
Mobil Pak Teddy akhirnya tiba di depan rumah kontrakan Maya. Pria dan wanita paruh baya itu memang hanya diam sepanjang sisa perjalanan mereka tadi, tepatnya setelah Pak Teddy mengajukan usul untuk meminta pendapat Nadya terlebih dahulu, sebelum Maya menjawab lamaran dari Pak Teddy.
"Mari turun dulu, Pak!" Ucap Maya sopan mempersilahkan sang juragan.
Pak Teddy mengangguk dan segera ikut turun bersama Maya. Nadya sudah membuka pintu depan dan menyambut kedatangan Bunda Maya beserta Pak Teddy.
"Assalamualaikum!" Sapa Bunda Maya dan Pak Teddy bersamaan.
"Walaikum salam," jawab Nadya seraya tersenyum sumringah.
Nadya seolah sedang mencairkan ketegangan di wajah Pak Teddy dan Bunda Maya.
"Kok baru pulang, Bund? Resepsi dulu?" Tanya Nadya menyelidik seraya mengambil bungkusan nasi berkat yang terbuat dari anyaman bambu yang berada di tangan bunda Maya.
"Tempatnya jauh, jadi agak lama di perjalanan," jawab Bunda Maya sekenanya, sebelum Bunda dari Nadya itu mempersilahkan Pak Teddy masuk ke rumah.
"Nad, buatkan minum untuk Pak Teddy dulu!" Titah Bunda Maya sedikit berbisik pada sang putri.
Nadya mengangguk paham dan segera pergi ke dapur menbawa nasi berkat tadi sekaligus membuatkan minum untuk Pak Teddy.
Nadya sudah kebali ke ruang tamu membawa dua gelas teh hangat, lalu menyuguhkannya untuk Pak Teddy dan Bunda Maya.
"Silahkan, Pak!" Ucap Nadya.
"Terima kasih, Nad! Duduk sini!" Pak Teddy menepuk ruang kosong di sampingnya dan menyuruh Nadya untuk duduk.
Nadya menatap sebentar pada sang Bunda yang hanya mengabgguk dan memberikan isyarat mata agar Nadya duduk.
Nadya akhirnya duduk disamoing Pak Teddy, dan Bhnda Maya yang duduk di kursi lain tak jauh dari Nadyadan Pak Teddy. Mendadak suasana di ruang tamu rumah kontrakan kecil tersebut mwnjadi tegang dan sedikit canggung.
"Ehem!" Pak Teddy berdehem kecil sebelum mula angkat suara.
"Begini, Nadya..."
"Nadya Wulandari, Pak!" Sahut Nadya cepat menyebutkan nama lengkapnya.
"Iya, Nadya Wulandari putrinya Bunda Maya, Bapak boleh tanya seeuatu ke Nadya?" Pak Teddy mengusap lembut kepaka Nadya, seperti seorang ayah pada putrinya.
"Tanya apa?" Nadya menatap bingung ke arah Pak Teddy dan Bunda Maya secara bergantian.
"Nadya keberatan jika punya seorang ayah sambung?" Pak Teddy akhirnya bertanya secara to the point.
Sementara Bunda Maya hanya diam dan menundukkan wajahnya.
Nadya menggeleng.
"Jika ayah sambung Nadya sebaik Pak Teddy, Nadya tentu tidak keberatan, Pak!" Ucap Nadya sebelum kemudian remaja tujuh belas tahun tersebut menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan.
"Eh, maaf, kalau Nadya lancang Pak Teddy!" Gumam Nadya seraya menatap pada Bunda Maya yang masih menundukkan wajahnya sambil menggenggam jari-jemarinya.
Ini ada apa sebenarnya?
"Bagaimana, May?" Pak Teddy ganti bertanya pada Bunda Maya yang sedikit salah tingkah.
"Pak Teddy saja yang menjelaskan pada Nadya. Kalau Nadya setuju dan tidak keberatan, saya juga akan setuju, Pak!" Bunda Maya sudah mengangkat wajahnya dan menatap ke arah pak Teddy.
"Saya dan Nadya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Kebahagiaan Nadya adalah kebahgiaan saya dan kesedihan Nadya adalah juga kesedihan saya, Pak!" Ungkap Bunda Maya lagi yang tentu saja srmakin membuat Nadya mengernyit bingung.
"Ini sebenarnya ada apa, sih, Bund?" Nadya akhirnya merasa tak tahan untuk tak bertanya.
"Begini, Nad!" Pak Teddy kembali berdehem ringan sebelum menyampaikan niat baiknya.
"Sebenarnya, sudah sejak lama Bapak suka sama Bunda kamu dan punya keinginan untuk menjadi suami Bunda kamu serta ayah sambung kamu." Pak Teddy menyusun kalimat serapi mungkin agar Nadya paham, meskipun sebenarnya kalimat Pak Teddy masih sangat berantakan.
"Dan malam ini, Bapak sudah menyampaikan niat baik Bapak tersebut pada Bunda kamu. Tapi kata Bunda kamu, Bapak harus terlebih dulu minta izin dan persetujuan kamu."
"Jadi, Nadya. Jika Bapak menikahi Bunda Maya dan menjadi ayah sambung untuk Nadya. Apa Nadya merasa keberatan? Atau Nadya merasa tidak setuju?" Tanya Pak Teddy dengan nada selembut mungkin yang sesaat membuat Nadya diam dan tertegun. Gadis remaja itu menatap ke arah sang Bunda dan seolah bertanya memakai bahaa isyarat mata.
"Keputusan ada di tanganmu, Nad! Dengarkan saja hati kecilmu. Kalau kamu nggak sreg Pak Teddy menjadi ayah sambung kamu, kamu bisa mengatakannya dengan jujur," ucap Bunda Maya menatap ke arah Nadya yang terlihat bingung.
"Bunda sendiri bagaimana?" Nadya malah balik bertanya pada Bunda Maya.
Wanita empat puluh tahun itu langsung mengernyit bingung.
"Kalau Nadya pribadi, sih nggak keberatan Pak Teddy jadi ayah sambung Nadya, Bund! Kan dulu Nadya sudah sering bilang sama Bunda."
"Tapi kalau Bunda mau menikah hanya demi Nadya dan bukan demi kebahagiaan Bunda, rasanya itu tidak benar." Nadya bangkit dari duduknya dan sekarang ganti menghampiri Bunda Maya.
"Bunda sayang nggak sama Pak Teddy? Mau nggak jadi istrinya Pak Teddy?" Tanya Nadya bertubi-tubi seperti seorang ibu yang sedang menanyai anaknya.
Kok malah terbalik begini?
"Kok malah kamu yang tanya-tanya ke Bunda, sih, Nad?" Gumam Bunda Maya yang semakin salah tingkah.
"Ck! Nggak ah!" Kilah Bunda Maya meraba-raba pipinya sendiri yang terasa memanas.
"Ciyee makin merah. Bunda suka juga sama Pak Teddy berarti, kan? Mau jadi istrinya Pak Teddy, kan?"
"Ayo jawab, Bund! Pak Teddy udah nungguin itu!" Goda Nadya yang semakin membuat Bunda Maya salah tingkah.
"Jadi bagaimana, May?" Tanya Pak Teddy sekali lagi menunggu kepastian dari Bunda Maya.
"Bunda mau tapi malu, Pak!" Jawab Nadya mewakili sang Bunda.
"Alhamdulillah!" Pak Teddy langsung mengucapkan kalimat syukur.
"Yeay! Nadya punya Ayah sebentar lagi!" Sorak Nadya yang langsung membimbing Bunda Maya agar berdiri. Nadya lalu menyatukan tangan Bunda Maya yang sudah sedingin es dengan tangan Pak Teddy.
"Kok dingin, May? Tangan kamu?" Tanya Pak Teddy bingung.
"Gugup, Pak! Biasa." Bukan Bunda Maya, melainkan Nadya yang menjawab.
"Eh, udah bisa panggil ayah sekarang, ya?" Celetuk Nadya selanjutnya menatap bergantian pada Bunda Maya dan Pak Teddy seolah meminta persetujuan.
"Boleh!"
"Belum boleh!"
Pak Teddy dan Bunda Maya menjawab bersamaan namun dengan jawaban yang berbeda.
"Kan belum sah, Pak!" Ujar Bunda Maya mengungkapkan alasan.
"Kok Pak, sih? Panggil Mas mulai sekarang, May! Biar nggak kagok," ujar Pak Teddy pada Bunda Maya yang masih malu-malu meong.
"Panggil Mas, Bund! Biar romantis," Nadya ikut menimpali dan belum berhenti menggoda sang Bunda.
"Iya nanti belajar dulu," jawab Bunda Maya tetap malu-malu.
Sudah seperti anak perawan yang baru dilamar untuk pertama kali.
"Kamu belikan nasi sama gorengan sana untuk Pak Teddy, Nad!" Titah Bunda Maya selanjutnya pada Nadya karena wanita itu sepertinya paham dengan rasa lapar yang sekarang dirasakan oleh Pak Teddy.
"Lah, tadi di tempat kondangan nggak makan memang?" Tanya Nadya bingung.
"Porsinya nggak seberapa. Udah sejak sore juga makannya," jawab Bunda Maya menjelaskan.
Nadya hanya ber-oh ria.
"Beli di angkringan depan gang, kan?" Tanya Nadya lagi pada sang Bunda seraya menengadahkan tangan untuk meminta uang. Namun Pak Teddy yang lebih cepat mengeluarkan dompet dan menyodorkan uang pada Nadya.
Bunda Maya masih merogoh tasnya dan mencari-cari dompetnya yang terselip.
"Udah pakai itu saja, May!" Ujar Pak Teddy santai.
"Nanti sundukannya beli yang komplit, ya, Nad!" Pesan Pak Teddy pada Nadya yang sudah berjalan ke arah pintu.
"Siap, Pak!"
"Eh, Ayah!" Nadya mengoreksi panggilannya pada sang ayah sambung.
Pak Teddy dan Bunda Maya terkekeh bersamaan.
"Naik sepeda saja biar cepat, Nad!" Seru Bunda Nadya pada sang putri yang sudah ngacir ke teras.
"Oke!" Nadya ikut berseru dan suaranya nyaris tak terdengar karena gadis remaja itu memang sudah mengayuh sepeda onthel sang Bunda ke arah warung angkringan di depan gang.
.
.
.
Bentar, aku mau tanya.
Nanti klo Pak Teddy sama Bunda Maya habis ijab sah, mosok adegan MP-nya juga harus dijabarin?
Nggak usah, ya!
😂😂
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.