NADYA

NADYA
EZA SIAPA?



"Mborong, Nad?" Tanya Lita yang tiba-tiba sudah ada di warung angkringan, saat Nadya hendak pulang. Nadya memang menenteng dua kantong plastik berisi makanan aneka rupa dari angkringan.


"Lagi ada tamu," jawab Nadya seraya meringis.


"Siapa? Mas Res nglamar kamu? Kapan ijab sahnya?" Cecar Lita yang tentu saja membuat Nadya ingin menyumpal mulut temannya itu dengan pisang goreng yag baru diangkat dari penggorengan.


Biar mlonyoh sekalian!


"Ngawur! Tamunya Bunda, kok!" Jawab Nadya sedikit bersungut.


"Ck! Kirain Mas Res," Lita berdecak kecewa.


"Tapi ngomong-ngomong, Mas Res udah nemuin rumah kamu tadi siang, kan?" Lita bertanya sekaligus terkikik.


"Udahlah! Yang ngasih tahu Si Lit ember borot!" Jawab Nadya pura-pura sinis.


Lita langsung berdecak seperti biasa.


"Trus Mas Res ngapain tadi siang? Nggak nglamar kamu atau ngajak kamu ijab sah, gitu?" Tanya Lita lagi meraa kepo.


Ya, ya, ya!


Harusnya Si Lit Lita ini memang mendapat penghargaan sebagai Miss Kepo Of The Year atas prestasinya yang selalu merasa kepo.


"Ngapain? Ya cuma ngobrol sama bunda, diomeli bunda juga," cerita Nadya yang langsung membuat Lita tergelak.


"Habis diomeli, besok dijadiin mantu kayaknya," kikik Lita menimpali cerita Nadya.


"Ck! Dasar sotoy!" Nadya menoyor kepala Lita namun meleset.


"Udah, pulang sana! Tamu bundamu pingsan nanti sundukannya kamu kekepin begitu!" Kikik Lita menunjuk ke arah plastik berisi aneka sundukan yang tadi dipesan oleh Pak Teddy.


"Ck! Dasar Si Lit kandi amoh!" Cibir Nadya sebelum berlalu pergi dan mengayuh sepeda Bunda Maya ke arah rumahnya.


****


"Nanti Eza tidak marah, Pak?" Tanya Bunda Maya membuka obrolan.


"Marah kenapa?" Pak Teddy balik bertanya seraya menyesap teh yang tadi disajikan oleh Nadya.


"Ya, mungkin dia keberatan punya ibu sambung baru." Bunda Maya menundukkan wajahnya dan masih merasa canggung pada Pak Teddy.


"Ya enggaklah, May! Lha wong Eza yang nyuruh aku cari istri baru dari dulu. Katanya biar pulang ke rumah dan nggak tidur di pabrik melulu," jawab Pak Teddy seraya tertawa.


"Eza dirumah sendiri berarti tiap malam, ya, Pak? Umur berapa memang?" Tanya Bunda Maya lagi mengorek informasi.


Maya memang tak banyak tahu tentang Eza anaknya Pak Teddy, karena Pak Teddy juga tak banyak cerita. Wajahnya Eza saja Bunda Maya juga belum tahu.


"Umur dua puluh lima. Bujang karatan dia." Pak Teddy kembali terkekeh.


"Disuruh nikah nanti-nanti terus. Nggak tahu nungguin apa," lanjut Pak Teddy yang masih terkekeh.


"Ya, mungkin memang belum ketemu sama jodohnya, Pak!" Ujar Bunda Maya mencoba berpikir bijak.


"Nanti kalau sudah ketemu sama jodohnya, juga pasti langsung nikah," sambung Bunda Maya lagi yang kata-katanya terdengar menyejukkan bagi Pak Teddy.


Sepertinya Pak Teddy memang tak salah memilih calon istri.


"Oh, ya. Ngomong-ngomong, Nadya kapan libur sekolah, ya, May?" Tanya Pak Teddy lagi mengalihkan pembicaraan.


"Nanti sebelum puasa kayaknya, Pak. Ada apa, ya?" Bunda Maya balik bertanya.


"Kau sama Nadya mau aku ajak ke Jogja gitu, aku kenalkan ke keluarga besarku yang ada di Jogja," jelas Pak Teddy yang sesaat membuat Bunda Maya tertegun.


Jogja?


Kota yang selalu ingin Maya lupakan karena awal mula hidup Maya menjadi kacau adalah di kota itu.


Pertemuan Maya dengan Mas Yoga juga di kota itu saat Maya tengah kuliah di sana.


Lalu Mas Yoga juga berasal dari Jogja.


"May, kok melamun?" Tegur Pak Teddy yang langsung membuat lamunan Bunda Maya menjadi buyar.


"Eh. Tidak, kok, Pak!" Bunda Maya sedikit tergagap.


"Iya. Dulu pindah ke Jakarta setelah menikah dengan mamanya Eza. Lalu setelah mamanya Eza meninggal, aku dan Eza pulang ke Jogja lagi. Dan baru awal tahun kemarin aku dan Eza pindah ke Solo," terang Pak Teddy yang langsung membuat Bunda Maya mengangguk.


"Nanti kamu sama Nadya pindah ke rumah yang di Banyuanyar saja, ya! Setelah kita menikah," ucap Pak Teddy lagi memaparkan rencananya ke depan.


"Nadya ke sekolah kan juga tidak terlalu jauh. Nanti dibelikan motor saja anaknya," sambung Pak Teddy lagi.


"Tidak usah, Pak! Biar naik angkot saja. Belum punya SIM dan belum bisa naik motor anaknya," pendapat Bunda Maya menolak rencana Pak Teddy untuk membelikan Nadya motor.


"Atau biar diantar jemput sama Eza saja. Eza biasa ke toko agak siang juga," timpal Pak Teddy memberikan usulan lain.


"Malah ngrepotin Eza nanti," ujar Bunda Maya merasa tak enak hati.


"Ya nggak apa-apa. Biar cepat akrab juga. Kan nantinya mereka akan jadi saudara," pendapat Pak Teddy yang kembali terkekeh.


"Nanti kamu dan Nadya aku kenalin ke Eza. Hari Sabtu mungkin, ya?" Lanjut Pak Teddy memaparkan rencananya lagi.


"Terserah Pak Teddy saja," jawab Bunda Maya lirih bersamaan dengan Nadya yang akhirnya sampai di rumah. Remaja tujuh belas tahun tersebut langsung menenteng plastik berisi makanan dari angkringan masuk ke rumah.


Sementara Bunda Maya juga sigap mengambil piring untuk tempat gorengan, sundukan, dan nasi kucing yang dibeli oleh Nadya.


"Kok lama, Nad?" Tanya Bunda Maya yang tangannya begitu cekatan memindahkan makanan dari plastik ke atas piring.


"Antri, Bund! Banyak yang nggak masak hari ini kayaknya," jawab Nadya memberikan alasan.


Padahal yang sebenarnya terjadi, Nadya sibuk mengobrol dengan Si Lit Lita tadi.


"Nasi berkatnya nggak kemakan, dong, Bund?" Bisik Nadya pada Bunda Maya.


Sementara Pak Teddy sudah memakan nasi kucing dengan lahap, dipadu lauk pauk aneka rupa yang tadi dibeli Nadya


"Besok dijemur saja. Trus nanti digoreng jadi cengkaruk. Tapi tadi ada asem-asemnya dan kuenya sudah kamu pisahkan?" Tanya Bunda Maya pada Nadya.


"Udah. Asem-asemnya Nadya makan, ya, Bund! Daripada basi," ucap Nadya seraya berlalu menuju ke dapur untuk mengambil asem-asem di dalam nasi berkat yang tadi dibawa Bunda Maya. Nadya membawa sayur yang dibungkus daun jati tersebut ke depan dan mencampurnya dengan nasi kucing.


"Bund, bawah kulkas banjir lagi barusan. Kayaknya kulkasnya benar-benar rusak, deh," bisik Nadya memberi laporan pada sang bunda.


"Yaudah! Nanti kamu pel setelah makan. Udah nggak bisa dibenerin itu kulkasnya. Besok di rongsokin atau jadiin lemari saja," ujar Bunda Maya yang hanya membuat Nadya mengangguk.


Kulkas itu dulu memang Bunda Maya beli second karena harganya lumayan murah. Yang jual sedang kepepet butuh uang, jadi dijual murah. Tapi namanya barang second, memang tak seperti barang baru.


Belum ada setahun berada di rumah, kulkasnya sudah rusak ternyata.


"Apa yang rusak, Nad?" Tanya Pak Teddy yang sepertinya mendengar bisik-bisik Nadya dan Bunda Maya tadi.


"Kulkas, Pak!" jawab Nadya dengan mulut yang penuh makanan.


"Ditelan dulu nasinya, baru bicara, Nad!" Tegur Bunda Maya menasehati sang putri.


"Kayak Eza saja. Kalau makan sambil ngomomg ngalor ngidul," kekeh Pak Teddy yang sudah selesai makan tiga bungkus nasi kucing.


Luar biasa!


"Eza siapa, Pak?" Tanya Nadya yang langsung menghentikan aktivitas makannya.


"Anaknya Pak Teddy." Bukan Pak Teddy, melainkan Bunda Maya yang menjawab pertanyaan Nadya.


"Kok namanya kayak nama panggilan Mas Res di rumah? Ah, tapi mungkin kebetulan saja," Nadya hanya bergumam dalam hati dan segera lanjut menyantap nasi kucingnya.


"Nanti hari Sabtu Bapak kenalin ke Eza. Sekalian kita makan di luar," ujar Pak Teddy yang langsung membuat Bunda Maya dan Nadya mengangguk bersamaan.


.


.


.


Udah Sabtu, Pak!


😅😅


Terimakasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.