
"Nad, di suruh ke rumah Bu Lala!" Ucap Mbak Riska yang baru saja kembali ke butik. Tadi Mbak Riska juga dari rumah Bu Lala.
"Ngapain, Mbak?" Tanya Nadya bingung.
"Mau bahas gambar desain kamu kemarin itu kayaknya. Nggak tahu juga. Buruan sana!" Jawab Mbak Riska menyuruh Nadya bergegas.
Nadya segera meletakkan kebaya yang ada di pangkuannya dan beranjak berdiri. Nadya keluar dari buti, memakai sandal beruangnya, dan segera menuju ke rumah Bu Lala yang bersebelahan dengan butik.
"Assalamualaikum, Bu-" Nadya sedikit kaget karena saat mengucapkan salam yang keluar malah cowok berkacamata yang kemarin bertanya tentang Bu Lala pada Nadya.
"Walaikum salam. Masuk, Nad!" Seru Bu Lala dari dalam rumah.
"Silahkan, Mbak!" Ucap cowok berkacamata tadi ikut mempersilahkan Nadya dan mejberi jalan untuk Nadya lewat. Cowok itu lanjut duduk di kursi teras dan memakai sepatunya.
Tapi kok manggil Nadya Mbak, sih?
Emang muka Nadya udah kayak mbak mbak?
Nadya masuk ke dalam rumah Bu Lala dan langsung duduk di kursi ruang tamu setelah dipersilahkan.
"Ada apa, ya, Bu?" Tanya Nadya takut-takut.
Ya, meskipun Bu Lala tidak galak dan tak pernah marah-marah selama Nadya prakerin, tetap saja Nadya merasa segan pada pemilik butik ini.
"Soal gambar desain ka-" Bu Lala belum menyelesaikan kalimatnya, saat cowok berkacamata tadi memanggil Bu Lala dari ambang pintu.
"Tante, kunci motornya lupa Zikri ambil."
"Di gantungan dekat kamar, Zik!" Jawab Bu Lala pada cowok berkacamata tersebut.
Sepertinya keponakannya Bu Lala, mengingat si cowok yang ternyata namanya Zikri itu memanggil Bu Lala dengan sebutan Tante.
"Udah pakai sepatu, Tan!" Zikri garuk-garuk kepala dan mencari alasan.
"Ish! Kamu itu banyak alasan!" Decak Bu Lala yang akhirnya beranjak dari kursinya dan mengambilkan kunci motor untuk Zikri.
"Zikri berangkat, Tante! Assalamualaikum," pamit Zikri sekalian mencium punggung tangan tantenya tersebut.
"Walaikum salam! Hati-hati bawa motornya, Zik!" Pesan Bu Lala pada Zikri sebelum keponakannya tersebut meninggalkan halaman rumah menaiki motor matic milik Bu Lala.
Bu Lala sudah kembali duduk di kursi ruang tamu lagi bersama Nadya yang sejak tadi menunggunya.
"Keponakan, ribut mau cari kost-kost-an," cerita Bu Lala sedikit terkekeh.
"Kuliah, ya, Bu?" Tebak Nadya berbasa-basi.
"Iya, baru masuk tahun ini di UMS, Fakultas Kedokteran," jawab Bu Lala yang langsung membuat Nadya membulatkan bibirnya.
Keren juga keponakan Bu Lala. Udah ganteng, pakai kacamata, calon dokter pula.
Eh!
"Jadi, soal gambar desain kamu," Bu Lala kembali membahas tentang coretan Nadya yang baru kemarin Nadya serahkan pada Bu Lala.
"Ini gambar sendiri, ya?" Tanya Bu Lala memastikan.
"Iya, Bu!" Jawab Nadya seraya meringis.
"Bagus dan rapi. Gambarnya juga jelas sekali. Tapi kalau kamu warnai lebih bagus lagi, Nad," ucap Bu Lala memuji hasil karya Nadya.
"Memang suka gambar, ya?" Tanya Bu Lala lagi menyelidik.
"Iya, Bu. Sudah dari SD suka gambar," jawab Nadya seraya menunduk.
"Besok lulus SMK lanjut ke sekolah desain, ya! Biar semakin terasah kemampuan kamu," saran Bu Lala selanjutnya.
"Iya, rencananya juga begitu, Bu! Mudah-mudahan bisa lanjut!" Jawab Nadya yang masih menunduk sesekali.
"Aamiin!"
****
"Nad, sudah tidur?" Suara Reza mengiringi suara ketukan di jendela kamar Nadya, membuat Nadya yang sedang berusaha memejamkan matanya jadi melek lagi.
Nadya bangkit dari atas tempat tidur dan menyibak gorden, lalu membuka kaca jendela kamarnya.
"Mau nasi kucing? Gorengan? Sundukan? Wedang jahe?" Tawar reza menawarkan semua menu yang ada di angkringan.
"Udah jam sebelas. Mana ada sundukan?" Sungut Nadya yang hanya membuat Reza terkekeh.
"Kali aja masih ada. Mau aku bawakan nanti?" Tawar Reza seraya mengacak rambut Nadya yang merengut.
"Mas bukannya mau nongkrong?" Tanya Nadya yang seolah sudah hafal kebiasaan Reza setiap malam yang suka nongkrong ke warnet dekat rumah, lalu baru pulang ke rumah tengah malam. Kadang juga lewat tengah malam baru pulang.
Nggak tahu sebenarnya ngapain pas nongkrong itu.
"Kan pulang bentar antar sundukan buat kamu bisa," jawab Reza enteng.
"Yaudah terserah. Sate ususnya dibanyakin kalau ada," pesan Nadya pada Reza.
"Siap! Kunci jendelanya! Nanti aku ketuk lagi kalau udah datang sate ususnya," titah Reza sebelum pria itu berbalik dan pergi.
Nadya hanya mengendikkan bahu dan segera mengunci jendela kamarnya.
****
Reza sedang membungkus sundukan pesanan Nadya, saat seseorang masuk ke tenda angkringan dan suaranya tak asing di telinga Reza.
"Ada, Pak! Masih komplit disini," ucap gadis itu yang juga ikut kaget melihat Reza.
"Rez, lagi nyari makan malam?" Sapa Riska sedikit canggung.
"Cemilan tengah malam lebih tepatnya, Ris!" Sahut reza mengoreksi.
"Sama siapa?" Tanya Reza selanjutnya berbasa-basi pada Risa.
"Sama Bapak. Lagi nyari sundukan ini, ada yang ngidam," jaeab Riska seraya mengambil plastik untuk membungkus sundukan yang akan ia beli.
Tapi saat mengambil satu sate usus, tangan Riska malah tak sengaja bertabrakan dengan tangan Reza yang juga hendak mengambil sate usus.
Eh!
"Sorry!" Ucap Riska yang cepat-cepat menarik tangannya.
"Tinggal dua. Udah buat kamu semua saja, katanya lagi ngidam," Ucap Reza seraya mengambil dua satu usus yangbtersusa dan memasukkannya ke plastik yang dipegang Riska.
"Ris, sudah belum?" Tanya Pak Sapta seraya melongokkan kepalanya ke dalam tenda angkringan katrna Ridka yang tak kunjung keluar.
"Tinggal bayar, Pak! Bentar," jawab Riska yang sedikit tergagap dan salah tingkah.
"Malam, Pak! Sapa Reza pada bapak kandung Riska tersebut.
"Oh, Reza. Jajan juga, Za?" Pak Sapta membalas sapaan Reza.
"Iya, Pak." Jawab Reza.
"Sudah, Pak! Ayo pulang!" Lapor Riska seraya mendahului sang Bapak menuju ke arah motor. Sedangkan Pak Sapta masih mengobrol bersama Reza. Tapi tak lama, Pak Sapta sudah menyusul Riska ke arah motor, lalu bapak dan anak tersebut segera pergi meninggalkan angkringan.
Reza mengambil ponselnya di dalam saku sambil berjalan pulang. Pemuda itu mengetikkan pesan di ponselnya untuk Riska.
[Kamu yang lagi ngidam, ya, Ris?] -Reza-
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.