
Reza dan Nadya tiba di rumah tepat pukul empat sore.
"Kamu ajak Nadya belok kemana dulu, Za?" Tanya Pak Teddy saat Reza dan Nadya baru tiba.
Nadya langsung berdecak kagum melihat rumah Pak Teddy dan Reza yang besar dan asri.
"Belok bentar beli pentol, Pa! Kasihan Nadya kelaparan di jalan," jawab Reza mencari alasan.
"Apa, sih, Mas! Kok jadi Nadya? Kan tadi Mas Res yang ngajakin!" Protes Nadya merasa tak terima dijadikan alasan oleh Reza. Jelas-jelas tadi Nadya sudah mengingatkan kakak sambungnya ini. Tapi tak digubris dan malah bilang tidak apa-apa.
Ck!
Menyebalkan!
Untung ganteng.
"Hmmmm!" Pak Teddy menjewer kuping Reza dan sedikit geram.
"Hari ini belok beli pentol. Besok belok kemana lagi?"
"Nggak kemana-mana, Pa! Ih, Papa nggak percayaan banget!" Kelit Reza berusaha membela diri seraya meringis karena dijewer Pak Teddy.
"Nikahkan saja Reza dan Nadya kalau gitu! Biar nggak Papa tuduh terus!" Ujar Reza lagi memberikan solusi.
Solusi modus lebih tepatnya.
"Besok tanya dulu ke Eyang putri," bisik Pak Teddy pada Reza yang langsung membuat Reza membelalakkan kedua bola matanya.
"Serius, Pa?"
"Ijab dulu aja, kalau eyang putri udah ngasih kode oke," bisik Pak Teddy lagi.
Reza langsung bersorak penuh kemenangan.
"Yes, yes, yes!"
"Jangan ember!" Pak Teddy mencubit bibir Reza sebelum berlalu masuk ke rumah menyusul Nadya da Bunda Maya yang sudah masuk sejak tadi.
"Kawin, kawin, kawin sama Nadya," Reza menyanyi-nyanyi sendiri seraya berjoget-joget.
"Mas Res!" Panggil Nadya dari arah teras pada Reza yang masih joget-joget di halaman.
Somplak apa, Mas sambungnya Nadya itu.
"Apa, Nadya Cantik?" Jawab Reza lebay seraya menghampiri Nadya.
"Kenapa joget-joget begitu? Stress, ya?" Tebak Nadya seraya terkikik.
"Nggak, kok! Cuma lagi dimabuk asmara aja, karena sekarang udah bisa liatin kamu setiap hari, setiap jam, setiap menit," Reza mencubit gemas kedua pipi Nadya.
"Ih! Lebay!" Nadya balik mencubit kedua pipi Reza.
"Dasar bakul gombal!" Celetuk Nadya lagi sebelum berlalu masuk ke dalam rumah. Reza segera menyusul adik sambungnya tersebut.
"Za, kamarmu pindah ke belakang, ya! Dekat dapur!" Ucap Pak Teddy yang masih mengatur beberapa barang milik Bunda Maya dan Nadya yang turut dibawa ke rumah ini. Tidak banyak sebenarnya. Hanya mesin jahit untuk keperluan sekolah Nadya, meja belajar Nadya, serta dua lemari plastik.
"Memang kamar Reza yang di depan mau buat siapa, Pa?" Tanya Reza pura-pura tak paham.
Tadinya kamar Reza memang berada di sisi ruang keluarga berhadapan dengan kamar Pak Teddy.
"Buat adikmu, to! Kan kasihan kalau Nadya yang di belakang sendirian, di pojokan, kalo ilang di gondol semut bagaimana, hayo?" Jawab Pak Teddy sedikit berkelakar.
"Manis, ya, Pa! Jadi digondol semut," ucap Reza menimpali kelakaran sang Papa.
"Nah! Itu tahu," sahut Pak Teddy lagi yang hanya membuat bunda Maya tersenyum dan geleng-geleng kepala.
"Papa sama Bunda saja yang di belakang. Biar nggak ada yang ganggu," celetuk Reza memberikan ide lain.
"Nanti ke kamar mandi juga dekat, nggak bolak-balik!" Sambung reza lagi seraya terkekeh.
"Memang kenapa bolak-balik ke kamar mandi, Mas? Beser? Kebelet?" Tanya Nadya dengan raut wajah polos.
"Nggak ngapa-ngapain! Udah kamu mandi, trus istirahat!" Bunda Maya langsung merangkul Nadya dan mengalihkan pertanyaan kepo Nadya.
"Siap, Bund! Baju-baju Nadya dimana, ya?" Nadya celingukan seraya membuka satu persatu kardus dan mencari bajunya.
"Nah, ini!" Sorak Nadya setelah menemukan kardus yang berisi baju-bajunya.
"Bawa masuk ke kamar dan jangan dibongkar disini, Nad! Sekalian ditata di lemari," ujar Bunda Maya memberikan arahan untuk sang putri.
"Lemarinya masih ada bajunya Reza, Bund!" Protes Reza mengingatkan.
"Udah ditukar tadi! Tu lemarimu udah masuk ke kamar belakang!" Sahut Pak Teddy seraya menunjuk ke arah kamar di dekat dapur.
"Oh, yaudah! Kirain belum."
"Kan nggak lucu, Pa kalau Reza habis mandi, harus ke kamar Nadya dulu ambil baju," kikik Reza yang langsung berhadiah toyoran dari Pak Teddy.
"Mesum teroos!"
Nadya sudah keluar lagi dari kamar seraya membawa baju ganti dan handuk. Gadis itu berlari-lari kecil, ke arah kamar mandi yang berada di dekat dapur.
"Nanti Maya masak saja, Mas!" Sela Bunda Maya.
"Nggak usah! Biar Reza beli makanan matang saja," tolak Pak Teddy tegas.
"Benar, Bund! Bunda istirahat saja, biar nanti malam bisa lembur," celetuk Reza seraya merangkul bunda Maya.
"Reza!" Tegur Pak Teddy seraya mendelik ke arah Reza.
"Iya, Pa! Iya!" Reza buru-buru menyingkirkan tangannya dari pundak Bunda Maya.
"Mau makan apa jadinya?" Tanya Reza menatap bergantian ke arah Pak Teddy dan Bunda Maya.
"Beli sate ayam saja, Za! Biar kenyang. Atau kamu mau makan yang lain, May?" Pak Teddy bertanya dan meminta pendapat Bunda Maya.
"Sate ayam saja nggak apa-apa, Mas," jawab Bunda Maya.
"Baiklah! Sate ayam segera datang!" Ucap Reza seraya menyambar kunci motornya dan keluar dari rumah untuk selanjutnya pergi membeli sate ayam.
****
Makan malam sudah usai sejak beberapa saat yang lalu. Nadya yang sedang mengerjakan tugas di ruang tengah sudah terkantuk-kantuk.
"Bobok, Nad! Ngerjain tugasnya besok lagi," ucap Reza yang rupanya paling tanggap.
"Iya, Mas!" Jawab Nadya seraya menguap lebar.
"Jangan lupa pesan Papa tadi, Nad!" Ujar Pak Teddy pada Nadya yang masih membereskan bukunya.
"Siap, Pa!" Nadya mengangguk-angguk sedangkan Reza mengernyit penasaran.
"Pesan apa, Pa?" Tanya Reza kepo.
"Kamarnya di gembok dobel! Biar nggak ada yang menyusup!" Jawab Pak Teddy menyindir Reza.
Reza langsung berdecak dan mencibir. Sementara Nadya dan Bunda Maya hanya terkekeh.
"Nadya tidur dulu, Bund, Pa!" Pamit Nadya sebelum gadis remaja itu masuk ke kamar.
Suasana di ruang tengah sejenak menjadi hening.
"Eheeem!" Reza berdehem demi mencairkan suasana.
"Reza ke warnet bentar, Pa!" Pamit Reza seraya beranjak dari duduknya.
"Nge-game! Nongkrong!" Jawab Pak Teddy yang langsung membuat Reza tergelak.
"Ketimbang cuma jadi obat nyamuk!" Seru Reza yang suaranya hanya terdengar samar. Sepertinya pemuda itu sudah keluar menuju ke teras karena terdengar pintu depan yang dibuka, lalu ditutup kembali.
"Kok nggak naik motor?" Tanya Bunda Maya karena tak mendengar suara motor Reza.
"Warnetnya cuma dekat," jawab Pak Teddy yang sudah merangkulkan lengannya di pundak Bunda Maya.
"Belum ngantuk, kan, May?" Tanya Pak Teddy yang sudah merapatkan duduknya ke arah Bunda Maya.
Bunda Maya baru saja akan menjawab saat tiba-tiba pintu kamar Nadya kembali terbuka. Nadya keluar dari kamar seraya meringis.
"Kebelet, Bund! Tadi belum ke kamar mandi," ucap Nadya padahal tak ada yang bertanya. Gadis remaja itu sudah melesat dengan cepat menuju ke arah kamar mandi.
"Aku kunci pintu dan jendela dulu," pamit Pak Teddy seraya memberikan kode pada Bunda Maya agar masuk ke kamar.
Bunda Maya yang seolah paham hanya mengangguk dan segera beranjak dari duduknya dan ke dapur sebentar untuk minum.
"Mas Res udah tidur, Bund?" Tanya Nadya yang sudah selesai menunaikan panggilan alamnya.
"Keluar tadi. Katanya ke warnet," jawab Bunda Maya.
"Oh, pasti nge-game," gumam Nadya yang sepertinya sudah hafal.
"Langsung tidur, Nad! Biar besok tidak kesiangan," ujar bunda Maya seraya mengusap lembut kepala Nadya.
"Siap, Bund! Kasurnya empuk. Boboknya Nadya bakal nyenyak," kikik Nadya yang sudah berlalu membawa sebotol air putih dari dalam kulkas. Putri Bunda Maya itu langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu sesuai pesan Pak Teddy.
Bunda Maya sendiri juga langsung menuju ke kamar Pak Teddy yang kini sudah menjadi kamarnya juga. Namun baru membuka pintu kamar, wanita itu suadh terkejut larena pemandangan yang ia lihat di dalam kamar.
"Ya Allah!"
.
.
.
Lihat apa kira-kira?
😅😅
Terimakasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.