
Bulan berganti.
"Mmuah mmuah mmuah!" Reza menciumi perut Riska yang sudah membulat sempurna berulang kali.
Tanpa terasa, pernikahan Reza dan Riska sudah genap satu tahun. Dan kini, Riska sedang mengandung buah cintanya bersama Reza. Kandungan Riska sudah menginjak usia tujuh bulan sekarang.
"Sudah, Mas!" Tegur Riska karena tingkah lebay Reza tersebut.
"Bentar, satu kali lagi! Dia nendang-nendang ini," ucap Reza dengan mata berbinar.
Reza menyandarkan telinganya di perut Riska, lalu diam beberapa saat demi menunggu tendangan dari sang calon buah hati.
"Dug!"
Satu tendangan, dan Reza langsung bersorak gembira.
"Cowok ini! Pasti ganteng kayak papanya," ucap Reza yang sudah kembali beranjak berdiri.
"Udah jelas-jelas cewek pas di USG. Masih aja ngeyel!" Decak Riska seraya mencubit perut Reza.
"Ayo pulang, Mas! Aku pengen cari jajanan di belakang UMS malam ini," ucap Riska menyampaikan keinginannya pada Reza.
"Nanti aku antar," jawab Reza santai seraya memeriksa semua pintu tokonya.
Riska sudah resign dari butik Bu Lala satu bulan yang lalu, dan istri Reza itu memilih untuk membantu Reza berjaga di toko kainnya setelah resign. Lagipula, Mas Mario juga sudah tak lagi bekerja di toko setelah pria itu menikah beberapa bulan yang lalu.
"Ayo!" Titah Reza setelah memastikan semua pintu sudah terkunci rapat.
"Kain brokatnya Nadia jangan lupa, Mas! Ngamuk nanti anaknya kalau nggak dibawain kain pesanannya," ujar Riska mengingatkan sang suami.
"Ini," Reza menunjukkan satu kantung plastik berisi kain brokat, pesanan Nadya.
Saat ini Nadya memang sudah mulai mengerjakan tugas akhirnya, yaitu membuat kebaya dengan tema tertentu. Nantinya kebaya kebaya hasil rancangan siswa kelas dua belas tersebut akan ditampilkan dalam sebuah fashion show sekolah dan pihak sekolah juga akan mengundang beberapa desainer ternama sebagai tim penilai.
"Nanti mampir ke Petra jangan lupa, Mas! Beliin payet sekalian untuk Nadya," pesan Riska pada Reza yang sudah selesai mengunci pintu tokonya. Pasangan suami istri berjalan beriringan menuju ke pintu keluar BTC di sisi barat.
"Nanti kamu yang bantuin mayet juga?" Tebak Reza sedikit terkekeh.
"Bantuin dikit paling," jawab Riska jujur.
"Enak banget jadi Nadya. Pantas aja dulu ngotot minta Mbak Riska yang jadi mbak iparnya. Ternyata ada udang di balik bakwan dan mendoan," ujar Reza sedikit berkelakar.
Riska hanya tertawa kecil mendengar guyonan Reza.
****
Malam menjelang.
"Mau kemana, Mbak?" Tanya Nadya saat melihat Mbak Riska yang sudah rapi dan sepertinya hendak pergi bersama Mas Reza.
"Ke belakang UMS. Nyari jajanan malam," jawab Mbak Riska.
"Mau ikut?" Tawar Mbak Riska selanjutnya pada Nadya.
"Boleh memang?" Tanya Nadya antusias.
"Boleh, dong! Ayo!" Mbak Riska segera merangkul Nadya dan keduanya keluar menuju ke teras, dimana Mas Reza sudah menunggu sejak tadi.
"Sudah siap, Ris?" Tanya Mas Reza pada Mbak Riska yang keluar bersama Nadya.
"Nadya mau ikut, Mas!" Ujar Mbak Riska memberikan laporan.
"Besok sekolah ngantuk, nggak?" Tanya Reza khawatir.
"Ya enggaklah! Lebay!" Mas Reza mengacak poni Nadya dan gadis itu semakin mencebik.
"Mas Reza jelek!" Gerutu Nadya sekali lagi sebelum gadis itu masuk ke dalam mobil masih sambil merengut.
"Ngambek, sudah!" Gumam Mbak Riska yang hanya geleng-geleng kepala.
"Nanti dibeliin pentol juga sembuh ngambeknya," celetuk Mas Reza enteng. Mas Reza dan Mbak Riska sudah menyusul Nadya masuk ke dalam mobil.
****
"Nama restonya apa, Yang?" Tanya Reza yang masih melajukan mobilnya perlahan seraya menengok ke kiri dan kanan mencari kedai es krim yang dimaksud oleh Riska.
"Apa, ya? Gelato gelato gitu, Mas! Aku juga lupa," jawab Riska seraya garuk-garuk kepala.
"Dali-Gelato, Mas!" Celetuk Nadya dari jok belakang.
"Nah, itu! Kok kamu malah tahu, Nad?" Tanya Riska seraya menoleh ke arah belakang dimana Nadya duduk.
"Ya, kan pernah kesana. Ditraktir teman," jawab Nadya seraya meringis dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Teman? Cewek apa cowok? Kok nggak pernah cerita?" Tanya Reza penuh selidik.
Mobil sudah berhenti di depan kedai es krim yang membuat Riska ngidam.
"Ce....wok," Nadya menjawab pertanyaan Reza dengan bergumam.
"Cewok?" Reza menatap penuh selidik pada Nadya.
"Cewek sama cowok, Mas!" Kilah Nadya sedikit salah tingkah.
"Kan lagi kesini anterin teman beli case buat ponsel. Trus nggak sengaja ketemu temennya temen aku, trus ditraktir deh di situ," cerita Nadya yang tetap membuat Mas Reza mengernyit tidak percaya.
Berbeda dengan Mbak Riska yang hanya menahan tawa. Sepertinya Mbak Riska sudah tahu tentang 'teman' yang dimaksud Nadya disini.
"Nggak usah pacaran dulu! Sekolah yang benar!" Reza menuding ke arah Nadya dan memberi peringatan pada adik kesayangannya tersebut.
"Iya, Mas! Siapa juga yang pacaran," rengut Nadya seraya melepas sabuk pengamannya.
"Ayo, Mbak Ris! Kita turun!" Ajak Nadya selanjutnya pada sang mbak ipar yang hanya tersenyum dan mengangguk.
Nadya dan Mbak Riska berjalan beriringan masuk ke dalam kedai, dan Mas Reza mengekor di belakang adik serta istrinya tersebut.
Tepat saat mereka baru mencari tempat untuk duduk, seorang cowok tiba-tiba menghampiri Nadya dan Mbak Riska lalu menyapa keduanya dengan hangat.
"Nadya, Mbak Riska, kesini juga?" Sapa cowok berkacamata yang sepertinya adalah seorang mahasiswa tersebut.
Reza yang sejak tadi mengekor di belakang Nadya dan Riska sontak mengernyit curiga serta bertanya-tanya.
Siapa cowok berkacamata itu?
.
.
.
Timing aku cepetin biar nggak jenuh.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.