
Bunda Maya baru saja akan masuk ke dalam toilet wanita, saat wanita paruh baya itu hampir bertabrakan dengan gadis remaja yang baru keluar dari toilet.
"Nadya!" Tegur Bunda Maya yang kaget karena mendapati sang putri berada di mall yang sama dengan dirinya.
"Bunda! Bunda ngapain disini? Nggak jadi pergi sama Pak Teddy?" Cecar Nadya seraya celingukan mencari keberadaan Pak Teddy di luar toilet.
"Jadi. Ini tempat ketemuannya memang disini, Nad!" Jelas Bunda Maya pada sang putri.
Bunda Maya masuk ke dalam toilet dan Nadya mengekori Bundanya tersebut.
"Kamu sendiri? Ketemuan sama orang tuanya Reza di sini juga?" Tebak Bunda Maya pada Nadya yang sedang membenarkan poninya seraya mengaca di kaca toilet yang lebar.
"Iya. Di gerai JCO," jawab Nadya sedikit bergumam.
"Lho! Kok sama? Bunda dan Pak Teddy juga mau ke gerai JCO ketemu anakmya Pak Teddy," ujar Bunda Maya yang tentu saja membuat Nadya ikut-ikutan kaget.
"Kok bisa sama, ya, Bund?" Nadya garuk-garuk kepala karena bingung.
"Malah bagus! Nanti kamu bisa sekalian ngenalin Reza ke Pak Teddy. Tadi Bunda sudah cerita ke Pak Teddy soal kamu yang sudah ditembung sama Reza," ujar Bunda Maya lagi memberikan saran dan masukan untuk Nadya.
"Ngomong-ngomong, anaknya Pak Teddy cowok apa cewek, Bund?" Tanya Nadya merasa kepo.
"Cowok katanya. Udah besar, kok. Udah umur dua puluh lima kalau nggak salah," jelas Bunda Maya.
"Seusia sama Mas Res berarti. Udah nikah?" Nadya semakin kepo.
"Belum. Pak Teddy sampai menyebutnya bujang karatan karena tak kunjung menikah," kekeh Bunda Maya yang membuat Nadya ikut terkekeh.
"Sudah! Ayo kita keluar!" Bunda Maya yang sudah selesai mencuci tangan segera mengeringkan tangannya memakai tisu.
"Di toilet kok tahunan," sambung Bunda Maya lagi yang langsung membuat Nadya terkikik.
Bunda dan putrinya itu keluar beriringan dari dalam toilet dan segera menuju ke gerai JCO.
"Pak Teddy duduk di sebelah mana, Bund? Mas Res sama Nadya tadi di pojokan sana," Nadya menunjuk ke arah kursi di pojokan dimana Reza yang masih terlihat duduk bersama seorang pria yang membelakangi pintu masuk.
"Papanya Mas Res udah datang, Bund," ucap Nadya seraya bergegas menghampiri meja dimana Reza dan Pak Teddy duduk. Sementara Bunda Maya masih celingukan mencari keberadaan Pak Teddy yang entah berada di mana.
"Nad, kok Bunda kamu ada disini?" Tanya Reza yang ternyata melihat Bunda Maya yang masih celingukan mencari Pak Teddy.
Pak Teddy sendiri yang tadi sedang menerima telepon sontak menoleh saat Reza memanggil seorang gadis yang mendekat ke arah mereka. Namun alangkah terkejutnya Pak Teddy saat mendapati Nadya yang ternyata dipanggil oleh Reza.
"Pak Teddy," Sapa Nadya yang terlihat kaget melihat Pak Teddy duduk bersama Reza. Namun Nadya langsung meraih tangan pria paruh baya tersebut dan mencium punggung tangannya.
"Itu Bunda nyariin, Pak!" Ucap Nadya menunjuk ke arah Bunda Maya yang masih celingukan.
Pak Teddy buru-buru menghampiri Bunda Maya dan mengajaknya bergabung bersama Reza dan Nadya.
"Kamu kenal sama Papa, Nad?" Tanya Reza bingung karena Nadya yang tadi langsung berbasa-basi pada Pak Teddy saat mereka bertemu.
"Papa?" Nadya menatap linglung pada Reza.
"Maksudnya Papa?" Nadya semakin bingung dan linglung.
"Iya itu, yang kamu panggil Pak Teddy tadi. Itu Papa aku yang mau aku kenalin ke kamu," jelas Reza yang langsung membuat Nadya ternganga tak percaya.
Demi Si Lit ember borot kandi amoh!
Apa Mas Res sedang nge-prank Nadya?
Sejak kapan Mas Res jadi anaknya Pak Teddy?
Pak Teddy dan Bunda Maya sudah ikut bergabung bersama Reza dan Nadya yang masih shock.
"Loh, Reza! Katanya mau ngajak Nadya ketemu sama Papa kamu? Mana Papa kamu?" Tanya Bunda Maya pada Reza yang masih diam, serta Nadya yang terlihat shock.
"Ini Papa Reza, Bund!" Reza menunjuk ke arah Pak Teddy.
"Tunggu-tunggu! Jangan bilang kalau gadis SMA, yang kamu sebut sebagai calon istri dan membuat kamu kepincut itu adalah Nadya," Pak Teddy sepertinya lebih cepat mencerna situasi.
"Lah iya. Calon mama sambung kamu itu Bunda Maya ini," jawab Pak Teddy yang langsung membuat Reza berdecak frustasi.
"Sejak kapan Mas Res jadi anaknya Pak Teddy? Kok Mas Res nggak pernah cerita?" Cecar Nadya yang akhirnya bangkit dari rasa shocknya.
"Ya sejak lahir, Nad!" Jawab Reza masih dengan nada frustasi.
"Jadi ini gimana maksudnya, Pak Teddy? yang kemarin nembung Nadya dan mau menikahi Nadya setelah lulus SMK itu ya Reza anaknya Pak Teddy ini," Bunda Maya ikut-ikutan buka suara karena bingung.
"Za! Nadya itu masih kecil! Udah kamu batalkan niat kamu buat ngajakin Nadya nikah! Nadya biar kuliah dan meraih cita-citanya dulu!" Pak Teddy akhirnya angkat bicara dan menegur Reza.
"Nggak bisa gitu, dong, Pa!"
"Eza sudah jatuh cinta pada Nadya! Sudah cinta mati! Papa aja yang cari calon istri lain! Masa calon besan mau papa embat juga jadi istri!" Sergah Reza merasa tak terima dengan sikap egois sang papa.
"Halah! Dasar keras kepala! Kamu mau jadi pedofil? Nikahin bocah dibawah umur!" Pak Teddy tetap tak mau kalah.
"Udah, May! Tembungan dari Reza nggak usah kamu lanjutkan. Nadya kan mau jadi adik sambungnya Reza, mosok iya mau dinikahin. Masih kecil imut begini," cecar Pak Teddy yang langsung membuat Reza merengut.
"Papa jangan egois! Reza nggak mau nikah kalau nggak sama Nadya!" Reza ikut-ikutan keras kepala.
"Kayak nggak ada gadis lain saja, Za! Nanti Papa carikan calon istri buat kamu! Nadya biar kuliah dulu setelah lulus," Bujuk Pak Teddy pada putranya yang keras kepala.
"Nggak mau! Reza maunya cuma sama Nadya! Titik!" Ucap Reza tegas seolah tak mau dibantah.
Sementara Nadya dan Bunda Maya hanya saling melempar pandang menyaksikan perdebatan papa dan anak yang sama-sama keras kepala tersebut.
"Sini, Nad!" Reza tiba-tiba sudah menarik tangan Nadya dan merangkulnya bak seorang kekasih.
"Nanti Reza dan Nadya bakalan kawin lari, kalau Papa menolak hubungan kami!" Ancam Reza pada sang Papa.
"Mau lari keliling Stadion Manahan atau lari keliling lapangan Kota Barat, Za?" Tanya Pak Teddy yang malah berkelakar.
Nadya dan Bunda Maya sontak tak bisa menahan untuk tidak tertawa.
"Malah guyon!" Cebik Reza menatap kesal pada sang Papa.
"Nad, kamu mau diajak kawin lari sama Reza?" Tanya Pak Teddy yang sudah ganti menatap pada Nadya.
"Capek nanti, Pak! Nadya tambah kurus nanti," jawab Nadya yang masih menahan tawanya.
"Sudah! Kita duduk dulu dan membahas ini pakai kepala dingin!" Ujar Pak Teddy yang akhirnya mengambil keputusan bijak.
Empat orang itu akhirnya duduk di kursi masing-masing, Reza berjejer dengan Nadya dan Bunda Maya berjejer dengan Pak Teddy.
Sudah mirip keluarga cemara.
"Ambilkan donat lagi, Za! Papa lapar," titah Pak Teddy pada Reza yang langsung mencibir.
"Sekalian buat Bunda kamu, yo!" Pesan Pak Teddy lagi pada Reza yang sudah bangkit berdiri dan berjalan menuju ke etalase donat.
.
.
.
Endingnya membagongkan
😅😅😅
Yok semangatin othornya biar tetap rajin up.
Sepi amat kayak kuburan ni karya 😝
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.