NADYA

NADYA
CEMBURU?



Motor Vixion Reza masuk ke area parkir yang berada di depan Solo Square.


"Ketemuannya disini, Mas?" Tanya Nadya yang sudah turun dan melepas helm-nya.


"Iya, di gerai donat Joko kata Papa," jawab Reza seraya terkekeh.


"Joko?" Nadya mengerutkan kedua alisnya karena bingung.


"Kayak nama guru olahraga Nadya. Emang ada, ya?" Lanjut Nadya masih bingung.


"JCO, Nad!" Tukas Reza seraya menyelipkan rambut Nadya yang lolos dari ikatan ke belakang telinga gadis itu.


"Oh." Nadya membulatkan bibirnya.


"Ayo masuk!" Ajak Reza seraya menggandeng tangan Nadya dan mengajaknya masuk ke pintu utama Mall. Keduanya langsung menuju ke gerai donat yang berada di lantai dua mall. Aroma harum dari rerotian langsung menyergap hidung Nadya, karena selain gerai donat, ada gerai roti laki laki dan roti yang bisa bicara yang terkenal itu juga di lantai dua mall.


"Mana Papa, ya?" Gumam Reza seraya celingukan ke dalam gerai. Masih sepi dan Reza tak melihat Pak Teddy di dalam gerai.


"Aku telepon Papa sebentar," izin Reza sambil melepaskan gandengan tangannya pada Nadya. Reza merogoh ponsel di sakunya dan langsung menghubungi Pak Teddy.


"Halo! Sudah dimana, Za?" Sambut Pak Teddy dari ujung telepon.


"Sudah sampai di lokasi, Pa! Papa dimana?" Reza balik bertanya pada sang papa.


"Masih di jalan ini. Macet, malam minggu."


"Ck! Jam karet!" Cibir Reza pada sang papa.


"Ya kamu tunggu dulu! Pesan donatnya dulu kan bisa."


"Iya,iya! Cepetan, Pa! Sebelum Maghrib ini anak gadis orang sudah harus Eza antar pulang," Perintah Reza pada sang papa.


"Iya, iya! Tu, lampunya udah ijo!" Jawab Pak Teddy sebelum panggilan terputus.


"Dimana, Mas?" Tanya Nadya setelah Reza menyimpan kembali ponselnya.


"Masih di jalan katanya. Ayo kita duduk duluan!" Ajak Reza yang sudah ganti merangkul Nadya untuk masuk ke dalam gerai. Pasangan itu duduk di salah satu kursi yang berada di dalam gerai setelah memesan donat terlebih dahulu.


"Ehem!" Nadya berdehem setelah menyedot minumannya yang baru diantar oleh waitress.


"Jadi, Mas Res sama Mbak Riska itu ada hubungan apa? Mantan pacar?" Tanya Nadya menyelidik sekaligus menginterogasi Reza.


"Teman SMA, Nad! Nggak pernah pacaran juga."


"Cuma dulu itu kan pas aku SMA, duduknya memang dicampur cewek sama cowok. Nah, kebetulan aku sebangku sama Riska," tutur Reza menjelaskan pada Nadya.


"Mas Res emang dulu SMAnya dimana?" Tanya Nadya lagi masih bekum berhenti menyelidik.


"Di Jogja. Riska dulu kan ikut mbahnya di Jogja juga. Trus setelah lulus SMA, Riska pulang ke rumah orang tuanya. Aku juga baru tahu kalau ternyata orangtua Riska rumahnya di Solo," jelas Reza sekali lagi yang tetap saja tak mengurangi rasa mengganjal di hati Nadya.


"Cemburu, ya?" Goda Reza seraya mencubit dagu Nadya yang menggemaskan.


"Nggak, kok! Siapa juga yang cemburu," kilah Nadya yang bibirnya sudah berubah mengerucut.


"Maem donatnya!" Reza mengambil donat di depan Nadya dan menyuapkannya pada gadis tujuh belas tahun tersebut.


"Nadya bisa makan sendiri, Mas," cicit Nadya yang he dak mengambil alih donat yang dipegang oleh Reza, namun Reza menolak dan tetap menyuapi Nadya.


"Udah, Mas!" Cebik Nadya saat Reza terus saja menyumpalinya dengan donat.


"Makan yang banyak! Biar cepat gede!" Celetuk Reza seraya terkekeh.


"Apanya yang gede? Perasaan ini Nadya juga udah udah gede. Udah tujuh belas tahun," jawab Nadya pamer. Reza semakin terkekeh dan ganti menyuapkan donat ke mulutnya sendiri.


"Papanya Mas Res belum datang, ya?" Nadya kembali celingukan ke arah pintu masuk gerai.


"Nadya ke toilet dulu, ya, Mas! Mendadak kebelet," izin Nadya pada Reza.


"Oke!"


****


Bunda Maya dan Pak Teddy berjalan beriringan masuk ke dalam mall Solo Square yang sore ini terlihat padat. Mungkin karena ini akhir pekan ditambah adanya gelaran fashion show untuk anak-anak di atrium mall, membuat suasana mall kian berjubel.


"Pak!" Panggil Maya pada Pak Teddy setelah keduanya naik eskalator ke lantai dua, tempat gerai JCO berada.


"Ada apa, May?" Tanya Pak Teddy yag langsung menghentikan langkahnya.


"Saya ke toilet sebentar," izin Maya pada Pak Teddy.


"Oh, oke! Mau aku tunggu?" Tawar Pak Teddy yang sudah menghampiri Maya.


"Nggak usah, Pak! Nanti saya langsung menyusul Pak Teddy saja dari toilet," jawab Maya menolak tawaran Pak Teddy.


"Baiklah. Itu gerainya di sana," Pak Teddy menunjuk ke gerai donat tempat ia akan bertemu Reza dan pacarnya.


"Iya, Pak. Saya ke toilet dulu," pamit Bunda Maya seraya berlalu ke arah toilet wanita. Sementara Pak Teddy langsung mengayunkan langkahnya masuk ke dalam gerai donat dan mencari keberadaan Reza.


"Pa!" Panggil Reza seraya mengangkat tangannya ke arah Pak Teddy.


Pak Teddy hanya tersenyum dan mengangguk lalu menghampiri putranya tersebut.


"Mana calon Mama Reza, Pa? Papa umpetin dimana?" Cecar Reza mencari-cari keberadaan wanita paruh baya beranak satu yang akan dikenalkan Pak Teddy kepadanya.


"Ke toilet sebentar tadi katanya," jawab Pak Teddy seraya duduk di depan Reza dan menyesap kopi sang putra.


"Pesan sendiri, Pa!" Omel Reza yang hanya ditanggapi Pak Teddy dengan kekehan.


"Pesanin! Yang sama plek dengan punyamu!" Titah Pak Teddy yang kembali menyesap kopi Reza.


Reza hanya berdecak dan memesan kopi lagi untuk dirinya dan sang Papa.


"Trus anaknya mana? Ke toilet juga?" Tanya Reza yang penasaran sekali dengan calon adik tirinya.


"Nggak ikut. Katanya mau ketemu camer," jawab Pak Teddy.


"Katanya masih sekolah? Kok udah punya camer?" Tanya Reza bingung.


"Udah ada yang nembung kata Maya. Kalah kamu, Za!" Ledek Pak Teddy pada Reza.


"Ck! Reza juga baru saja nembung anak gadis orang. Nanti lulus tinggal ijab sah," sahut Reza sombong.


"Nah itu! Mana calon istri kamu? Kamu umpetin dimana?" Pak Teddy balik melontarkan pertanyaan pada Reza.


"Pamit ke toilet juga tadi, Pa. Nggak tahu kenapa para kaum hawa suka sekali ke toilet kalau lagi di mall," Reza mengendikkan bahu.


"Biar bisa nebalin bedak atau benerin lipen," jawab Pak Teddy asal yang langsung membuat Reza terkekeh.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.