NADYA

NADYA
MASIH MARAH



Reza, Nadya, Bunda Maya, dan Papa Teddy berjalan masuk ke sebuah pemakaman setelah mereka berempat turun dari mobil. Mereka memang berniat untuk berkunjung dulu ke makam Ayah Yoga sebelum kembali pupang ke Solo.


Bagaimanapun, Ayah Yoga adalah ayah kandung dari Nadya dan Reza.


Nadya, Bunda Maya dan Pak Teddy sudah berjongkok mengelilingi makam ayah Yoga sekarang. Sefangkan Reza tak mau berjongkok dan hanya menatap marah pada makam tersebut serta pada batu nisan yahg tertancap di atasnya.


"Mas Reza!" Tegur Nadya seraya memberikan kode pada Reza agar ikut berjongkok serta berdoa di makam ayah kandungnya. Namun Reza tak menggubris dan pria itu malah bersedekap.


Nadya akhirnya bangkit berdiri dan mrmaksa sang Mas untuk ikut berjongkok. Reza menurut, tapi tetap saja, Reza tak mau ikut berdoa. Nadya hanya geleng-geleng kepala.


Reza tentu saja masih marah pada mendiang ayah Yoga yang tak bisa menahan diri dan gampangan sekali celup sana sini.


Ya, andai Ayah yoga tak khilaf dan bisa menahan diri untuk tak berselingkuh dengan mamanya Reza, mungkin Reza sudah menikah dengan Nadya sekarang.


Tapi kalau Ayah Yoga tak berselingkuh dengan mama Inez, mungkin Reza juga tak akan pernah ada dan tak akan pernah lahir ke dunia ini. Pak Teddy saja dinyatakan mandul oleh dokter.


Hhhh!


Rumit sekali hidup ini.


Setelah berdoa seperlunya dan sedikit membersihkan makam serta mencabuti rumput di sekeliling makam, empat orang itupun akhirnya pergi meninggalkan pemakaman.


****


Nadya merapikan bajunya sekali lagi sebelum keliar dari kamar. Sudah sejak pulangbdari Jogja kemarin sore, Nadya tak lagi cerewet dan banyak bicara. Pun dengan Reza yang juga jadi irit bicara. Dua saudara itu sama-sama masih shock ddngan identitas asli mereka.


"Sarapan dulu, Nad!" Ucap Bunda Maya pada Nadya yang baru keluar dari kamar.


Reza sudah di teras memanaskan motornya dan sepertinya akan mengantar Nadya ke butik pagi ini seperti sebelum-sebelumnya.


"Mas Reza sudah sarapan, Bund?" Tanya Nadya yang sudah mengambil piring dan menyendok nasi goreng yang disiapkan Bunda Maya. Ada telur ceplok dan irisan timun juga sebagai pelengkap.


"Sudah tadi. Sarapan bareng papa kamu," jawab Bunda Maya.


"Trus Papa?" Tanya Nadya lagi karena tak melohat keberadaan Pak Teddy.


"Ke pabrik pagi-pagi, karena ada hal penting yang harus di urus. Nanti kamu berangkat sama Mas kamu, ya!" Bunda Maya menepuk pundak Nadya sebelum berlalu ke halaman belakang untuk menjemuri baju yang sudah selesai dikeringkan di mesin cuci.


Reza masuk ke ruang makan saat nasi di piring Nadya tinggal separo.


"Makan kok seuprit. Tambahin lagi!" Reza tiba-tiba sudah menambahkan nasi lagi ke atas piring Nadya yang tentu saja membuat Nadya kaget.


"Mas Reza!" Cebik Nadya seraya menghentak-hentakkan kakinya ke atas lantai.


"Apa? Habiskan cepat! Telat nanti datang ke butik, potong gaji!" Reza kembali menggoda Nadya.


"Memangnya Nadya karyawan? Cuma anak Prakerin juga. Telat dikit nggak apa-apa," kelit Nadya seraya menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Reza hanya mencibir dan lanjut menyesal kopi di gelas yang ada di depannya.


Lah, sejak kapan ada kopinya Mas Reza di situ?


"Mas Reza nanti ke toko kain?" Tanya Nadya selanjutnya membuka obrolan.


"Ya!" Jawab Reza singkat dan padat.


"Habisin nasinya, Nad!" Titah Reza seraya mengendikkan dagunya ke arah nasi goreng Nadya.


"Kenyang, Mas! Gara-gara Mas tambahin tadi," Cebik Nadya mencari alasan.


"Cuma ditambahin dikit juga! Manja!" Ledek Reza yang langsung menggeser piring Nadya ke hadapannya, lalu menambahkan tekur ceplok dan mulai memakan nasi goreng sisanya Nadya dengan lahap.


"Loh, Nad! Belum berangkat?" Tanya Bunda Maya karena Nadya yang masih duduk di ruang makan bersama Reza.


"Masih nungguin Mas Reza makan, Bund," jawab Nadya seraya menunjuk ke arah Reza yang masih makan dengan lahap.


"Lho. Lapar lagi, Za?" Bunda Maya terkekeh dan geleng-geleng kepala.


"Ngabisin nasi gorengnya Nadya, Bund! Manja, sok nggak habis, disuruh ngabisin malah nangis," jawab Reza sedikit menggoda Nadya yang kini merengut.


"Mana ada!" Kelit Nadya galak.


"Mas Reza tadi yang nambahin nasi ke piring Nadya, Bund! Makanya Nadya nggak habis," lapor Nadya mdngadu pada sang Bunda.


"Iya, sudah! Berangkat sana biar nggak telat!" Titah bunda Maya seraya mengusap lembut kepala Nadya.


"Antar Nadya dulu, Bund," pamit Reza seraya meraih tangan Bunda Maya dan menciumnya.


Nadya yang masih merengut ikut beranjak dan berpamitan pada Bunda Maya. Nadya menyusul langkah Reza yang kini sudah nangkring di atas motor. Setelah memakai helm, Nadya bergegas naik ke atas motor Reza.


"Lah, nggak salah kostum kamu, Nad?" Tanya Reza tiba-tiba saat Nadya sudah naik ke atas motornya.


"Salah kostum apanya? Orang seragamnya bebas, kok! Yang penting sopan kata Bu Lala," jawab Nadya sedikit bersungut.


"Trus sepatu kamu kemana? Kok pakai sendal jepit begini?" Tanya Reza lagi menunjuk ke arah kaki Nadya yang hanya memakai sendal jepit warna ijo gambar beruang.


"Nggak usah pakai sepatu! Kan ujung-ujungnya juga di lepas. Di dalam butik duduk lesehan."


"Kata Mbak Riska pakai sendal aja, biar kalau mau keluar jajan juga enak," jawab Nadya panjang lebar yang hanya membuat Reza mengendikkan kedua bahunya.


"Yaudah! Pegangan biar nggak nggeblak!" Reza meraih lengan Nadya dan melingkarkannya ke pinggang seperti sebelum mereka jadi kakak adik.


"Kita bukan pacar, Mas!" Nadya mengingatkan Reza.


"Iya, trus? Emangnya cuma orang pacaran yang boleh nyetut begini? Kakak adik juga boleh kok kayak gini," Sahut Reza yang hanya membuat Nadya membisu.


Nadya akhirnya tak protes lagi dan berpegangan pada pinggang Reza, sebelum Masnya itu melajukan motor meninggalkan rumah dan menuju ke butik.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.