
Nadya turun dari motor Reza masih dengan wajah ditekuk dan bibir merengut.
"Mandi, siap-siap. Nanti aku jemput jam empat, ya!" Pesan Reza seraya mengacak rambut Nadya.
"Ya." Jawab Nadya singkat dan padat.
"Kenapa, sih, Nad? Kok cemberut?" Tanya Reza bingung.
"Nggak kenapa-kenapa," jawab Nadya tetap merengut.
"Jangan bilang kamu cemburu sama Riska tadi," tebak Reza yang seolah bisa membaca pikiran Nadya.
"Mana ada!" Kilah Nadya yang langsung meninggikan suaranya.
"Riska itu dulu teman SMA aku, Nad!" Ujar Reza mencoba menjelaskan pada Nadya.
"Siapa?" Nadya malah balik bertanya.
"Riska."
"Yang tanya?" Nadya melanjutkan kalimatnya yang sebelumnya dengan ekspresi wajah meledek.
"Ck!" Reza kembali mengacak rambut Nadya bersamaan dengan ponsel pria dua puluh lima tahun itu yang berdering nyaring.
"Papa," gumam Reza yang langsung mengangkat telepon dari sang Papa.
"Halo, Assalamualaikum. Gimana, Pa?"
"Za, kamu sudah siap-siap belum? Jam empat acaranya."
"Iya, ini Eza baru mau pulang, Pa! Papa berangkat dari mana?" Reza balik bertanya pada Pak Teddy.
"Dari pabrik. Jemput Maya dan Nadya dulu ke rumahnya."
Reza tak terlalu mendengar dengan jelas suara sang Papa di akhir kalimat karena ada segerombolan anak yang berlari-lari sambil berteriak mengejar layangan putus.
"Yaudah, Pa! Nanti jam empat kita ketemuan di Solo Square. Reza pulang mandi dulu. Assalamualaikum!" Pungkas Reza mengakhiri teleponnya pada Pak Teddy.
Nadya masih berdiri di depan rumah dan di dekat motor Reza.
"Aku pulang dulu, ya! Nanti aku jemput jam empat," pamit Reza seraya memakai kembali helmnya.
"Ya." Nadya kembali menjawab dengan singkat dan padat.
"Udah jangan cemberut! Mau ketemu camer kok cemberut." Reza mentowel gemas hidung Nadya sekali lagi.
"Mas Res!" Nadya menghentak-hentakkan kakinya ke tanah karena kesal.
"Assalamualaikum!" Pamit Reza sebelum melajukan motor Vixion-nya dan meninggalkan rumah Nadya.
"Walaikum salam," jawab Nadya tetap merengut. Nadya selanjutnya masuk ke dalam rumah untuk menyapa sang Bunda yang tumben tak kelihatan di belakang mesin jahit. Namun suara deburan air dari kamar mandi langsung bisa membuat Nadya menerka kalau Bunda Maya pasti sedang mandi. Mau ketemu calon anak, pasti bakal totalitas bundanya Nadya itu.
Hihihi!
****
Jarum jam menunjukkan pukul empat lebih sepuluh menit saat Reza sudah tiba kembali di rumah Nadya. Reza yang mengenakan kemeja warna biru telur asin dan celana jeans hitam terlihat semakin tampan dan gagah tentu saja.
Duh, Nadya jadi klepek-klepek!
"Assalamualaikum," salam Reza sopan seperti biasa.
"Walaikum salam. Masuk dulu Rez!" Jawab Bunda Maya seraya mempersilahkan Reza masuk.
Nadya terlihat sudah siap mengenakan celana jeans panjang dan sebuah baju tunik sepanjang lutut yang lengannya menutup hingga siku. Rambut Nadya yang dikuncir ala ekor kuda dengan poni menyamping membuag penampilan gadis remaja tujuh belas tahun tersebut semakin cantik dan manis.
Bunda Maya juga sudah terlihat rapi dan sepertinya mau pergi juga.
Oh, iya! Bunda Maya kan juga ada acara di luar bareng calon ayah barunya Nadya.
"Udah jam empat lebih, Bund! Reza dan Nadya langsung berangkat, ya! Takutnya Papa udah nungguin nanti," ujar Reza seraya meraih tangan Bunda Maya untuk berpamitan.
"Iya, sebaiknya memang langsung berangkat. Hati-hati bawa motornya, ya, Rez! Nanti langsung pulang kalau sudah selesai," pesan Bunda Maya pada Reza.
"Siap, Bunda! Nanti Nadya langsung Reza antar pulang sebelum maghrib," janji Reza seraya memberikan kode pada Nadya untuk segera berangkat.
"Nadya duluan, Bund!"
"Walaikum salam." Bunda Maya mengantar putri dan calon menantunya hingga teras.
Setelah motor Reza melaju pergi, Bunda Maya kembali masuk ke rumah dan menunggu Pak Teddy yang tumben belum datang. Katanya jam empat, tapi ini sudah jam empat lebih dan calon suami Bunda Maya itu belum nampak batang hidungnya.
****
Bim bim!
Reza sedikit kaget dengan kehadiran mobil minibus warna putih yang mirip dengan milik sang papa di tikungan gang yang menuju ke rumah Nadya.
Mobil itu hendak masuk ke gang dan Reza hendak keluar dari gang, tapi untunglah tak jadi bersenggolan. Reza memilih untuk mengabaikannya saja, dan segera melajukan motornya ke arah Solo Square, dimana ia dan Nadya akan melakukan double date bersama Papa Teddy dan calon istri barunya.
Dan anak dari calon istri Papa Teddy tentu saja.
Kalau calon adik tiri Reza itu bawa pacar juga jadi triple date nanti.
"Pegangan, Nad! Aku agak ngebut," Seru Reza seraya meraih lengan Nadya agar melingkar erat di pinggangnya. Reza melajukan motornya dengan cepat ke arah Solo Square, mrnembus padatnya jalanan kota Solo di Sabtu sore.
****
Pak Teddy turun dari mobil dan sedikit merapikan sisiran rambutnya, sebelum masuk ke teras rumah Bunda Maya.
"Assalamualaikum," salam Pak Teddy yang langsung dusambut hangat oleh Bunda Maya yang sudah rapi dan siap pergi.
"Walaikum salam, masuk dulu, Pak!" Jawab Bunda Maya seraya mempersilahkan Pak Teddy untuk masuk ke rumah.
"Maaf telat, May. Tadi ke bengkel dulu ganti ban mobil yang tiba-tiba bocor," cerita Pak Teddy membeberkan alasannya telat menjemput Bunda Maya.
"Oh, begitu. Tapi sekarang bannya sudah baik-baik saja, kan, Pak? Tanya Maya sedikit berbasa-basi.
"Sudah! Sudah siap pergi ini. Tinggal nunggu Nadya, ya?" Pak Teddy mencari-cari keberadaan Nadya yang tumben tak kelihatan batang hidungnya.
Biasanya gadis remaja itu paling lincah menyambut saat Pak Teddy datang ke rumah.
"Nadya tidak ikut, Pak! Ada acara sama calon mertuanya," tutur Bunda Maya yang langsung membuat Pak Teddy mengernyit.
"Nadya sudah punya calon mertua?"
"Iya, sebenarnya baru beberapa hari yang lau ada yang datang ke rumah dan nembung Nadya baik-baik. Tapi tetap saya suruh tunggu dulu sampai Nadya lulus SMK kalau memang serius," cerita Bunda Maya yang langsung membuat Pak Teddy manggut-manggut.
"Saya pikir kan daripada saya larang-larang nanti malah Nadya melakukan hal yang aneh-aneh, jadi ya sudah saya kasih restu asal sabar nunggu Nadya sampai lulus SMK. Anaknya juga sopan, baik, dan bisa dipercaya, Pak," sambung Bunda Maya yabg semakin membuat Pak Teddy manggut-manggut.
"Benar itu, May! Anak jaman sekarang kalau dilarang-larang kadang malah bablas," timpal Pak Teddy berpendapat.
"Tapi tadi kata Nadya dia mau nyusul juga sama Mas-nya. Tadi udah pesan suruh kirim alamat tempat kita ketemuan sama anaknya Pak Teddy," tutur Bunda Maya lagi pada Pak Teddy.
"Oh, iya. Bagus itu! Aku juga penasaran sama calonnya Nadya. Semoga nanti bisa ketemu," ujar Pak Teddy seraya tersenyum.
"Jadi, kita berangkat sekarang, Pak?" Tanya Bunda Maya selanjutnya karena Pak Teddy yang malah duduk diam di rumahnya.
"Oh, iya! Sudah telat ini. Eza dan pacarnya sudah nunggu lama dan ngabisin donat banyak nanti," Kekeh Pak Teddy seraya bangkit berdiri.
"Mau ketemuan dimana memangnya, Pak?" Tanya Bunda Maya yang sudah mengekori Pak Teddy keluar dari rumah. Wanita empat puluh tahun tersebut mengunci pintu rumah sebelum menyusul Pak Teddy masuk ke mobil.
"Di gerai donat Joko di Solo Square kata Eza," jawab Pak Teddy yang sudah duduk di belakang kemudi.
"Joko?" Bunda Maya mengernyit bingung.
"Yang kardusnya kuning itu, lho!" Jelas Pak Teddy.
"Oh, JCO, Pak!" Bunda Maya mengoreksi.
"Lebih gampang Joko nyebutnya," kekeh Pak Teddy yang membuat Bunda Maya ikut terkekeh.
Mobil sudah melaju meninggalkan kontrakan Bunda Maya menuju ke arah Solo Square.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.