
"Jadi hari Senin Nadya izin lagi, ya?" Tanya Mbak Riska sekali lagi setelah Reza minta izin pada penanggung jawab butik tersebut.
"Iya, Ris."
"Ini yang terakhir bulan ini," janji Reza lagi pada teman lamanya tersebut.
"Yaudah, nanti aku sampein ke Bu Lala."
"Tapi setelah ini jangan kamu culik-culik lagi Nadya! Kasihan nanti kalau nilai prakerin jadi kurang," pesan Riska akhirnya pada Reza.
"Iya! Makasih banget, yo!" Reza menepuk punggung Riska tanpa pria itu tahu kalau Nadya yang sedang mengawasi keduanya dari jendela butik, kini merengut melihat kedekatan Reza dan Riska.
"Trus ini mau langsung jemput Nadya atau nunggu Nadya pulang dulu?" Riska melirik arloji yang melingkar di tangannya.
"Masih satu jam lagi," gumam Riska selanjutnya.
"Aku jemput sekarang bisa? Atau kalau nggak bisa aku tungguin aja sampai jam empat," tanya Reza pada Riska.
"Bentar aku lihat dulu kerjaannya Nadya udah beres belum. Tadi aku suruh pasang kancing sama nge-sum kelim bawah," jawab Riska seraya bangkit dari duduknya. Gadis berjilbab itu masuk ke dalam butik untuk memeriksa pekerjaan Nadya.
Tak berselang lama, Riska sudah keluar lagi ke teras butik untuk menemui Reza.
"Masih kurang sedikit, Za! Kamu tungguin dulu, ya!" Ucap Riska pada Reza yang hanya mengangguk. Riska sendiri kembali masuk ke dalam butik untuk melanjutkan pekerjaannya.
****
Pukul empat kurang lima belas menit, Reza dan Nadya akhirnya meninggal butik. Namun sepanjang perjalanan, Nadya tetap merengut karena mengingat Reza yang tadi ngobrol akrab bersama Mbak Riska cukup lama.
"Kenapa, sih, Nad? Kok merengut sejak tadi?" Tanya Reza merasa heran.
Nadya dan Reza sudah tiba di rumah. Terlihat Pak Teddy yang sudah memasukkan dua tas ransel ke dalam mobil yang sepertinya berisi baju-baju dan semua keperluan saat di Jogja nanti.
"Siapa yang merengut, ih! Dasar sok tahu!" Jawab Nadya yang langsung masuk ke dalam rumah seraya menghentak-hentakkan kakinya. Gadis itu juga tak melepas helm yang masih terpasang di kepalanya.
"Nad! Helm!" Seru Reza mengingatkan sang adik sambung.
"Mau Nadya simpan di kamar!" Sahut Nadya sebelum gadis itu menghilang ke dalam kamarnya.
"Kamu apain adik kamu, Za? Kenapa pulang-pulang udah merengut begitu?" Tegur Pak Teddy meminta penjelasan Reza.
"Nggak Reza apa-apain, Pa! Dari tadi ditanya juga bilangnya nggak apa-apa terus. Reza kan bingung dia kenapa," jawab Reza seraya garuk-garuk kepala.
"Sepertinya sedang PMS mau dapat tamu bulanan, Mas! Suka gitu memang si Nadya kalau udah dekat-dekat jadwal," ujar Bunda Maya yang sudah ikut keluar dan memasukkan beberapa barang yang tertinggal ke dalam mobil.
"Tu! Udah dijawab sama Bunda yang lebih paham, Pa! Sedang PMS!" Ucap Reza dengan nada lebay.
"Iya, iya! Ngomongnya biasa aja, Za! Sampai muncrat semua begitu!" Cibir Pak Teddy sedikit berkelakar.
Reza ikut-ikutan mencibir sebelum pemuda itu masuk ke dalam rumah.
Tepat pukul 16.30, mobil yang membawa keluarga Pak Teddy mrlaju meninggalkan rumah. Reza yang terlebih dulu menyetir dan nanti rencananya akan gantian dengan Pak Teddy jika sudah sampai di daerah Klaten atau Prambanan. Nadya dan Bunda Maya duduk di jok belakang dan keduanya hanya saling diam.
Nadya juga sedang menikmati makanannya, jadi gadis itu tak banyak bicara.
"Macet, Pa! Malam minggu," keluh Reza saat mereka baru tiba di kawasan Kartasura yang lalu lintasnya memang padat merayap.
"Yasudah pelan-pelan!"
"Rumahnya Eyang Putri juga nggak bakal lari kemana-mana, Za!" Ujar Pak Teddy sedikit berkelakar.
Semua yang ada di dalam mobil tertawa, kecuali Nadya tentu saja karena gadis itu masih asyik makan.
"Enak makanannya, Nad? Sampai khusyuk gitu yang makan," celetuk Reza yang melihat Nadya dari spion tengah.
"Enak!" Jawab Nadya singkat dan padat.
"Yang bagus jawabnya! Kenapa ketus begitu?" Tegur Bunda Maya seraya mdngusap kepala sang putri.
"Masih PMS, Bund! Udah Reza maklum, kok!" Kekeh Reza yang lagi-lagi harus menginjak pedal rem karena bertemu lampu merah.
"Kapan-kapan main ke Janti, seru kayaknya, Za!" usul Pak Teddy menunjuk ke arah jalan yang menuju ke area pemancingan Janti yang cukup terkenal.
"Nadya minta ke Sarangan itu, Pa! Kok malah diajak ke Janti," jawab Reza yang kembali melirik ke arah Nadya yang rupanya sudah selesai makan.
"Kok Nadya, sih? Kan kemarin Mas Res yang mau ngajakin Nadya!" Protes Nadya dari jok belakang.
"Wah, bahaya ini!"
"Kalau ke Saranagn jangan berdua, lho, Za! Nanti bareng Papa sama Bunda!" Ujar Pak Teddy memperingatkan Reza.
"Iya, Pa! Kan baru rencana. Nanti aja pas udah sah-" Reza buru-buru tutup mulut.
Hampir keceplosan!
"Sahnya kan masih lama, Mas! Nunggu Nadya lulus!" Celetuk Nadya lagi sedikit mengernyit bingung.
"Iya, berarti nanti ke Sarangannya nunggu kamu lulus, Nad!" Jawab Reza sedikit meringis.
"Nanti sementara bisa ke Janti dulu sesuai usul dari Papa tercinta!"
"Lele bakar juga lebih enak ketimbang sate kelinci," lanjut Reza sebelum pria itu bersenandung kecil.
Tanpa terasa, mobil sudah masuk wilayah Prambanan yang merupakan perbatasan Jogja dengan Kabupaten Klaten, bersamaan dengan waktu Maghrib yang datang menjelang.
"Cari masjid dulu, Za! Sekalian nanti gantian yang nyetir," titah Pak Teddy pada Reza.
"Siap, Pa!"
****
"Kenapa, sih? Marah sama aku?" Tanya Reza menghampiri Nadya yang sudah kembali duduk di jok belakang mobil.
Keduanya baru selesai menunaikan sholat maghrib di masjid. Sedangkan Pak Teddy dan Bunda Maya tadi pamit membeli makanan di warung yang berada di dekat masjid.
"Enggak, yo! Mas Res sok tahu!" Nadya memukul lengan Reza yang hanya terkekeh kecil.
"Yaudah, jangan merengut!" Reza mentowel bibir Nadya.
"Mau liburan, kok, malah merengut," lanjut Reza lagi seraya membuka ponselnya karena ada pesan masuk.
"Nadya ngantuk, Mas!" Ucap Nadya seraya melipat kakinya ke atas dan menyandarkan kepalanya ke bahu Reza.
"Nanti bobok aja, nggak apa-apa," jawab Reza santai sambil tangannya mengetik balasan pesan di ponselnya.
Nadya melirik ke layar ponsel Reza karena kepo. Rupanya Reza sedang bertukar pesan dengan Mas Mario. Nadya langsung bernafas lega.
"Masih jauh, ya, Mas?" Tanya Nadya lagi masih bersandar di bahu Reza.
"Sejam lagi, mungkin," jawab Reza mengira-ngira.
Pak Teddy dan bunda Maya sudah kembali ke mobil.
"Nadya kenapa, Za? Mabuk?" Tanya Bunda Maya karena melihat Nadya yang menyandarkan kepalanya di bahu Reza.
"Ngantuk katanya, Bund!" Jawab Reza seraya mengusap kepala Nadya yang sudah mulai memejamkan matanya.
"Udah kamu duduk di depan saja, May! Reza biar di belakang sama Nadya," titah Pak Teddy memberikan arahan pada sang istri.
"Ciyee! Yang minta ditemani di depan. Tambah semangat nanti yang nyetir," goda Reza pada sang Papa.
"Hilih! Sotoy kamu, Za!" Sahut Pak Teddy yang sok-sokan pakai bahasa gaul.
"Soto enak, Pa!" Sahut Reza yang malah membahas tentang makanan.
Reza membenarkan posisi Nadya yang sudah tertidur. Sepertinya gadis itu benar-benar kelelahan dan mengantuk.
"Ini wedang jahe pesanan kamu, Za!" Bunda Maya mengulurkan seplastik wedang jahe hangat untuk Reza yang kini sudah duduk rapi di jok belakang. Bunda Maya dan Pak Teddy juga sudah menempati posisi mereka di jok depan, dan tanpa menunggu lama lagi, mobil kembali melaju ke arah rumah Eyang Putri di daerah Bantul, Jogjakarta.
****
Tepat pukul delapan malam, mobil minibus Pak Teddy akhirnya tiba di depan sebuah rumah bergaya jawa klasik yang lumayan besar. Nadya masih terlelap di jok belakang seraya bersandar pada bahu Reza. Sedangkan Bunda Maya juga tertidur di jok depan sejak setengah jam yang lalu.
"May," Pak Teddy membangunkan Bunda Maya dengan lembut karena mereka memang sudah sampai.
"Iya, Mas, sudah sampai, ya?" Bunda Maya langsung bangun dan menggosok-gosok matanya yang sepertinya masih mengantuk.
Sedangkan di jok belakang, Reza juga sudah berhasil membangunkan Nadya yang kini sedang meregangkan otot-ototnya.
"Rumahnya besar, Mas!" Celetuk Nadya setelah melihat rumah Eyang Putri.
Bunda Maya ikut melihat ke rumah besar yang ada di depan mobil Pak Teddy, dan wanita paruh baya itu langsung membeku tak percaya.
Tidak mungkin!
.
.
.
Dudududu
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.