bapaknya Mas Reza sama Bapak ya Nadya itu sama. Cuma ibu kami saja yang beda. Itu juga baru tahu seminggu yang lalu pas kami ke Jogja. Untung belum kebablasan ngapa-ngapain-"
"Eh!" Nadya memukul bibirnya sendiri yang kalau ngomong kadang nggak ada remnya.
"Jadi maksudnya kamu sama Reza saudara sedarah sebapak, gitu?" Tanya Riska memastikan.
Nadya langsung mengangguk dengan sangat yakin.
"Kami kakak adek sekarang, Mbak! Apa Mas Reza udah mulai pedekate sama Mbak Riska? Ciyeee!" Nadya menaik turunkan alisnya ke arah Riska.
"Apa, sih! Kata Reza kamu yang nyuruh dia pedekate ke aku? Bener?" Tanya Riska lagi memastikan.
"Kan Mbak Riska dan Mas Reza serasi. Jadi nggak masalah, dong, kalau Nadya comblangin biar Mbak Riska dan Mas Reza cepat nikah," jawab Nadya blak-blakan.
"Tapi bukannya Reza udah tergila-gila sama kamu! Nggak mau aku kalau cuma dijadiin pelarian," ujar Riska sok jual mahal.
"Tenang, Mbak Riska!" Nadya sudah mendekap Riska.
"Mas Reza udah move on, kok! Percaya, deh sama Nadya!" Ucap Nadya berusaha meyakinkan Riska.
"Sekarang ini, Mas Reza benar-benar nganggep Nadya itu adeknya. Nggak ada embel-embel perasaan lain," lanjut Nadya dengan nada bersungguh-sungguh.
Riska hanya diam dan bingung harus menyangkal bagaimana saat seruan Mbak Siti terdengar dari bagian depan butik.
"Nad! Papamu udah datang!"
.
.
.
Maaf kalo cerita ini nglantur kemana-mana.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.